Assalaamu'alaikum sanak ambo,

Masih soal hisab dan rukyat, iko ada tulisan dan komentar dari
lapau subalah> Semoga bermanfaat.

------------------------------------------------------------------------------------------

Mengapa Muhammadiyah Memakai Hisab?

oleh Inamul Haqqi Hasan

Salah satu saat Muhammadiyah ‘naik’ di media massa adalah ketika menjelang
Ramadhan dan Idul Fitri. Pasalnya, Muhammadiyah yang memakai metode hisab
terkenal selalu mendahului pemerintah yang memakai metode rukyat dalam
menentukan masuknya bulan Qamariah. Hal ini menyebabkan ada kemungkinan
1Ramadhan dan 1 Syawwal versi Muhammadiyah berbeda dengan pemerintah. Dan
hal ini pula yang menyebabkan Muhammadiyah banyak menerima kritik, mulai
dari tidak patuh pada pemerintah, tidak menjaga ukhuwah Islamiyah, hingga
tidak mengikuti Rasullullah SAW yang jelas memakai rukyat al-hilal. Bahkan
dari dalam kalangan Muhammadiyah sendiri ada yang belum bisa menerima
penggunaan metode hisab ini.

Umumnya, mereka yang tidak dapat menerima hisab karena berpegang pada salah
satu hadits yaitu “Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah
(idul fitri) karena melihat hilal pula. Jika bulan terhalang oleh awan
terhadapmu, maka genapkanlah bilangan bulan Sya’bantigapuluh hari” (HR Al
Bukhari dan Muslim). Hadits tersebut (dan juga contoh Rasulullah SAW) sangat
jelas memerintahkan penggunaan rukyat, hal itulah yang mendasari adanya
pandangan bahwa metode hisab adalah suatu bid’ah yang tidak punya referensi
pada Rasulullah SAW. Lalu, mengapa Muhammadiyah bersikukuh memakai metode
hisab? Berikut adalah alasan-alasan yang saya ringkaskan dari makalah Prof.
Dr. Syamsul Anwar, M.A. yang disampaikan dalam pengajian Ramadhan 1431H PP
Muhammadiyah di Kampus Terpadu UMY.

Hisab yang dipakai Muhammadiyah adalah hisab wujud al hilal,yaitu metode
menetapkan awal bulan baru yang menegaskan bahwa bulan Qamariah baru dimulai
apabila telah terpenuhi tiga parameter: telah terjadi konjungsi atau
ijtimak, ijtimak itu terjadi sebelum matahari terbenam, dan pada saat
matahari terbenam bulan berada di atas ufuk. Sedangkan argumen mengapa
Muhammadiyah memilih metode hisab, bukan rukyat, adalah sebagai berikut.

Pertama, semangat Al Qur’an adalah menggunakan hisab. Hal ini ada dalam ayat
“Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan” (QS 55:5). Ayat ini bukan
sekedarmenginformasikan bahwa matahari dan bulan beredar dengan hukum yang
pasti sehingga dapat dihitung atau diprediksi, tetapi juga dorongan untuk
menghitungnya karena banyak kegunaannya. Dalam QS Yunus (10) ayat 5
disebutkan bahwa kegunaannya untuk mengetahui bilangan tahun dan perhitungan
waktu.

