Pak Risfan ysh,
senang sekali mau mengangkat kembali daerah tertinggal, tapi saya khawatir kita 
akan diskusi . .berputar-putar kembali pada pentingnya otda, pemberdayaan 
masyarakat, penyebaran pusat pertumbuhan, big push dll. Padawaktu lalu saya 
menanyakan tentang PNPM mandiri pada milist ini dan dijawab oleh teman-teman 
dengan baik. Apa yang dikatakan pak Risfan bahwa PNPM mandiri yang sebenarnya 
lebih banyak untuk safety net, saya bekerja dengan pak Sujana dalam PNPM memang 
meragukan kalau program ini menjadi satu-satunya fokus pembangunan daerah, tapi 
kita ingin bahwa pembangunan di kabupaten harus bisa membangun social capital 
dan berorientasi pada peningkatan pelayanan pada masyarakat. Seperti yang saya 
kemukakan sebelumnya di Prov Bengkulu.... Pemerintah Provinsi lah yang bicara 
pertumbuhan, equality dan efisiensi penggunaan infrastruktur.... mungkin memang 
perlu adanya pembagian yang lebih baik antara Pusat, Provinsi dan Kabupaten.... 
asosiasi DPRD Kabupaten/Kota
 saat ini ingin merubah kembali UU 32/2004
salam  


----- Original Message ----
From: Risfan M <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Sunday, November 25, 2007 10:18:25 AM
Subject: Re: [referensi] PWK - 199 daerah tertinggal dari 457 kab/kota yang ada


PWK: Tantangan Mengembangkan 199 Daerah Tertinggal
 
Perencana manapun tentunya menghayalkan bisa bekerja tenang menghadapi meja 
gambar, layar komputer, bemain-main dengan alternatif desain dan dimensi, 
animasi dan GIS, seperti halnya arsitek bangunan. Namun sayangnya planner tidak 
merancang tanahnya sendiri, tidak berhadapan dengan seorang bouwheer yang 
uangnya banyak. Planner berhadapan dengan publik, instansi yang dananya 
tergantung persetujuan dewan dan panitia anggaran, serta harus konsultasi 
dengan masyarakat.
 
Memang dulu ada instansi yang bisa segera melaksanakan rencana yang dibuat 
planner, dengan pembangunan prasarana jalan ragional dan kota, pencetakan sawah 
jutaan hektar, air bersih, sanitasi, dsb, di banyak kota sebagai "prime mover" 
pembangunan daerah/kota. Tapi pada masa kini anggaran melimpah itu tidak 
dimiliki oleh instansi pemerintah. Pinjaman luar negeri juga terbatas karena 
DSCR yang sudah mencekik. Lalu otonomi daerah membawa konsekuensi anggaran 
didesentralisasi. Dan konsekuensi demokratisasi dalam prosesnya. Sehingga 
impian merencana, man-main desain di depan komputer dengan animasi GIS, lalu 
dilaksanakan di lapangan itu semakin jauh dari realita.
 
Kenyataan yang harus dihadapi adalah bahwa 199 dari 457 kabupaten/kota di 
negeri ini merupakan daerah tertinggal. Ini adalah masalah regional inequality 
yang mestinya menjadi tantangan bagi regional planner yang salah satu misinya 
mengatasi hal itu.
 
Besarnya jumlah daerah tertinggal itu membuat strategi melalui sistem 
pusat-pusat (growth poles) dengan big-push investasi prasarana menjadi 
dipertanyakan efektivitasnya. Seperti perdebatan yang dimulai akhir 70an, 
nyatanya yang terjadi bukan efek penyebaran (trickle-down effect), tapi justru 
polarisasi, pemusatan kemakmuran pada daerah tertentu saja.
 
