Ya, saya mengutip ucapan Gubernur.  Bukan dana pendidikan menurun, tapi
'dialihkan'. Jadi dana subsidi sudah dianggarkan, tapi lalu dialihkan.

Istilah 'dialihkan' mungkin bukan istilah resmi, bisa saja 'perubahan
anggaran' atau lainnya. Yang jelas dia sebut subsidi untuk kegiatan apa,
dan dialihkan ke pembiayaan jalur busway yang mana.

Soal penduduk, usia sekolah, menurun, apalagi karena perubahan land-use
kan gejala jangka menengah,  bukan bukan setahun belakang (fiscal year)
ini saja.

Sepertinya gak mungkin, waktu menyusun anggaran DKI tidak tahu trend
jumlah penduduk, karena beberapa bulan ini banyak pembangunan komersial,
lalu jumlah penduduk turun drastis. Sehingga budget meleset?

Perubahan anggaran itu biasa dilakukan, hanya prosesnya yang jadi soal,
terbuka atau tidak, proses konsultasinya bagaimana?

Salam,
Risfan Munir





tidak diketahui tahun lalu
--- In [email protected], "Bambang Tata Samiadji" <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> Mengapa Dana Pendidikan DKI Jakarta turun?
>
> Pertama bahwa jumlah penduduk DKI Jakarta menurun sebagai akibat alih
fungsi perumahan ke komersial. Pertumbuhannya diperkirakan - 3,2%
pertahun (negatif). Otomatis jumlah KK turun dan jumlah anak didik SD
dan SLTP juga menurun. Dengan demikian dana subsidi untuk pendidikan
juga turun.
>
> Kedua, DKI Jakarta tidak lagi mendapatkan DAU dan hanya diganti dengan
Dana Penyeimbang. Tahun 2007 DKI Jakarta mendapat DAU sebesar Rp 652
milyar, dan sekarang (2008) hanya mendapat Rp 27 milyar dana
penyeimbang. Jadi DKI Jakarta kehilangan pendapatan sekitar 620 milyar.
>
> Berdasarkan kedua hal tersebut, maka wajar kalau dana subsidi bagi
pendidikan di DKI Jakarta turun. Tidaklah benar kalau subsidi pendidikan
itu dialihkan ke kegiatan pembangunan Busway karena dalam struktur APBD
tidak dikenal pengalihan dari satu sektor ke sektor lain.
>
> Thanks. CU. BTS.
>
> ----- Original Message -----
> From: Risfan M
> To: [email protected]
> Sent: Saturday, February 02, 2008 11:09 AM
> Subject: [referensi] Jakarta Banjir lagi
>
>
>
> So, mana yang mau diprioritaskan dari dua masalah besar - pengendalian
banjir, pengendalian transportasi? Kejadian kemarin menunjukkan keduanya
tidak bisa dipisahkan. Walau lalu-lintas terjadi harian, sedang banjir
musiman. Tapi momentum Presiden dan Wakil nya yang kebanjiran itu bisa
segera jadi momentum untuk meng-goal-kan kembali proposal penanggulangan
banjir ibukota. Tapi kalau untuk merampungkan koridor busway saja harus
memakai dana subsidi pendidikan das-men, maka untuk normalisasi
darinase, juga pembangunan kanal banjir dari mana ya? Kita percaya Bang
Foke tahu jawabannya.
> Manajemen kinerja pemerintah DKI, atau Bang Foke, bisa dilihat dari
berapa besar dampak banjir dibanding Feb 2007, lalu beberapa bulan lagi
bagaimana kalau datang bencana yang sama. Bagaimana perbaikan sistem
antisipasi, pencegahan dan penanggulangannya. Bagaimana prosesnya,
bagaimana output dan outcome nya. Adakah perubahan, adakah tanda-tanda
kesungguhan dalam m enangani masalahnya?
> Risfan Munir
> blog ecoplano
>
> Risfan M [EMAIL PROTECTED] wrote:
> Pak Djarot dan rekans,
>
> Menarik. Apakah pola grid itu karena itu memang desain yang paling
sederhana dan logis. Apa itu ada kemiripan dengan kota Ankor Wat, yang
juga berpola serupa, dan merupakan kota air.
>
> .
>
>
>
>
>
>
>
------------------------------------------------------------------------\
------
> Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try
it now.
>



Kirim email ke