Kedua, jika spirit Qur’an adalah hisab mengapa Rasulullah Saw menggunakan
rukyat? Menurut Rasyid Ridha dan Mustafa Az Zarqa, perintah melakukan rukyat
adalah perintah ber-ilat (beralasan). Ilat perintah rukyat adalah karena
ummat zaman Nabi saw adalah ummat yang ummi, tidak kenal baca tulis dan
tidak memungkinkan melakukan hisab. Ini ditegaskanoleh Rasulullah Saw dalam
hadits riwayat Al Bukhari dan Muslim,“Sesungguhnya kami adalah umat yang
ummi; kami tidak bisa menulis dan tidak bisa melakukan hisab. Bulan itu
adalah demikian-demikian. Yakni kadang-kadang dua puluh sembilan hari dan
kadang-kadang tiga puluh hari”..Dalam kaidah fiqhiyah, hukum berlaku menurut
ada atau tidak adanya ilat. Jika ada ilat, yaitu kondisi ummi sehingga tidak
ada yang dapat melakukan hisab,maka berlaku perintah rukyat. Sedangkan jika
ilat tidak ada (sudah ada ahli hisab), maka perintah rukyat tidak berlaku
lagi. Yusuf Al Qaradawi menyebut bahwa rukyat bukan tujuan pada dirinya,
melainkan hanyalah sarana. Muhammad Syakir, ahli hadits dari Mesir yang oleh
Al Qaradawi disebut seorang salafi murni, menegaskan bahwa menggunakan hisab
untuk menentukan bulan Qamariah adalah wajib dalam semua keadaan, kecuali di
tempat di mana tidak ada orang mengetahui hisab.

Ketiga, dengan rukyat umat Islam tidak bisa membuat kalender. Rukyat tidak
dapat meramal tanggal jauh ke depan karena tanggal baru bisa diketahui pada
H-1. Dr. Nidhal Guessoum menyebut suatu ironi besar bahwa umat Islam hingga
kini tidak mempunyai sistem penanggalan terpadu yang jelas. Padahal 6000
tahun lampau di kalangan bangsa Sumeria telah terdapat suatu sistem kalender
yang terstruktur dengan baik.

Keempat, rukyat tidak dapat menyatukan awal bulan Islam secara global.
Sebaliknya, rukyat memaksa umat Islam berbeda memulai awal bulan Qamariah,
termasuk bulan-bulan ibadah. Hal ini karena rukyat pada visibilitas pertama
tidak mengcover seluruh muka bumi. Pada hari yang sama ada muka bumi yang
dapat merukyat tetapi ada muka bumi lain yang tidak dapat merukyat.  Kawasan
bumi di atas lintangutara 60 derajad dan di bawah lintang selatan 60 derajad
adalah kawasan tidak normal, di mana tidak dapat melihat hilal untuk
beberapa waktu lamanya atau terlambat dapat melihatnya, yaitu ketika bulan
telah besar. Apalagi kawasan lingkaran artik dan lingkaran antartika yang
siang pada musim panas melebihi 24jam dan malam pada musim dingin melebihi
24 jam.

Kelima, jangkauan rukyat terbatas, dimana hanya bisa diberlakukan ke arah
timur sejauh 10 jam. Orang di sebelah timur tidak mungkin menunggu rukyat di
kawasan sebelah barat yang jaraknya lebih dari 10 jam. Akibatnya, rukyat
fisik tidak dapat menyatukan awal bulan Qamariah di seluruh dunia karena
keterbatasan jangkauannya. Memang, ulama zaman tengah menyatakan bahwa
apabila terjadi rukyat di suatu tempat maka rukyat itu berlaku untuk seluruh
muka bumi. Namun, jelas pandangan ini bertentangan dengan fakta astronomis,
di zaman sekarang saat ilmu astronomi telah mengalami kemajuan pesat jelas
pendapat semacam ini tidak dapat dipertahankan.

Keenam, rukyat menimbulkan masalah pelaksanaan puasa Arafah. Bisa terjadi di
Makkah belum terjadi rukyat sementara di kawasan sebelah barat sudah, atau
di Makkah sudah rukyat tetapi di kawasan sebelah timur belum. Sehingga bisa
terjadi kawasan lain berbeda satu hari dengan Makkah dalam memasuki awal
bulan Qamariah. Masalahnya, hal ini dapat menyebabkan kawasan ujung barat
bumi tidak dapat melaksanakan puasa Arafah karena wukuf di Arafah jatuh
bersamaan dengan hari Idul Adha di ujung barat itu. Kalau kawasan barat itu
menunda masuk bulan Zulhijah demi menunggu Makkah padahal hilal sudah
terpampang di ufuk mereka, ini akan membuat sistem kalender menjadi kacau
balau.

