Milister ysc, Berat ternyata gak ngomong itu .... tapi krn ini ada masalah yang hakiki saya perlu sekali untuk sedikit berceloteh.. celotehan orang pinggiran dan bukan main stream.
Saya harus sangat-sangat menggaris bawahi kalimat mas Abimanyu yang : kalau menurut saya, istilah social capital, spatial capita, atau capital-capital lainnya menunjukkan bahwa virus ekonom telah menjangkiti sebagian dari kita. artinya, budaya, sumber daya alam, dll semua hal akhirnya seolah-olah perlu ditransormasikan ke angka, kuantitas....agar dianggap "sah", dengan ukuran ekonomi...... seolah-olah kita mau buka usaha, perlu modal, dsb, dst....biar ga rugi, biar bisa dibandingkan (walau kurs berbeda), biar bisa bersaing.....dsb. buntut-buntutnya makanisme pasar yg jadi ukuran, termasuk demokrazy, ataupun antisipasi pemanasan global.... akibatnya pilar-pilar "pembangunan" selain manusia dan alam harus diberi embel-embel ekonomi agar dianggap paradigma baru (mungkin paradigma baru bagi para ekonom, walaupun dua dimensi yang di depan lebih merupakan pemeran utama)... ...padahal ekonomi sebetulnya hanya alat ukur statistik atau kuantifasi untuk simplifikasi dunia nyata di masa lalu.... ...padahal tidak ada model ekonomi yang benar-benar terjadi di masa datang, kalau tidak ada citeris paribus..... Tanggapan saya : Saya hanya bisa berdoa semoga akan semakin banyak Abimanyu di Indonesia ini. Saya yakin Indonesia akan besar kalau banyak Abimanyu2 tersebut. Dulu Indonesia besar karena ada Soekarno dengan National n Character Building yang tidak bicara ekonomi tetapi berbicara nilai bangsa yang priceless. Yang tidak bisa dinilai dengan uang. Sekarang kita menjadi negara yang dileceh karena ekonomi. Bukan berarti saya anti ekonomi ... tetapi marilah kita bijak dalam menggunakan paradigma ekonomi. Mungkinkah kita seperti itu ...??? mungkin. Yang harus kita lakukan adalah menghormati manusia sebagai manusia dan bukan sebagai angka sebagai statistik... Salam bsp

