Nimbrung sedikit. Apakah sekarang ini Daerah sudah boleh pinjam? Setahu saya 
belum boleh, karena desentralisasi keuangan kita kan masih  'desentralisasi 
belanja', bukan 'desentralisasi sisi penerimaannya'  (?).
   
  Soal dana parkir di SBI sekarang kok jadi tidak 'aib' amat, karena Depkeu 
sendiri yang menghimbau daerah agar mau menerima sebagian dana alokasi dalam 
bentuk SUN (surat utang negara). Dengan kata lain, Pusat yang pinjam ke Daerah.
   
  Salam,
  Risfan Munir
  blog http://ecoplano.blogspot.com
  

Bambang Tata Samiadji <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  To: [email protected]
From: "Bambang Tata Samiadji" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Wed, 9 Jan 2008 13:28:53 +0700 (WIT)
Subject: [referensi] Hutang Kita

        

Halo Bung Rofiq dan milister sekalian. 

Ada pepatah, "if you want to use my money, you have to follow my rule". Ya 
begitulah kalau kita butuh pinjaman, maka kita harus mengikuti "terms of 
condition" mereka yang punya uang cash. Kalau kita nggak setuju, ya nggak 
apa-apa, tidak ada transaksi. Biasanya dilakukan negosiasi dan akhirnya 
diterima kesepakatan dengan mengubah beberapa "terms", tapi tetap masih saja 
ada dominasi si pemilik cash. Mengapa si pemilik cash suka mengatur? Pertama 
untuk mengamankan uangnya agar kembali dan kedua ada maksud-maksud terselubung 
untuk keuntungan jangka panjang. Dalam bidang bisnis, hal-hal tersebut adalah 
mekanisme biasa. 

Memang benar bahwa mengelola pinjaman dan hibah tidak seperti mengelola APBN 
murni, soalnya kalau APBN murni (dari pajak dan penghasilan domestik lainnya) 
langsung bisa dicairkan oleh Bendahara Umum, sementara kalau pinjaman dan hibah 
itu duitnya tetap dipegang oleh pemberi pinjaman dan pihak bendahara sebagai 
pencatat dan otorisasi saja. Oleh karenanya bila ada perubahan memang harus ada 
konfirmasi dengan pihak pemberi pinjaman ataupun hibah. Nah untuk lebih 
leluasa, atau agar tidak terlalu diatur oleh pemberi pinjaman LN, maka lebih 
baik kita pinjam dari masyarakat melalui obligasi saja. Obligasi itu yang 
penting pada waktu jatuh tempo harus segera dibayar, atau bisa juga "buy back" 
atau dibeli kembali. Jadi lebih fleksibel. Namun sayangnya nilai obligasi yang 
terkumpul masih jauh dari memadai untuk menutup defisit, maka akhirnya pinjaman 
LN lagi, dan diatur lagi oleh mereka. Untuk mengindari pinjaman LN, seharusnya 
defisit diperkecil. Tapi sayang, faktor eksternal
 seperti bencana, harga minyak dunia, dan tunututan pembangunan itu sendiri 
sulit untuk mengurangi defisit APBN. 

Saya tertarik pada alinea terakhir soal Celah Fiskal dan pinjaman antar daerah. 
Daerah-daerah tertinggal biasanya Celah Fiskal-nya (yaitu selisih antara 
Kebutuhan Fiskal an Kapasitas Fiskal) diperoleh angka yang tinggi. Celah Fiskal 
yang tinggi akan diberikan DAU per kapita yang tinggi pula. Dengan demikian 
daerah-daerah tertinggal sebenarnya APBD per kapitanya cukup tinggi dan cukup 
untuk membiayai pembangunan. Kalau nggak cukup, ada fasilitas DAK. Kalau nggak 
cukup, masih ada dari APBN (langsung, tugas pembantuan, maupun dekonsentrasi). 
Oleh karena itu saya pernah mengatakan bahwa untuk mengentaskan daerah-daerah 
tertinggal itu cukup dengan Strategi Fiskal. Sumbernya cukup, tinggal bagaimana 
mengelola fiskal itu sendiri. Cuman kalau daerah tertinggal itu ingin 
cepat-cepat maju dan butuh kegiatan-kegiatan skala besar, atau seperti "panic 
programming", ya nggak ada yang cukup. Oleh karena itu programming dan 
budgeting-nya harus sistematik,..pelan tapi pasti...dan semakin
 maju. 

Yang menarik adalah soal pinjaman. Dulu ketika ada IUIDP banyak daerah 
(khususnya kota) pinjam yang bersumber dari LN. Sebagian besar sekarang 
nunggak. Mengapa harus pinjam LN? Karena pinjaman berjangka panjang 
(pengembalian 15-20 tahun) dengan grace period 5 tahun. Bunganya sih nggak 
begitu lunak, yaitu 11% pertahun. Pinjaman LN itu berupa rupiah, bukan dollar 
melalui Pemerintah. Jadi yang menanggung perubahan kurs adalah Pemerintah. 
Apakah daerah-daerah tertinggal perlu pinjaman? Bisa juga perlu...... Apakah 
memenuhi syarat? Tentu saja memenuhi syarat. Cuma, berapa jumlah yang mau 
dipinjam? Ini barangkali lender kurang tertarik. Lender akan tertarik pada 
kota-kota besar yang sedang berkembang atau yang perkembangannya pesat. Kota 
besar dan berkembang itu kalau pinjam selain akan mampu mengembalikan, jumlah 
pinjamannya akan besar. Lebah menarik lagi, bila kota besar diberi pinjaman, 
maka akan ada kebutuhan pinjaman lainnya. Demikian pasar uang ini akan menjadi 
langgeng.
 Lantas bagaimana memfasilitasi daerah-daerah yang butuh pinjaman yang skalanya 
kecil sampai menengah dan prosesnya tidak rumit seperti pinjaman LN? Adakah 
sumbernya? 

Ada sumbernya, yaitu silpa (sisa lebih pembiayaan anggaran) yang tiap tahun 
terus bertambah, terutama daerah-daerah kaya yang memiliki sumber daya alam. 
Dari catatan Blane Lewis (researcher dari World Bank), pada akhir tahun 2001 
yang lalu, silpa itu hanya sekitar Rp 20 triliun, pada kuartal pertama tahun 
2006, akumulasi mencapai Rp 50 triliun, dan akhir tahun 2006 meningkat pesat 
menjadi Rp 97 triliun. Luar biasa, dalam setengah tahun terakhir ini langsung 
meningkat hampir 100%. Selama ini dana-dana ini terparkir di giro BPD dan atau 
ditempatkan di SBI. Apakah dana-dana ini bisa dipinjam? Menurut UU 33/2004 bisa 
dipinjam, tetapi sayang mekanisme pinjaman antar daerah itu belum diatur. 
Menteri Keuangan berjanji akan menerbitkan permenkeu tentang pinjaman antar 
daerah, tapi sampai sekarang belum. 

Thanks. CU. BTS. 





----- Original Message ----- 
From: Aunur rofiq 
To: [email protected] 
Sent: Wednesday, January 09, 2008 11:11 AM 
Subject: [referensi] Hutang kita 




                         

       
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with Yahoo! Search.

Kirim email ke