Argumen-argumen di atas menunjukkan bahwa rukyat tidak dapat memberikan
suatu penandaan waktu yang pasti dan komprehensif. Dan karena itu tidak
dapat menata waktu pelaksanaan ibadah umat Islam secara selaras diseluruh
dunia. Itulah mengapa dalam upaya melakukan pengorganisasian sistem waktu
Islam di dunia internasional sekarang muncul seruan agar kita memegang hisab
dan tidak lagi menggunakan rukyat. Temu pakar II untuk PengkajianPerumusan
Kalender Islam (Ijtima’ al Khubara’ as Sani li Dirasat Wad at Taqwimal
Islami) tahun 2008 di Maroko dalam kesimpulan dan rekomendasi (at Taqrir al
Khittami wa at Tausyiyah) menyebutkan: “Masalah penggunaan hisab:
parapeserta telah menyepakati bahwa pemecahan problematika penetapan bulan
Qamariah di kalangan umat Islam tidak mungkin dilakukan kecuali berdasarkan
penerimaan terhadap hisab dalam menetapkan awal bulan Qamariah, seperti
halnya penggunaan hisab untuk menentukan waktu-waktu sholat"

-- 
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
- Informasi lengkap tentang seluruh kegiatan IMSA kunjungi http://imsa.us/
- Anda memerlukan bantuan silahkan kirimkan ke http://helpdesk.imsa.us -
Belajar tentang Islam atau Tahsinul Qur'an mingguan hubungi:
[email protected]
- Acara di Radio IMSA : http://www.radioimsa.org/daily/ - Fundraising untuk
IMSA  : 
http://www.goodsearch.com/?charityid=860734-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

 Reply Forward


 Reply |M.Ridha [email protected] to imsaus
show details 10:21 AM (10 minutes ago)

Wa'alaikum salam wr.wb.,

Jazakallah khair mas Nur atas sharing postingnya...

Saya sempat sedih kemarin membaca komentar sebagian Muslim yang mengecam
saudara2 Muslim yang merayakan lebaran hari Selasa di tanah air. Ada yang
mengecam mereka pengikut bid'ah (karena memakai hisab) yang harus membayar
puasanya, ada yang mengecam mereka bughot karena membangkang pemerintah,
dlsb. Kecaman dan hujatan ini menghilangkan ruh, spirit of the Eid, hari di
mana umat Islam dengan qalbun salim menyuarakan takbir hanya Allah yang Maha
Besar, berlapang dada saling bersilaturahmi dan memaafkan kesalahan satu
sama lain, merayakan hari kemenangan melatih nafsu selama Ramadhan.

Kalau memang mau beradu argumentasi mengenai dasar ijtihad ulama mengenai
metode yang mereka gunakan sampai terjadi perbedaan sebenarnya bisa
dilakukan dengan baik bil hikmah, tanpa melontar ejekan dan kecaman. Sayang
kalau mengklaim mengikut letter of the law, menghilangkan spirit of the law,
the objective of the shari'a. The matter of "moonsighting" has turned to
"moonfighting". Mudah2an hal seperti ini tidak terjadi lagi di tahun depan
atau pada saat hari Eidul Adha nanti.

Untuk menambahkan informasi dari mas Nur, bagi mereka yang belum pernah
melihatnya, berikut ini alasan ISNA mengapa mereka memakai hisab pula (Fiqh
Council of North America, 2006):  http://www.youtube.com/watch?v=GfKYkZCS_ho
(please watch till the end)


-- 
Wassalaamu'alaikum
Dutamardin Umar (aka. Ajo Duta),
gelar Bagindo, suku Mandahiliang,
lahir 17 Agustus 1947.
di Nagari Gasan Gadang, Kab. Pariaman.
rantau: Deli dan Jakarta, kini Sterling, Virginia-USA
------------------------------------------------------------
"Kepedulian terhadap ranah Minang adalah salah satu misi RantauNet. Yayasan
Palanta RantauNet (YPRN) dimaksudkan untuk menyalurkan kepedulian itu.
Salurkan zakat, infaq dan sadaqah sanak antaranya melalui YPRN, rekening No.
0221919932 Bank BNI"

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke