Pak Djarot dan Referensiers ysh,

Sebagaimana saya pernah sebutkan sebelumnya
<http://groups.yahoo.com/group/kebudayaan/message/541> , beberapa bulan
lalu saya menemukan sebuah buku `baru' di Kupang berjudul
"Orang Sabu dan Budayanya" karya Robert Riwu Kaho, penerbit
Jogja Global Media 2005. Sedikit saya ulas beberapa hal sehubungan
dengan lontaran Pak Djarot.

Kepulauan Sabu (Sawu) terletak di antara Pulau Sumba dan Rote, terdiri
dari 3 buah pulau: Pulau Sabu, Raijua, dan Dana. Pulau Sabu-Dana dapat
dikatakan pulau paling selatan Indonesia, berhadapan dengan Samudera
Indonesia. Jumlah penduduknya saat ini sekitar 65.000 jiwa yang tersebar
dalam 3 kecamatan. Pada waktu kepulauan Sabu berada di bawah pengaruh
Majapahit, Pulau Dana masih berpenduduk. Konon katanya seorang pangeran
dari Majapahit yang beristrikan seorang wanita dari Pulau Raijua pernah
bermukim di pulau itu, dan bekas rumahnya masih ada sampai sekarang ini.
3 tahun yang lalu saya bersama Pak Ary Djatmiko sempat sampai ke
Nembrala, dan dari situ dapat memandang ke Pulau Dana yang tidak begitu
jauh letaknya. Terlihat pulau itu kosong tidak berpenghuni; dan kalau
tidak salah Pak Ary merekomendasikan untuk membangun pos TNI-AL untuk
menandai titik pangkal kepulauan teritorial Indonesia.

Dalam buku tersebut disebutkan bila orang Sabu pada umumnya menamakan
dirinya `Do Hawu'. Pulau Sabu mereka sebut `Rai Hawu'.
Do/dou artinya orang atau manusia, dan rai artinya tanah atau negeri.
Segala apa yang dipandang sebagai `yang asli' atau berasal dari
Sabu selalu dikenakan kata sandang `Hawu'. Sedang yang berasal
dari luar atau bukan asli Sabu dikenakan kata sandang ` `jawa
`, misalnya terae `jawa (jagung), ki'i `jawa (domba),
hi'ji/hi'gi `jawa (kain batik), dan emmu `jawa (rumah
berbentuk bukan asli Sabu). Kata sandang hawu sudah dipergunakan sejak
generasi ke-8 orang Sabu yang bernama Hawu Miha (Hawu bin Miha).

Ketika bangsa Portugis dan Belanda tiba di Sabu, kata Hawu mengalami
perubahan dalam pelafalannya menjadi `Savu'; penduduknya disebut
Sabos atau Savoenese. Padahal dalam Li Hawu (bahasa Sabu) tidak dikenal
kata berhuruf s, f, dan v.

Dari informasi turun-temurun disebutkan pada zaman generasi ke-7 ada
seorang leluhur orang Sabu bernama Miha Ngara. Beliau mempunyai 5 orang
anak yaitu Hawu Miha (cikal-bakal orang Sabu), Huba Miha (orang Sumba),
Tie Miha (orang Tie Rote), Ede Miha (orang Ende), dan Jawa Miha (orang
Jawa).

Orang Sabu mengetahui kira-kira pada abad pertama Masehi, `Jawa Miha
meninggalkan Sabu untuk menetap di Jawa. Di kemudian hari kontak antar
keturunan dan keluarga tidak lagi terpelihara. Pengetahuan tentang
adanya relasi ini diperoleh melalui syair-syair dan cerita para tetua
dan pemangku adat di Sabu.

`Migrasi' dari Asia Tenggara diakui telah berlangsung sekitar
500 tahun SM, dan kira-kira 200 tahun SM terjadi lagi migrasi dari India
Selatan. Migrasi ini juga sampai ke Sabu. Pada gelombang ketiga
disebutkan, ketika kaum pendatang yang jumlahnya lebih sedikit (di Pulau
Jawa) mulai diperangi oleh penduduk asli, sehingga posisinya terdesak.
Untuk itu mereka meminta bantuan kepada kerabatnya yang telah menetap di
`timur' untuk membantu mereka. Kala itu yang berkuasa di Sabu
adalah Miha Ngara, dan mengutus kedua anaknya Hawu Miha dan Jawa Miha
untuk membantu kerabatnya kaum pendatang di Jawa. Keduanya mendarat di
pantai selatan Jawa Barat di suatu tempat berbukit karang, lalu diberi
nama `Karang Hawu', letaknya kira-kira 1 km dari sebelah barat
pantai Pelabuhan Ratu.

Setelah peperangan berhasil dimenangkan, kedua kakak-beradik itu
berpamitan untuk kembali ke Sabu. Kerabat di Jawa meminta agar salah
seorang dari mereka untuk tinggal menetap di Jawa. Permintaan itu
ditampung namun harus dilaporkan dan diputuskan oleh ayahnya di Sabu.
Akhirnya diputuskan bila Jawa Miha yang berangkat ke Jawa sedangkan Hawu
Miha tetap tinggal di Sabu. Ketika keberangkatan, didirikan sebuah batu
peringatan yang diberi nama `Wowadu `Jawa Miha' di Namata.
Pada waktu `Jawa Miha berangkat ke Jawa ia diberi bibit beberapa
jenis tanaman untuk ditanam di sana yaitu cengkeh, wilahege, jahe, pala,
pohon pandan; dengan pesan bahwa sejak saat itu jenis tanaman tersebut
tidak boleh ditanam oleh Hawu Miha dan keturunannya di Sabu. Setelah
menetap di Jawa, Jawa Miha berganti nama menjadi `Aji Saka'.
Dalam perkembangan selanjutnya mereka memperluas wilayahnya mulai dari
Jawa Barat sampai ke Jawa Timur.

Pada zaman kerajaan Majapahit, Kepulauan Sabu berada dalam pengaruh
Majapahit, dan hubungan lama antara orang Jawa dan orang Sabu kembali
mendapat angin segar. Pulau Raijua dan Solor pernah menjadi pangkalan
armada kerajaan Majapahit; perahu dan armada Majapahit sering
menyambangi tempat ini. Terdapat banyak hikayat yang menghubungkan
faktor sejarah ini, seperti di antaranya salah seorang permaisuri raja
Majapahit bernama `Benni Kedo' berasal dari Raijua, bahkan
memiliki rumah di Pulau Dana. Pulau Raijua disebut `negeri Maja'
dan pemimpin masyarakat Raijua disebut `Niki Maja', dst.

Penulis buku menyebutkan keyakinan bila Gajah Mada berasal dari Raijua
dengan beberapa alasan. Misalnya nama Gajah Mada bukanlah nama yang
lazim disandang orang Jawa, karena orang Jawa akan mengucapkan nama itu
Gajah Mendo. Hanya di Sabu dan Raijua saja orang menyandang nama-nama
seperti Gaja, Mada, Me'do, Mo'jo, Jaka, Raja, Ratu, Laki, dst.
Juga di Nusa Tenggara tidak mengenal nama-nama seperti itu. Warna
`merah-putih' yang diagungkan Gajah Mada dan Majapahit adalah
warna `gula-kelapa' dan `air ketuban' yang menjadi
lambang orang Sabu sejak zaman dahulu kala.

Penulis juga mengungkapkan hubungan orang Sabu dengan orang Belu, Thie
Rote, Sumba, dan Ambon. Saya pernah ungkapkan asal-usul orang NTT ini
yang datang dari 3 penjuru pada threat Panen Lontar
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/281> .

Saya ingin kembangkan diskusi `Gajah Mada' ini secara bertahap
dan pelan-pelan di milis Referensi
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/>  dan Kebudayaan
<http://groups.yahoo.com/group/kebudayaan/>  bila Pak Djarot berkenan.
Sebelumnya saya pernah mengundang Mas Langit Kresna Hariadi
<http://groups.yahoo.com/group/kebudayaan/message/45>  untuk
mempertimbangkan beberapa masukan. Di milis Referensi ini juga ada Pak
Niki yang orang Thie Rote dan `keturunan' langsung Gajah Mada
(di Yogya), juga Pak Erwin dari Sunda Besar, serta tentunya para pemikir
sejarah dan kebudayaan. Dulu kalau tidak salah kawulo Eko juga berjanji
untuk ndalang. Berhubung beberapa minggu ini sudah ada celotehan para
dewata dari negeri kahyangan, yang selalu menjadi prolog dalam berbagai
kisah wayang, maka ... tok tok trotok tok tok ... layar pun dibuka ...

Salam,

-ekadj



--- In [email protected], Djarot Purbadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Dear All,
>
>
> Tadi pagi aku dengar di Pro-3: Gadjah Mada itu orang
> Sabu, ada yang bilang dia orang Bali, dan orang Jawa
> mengatakan beliau orang Jawa ! Ya biar saja, sebab
> mungkin ada hal - hal tacit yang belum terkuak dan
> biarkan kebenaran itu ada. Kalau dipaksakan mencari
> kebenaran tunggal....ya perdebatan yang
> terjadi...konflik yang muncul....maka biarkan orang
> Sabu, Bali dan Jawa bangga dengan kebenaran mereka itu
> ! Kalau ada yang mengklaim Gadjah Mada adalah nenek
> moyangnya, disertai dengan bukti-bukti juga, ya
> biarkan saja !
>
> Saya hanya kuatir, jangan sampai kasus klasik
> Galileo-galilei terjadi lagi, minimal jika terjadi ya
> sebaiknya bukan kita yang menjadi aktor utamanya ....
> heheheheeee....
>
> Salam,
> Djarot

Kirim email ke