mas Bspriyo ingkang dahat kinurmatan, salam kurmat lan
taklim kagem bapak sa keluarga.

jempol saya masih kurang diberikan kpd mas bspriyo
untuk istiqomah beliau pada professi,apa yang
disampaikan bapak mengingatkan saya nama-nama ebenezer
howard dan friedman nah itu semua disampaikan untuk
menanggapi/reaksi terhadap situasi di negaranya
masing2.

Nah saya usul mas bspriyo dan temen2 yang sudah
banyuak makan garam dilapangan kondisi kita sebenernya
seperti apa sih, dan apakah kita bisa memanfaatkan
prinsip-prinsip mereka dengan situasi yang kita
hadapi? (kontekstual kali ya namanya?) Contoh kongkrit
adalah tokoh Fadel Muhammad, disengaja atau tidak
disengaja mirip prinsip pembangunan permukiman sekian
puluh tahun lalu di Israel (Kibbutz), dimana generate
activity di rural area (lepas dari political aspect
penguasaan dan penjagaan wilayah yang diserobotnya),
secara bertahap petani dimajukan dengan pemberian
kepastian pemasaran baik produknya untuk keperluan
dalam negeri dan untuk ekspor, dari pemerintah (hanya
berupa informasi pasar saja) selanjutnya mempunyai
usaha bidang perkotaan, seperti perhotelan, pabrik
sepatu, pabrik kacamata.(masuk saja internet, key
wordsnya kibbutz). Ini satu reference lagi dengan
contoh kongkrit di Gorontalo dengan Jagungnya. Satu
refereence lagi uji coba membangkitkan kegiatan urban
di pekalongan dan urban di Banjarnegara dan
Purbalingga, strategi memberikan rangsangan pada
masyarakat dan pemerintah untuk keep masyarakat
membangkitkan kegiatan in situ, urban activities,
prinipnya sama tapi applikasi nya disesuaikan dengan
konteks.

Jepangpun awalnya mengikuti prinsip yang diterapkan di
Jerman kemudian dimodifikasikan dan akhirnya
berkembang, disini kita belajar merencana dan
melaksanakan secara bertahap, dengan kontekstual pada
situasi lokal, hormat saya s x lagi pada mas bspriyo
yang sudah menerapkan pada situasi
ngayogyokartohadiningrat bisa ditularkan pada kita
semua, sekurang-kurang key factor for succes dan
kemungkinan main obstaclenya. 

matur nuwun
cantrik

tatok YY.

Nuwun sewu mas bspryiyo   


--- "[EMAIL PROTECTED]" <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:

> 
> Mas Aby ysh,
> 
> Pertama-tama mohon maaf baru sekarang bisa membalas
> e-mail yang begitu bagus. Saya dibajak oleh pak
> Erwin dari BRR untuk ngamen di Banda Aceh dan
> cilakanya saya harus tertunda kepulangan sehari. Dan
> tiga hari berikutnya saya kluyuran ke surabaya
> karena pak ketua Bappeda propnya punya hajat mantu.
> Sehingga selama seminggu ini saya off.
> 
> Mas Aby ysh. Sungguh bila ada lebih dari 20 org di
> Indonesia ini seperti mas Aby saya jamin pertumbuhan
> kota-kota besar kita tidak akan sesemrawut sekarang
> ini. Ada satu hal yang mungkin saya perlu sampaikan
> bahwa kadang saya memang tidak harus menyanggah
> suatu pernyataan tetapi kadang membuat beberapa
> pandangan dengan angle yg berbeda. 
> 
> Wah terkait dengan primacy saya benar2 kagum dengan
> wawasan dan data pendukungnya untuk membangun
> argumen tersebut. Saya mungkin hanya akan menyoroti
> dari sisi mengapa bagi saya primacy itu tidak perlu
> harus disesali. Ada perbedaan pandang disini
> dikaitkan antara primacy yang harus diimbangi yg
> konsekuensinya adalah penurangan lahan untuk
> non-perkotaan yg sifatnya bisa berfungsi ganda yaitu
> sebagai paru2 negara/dunia dan juga sebagai supply
> thd renewable comodity. Bagi saya yang penting
> bukannya kita menciptakan kota-kota baru, tetapi
> pola perkotaan dalam arti pemanfaatan fungsi ruang
> berkarakter kota yang diimbangi dengan peningkatan
> kesejahteraan (bisa income) bagi masyarakatnya.
> Mengapa kita harus berkonsentrasi pada pengadaan
> kota besar. Apakah kita tidak lebih baik mengarah
> kepada penciptakan perimbangan pendapatan antara
> urban dan rural. Apakah itu bisa? Saya melihat itu
> bisa. Bagaimana caranya? In tergantung pada good
> will pemerintah. Coba kita cermati bagaimanakah USA
> membuat kebijakan mensubsidi pertanian sehingga
> petani akan mempunyai comparable income dibandingkan
> masyarakat rata-rata perkotaan. Bagaimana petani
> wilayah pinggiran Tokyo mengembangkan koperasi
> sehingga mereka tetap bertahan menjadi wilayah
> pertanian. Disini letaknya bukan kepada penyebaran
> kotanya tetapi kepada penyebaran fasilitas
> perkotaannya. Yang terpenting adalah adanya
> comparable access thd kehidupan yang lebih baik,
> baik untuk penduduk perkotaan maupun pedesaan. 
> 
> Kalau pendekatan ini diambil, yang dibutuhkan di
> wilayah timur Indonesia adalah sebuah kota kecil
> tetapi fungsional dan bukan sebuah megalopolitan.
> Saya terlalu takut dengan patologi megalopolitan
> yang sudah membentang dari Yokohama-Tokyo sampai
> Jabotabek. 
> 
> Mungkin itu sebagai jawaban yang sangat terlambat
> saya mas Aby. 
> 
> Selanjutnya terkait dengan apakah saya lebih tua
> dari mas Aby mungkin saya memang lebih muda atau
> memang lebih tua. Karena kalau mas Aby membandingkan
> dengan pak Purnomo, saya kebetulan ketemu beliau
> waktu sekolah di Golden, Colorado dan saya memang
> lebih tua. Cuman rambut saya masih hitam... mungkin
> gara-gara saya tidak pernah pakai otak mas he he he
> .
> 
> Nuwun sewu sekali kalau ada kata2 saya yang kurang
> berkenan.
> 
> Salam dari jogja
> 
> bambang sp


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke