Assalamu'alaikum.w.w.
 
Pak Asmardi yang dihormati jo dunsanak kasadonyo yang dicintai.

Sungguh sangat bijak dan diplomatis jawaban bapak.
Sebijaksananya niniak mamak nan gadang basa batuah menarik rambut di dalam 
tepung,
atau membunuh ular dalam benih. Kalau hal ini terwujud dan sukses, sungguh besar
artinya bagi bangsa ini, karena bertukar manjadi bangsa yang diridhai oleh 
Allah swt.,
dan saya akan mengucapkan Jazakumullaahu khairaa.
Hanya saja bagi kami yang muda, masih bertanya-tanya dalam hati, entah perlu 
dijelaskan entah tidak, atau cukup dipahami di dalam hati saja, yakni definisi 
dari 
rambut yang ada dalam tepung itu, ataupun ular yang ada dalam benih itu. Apakah 
ini
dibiarkan menjadi rahasia hati, dibiarkan menjadi "home work" bagi setiap 
orang, akan tetapi beresiko pada salah tindakan, atau malah menutup jalan. 
Ataukah dapat diperinci sehingga jelas mana hitam dan putih, lalu bagaimana 
caranya. 
Dan cara ini belum bertemu sampai hari ini.
   Ada dua cara yang dipakai oleh sementara orang di Indonesia (para 'abidin 
dan mujahidin). Yang pertama, masuk ke dalam system yang ada, dan mencoba mem-
pengaruhi system, sedangkan yang kedua, berada di luar system dan ingin menukar 
system yang ada. Cara yang pertama di tempuh dengan keyakinan system masih
bisa diubah dari dalam dan melupakan "kerangkeng" kerangkeng (frame) yang ada 
yang
akan membelenggu mereka dan tidak dapat berbuat banyak. Sedangkan cara kedua
ditempuh dengan keyakinan bahwa kerangkeng itu ada dan tidak dapat dirombak dari
dalam, tetapi mestilah dari luar menghancurkan kerangkeng itu. Yang pasti 
kedua-dua
cara ini memakan waktu yang lama sementara umur di dunia sangat pendek. 
"Wal 'ashri, Innal insaana la fii khusrin illa,  illal ladziiina aamanu 
wa'amilus shaalihaat,
watawa sabuil haq, watawa sabis sabr ".
  Mungkin bapak atau dunsanak yang lain dapat menerangkan mana yang lebih tepat,
atau ada cara lain yang lebih sesuai daripada yang dua itu.
 
Billahil hidayah wat taufiq
 
Wassalam
 
St. Sinaro
 
 

--- On Sun, 5/6/11, Asmardi Arbi <[email protected]> wrote:


From: Asmardi Arbi <[email protected]>
Subject: Re: Menghadapi Freemasonry, mari kito diskusikan Re: [R@ntau-Net] 
Komuniti Islam di Indonesia
To: [email protected]
Received: Sunday, 5 June, 2011, 8:29 AM



Wa'alaikumussalam wr.wb.
 
Sanak Sutan jo sanak dipalanta kasadonyo.
 
Sabananyo tujuan kito samo yaitu baa caronyo maninggikan  Islam dalam lingkup 
NKRI. Kito hanya sedang mencari jalan bagaimana upaya kita bisa diterima oleh 
seluruh kom ponen bangsa dengan ikhlas dan sukarela. Kita justeru sedang meniru 
cara nabi membuat Piagam Madinah yang  dapat diterima oleh pengikut Islam, 
Yahudi dan Nasrani.
 
Founding Fathers NKRI yang mayoritas Islam berhasil menjadikan Pancasila 
sebagai  falsafah bangsa, dengan mengalah mencoret 7 kata dari Sila ke 1, 
KeTuhananan YME agar semua komponen bangsa tetap bersatu dalam wadah 
NKRI. Walau  demikian  kita harus bersyukur ajaran Tauhid Islam tetap 
ditinggikan, diakui dan diterima sedang posisi paham Nasionalis ditempatkan di 
Sila ke 3. Kearifan Founding Fathers NKRI nampaknya mengikuti filosofi 2 gelas 
air putih, yang satu diberi gincu merah dan yang satu lagi  diberi gula atau 
garam, lalu mereka memilih, yang ada rasa bukan yang warna. 
 
Saya teringat pada waktu sedang giatnya upaya penataran P-4, dimana Pancasila 
dijabarkan dalam 36 butir-butir untuk dihayati dan diamalkan dalam kehidupan 
sehari-hari.  Oleh Dep. Agama RI diterbitkan sebuah buku P-4 khusus untuk umat 
Islam, dalam mana ke 36 butir-butir itu terdapat  didalam ayat2 al Qur'an 
dan hadist-hadist. Saya waktu itu sedang bertugas di Aceh Tengah, buku itu 
sangat menolong saya dalam mensosialisasikannya dikalangan para ulama /MUI, 
sehingga GAM sulit berkembang, karena saya membuat program berkeliling setiap 
hari Jum'at kekecamatan-kecamatan dengan didampingi salah satu dari ulama 
tsb.secara bergiliran untuk khotbah sholat Jum'at
dan dilanjutkan ceramah oleh saya setelah selesai sholat . .    .  
 
Jadi secara singkat kesimpulannya kita harus arif bahwa untuk memperjuangkan 
syari'at Islam dalam NKRI tetap terbuka tetapi tidak perlu menyolok atau 
memaksa sehingga membuat komponen bangsa lainnya ketakutan dan merasa terancam 
eksistensinya,. Disamping itu yang perlu dibahas adalah bagaimana membuat 
komponen Islam sadar dengan agamanya dan wakil-wakilnya sadar pula untuk 
memperjuangkan diterimanya rasa syari'at Islam dalam kehidupan bermasyarakat, 
berbangsa dan bernegara.
 
Mudah-mudahan menjawab pertanyaan  sanak dan bermanfaat.
 
Wassalam,
 
Asmardi Arbi ( 69+ , Kampai , Tangsel ) 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke