Dear Pak Eka, Pak BTS YSH, dan rekan lainnya

 

Ya, begitulah, pak Eka … memang akan lebih mudah kalau dana sudah
di-earmarked,… sudah ditentukan untuk apa penggunaan itu, tentunya setelah
duduk bersama  antara papua dan pusat,……  dan akan lebih bagus lagi mungkin
kalau semuanya itu dibungkus dalam sebuah “contractual agreement” yang
sedikit agak mengikat, untuk menjamin delivery performance-nya. Ini yang
dilakukan Perancis ketika mengembangkan 8 kota metropolitan tandingan di
luar metropolitan Paris.  Kontrak antara pusat dengan region, dan dengan
kota-kota. 

 

(Makanya saya penasaran sekali dengan rencana Pak Fauzi Bowo yang mau
membantu kota-kota satelit sekitar Jakarta, tapi dengan system kontrak)

 

Terimakasih buat Pak BTS yang sudah melengkapi dan mengkoreksi tanggapan
asal-asalan  saya soal perhitungan dana perimbangan ini. Soalnya saya
rupanya masih pake PP yang agak basi  :-). Ternyata ada PP dan UU yang lebih
baru lagi yang menjelaskan semua kompleksitas dana  perimbangan itu.  

 

Best regards,

 

Benedictus Dwiagus S.

HYPERLINK "http://bdwiagus.blogspot.com"bdwiagus.blogspot.com 

Choosing solitude as an escape from a problem is always a proof of
weakness,...

 

 

   _____  

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf
Of ekadj05
Sent: 19 November 2007 00:20
To: [email protected]
Subject: [referensi] Re: Otsus dan DAU

 

Pak BTS dan Nuzul ysh, terima kasih atas penjelasannya. Sebelumnya 
saya ingin menyampaikan cerita situasi sosio-ekonomi yang saya lihat 
kemarin:

Di toko buku Gramedia Jayapura, saya berada di belakang antrian 
seorang mama yang berpakaian sedikit lusuh. Ketika tiba di kasir, si 
mbak sedikit melirik dan memperhatikan 3 buku pelajaran anak sekolah 
yang diajukan. "Mama, apakah bukunya mau dihitung dulu?"

Si mama sedikit ragu, lalu mengangguk pelan. Mbak kasir lalu 
menjumlahkan harga di mesin kalkulator.

"Semuanya 136 ribu, mama. Apakah mau dibayar?" Si mama mengangguk 
pelan.

Ketika tiba giliran saya, si mbak langsung melakukan transaksi di 
mesin kasir. "Semuanya 115 ribu pak".

Di Bandara Sentani saya melihat seorang pemuda memberikan tip kepada 
teman yang mengantarnya ke bandara. Rp 200 ribu, tidak diambil dari 
dompet, tapi dari saku celana depan.

Di ruang tunggu saya melihat seorang ketua DPD partai sebuah 
kabupaten berpakaian kilat-kilat bak aktor bintang film India. Sempat 
terpikir oleh saya bila sudah saatnya Ikang Yunasz dan Samuel 
Wattimena berkarya di Papua untuk mendandani dan memilihkan fashion 
yang rada pas.

Dari penjelasan Pak BTS, serta sebelumnya Pak Nuzul dan Dwiagus, 
sepertinya dapat diulas sistem penganggaran pembangunan saat ini, 
money follow function. Sebuah pertanyaan yang selalu hinggap dalam 
benak saya, dari berbagai pengalaman yang ada, apakah sistem ini dan 
sistem-sistem sebelumnya telah dapat mendidik mentalitas bangsa ini 
menjadi benar?

