Jalinsum makin Parah 

13 Juli 2011 - 05.31 WIB 

 


DHARMASRAYA (RP) - Jalan negara makin parah. Kendati ada perbaikan, tapi 
dinilai belum maksimal. Truk bermuatan melampaui tonase disebut-sebut salah 
satu penyebab laju kerusakan infrastruktur transportasi darat di Sumbar.  
Kondisi itu menimbulkan ekonomi biaya tinggi karena akses jalan terhambat.

Di jalan lintas Sumatera (Jalinsum) wilayah Kabupaten Dharmasraya, misalnya. 
Sepanjang tahun warga setempat belum menikmati jalan mulus. Perbaikan jalan 
yang dilakukan Pemprov Sumbar, tak mampu membendung laju kerusakan.

Potret buruk Jalinsum itu membuat pengguna jalan kesal, terlebih warga 
setempat. Mobilitas kendaraan terhambat. Para pengendara roda empat dan roda 
dua harus berjalan bak siput melintasi Jalinsum di kawasan perbatasan Sumbar 
Jambi itu. Buruknya kondisi jalan juga mengancam jiwa pengendara.  

Jika musim kemarau, warga “kenyang” oleh debu jalan rusak dan dampak pengerjaan 
jalan  yang saat ini baru sebatas timbunan pasir, batu dan kerikil (sirtukil). 
Sedangkan bila musim hujan, dipastikan jalan lanyah bak kubangan.  Kalau sudah 
begitu, jalan-jalan kampung dan daerah makin kumuh.

Piko Ramadhan, 35, warga Gunungmedan, Kecamatan Sitiung, menyebutkan, debu 
jalan tidak hanya membuat permukiman warga kumuh, lebih dari itu menggangu 
pernapasan warga. “Debunya sudah seperti kabut sehingga menghambat jarak 
pandang dan sesak napas. Kalau malam, debu-debu makin “menggila” karena 
intensitas kendaraan yang lewat makin tinggi.

Kami berharap pemda segera menuntaskan perbaikan jalan tersebut, sehingga 
masyarakat tidak disusahkan begini,” harapnya.

Hal senada dikeluhkan Andi Bustari, sopir truk. Kerusakan jalan negara di 
Dharmasraya, membuat jarak tempuh makin lama. Jika dalam kondisi normal waktu 
tempuh dari Kecamatan Seirumbai ke Pulaupunjung yang berjarak 62 km satu 
setengah jam, kondisi jalan rusak bisa dua lebih. “Ini jelas merugikan kami, 
baik dari sisi waktu maupun biaya,” ucapnya.

Jalan Alternatif
Ketua DPRD Dharmasraya Rudi Hartono, mengatakan, kerusakan jalan disebabkan 
tingginya intensitas kendaraan bermuatan besar melampaui daya tahan jalan.

“Jadi, sebaiknya dana perbaikan dibuat jalur alternatif untuk truk. Jalur kita 
alihkan masuk dari Sitiung IV dan  ke luar di Silago atau samping Polsek 
Sungaidareh. Jika itu bisa direalisasikan, mungkin ini akan lebih efektif. 
Artinya, truk besar tidak lagi melewati Jalinsum Dharmasraya, sehingga 
kerusakan bisa diminimalisir. Hal tersebut sudah dilakukan di Kalimantan, 
tepatnya di Kabupaten Banjar-Kutai,” jelasnya.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Dharmasraya, Maisul menjelaskan, karena jalan 
negara, pemeliharaan dan perbaikan merupakan kewenangan Pemprov. “Pengerjaan 
jalan tersebut sudah selesai ditenderkan sebanyak tiga paket dengan masa atau 
lama pekerjaan lima bulan. Jika tidak ada halangan,  Insya Allah pertengahan 
Lebaran jalan tersebut sudah tuntas,” jelasnya.

Di Pasbar 263 Km
Pemandangan serupa juga terlihat di daerah perbatasan Pasaman Barat dan 
Sumatera Utara. Kerusakan jalan di Pasbar cukup tinggi. Selain akibat gempa 30 
September 2009 lalu, juga dipicu truk-truk pengangkut CPO bertonase berat yang 
tidak sebanding dengan kekuatan jalan.

Dari total panjang jalan 1244,01 km, 263 km rusak berat, 561, 72 km rusak, 
118,40 km rusak sedang dan 300,89 km dalam kondisi baik. Kerusakan jalan 
tersebut hampir terjadi di 11 kecamatan di Pasbar. “Jalan rusak itu sudah mulai 
diperbaki dan kita akan benahi sesegera mungkin tahun ini. Kita juga akan 
memperbaiki jembatan,” kata Plh Kabid Bina Marga Dinas PU Pasbar, Febrianto.

Pemkab Pasbar menyiapkan anggaran sekitar Rp 19 miliar untuk perbaikan 
infrastruktur jalan tahun ini. Rinciannya, untuk peningkatan jalan Rp 9 miliar 
dan untuk pemeliharaan jalan periodik Rp 10 miliar. Tidak seluruh jalan rusak 
diperbaki. Sebab, di Pasbar terdapat jalan negara sepanjang 131 km, kemudian 
jalan provinsi 76,10 km. Dari panjang jalan negara 131 km itu, hanya 2,5 km 
yang rusak. Sedangkan jalan provinsi, rusak sepanjang 4 km.

Sebelumnya, Kepala Dinas Prasrana Jalan (Prasjal) dan Tata Ruang dan Permukiman 
(Tarkim) Sumbar, Suprapto mengungkapkan, seluruh pengaspalan jalan dihentikan 
selama Ramadhan dan akan dimulai kembali setelah Lebaran. Kebijakan itu diambil 
untuk mengantisipasi kemacetan dan memberikan kenyamanan para pemudik dan 
pengguna jalan lain selama liburan Lebaran. (ita/eri) 


  
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
        • ... mulyadi yuli
  • ... asmun sjueib
    • ... asmun sjueib
      • ... taufiqrasjid
        • ... asmun sjueib
  • ... ryanfirdaus67
    • ... asfarinal, asfarinal, asfarinal, asfarinal nanang, nanang, nanang, nanang
      • ... sjamsir_sjarif
  • ... taufiqrasjid
    • ... St Parapatiah
  • ... taufiqrasjid

Kirim email ke