Agglomeration, Cluster dan Social Capital
Saya mencoba untuk menarik benang merah antara agglomerasi kegiatan
(ekonomi), cluster dan social capital sebagai suatu pendekatan untuk mendorong
pertumbuhan daerah. Kalau menggunakan frameworknya Geddes, ini akan membuktikan
bahwa unsur Folk - Place - Work, memang selalu saling terkait secara dinamis
dalam pengembangan wilayah sepanjang waktu.
Kegiatan ekonomi atau permukiman tidak terjadi di sembarang tempat, begitu
kata teori lokasi, tetapi pada lokasi-lokasi yang punya sumber daya alam
ataupun buatan manusia, atau kerumunan manusia yang ada. Ini yang kemudian oleh
sebagian ahli dibawa ke kota, sebagai dasar untuk mengembangkan konsep
pengembangan wilayah berbasis system kota-kota. Tetapi konsep aglomerasi ini
kiranya tidak harus untuk kota, karena sentra kegiatan ekonomi bisa saja
terjadi di luar system kota. Contohnya Jepara sebagai sentra kerajinan ukir
kayu dan mebel yang besar dan terkenal, tidak berada di kota (besar).
Pola pikir yang tanpa harus melihat system kota-kota itu pula yang digunakan
oleh Michael Porter (Competitive Advantage of the Nations) saat merumuskan cara
pandang cluster kegiatan ekonomi sebagai inti daya saing daerah/negara.
Contoh klasiknya, ya Silicon Valley, tapi riset nya atas pola cluster
pertumbuhan kegiatan ekonomi di Itali, Jepang konsisten dengan itu. Intinya
kumpulan, rangkaian kegiatan ekonomi yang saling terkait dalam hubungan
input-output (supply-chain), ataupun kepentingan yang sama dalam memanfaatkan
eksternalities. Rasanya mirip industrial complex nya Walter Isard dulu.
Tetapi yang perlu dicatat, dalam konsep cluster, secara eksplisit social
capital sebagai salah satu factor yang menguatkan aglomerasi kegiatan itu
menjadi satu kesatuan kekuatan ekonomi, daripada sekedar berkumpul bersama.
Trust antar pelaku ekonomi sebagai ciri kekayaan social capital itu yang
mengokohkannya.
Mungkin contoh gampangnya adalah situasi di Pasar Glodok atau Mangga Dua.
Disana ibaratnya kita bisa membeli barang apa saja, di kios mana saja. Karena
diantara mereka sudah ada kesepakatan dan saling percaya. Setiap kios kalau
ditanya tentang satu barang, selalu bilang punya, lalu telpon tetangganya.
Seperti sudah ada kesepakatan di antara mereka, dan ada komisi penjualan yang
disepakati, atau fleksibel.
Dari cacatan perjalanan ke daerah, salah satu contoh yang baik antara lain
sentra industri kecil logam di Cisaat/Cibadak, Sukabumi. Kelompok pengrajin
logam di sana telah berkembang, menerima order komponen dari Astra, Sanyo, dst,
selain di kalangan mereka sendiri ada yang berhasil menjadi industri skala
sedang, yang memproduksi peralatan medis/ rumah sakit. Kebersamaan di antara
pelaku ekonominya yang kuat, merupakan salah satu factor suksesnya.
Contoh sebaliknya, barangkali adalah Jepara. Dari kunjungan beberapa kali
kesana, tertangkap kesan persaingan di antara pengusaha mebel dan ukir kayu di
sana cenderung melemahkan daya saing mereka. Saling banting harga, mudahnya
dipecah-belah oleh pembeli, perantara yang memberikan uang muka (ijon),
memperlemah daya tawar kolektifnya. Upaya-upaya mengatasi masalah pemasaran,
kelangkaan bahan baku (kayu), di harapkan ditangani oleh Pemda, mereka
tampaknya sulit menyatukan upaya kolektifnya. Dengan kata lain, walau
kemakmuran ada, tapi social capital-nya termasuk rendah. Dan itu membahayakan
nasib mereka saat menghadapi kesulitan bahan baku, dan menghadapi persaingan
dengan produk China, Vietnam dan Malaysia.
Masalahnya: bagaimana cara mengembangkan social capital itu? Menurut
Fukuyama, bagaimanapun sumber social capital yang paling kuat masih melekat
pada rasa kebersamaan etnik (budaya) dan agama. Dalam dunia bisnis, sering
disebut kelompok usaha China, Minang, Madura, Bugis yang menunjukkan unsur
etnik memang yang menjadi pemersatu yang kuat, meskipun bagaimana kenyataan
efektivitasnya masih perlu diteliti. Mungkin itu juga yang menjadi catatan
kelemahan dari konsep social capital itu sendiri, karena bisa terlalu
eksklusif bagi kelompok di luar mereka.
Salam,
Risfan Munir
Nuzul Achjar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Pak Aunur, Pak Risfan dan Milister Ysh,
Posting Pak Aunur dan Pak Risfan saya kira patut digarisbawahi karena
mencoba untuk melihat perspektif lain tentang daerah tertinggal.
Minimal barangkali memberi peluang untuk membuka diskusi tentang
"social capital" (istilah yang antara lain dipopulerkan oleh Putnam,
1995) dalam pembangunan regional. Tentu tidak perlu diartikan bahwa
konsep growth center, growth pole, Christaller, big push dan
sejenisnya sudah tidak relevan sama sekali dalam policy analysis.
Recent Activity
5
New Members
Visit Your Group
Moderator Central
Yahoo! Groups
Get the latest news
from the team.
Y! Messenger
Instant hello
Chat over IM with
group members.
Yahoo! Groups
Endurance Zone
Communities for
increased fitness.
.
---------------------------------
Get easy, one-click access to your favorites. Make Yahoo! your homepage.