Pak Abimanyu, pak Nuzul dan milisters semuanya ysh,
Selamat jumpa lagi pak Abim, suwe ora jamu, lamo indak basuo, long time no
see juga ...........
Lebih 10 tahun lalu saya kalau main ke UI Depok di FT-Arsitektur saya senang
menggangguin pak Abim ..... yang kala itu komandan disana......
Kalau menurut pak Abim ..virus ekonom telah menjangkiti sebagian dari
kita.... .... yah pak Nuzul .... virus memang tidak harus diartikan sebagai
musuh dan penyakit seperti kuman yang menggerogoti kesehatan kita ......
Ada juga virus yang hanya membuat mabok saja dan yang terjangkiti malah
pengin terus kena dan tidak ingin sembuh ...... contohnya lha itu.... virus
cinta... dari thomas djorghi atau dari siapa itu.......
Saya kira justru dalam kerangka membangun dialog lintas disipliner dimana
demikian banyak disiplin ilmiah dan sektoral adalah para development agent
atau stakeholder pembangunan yang saling terkait...... maka saling berbagi
atau saling bertukar virus diantara sesama masyarakat intelektual lintas
disipliner adalah saya kira merupakan upaya dialogis positip untuk membangun
dasar saling pengertian yang baik untuk kerjasama yang erat ...... oleh karena
pembangunan nasional tidak mungkin dapat dijalankan sendirian oleh siapapun
........
Bahwa sambil bercanda pak Abim mengatakan :
.......artinya, budaya, sumber daya alam, dll semua hal akhirnya seolah-olah
perlu ditransormasikan ke angka, kuantitas... .agar dianggap "sah", dengan
ukuran ekonomi..... .
seolah-olah kita mau buka usaha, perlu modal, dsb, dst....biar ga rugi, biar
bisa dibandingkan (walau kurs berbeda), biar bisa bersaing.... .dsb.
buntut-buntutnya makanisme pasar yg jadi ukuran, termasuk demokrazy, ataupun
antisipasi pemanasan global.....
Saya kira urutan logikanya begini pak Abim ......
Pertama, pembangunan dimaksudkan untuk kesejahteraan rakyat (bangsa)......
dimana untuk merencanakan penghidupan dari 230 juta penduduk ini .......
Yang beruntung bisa menjadi salaryman (yang artinya kerja tak kerja tiap
tanggal 30 terima gaji) ......dan sekaligus mendapat pangkat, jabatan dan
tunjangan (sering juga mainan) serta pensiun hari tua (birokrasi negara)
jumlahnya hanya sekitar4 juta orang saja ... atau taruhlah ditambah keluarganya
menjadi 20 juta orang....
Dari perusahaan swasta diseluruh negeri yang menghasilkan salaryman juga
..... saya tidak tahu jumlahnya sekitar berapa ...... itupun belum mencukupi
jumlahnya agar tiap-tiap rumahtangga diseluruh negeri ini para pencari
nafkahnya tidak menganggur .......
Dari data Bank Dunia 2006.... disebutkan bahwa penduduk miskin kita adalah
108.7 juta orang ...... dan data lain mengatakan bahwa dari sekitar 100 juta TK
kita sekitar 40 juta diantaranya adalah menganggur ........ maka ini tentu
mengisyaratkan bahwa... setidaknya dalam kerangka menyumbangkan pemikiran
bagi pembangunan bangsa ....... kita setidaknya perlu memikirkan bagaimana
cara membantu menciptakan kesempatan kerja bagi 40 jutaTK kita ... agar itu
setidaknya dapat membantu menurunkan angka kemiskinan kita yang108.7 juta jiwa
itu ...........
Dalam kerangka kesempatan kerja untuk para penganggur itu ... upaya itu saya
kira memerlukan berbagai macam langkah ekonomi ..... baik itu dibidang
pertanian, perkotaan, industri, jasa dsb...... baik disektor formal ...
Seperti contoh kemarin baru saja pak Abim menanggapi posting dari pak Rempu
tentang keinginan rakyat salah satu kabupaten di Aceh agar batas kawasan
lindung dan kawasan budidaya dapat dinego.... ......
Itu menunjukkan bahwa masalah pembangunan disuatu daerah yang rakyatnya
mulai merasa lapar lahan pertanian...... setidaknya menunjukkan pula bahwa
selain kesempatan kerja non-pertanian disana perlu diperluas .... yang
beberapa maknanya adalah perlunya dikembangkan kota-kota disana ....., perlunya
digalakkan KB (birth control) untuk menekan angka kelahiran .... perlunya
migrasi .... dsb.... sehingga kebutuhan lahan bagi habitat dan aktivitas
manusia diberbagai daerah bumi Indonesia ini tidak semakin menjadi-jadi dan
mengancam daya dukung ekologis optimal bumi kita ...........