Saya kurang menguasai sistem penganggaran ini, sehingga ragu juga 
untuk menyampaikan alternatif. Seperti misalnya, penganggaran 
berdasarkan prestasi, program, dlsb. Sebenarnya RTRW baru berjalan 
efektif bila `indikasi program utama' diikuti oleh sistem 
penganggaran. Sehingga seperti yang disampaikan Pak Nuzul, 
penganggaran mendukung PJM dan PJP. Namun benarkah selama ini 
otoritas anggaran telah menggunakan RTRW sebagai acuan kebijakannya; 
ataukah masih berdasarkan `usulan tahunan' atau terkadang `program-
program strategis pragmatis'; atau jangan-jangan masih seperti yang 
dulu Pak BTS sebutkan dengan sistem pukul rata dengan menggunakan 
acuan standar penduduk, luas wilayah, dlsb?

Satu hal yang mulai disepakati bila saat ini telah tersedia anggaran 
pembangunan yang cukup besar bagi masing-masing daerah, dan 
sebenarnya penyerapan terbesar hanyalah melalui pekerjaan-pekerjaan 
pembangunan infrastruktur (utamanya perhubungan dan pekerjaan umum). 
Hal ini di dalam UUPR yang disebut dengan `sistem 
nasional/provinsi/-kabupaten/-kota'. Di dalam indikasi program utama, 
seharusnya sudah sangat jelas perencanaan pembangunan infrastruktur 
itu, bentuk-jenis--volume-jangka waktu-biaya, berdasarkan masing-
masing hirarki perencanaan dan liability-nya. Sudah menjadi tugas 
dari setiap perencana untuk melakukan pemilihan dan analisis cba, 
sehingga rekomendasi program tersebut adalah `yang terbaik' yang 
dapat dilakukan setiap level pemerintahan tersebut. Permasalahannya 
adalah: 1 Apakah sistem penganggaran (pembelanjaan) pembangunan sudah 
mengacu kepada rekomendasi RTRW tersebut, dan 2 Otokritik bila 
penyusunan indikasi program utama sudah dilakukan dengan metode dan 
analisis yang benar?

Sebagai contoh, dalam RTRWN telah ditentukan `rencana' 
(bukan `arahan') pembangunan dan pengembangan jaringan jalan arteri 
primer, sehingga sudah diketahui `bentuk dan jenis' program, kemudian 
bila diketahui `lebar x panjang' sudah diketahui `volume' dengan 
toleransi perhitungan +/- 5%, kemudian `waktu dan biaya'; sehingga 
dapat diketahui anggarannya, pada tahun ke berapa, apakah multi-
years, dst. Saya kira otoritas anggaran akan lebih senang dengan cara 
seperti ini; paling tidak 25-50 % anggaran pembangunan itu sudah 
sangat jelas peruntukannya dari tahun ke tahun.

Sebelum terlupa, sambil lalu saya menyarankan kepada BSP-IAP untuk 
menilai kemampuan melakukan analisis cba dan penyusunan indikasi 
program utama sebagai `dasar kompetensi perencana'.

Saya mendengar cerita Pak Har sewaktu mengunjungi salah satu 
kabupaten di Jawa Timur (Gresik?), bilamana Pemda setempat 
mengalokasikan 1% dari APBD-nya untuk kegiatan perencanaan. Dengan 
alokasi seperti itu, perencanaan cenderung akan disusun 
dengan `benar', dan seharusnya menjadi tantangan bagi perencana untuk 
berkarya lebih baik dan meningkatkan kemampuan kompetensinya. Apalagi 
bila otoritas anggaran menggunakan RTRW sebagai acuan kebijakan.

Satu keprihatinan bila kita menyaksikan anggaran pembangunan itu 
tidak digunakan dengan semestinya, tanpa menggunakan patokan-patokan 
tertentu, sehingga dapat menjadi kemubaziran. Kemubaziran itu dekat 
dengan korupsi, cak Andri.

Sementara demikian. Salam.

-ekadj




No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.503 / Virus Database: 269.15.31/1129 - Release Date: 13/11/2007
21:22



No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition. 
Version: 7.5.503 / Virus Database: 269.15.31/1129 - Release Date: 13/11/2007
21:22
 

Kirim email ke