Pak Eka, Gus Salah, pak Risman, pak Wawo, pak BSP, pak Risfan, mas BTS, pak 
Nuzul, mas Dwiagus, pak Abimanyu dan Milisters semuanya  ysh ...........
   
  Yah..., karena wacana pentingnya ‘social capital’ ditawarkan kepada 
masyarakat perencanaan ruang .... maka saya pikir salah satu unsur  kuat 
pendukung pembentukan social capital itu ya tentu ‘spatial capital’ ...... dan 
kalau pak Nuzul ingin itu didiskusikan lebih lanjut .... . kita tentu perlu 
menyediakan waktu tersendiri nanti ..........
   
  Saya hanya berpikir ... kalau  itu ditawarkan juga kepada masyarakat 
rohaniwan dan pendidikan misalnya ... bukan tidak mungkin  merekapun akan 
mengatakan ‘moral capital’, etos kerja keras,   etos kewiraswastaan dsb... akan 
berperan penting pula dalam pembentukan ‘social capital’.........   
  Atau juga masyarakat hankam barangkali  akan mengatakan ‘nationality capital’ 
juga bukan tidak penting untuk mendukung pengembangan social capital  
.....demikian.. dsb... dst.......
  Atau dengan kata lain ..... barangkali social capital tak dapat dibentuk atau 
terbentuk  secara lepas tersendiri ..... tetapi ia perlu didukung oleh banyak 
sekali elemen positip lainnya dibawahnya ........
   
  *           *           *
  Ekh... tapi tak disangka, tak dinyana,  tak diduga ..... syukur alhamdulillah 
.....  rupanya selama ini diam-diam arsitek Bapak Salahuddin Wahid masih tetap 
berkenan  hadir dan terus berkenan mencermati postings serta diskusi dimilis 
kita ini ........
  Yah... ketika beberapa waktu ditahun lalu  saya memohon perkenan pak 
Moderator untuk memasukkan nama beliau dimilis ini ...... saya sempat menduga 
.... tak berapa lama kemudian Gus Salah   pasti akan tak memiliki banyak waktu 
dan atau  tak akan  seberapa berminat lagi dengan diskusi kita ini .......
  Tetapi ternyata sampai hari ini beliau dipesantren Tebu Ireng Mojokerto sana 
masih tetap hadir diantara kita... dan justru berkenan ‘turun kehalaman’ untuk 
mengomentari   posting sahabat kita mas Dwi .......
  Jadi pak BSP yang sedang prihatin berat........ mohon berhentilah untuk 
bermuram durja pak ...... milis  kita ini nampaknya terbukti  tak sekedar 
seperti kata pak BSP... “berasik ria dengan sebuah obrolan”  omong kosong saja 
.....atau hanya sekedar “..menjadi hanya semacam tempat untuk menyenangkan diri 
bahwa kita telah berbuat banyak pada bangsa ini”...... 
  Saya kira Gus Salah tidak akan berminat berlama-lama hadir ....  bila milis  
kita ini sekedar ‘murahan’ seperti itu .... atau bila isinya sekedar 
cengengesan  atau debat kusir belaka....
  Akh... maaf ..hehe...mendapatkan Gus Salah berkenan turut berdiskusi .... ... 
ini benar-benar hadiah  akhir  tahun  yang indah buat saya .....  
  Terimakasih Gus Salah,  trims pak Eka, trims para suhu serta para sahabat 
semua atas kebersamaan  kita selama ini ............ 
   
  Wassalam,
  aby
   
  "Risman Maris" <[EMAIL PROTECTED]>  wrote :
   
  Yth Pak Mod, Pak Aby, Pak Nurul, Pak Dwiagus, Gus Solah, teman-teman,
   
  Suatu kehormatan jumpa Gus Solah di sini, mohon sudi terus tengok-tengok Pak 
di sela segala kesibukan, ba’a kaba lamo indak basuo, semoga sehat-sejahtera 
selalu.
  Gus Solah, tampaknya komunitas lagi keranjingan back to basics. Saya coba 
memahami Pak Dwi, barangkali ada dimaksud istilah Inggeris “an excess”, suatu 
kelebihan, suatu sisa? Modal, memang aslinya berasal dari sesuatu “yang 
berlebih dimiliki”. Bisa dihambur-hamburkan, dikonsumsi, itu karena merasa 
belum kenyang konsumtif kiranya. Bisa ‘ditanam’ seolah bibit, dan kalau begitu 
bisa untung bisa buntung ‘khan Pak Dwi? Barangkali banyak jargon modal/kapital 
bisa ditelusuri dari makna dasar tersebut?
  Cara orang Indonesia menghamburkan kekayaan alamnya (suatu ‘modal’ dari sudut 
pandang orang luar negeri yang tak diberkahi sebanyak itu) disebabkan kurangnya 
modal sosial (suatu ‘kapasitas lebih dalam bertindak demi kepentingan 
kolektif’). Sebaliknya kelebihan kapasitas individual sungguh besar.
  Cultural capital, spatial capital, sungguh harus dilihat adakah kelebihan 
Indonesia dalam bidang-bidang itu, objektif terbanding kepada kultur dan space 
lain? Kalau kita saja sendiri yang mengklaimnya, itu cara pandang narsistik 
semata dan celakanya jadi mudah diperalat.
   
   
  "salahuddin wahid" [EMAIL PROTECTED] wrote :
   
  Tebuireng, 18 Desember 2007
   
  Mas Dwiagus yt,
   
  Terima kasih emailnya. Menurut saya apa yang Anda kemukakan itu tidak tepat. 
Yang Anda kemukakan itu bukan social capita, cultural capital, tetapi social 
advantage dan cultural advantage. Kecuali, rumusan itu sifatnya lelucon atau 
bercanda. Kapital bukanlah hasil tetapi modal. Modal sosial adalah segala 
sesuatu didalam masyarakat yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan atau 
membina masyarakat supaya lebih sejahtera lahir dan batin.
   
  Terima kasih dan salam untuk keluarga.
  Salahuddin Wahid



  Benedictus Dwiagus <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:
   
  Kalau social capital: sebuah keuntungan yang didapat karena berada dalam 
jejaring sosialnya (berelasi, saling berjejaring, saling dukung, saling 
berpengaruh) ,,..
  Ada pula cultural capital,….. sebuah keuntungan yang didapat (peningkatan 
status,nilai tambah ke dalam diri) karena punya kultur tertentu…
  Kalau spatial capital, mungkin,: sebuah keuntungan yagn didapat karena berada 
dalam jejaring keruangan tertentu (posisi,jarak, kedekatan,kejauahan…  )
   
  
  
   
  "Nuzul Achjar" <[EMAIL PROTECTED]> wrote :
   
  ....... Saya kira istilah spatial capitalnya Pak Aby tampaknya adalah 
terminologi baru, minimal pertama kali saya mendengarnya dalam konteks social 
capital. 
  Dalam konteks social captal, istilah pak Aby ini akan lebih bermakna jika 
dicari landasan teoritis dan contoh empiris. Anyway, ... sekali lagi ......
   

       
---------------------------------
Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.

Kirim email ke