Perluasan kesempatan kerja non-pertanian jelas amat diperlukan ....... dan
tentu virus ekonomi adalah sangat patut untuk dibicarakan penularannya
..... dan kalau salah satu dari virus ekonomi itu adalah ternyata social
capital ........ maka seperti diakui oleh pak Nuzul ...... virus spatial
capitalpun ternyata boleh dan perlu pula dimasukkan sebagai komponen penting
didalam virus social capital ...........
So, pak Abim ......... itulah saya kira perlunya dialog lintas disipliner
untuk berbagai pihak saling berkenan mendengarkan dan saling berkenan menerima
.....
Bahwa pak Nuzul dari disiplin non-keruangan berkenan menekuni diskusi
keruangan ini (salut untuk pak Nuzul).... dan ingin berbagi (virus) ......
tentu juga beliau mau dibagi (virus) juga........ hasilnya semuanya nanti untuk
kebaikan rakyat dan bangsa pak .........
Apa pak Abim mau juga kalau dibagi virus seperti yang punya Thomas
Djorghi?.......
Sementara demikian dan salam,
aby
abimanyu takdir alamsyah <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Pak Aby dan
rekan-rekan lain, ....plus Gus Solah ....yang longtime no see....
kalau menurut saya, istilah social capital, spatial capita, atau
capital-capital lainnya menunjukkan bahwa virus ekonom telah menjangkiti
sebagian dari kita.
artinya, budaya, sumber daya alam, dll semua hal akhirnya seolah-olah perlu
ditransormasikan ke angka, kuantitas....agar dianggap "sah", dengan ukuran
ekonomi......
seolah-olah kita mau buka usaha, perlu modal, dsb, dst....biar ga rugi, biar
bisa dibandingkan (walau kurs berbeda), biar bisa bersaing.....dsb.
buntut-buntutnya makanisme pasar yg jadi ukuran, termasuk demokrazy, ataupun
antisipasi pemanasan global....
akibatnya pilar-pilar "pembangunan" selain manusia dan alam harus diberi
embel-embel ekonomi agar dianggap paradigma baru (mungkin paradigma baru bagi
para ekonom, walaupun dua dimensi yang di depan lebih merupakan pemeran
utama)...
...padahal ekonomi sebetulnya hanya alat ukur statistik atau kuantifasi untuk
simplifikasi dunia nyata di masa lalu....
...padahal tidak ada model ekonomi yang benar-benar terjadi di masa datang,
kalau tidak ada citeris paribus.....
sementara segitu dulu tanggapan saya, semoga bisa menyulut api pemikiran
kritis, trobosan, atau memancing nurani yg lebih dalam....
wass.
Abimanyu
On Dec 18, 2007 2:34 PM, hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Pak Eka, Gus Salah, pak Risman, pak Wawo, pak BSP, pak Risfan, mas BTS, pak
Nuzul, mas Dwiagus, pak Abimanyu dan Milisters semuanya ysh ...........
Yah..., karena wacana pentingnya 'social capital' ditawarkan kepada
masyarakat perencanaan ruang .... maka saya pikir salah satu unsur kuat
pendukung pembentukan social capital itu ya tentu 'spatial capital' ...... dan
kalau pak Nuzul ingin itu didiskusikan lebih lanjut .... . kita tentu perlu
menyediakan waktu tersendiri nanti ..........
Saya hanya berpikir ... kalau itu ditawarkan juga kepada masyarakat
rohaniwan dan pendidikan misalnya ... bukan tidak mungkin merekapun akan
mengatakan 'moral capital', etos kerja keras, etos kewiraswastaan dsb... akan
berperan penting pula dalam pembentukan 'social capital'.........
Atau juga masyarakat hankam barangkali akan mengatakan 'nationality capital'
juga bukan tidak penting untuk mendukung pengembangan social capital
.....demikian.. dsb... dst.......
Atau dengan kata lain ..... barangkali social capital tak dapat dibentuk atau
terbentuk secara lepas tersendiri ..... tetapi ia perlu didukung oleh banyak
sekali elemen positip lainnya dibawahnya ........
* * *
Ekh... tapi tak disangka, tak dinyana, tak diduga ..... syukur alhamdulillah
..... rupanya selama ini diam-diam arsitek Bapak Salahuddin Wahid masih tetap
berkenan hadir dan terus berkenan mencermati postings serta diskusi dimilis
kita ini ........
Yah... ketika beberapa waktu ditahun lalu saya memohon perkenan pak
Moderator untuk memasukkan nama beliau dimilis ini ...... saya sempat menduga
.... tak berapa lama kemudian Gus Salah pasti akan tak memiliki banyak waktu
dan atau tak akan seberapa berminat lagi dengan diskusi kita ini .......