Tantangan senada, adalah angka kemiskinan yang masih tinggi. WB memperkirakan 
jumlah orang miskin saat ini 105,3 juta yang diperkirakan akan menyusut menjadi 
100,7 juta; dan yang sangat miskin 6,7 juta akan berkurang jadi 5,9 juta tahun 
depan. Itu dengan cacatan kalau pemerintah tidak menaikkan harga minyak (Tempo, 
25-11-2007).
 
Dasar optimisme tersebut adalah meningkatnya investasi swasta, dan program 
pemberdayaan masyarakat di tingkat kecamatan, yang alokasinya Rp 3 miliar/ 
kecamatan yang sifatnya padat karya. Program yang misinya memang pro-poor, 
pro-job, dan pro-growth. Di sebut pemberdayaan, antara lain karena sifatnya 
hanya memberi stimulant untuk mendorong bangkitnya ekonomi dan partisipasi 
daerah dan masyarakat.
 
Namun yang perlu dipikirkan barangkali adalah bagaimana agar proyek yang 
sifatnya masih berbau 'jaring penyelamatan sosial' itu bisa menjadi pengungkit 
(leverage) bagi pertumbuhan kesejahteraan ekonomi yang multiplier-effect nya 
luas, dan sustainable. Untuk itu yang diperlukan adalah strategi pembangunan 
daerah di tingkat kabupaten/kota, dan kerjasama antar daerah berdasarkan 
kesamaan karakteristik potensi dan komplementari. Tapi yang pokok adalah 
melibatkan pemerintah kabupaten/kota dalam program pemberdayaan masyarakat 
tersebut (PNPM). Karena selama ini ada kesan sifatnya sektoral, pemerintah 
daerah kurang dilibatkan dari awal (perencanaan).
 
Pada sisi lain layak dicatat bahwa pemerintah provinsi juga banyak yang 
memberikan 'bantuan' kepada kabupaten/kota untuk meningkatkan kesejahteraan 
masyarakat tersebut. Misalnya Pemprov Jawa Barat yang meluncurkan program 
pendanaan kompetitif, yang diberikan kepada instansi di kabupaten/kota yang 
proposalnya dinilai baik. Kriterianya adalah meningkatkan IPM (indek 
pembangunan manusia), yang meliputi bidang pendidikan, kesehatan dan 
peningkatan daya beli masyarakat.
 
Contoh lain, Pemprov mengembangkan program Gerbang Emas (gerakan pengembangan 
ekonomi masyarakat), dengan nama yang mirip Kabupaten Muara Enim meluncurkan 
program Gerbang Serasan (gerakan pembangunan melalui pemberdayaan masyarakat di 
Bumi Serasan Sekundang). Nama terakhir ini tampaknya sengaja digunakan untuk 
membangkitkan social-capital dari masyarakat setempat.
 
Semua itu membutuhkan planner sebagai perencana strategi dan perencana program 
pembangunan daerah.
 
Salam,
Risfan Munir
 
 


Risfan M <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 
PWK: Kasus Kediri dan Muara Enim
 
Setelah membahas hubungan saling terkait antara FOLK – PLACE – WORK (F-P-W) dan 
variable masing-masing serta inter-relasi di antaranya, ada baiknya diteruskan 
dengan Studi Kasus. Kebetulan saya sedang ada kegiatan di Kediri , dan 
kebetulan di Kompas (16-11-2007) ada dibahas kasus daerah pertambangan Bukit 
Asam, maka keduanya bisa dijadikan contoh. Keduanya menggambarkan peran 
kegiatan ekonomi (W) terhadap kondisi kehidupan penduduk (F), dan kondisi 
lingkungan/ruang (P).
.
 





Be a better sports nut! Let your teams follow you with Yahoo Mobile. Try it 
now. 


      
____________________________________________________________________________________
Be a better sports nut!  Let your teams follow you 
with Yahoo Mobile. Try it now.  
http://mobile.yahoo.com/sports;_ylt=At9_qDKvtAbMuh1G1SQtBI7ntAcJ

Kirim email ke