Pak Aby dan rekan-rekan lain, ....plus Gus Solah ....yang longtime no see....
kalau menurut saya, istilah social capital, spatial capita, atau capital-capital lainnya menunjukkan bahwa virus ekonom telah menjangkiti sebagian dari kita. artinya, budaya, sumber daya alam, dll semua hal akhirnya seolah-olah perlu ditransormasikan ke angka, kuantitas....agar dianggap "sah", dengan ukuran ekonomi...... seolah-olah kita mau buka usaha, perlu modal, dsb, dst....biar ga rugi, biar bisa dibandingkan (walau kurs berbeda), biar bisa bersaing.....dsb. buntut-buntutnya makanisme pasar yg jadi ukuran, termasuk demokrazy, ataupun antisipasi pemanasan global.... akibatnya pilar-pilar "pembangunan" selain manusia dan alam harus diberi embel-embel ekonomi agar dianggap paradigma baru (mungkin paradigma baru bagi para ekonom, walaupun dua dimensi yang di depan lebih merupakan pemeran utama)... ...padahal ekonomi sebetulnya hanya alat ukur statistik atau kuantifasi untuk simplifikasi dunia nyata di masa lalu.... ...padahal tidak ada model ekonomi yang benar-benar terjadi di masa datang, kalau tidak ada citeris paribus..... sementara segitu dulu tanggapan saya, semoga bisa menyulut api pemikiran kritis, trobosan, atau memancing nurani yg lebih dalam.... wass. Abimanyu On Dec 18, 2007 2:34 PM, hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Pak Eka, Gus Salah, pak Risman, pak Wawo, pak BSP, pak Risfan, mas BTS, > pak Nuzul, mas Dwiagus, pak Abimanyu dan Milisters semuanya ysh > ........... > > Yah..., karena wacana pentingnya 'social capital' ditawarkan kepada > masyarakat perencanaan ruang .... maka saya pikir salah satu unsur kuat > pendukung pembentukan social capital itu ya tentu 'spatial capital' ...... > dan kalau pak Nuzul ingin itu didiskusikan lebih lanjut .... . kita tentu > perlu menyediakan waktu tersendiri nanti .......... > > Saya hanya berpikir ... kalau itu ditawarkan juga kepada masyarakat > rohaniwan dan pendidikan misalnya ... bukan tidak mungkin merekapun akan > mengatakan 'moral capital', etos kerja keras, etos kewiraswastaan dsb... > akan berperan penting pula dalam pembentukan 'social capital'......... > Atau juga masyarakat hankam barangkali akan mengatakan 'nationality > capital' juga bukan tidak penting untuk mendukung pengembangan social > capital .....demikian.. dsb... dst....... > Atau dengan kata lain ..... barangkali social capital tak dapat dibentuk > atau terbentuk secara lepas tersendiri ..... tetapi ia perlu didukung > oleh banyak sekali elemen positip lainnya dibawahnya ........ > > * * * > Ekh... tapi tak disangka, tak dinyana, tak diduga ..... syukur > alhamdulillah ..... rupanya selama ini diam-diam arsitek Bapak Salahuddin > Wahid masih tetap berkenan hadir dan terus berkenan mencermati postings > serta diskusi dimilis kita ini ........ > Yah... ketika beberapa waktu ditahun lalu saya memohon perkenan pak > Moderator untuk memasukkan nama beliau dimilis ini ...... saya sempat > menduga .... tak berapa lama kemudian Gus Salah pasti akan tak memiliki > banyak waktu dan atau tak akan seberapa berminat lagi dengan diskusi > kita ini ....... > Tetapi ternyata sampai hari ini beliau dipesantren Tebu Ireng Mojokerto > sana masih tetap hadir diantara kita... dan justru berkenan 'turun > kehalaman' untuk mengomentari posting sahabat kita mas Dwi ....... > Jadi pak BSP yang sedang prihatin berat........ mohon berhentilah untuk > bermuram durja pak ...... milis kita ini nampaknya terbukti tak sekedar > seperti kata pak BSP... *"berasik ria dengan sebuah obrolan" * omong > kosong saja .....atau hanya sekedar "..