Tetapi ternyata sampai hari ini beliau dipesantren Tebu Ireng Mojokerto sana
masih tetap hadir diantara kita... dan justru berkenan 'turun kehalaman' untuk
mengomentari posting sahabat kita mas Dwi .......
Jadi pak BSP yang sedang prihatin berat........ mohon berhentilah untuk
bermuram durja pak ...... milis kita ini nampaknya terbukti tak sekedar
seperti kata pak BSP... "berasik ria dengan sebuah obrolan" omong kosong saja
.....atau hanya sekedar "..menjadi hanya semacam tempat untuk menyenangkan diri
bahwa kita telah berbuat banyak pada bangsa ini "......
Saya kira Gus Salah tidak akan berminat berlama-lama hadir .... bila milis
kita ini sekedar 'murahan' seperti itu .... atau bila isinya sekedar
cengengesan atau debat kusir belaka....
Akh... maaf ..hehe...mendapatkan Gus Salah berkenan turut berdiskusi .... ...
ini benar-benar hadiah akhir tahun yang indah buat saya .....
Terimakasih Gus Salah, trims pak Eka, trims para suhu serta para sahabat
semua atas kebersamaan kita selama ini ............
Wassalam,
aby
"Risman Maris" < [EMAIL PROTECTED]> wrote :
Yth Pak Mod, Pak Aby, Pak Nurul, Pak Dwiagus, Gus Solah, teman-teman,
Suatu kehormatan jumpa Gus Solah di sini, mohon sudi terus tengok-tengok Pak
di sela segala kesibukan, ba'a kaba lamo indak basuo, semoga sehat-sejahtera
selalu.
Gus Solah, tampaknya komunitas lagi keranjingan back to basics. Saya coba
memahami Pak Dwi, barangkali ada dimaksud istilah Inggeris "an excess", suatu
kelebihan, suatu sisa? Modal, memang aslinya berasal dari sesuatu "yang
berlebih dimiliki". Bisa dihambur-hamburkan, dikonsumsi, itu karena merasa
belum kenyang konsumtif kiranya. Bisa 'ditanam' seolah bibit, dan kalau begitu
bisa untung bisa buntung ' khan Pak Dwi? Barangkali banyak jargon modal/kapital
bisa ditelusuri dari makna dasar tersebut?
Cara orang Indonesia menghamburkan kekayaan alamnya (suatu 'modal' dari sudut
pandang orang luar negeri yang tak diberkahi sebanyak itu) disebabkan kurangnya
modal sosial (suatu 'kapasitas lebih dalam bertindak demi kepentingan
kolektif'). Sebaliknya kelebihan kapasitas individual sungguh besar.
Cultural capital, spatial capital, sungguh harus dilihat adakah kelebihan
Indonesia dalam bidang-bidang itu, objektif terbanding kepada kultur dan space
lain? Kalau kita saja sendiri yang mengklaimnya, itu cara pandang narsistik
semata dan celakanya jadi mudah diperalat.
"salahuddin wahid" [EMAIL PROTECTED] wrote :
Tebuireng, 18 Desember 2007
Mas Dwiagus yt,
Terima kasih emailnya. Menurut saya apa yang Anda kemukakan itu tidak tepat.
Yang Anda kemukakan itu bukan social capita, cultural capital, tetapi social
advantage dan cultural advantage. Kecuali, rumusan itu sifatnya lelucon atau
bercanda. Kapital bukanlah hasil tetapi modal. Modal sosial adalah segala
sesuatu didalam masyarakat yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan atau
membina masyarakat supaya lebih sejahtera lahir dan batin.
Terima kasih dan salam untuk keluarga.
Salahuddin Wahid
Benedictus Dwiagus <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:
Kalau social capital: sebuah keuntungan yang didapat karena berada dalam
jejaring sosialnya (berelasi, saling berjejaring, saling dukung, saling
berpengaruh) ,,..
Ada pula cultural capital,
.. sebuah keuntungan yang didapat (peningkatan
status,nilai tambah ke dalam diri) karena punya kultur tertentu
Kalau spatial capital, mungkin,: sebuah keuntungan yagn didapat karena berada
dalam jejaring keruangan tertentu (posisi,jarak, kedekatan,kejauahan
)
"Nuzul Achjar" <[EMAIL PROTECTED]> wrote :
....... Saya kira istilah spatial capitalnya Pak Aby tampaknya adalah
terminologi baru, minimal pertama kali saya mendengarnya dalam konteks social
capital.
Dalam konteks social captal, istilah pak Aby ini akan lebih bermakna jika
dicari landasan teoritis dan contoh empiris. Anyway, ... sekali lagi ......
---------------------------------
Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.