Rekan Aunur dan teman-teman,
   
  Terima kasih atas tanggapannya. Sebaiknya kita jangan diskusi berputar-putar. 
Saya sekarang lebih percaya dengan pola pikir ‘appreciative inquiry’, yaitu 
melihat sisi baik dari inovasi, pendekatan, strategi yang sedang dan telah 
diterapkan. Identifikasi mana-mana yang sukses, sedikit sukses, kita angkat, 
kita pertukarkan. Lalu kita selidiki apa saja ’key-success factors’ (KSF) nya, 
apakah mungkin direplikasi di tempat lain? 
  Development debate tentang pilihan strategi pembangunan dan kritiknya baik 
untuk intelektual exercise, tapi sayangnya kok belum pernah ditemukan satu 
strategi pamungkas yang efektif manjur diterapkan di seluruh tanah air. Karena 
kondisi antar daerah yang berbeda, masyarakatnya berbeda, kemampuan pemerintah 
daerahnya juga beda. Kalau dicari sumber kesalahannya, di analisis ’gap’nya 
dengan keadaan yang di-idealkan juga paling berujung pada saling menyalahkan.
   
  Saya belum tahu seluruh grand strategy dari PDT atau PNPM, yang saya tahu 
hanya sebagian, misalnya PPK, yang kebetulan saya pernah diajak diskusi tentang 
peningkatan efektivitasnya. Menurut saya bagaimana program-program yang telah 
diluncurkan itu diidentifikasi mana-mana yang dianggap sukses. Kalau disebut 28 
kabupaten potensial mentas dari daerah tertinggal pada akhir 2007 itu, apa 
’key-success factors’ -nya, sehingga bisa untuk direplikasi atau memperbaiki 
konsep yang ada. Apakah sukses karena pelaksananya, kerjasama dengan masyarakat 
lokal, kerjasama dengan Pemda? Kegiatan-kegiatan apa yang banyak suksesnya, 
mana-mana yang kurang?
   
  Sejauh yang saya tahu, sebagian dari pengamatan dan bincang-bincang dengan 
pelaksana di lapangan adalah bagaimana me-link-kan program nasional, yang 
sifatnya JPS dan stimulan itu, dengan rencana dan program daerah, agar terjadi 
’internalisasi’ atau diadopsinya program nasional itu oleh daerah sehingga 
sustainable. Masuk dalam siklus perencanaan dan penganggran daerah mulai dari 
musrenbang dan pembahasan di tingkat dinas, dst. 
   
  Banyak kabupaten/kota/provinsi, dan kepala daerahnya, sekarang yang sadar dan 
menempatkan peningkatan IPM (indeks pembangunan manusia) sebagai visi dan misi 
atau RPJMD nya, dan mengalokasikan dana yang cukup besar untuk itu. Kadang kita 
kecewa dengan kabupaten/kota yang kaya yang memboroskan dananya untuk membangun 
yang tidak-tidak, tetapi kebanyakan daerah berpendapatan sedang atau rendah 
(tertinggal) yang lebih concern dengan peningkatan IPM tersebut. Barangkali 
mereka yang membutuhkan itu yang kemungkinan suksesnya (sustainability) lebih 
baik bagi stimulan seperti program PNPM. Kabupaten Jembrana, Tanah Datar 
misalnya, kan bukan kabupaten yang kaya, tapi bisa menjadi best-practice dalam 
memberikan pelayanan kesehatan dan pendidikan.
   
  Dari aspek ekonomi, berbagai program tersebut umumnya masih bersifat 
meningkatkan sisi konsumsi, peningkatan daya beli masyarakat secara langsung. 
Ini perlu dikaitkan dengan penguatan kegiatan produksi, yang betul-betul untuk 
bisa dipasarkan, mengembangkan UMK (usaha mikro, kecil) yang sesuai dengan 
potensi daerah, untuk bisa diintegrasikan dengan sistem ekonomi yang ada. Jadi 
bukan sekedar pekerjaan padat karya membangun prasarana/sarana yang habis 
setelah program habis.
   
  Kabupaten Muara Enim (Tempo, 29/10-4/11, 2007) yang saya sebut pada posting 
sebelumnya mencatat sukses dengan pemberdayaan kegiatan ekonomi, antara lain 
dengan revolving-fund nya, terutama pada kegiatan peternakan ayam dan 
perikanan, pengembalian/perputaran dananya bagus, sedang untuk kegiatan 
perkebunan masih belum berhasil. 
   
  Sedang untuk peran provinsi, yang umumnya dananya banyak, punya dana 
dekonsentrasi, tapi tidak punya 'rakyat'. Banyak juga yang punya kiat untuk 
membuat program melalui kerjasama dengan pemkab/pemkot, yang kebetulan saya 
tahu, seperti Jawa Barat (program pendanaan kompetitif untuk meningkatkan IPM), 
Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan (Gerbang-emas). Bagi yang belum, ya 
kalau bisa 'diajari'. Tapi pasca UU32/2004, setelah ada PP38/2007 (tentang 
Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemprov dan Pemkab/Pemkot) 
perannya kan membaik, apalagi setelah revisi selanjutnya (?).
   
  Sementara itu tanggapan saya. Sebaiknya kalau bisa kita bertukar kisah dan 
kiat sukses yang pernah kita dampingi, kita lihat atau baca, untuk memperkaya 
perbendaharaan jurus sukses, good-practices, sekaligus membesarkan hati 
teman-teman yang telah bekerja keras di lapangan.
   
  Salam,
  Risfan Munir
   


Aunur rofiq <[EMAIL PROTECTED]> wrote:              Pak Risfan ysh,
  senang sekali mau mengangkat kembali daerah tertinggal, tapi saya khawatir 
kita akan diskusi . .berputar-putar kembali pada pentingnya otda, pemberdayaan 
masyarakat, penyebaran pusat pertumbuhan, big push dll. Padawaktu lalu saya 
menanyakan tentang PNPM mandiri pada milist ini dan dijawab oleh teman-teman 
dengan baik. Apa yang dikatakan pak Risfan bahwa PNPM mandiri yang sebenarnya 
lebih banyak untuk safety net, saya bekerja dengan pak Sujana dalam PNPM memang 
meragukan kalau program ini menjadi satu-satunya fokus pembangunan daerah, tapi 
kita ingin bahwa pembangunan di kabupaten harus bisa membangun social capital 
dan berorientasi pada peningkatan pelayanan pada masyarakat. Seperti yang saya 
kemukakan sebelumnya di Prov Bengkulu.... Pemerintah Provinsi lah yang bicara 
pertumbuhan, equality dan efisiensi penggunaan infrastruktur.... mungkin memang 
perlu adanya pembagian yang lebih baik antara Pusat, Provinsi dan Kabupaten.... 
asosiasi DPRD Kabupaten/Kota saat ini ingin
 merubah kembali UU 32/2004
  salam  




      Recent Activity
    
      4
  New Members

Visit Your Group 
      Y! Messenger
  Instant hello
  Chat in real-time
  with your friends.

    New business?
  Get new customers.
  List your web site
  in Yahoo! Search.

    Fitness Challenge
  on Yahoo! Groups
  Get in shape w/the
  Special K Challenge.



  .

 
                         

       
---------------------------------
Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.

Kirim email ke