*menjadi hanya semacam tempat untuk > menyenangkan diri bahwa kita telah berbuat banyak pada bangsa ini*"...... > Saya kira Gus Salah tidak akan berminat berlama-lama hadir .... bila > milis kita ini sekedar 'murahan' seperti itu .... atau bila isinya > sekedar cengengesan atau debat kusir belaka.... > Akh... maaf ..hehe...mendapatkan Gus Salah berkenan turut berdiskusi .... > ... ini benar-benar hadiah akhir tahun yang indah buat saya ..... > Terimakasih Gus Salah, trims pak Eka, trims para suhu serta para sahabat > semua atas kebersamaan kita selama ini ............ > > Wassalam, > aby > > *"Risman Maris" <[EMAIL PROTECTED]> wrote :* > * * > Yth Pak Mod, Pak Aby, Pak Nurul, Pak Dwiagus, Gus Solah, teman-teman, > > Suatu kehormatan jumpa Gus Solah di sini, mohon sudi terus tengok-tengok > Pak di sela segala kesibukan, *ba'a kaba lamo indak basuo*, semoga > sehat-sejahtera selalu. > Gus Solah, tampaknya komunitas lagi keranjingan *back to basics*. Saya > coba memahami Pak Dwi, barangkali ada dimaksud istilah Inggeris "*an > excess*", suatu kelebihan, suatu sisa? Modal, memang aslinya berasal dari > sesuatu "yang berlebih dimiliki". Bisa dihambur-hamburkan, dikonsumsi, itu > karena merasa belum kenyang konsumtif kiranya. Bisa 'ditanam' seolah bibit, > dan kalau begitu bisa untung bisa buntung '*khan* Pak Dwi? Barangkali > banyak *jargon* modal/kapital bisa ditelusuri dari makna dasar tersebut? > Cara orang Indonesia menghamburkan kekayaan alamnya (suatu 'modal' dari > sudut pandang orang luar negeri yang tak diberkahi sebanyak itu) disebabkan > *kurangnya* modal sosial (suatu 'kapasitas lebih dalam bertindak demi > kepentingan kolektif'). Sebaliknya kelebihan kapasitas individual sungguh > besar. > *Cultural capital*, *spatial capital*, sungguh harus dilihat adakah > kelebihan Indonesia dalam bidang-bidang itu, objektif terbanding kepada > kultur dan *space* lain? Kalau kita saja sendiri yang mengklaimnya, itu > cara pandang narsistik semata dan celakanya jadi mudah diperalat. > > > *"salahuddin wahid" [EMAIL PROTECTED]<[EMAIL PROTECTED]> > * wrote :* > > Tebuireng, 18 Desember 2007 > > Mas Dwiagus yt, > > Terima kasih emailnya. Menurut saya apa yang Anda kemukakan itu tidak > tepat. Yang Anda kemukakan itu bukan social capita, cultural capital, tetapi > social advantage dan cultural advantage. Kecuali, rumusan itu sifatnya > lelucon atau bercanda. Kapital bukanlah hasil tetapi modal. Modal sosial > adalah segala sesuatu didalam masyarakat yang dapat dimanfaatkan untuk > mengembangkan atau membina masyarakat supaya lebih sejahtera lahir dan > batin. > > Terima kasih dan salam untuk keluarga. > Salahuddin Wahid > > > *Benedictus Dwiagus <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:* > > Kalau social capital: sebuah keuntungan yang didapat karena berada dalam > jejaring sosialnya (berelasi, saling berjejaring, saling dukung, saling > berpengaruh) ,,.. > Ada pula cultural capital,….. sebuah keuntungan yang didapat (peningkatan > status,nilai tambah ke dalam diri) karena punya kultur tertentu… > Kalau spatial capital, mungkin,: sebuah keuntungan yagn didapat karena > berada dalam jejaring keruangan tertentu (posisi,jarak, kedekatan,kejauahan… > ) > > ** > *"Nuzul Achjar" <[EMAIL PROTECTED]> wrote :* > > ....... Saya kira istilah spatial capitalnya Pak Aby tampaknya adalah > terminologi baru, minimal pertama kali saya mendengarnya dalam konteks > social capital. > Dalam konteks social captal, istilah pak Aby ini akan lebih bermakna > jika dicari landasan teoritis dan contoh empiris. Anyway, ... sekali lagi > ...... > > > ------------------------------ > Never miss a thing. Make Yahoo your > homepage.<http://us.rd.yahoo.com/evt=51438/*http://www.yahoo.com/r/hs> > >

