Pak Aunur, Pak Risfan dan Milister Ysh, Posting Pak Aunur dan Pak Risfan saya kira patut digarisbawahi karena mencoba untuk melihat perspektif lain tentang daerah tertinggal. Minimal barangkali memberi peluang untuk membuka diskusi tentang "social capital" (istilah yang antara lain dipopulerkan oleh Putnam, 1995) dalam pembangunan regional. Tentu tidak perlu diartikan bahwa konsep growth center, growth pole, Christaller, big push dan sejenisnya sudah tidak relevan sama sekali dalam policy analysis.
Kalau kita perhatikan paper di jurnal akademik yang berorientasi policy analysis (bukan paper teoretis) topik tentang urban and regional planning and development (misalnya Urban Studies, Regional Studies, Geoforum, dll), hampir tidak ada lagi tinjauan tentang pendekatan "tradisional" seperti telah disebutkan sebelumnya. Bahkan analisis tentang fenomena munculnya "Silicon Valley", Science Park, keberhasilan Universal Service Obligation (USO) untuk telekomunikasi pedesaan di Bangladesh, sedikit banyak mempunyai kaitan dengan social capital, demikian juga dengan keberhasilan pembangunan air bersih, murni swadaya masyarakat pedesaan di Tanzania. Institusi jorong di ranah minang dan desa adat banjar di Bali adalah salah satu elemen dari social capital, Apakah keberhasilan Tanah Datar dan beberapa kabupaten di Bali sebagai contoh best practice dalam otonomi daerah karena ada pengaruh social capital yang baik? Wallahualam. Namun Putnam memberi contoh, mengapa kekuatan bisnis dan finansial di Asia Pasifik tetap bertumpu pada tiga kekuatan: Hongkong, Singapore, dan Taiwan? Kekuatan social capital dalam bentuk collective trust dan social network oleh etnis Cina merupakan faktor penentu. Di dalam kelas, kepada mahasiswa saya pernah mengatakan bahwa jangan berharap Jakarta akan bermimpi menjadi salah satu kekuatan jasa finansial di Asia Pasifik dengan kondisi masyarakat yang carut marut, tidak ada collective trust. Jangan berharap sebuah kota akan menjadi pusat pariwisata jika punya citra buruk, masih banyak pencopet, main tusuk, kriminal yang sangat menonjol, dsb. Cukup menarik artikel Chou (2006). Three simple models of social capital and economic growth, Journal of Socio-economics, bagaimana penjelasan konseptual pengaruh social capital terhadap pertumbuhan ekonomi. Walaupun pendekatannya agak makro, tetapi argumentasinya relevan dengan isyu pembangunan pedesaan. Wassalam, Nuzul Achjar

