Mengapa Majapahit yang kerajaan terbesar itu peninggalan (fisik)nya minim di
sekitar ibukota nya (Trowulan)? Ternyata jawabannya terkait culture
masyarakatnya. Berbeda dengan kerajaan Jawa sebelum dan sesudahnya, Majapahit
lebih outward orientation. Mengandalkan penaklukan dan perdagangan. Para lelaki
lebih banyak mengikuti ekspedisi ke pulau-pulau dan negeri lain. Sehingga tidak
sempat membuat candi2 atau bangunan dari batu. Candi dan bangunan era Majapahit
kebanyakan dari batu-bata. Dan, karena terjadi banjir besar, yang datang
berkali-kali sepanjang sejarah lembah Brantas itu, maka peningggalan Majapahit
segera sirna.
Berbeda dengan kerajaan lain sebelumnya, seperti Singosari dan Kediri, yang
kulturnya petani, inward oriented, punya waktu panjang saat menunggu panen
untuk menggarap, mengukir bangunan dan candi dari batu.
Prof. Dr. Sampurno, dosen geologi teknik yang selalu ngajar Planologi, juga
banyak meneliti 'misteri' peninggalan Majapahit tersebut dari segi geotek &
archeology. Langit KH pengarang novel itu juga pernah menjelaskan adanya
yayasan pelestari (penggali?) peninggalan Majapahit.
Sementara itu wajah Gajah Mada sendiri kalau tidak salah masih spekulasi kan,
apakah yang dikabarkan oleh Moh Yamin itu memang yang benar. Ada yang guyon,
kok lebih mirip alm Pak Yamin sendiri (?).
Salam,
Risfan Munir
blog ecoplano
Kresno Santosa <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Pak EkaDJ
Mudah-mudahan masih ingat saya, teman lama waktu ke Asmat. Saya mau kasih
masukan saja, untuk mengupas bagaimana Majapahit dan Gajah Mada, kebetulan saya
pernah baca buku mengenai Gadjah Mada (novel sejarah) karangan Langit Kresna
Haryadi, penerbit Tiga Serangkai, ada 5 jilid. Di situ kita bisa lihat
landscape ibu kota Majapahit Trowulan.
Salam Kresno
Djarot Purbadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Pak Ekadj yang selalu bersemangat, dan para sahabat
milis ini,
..... soal reuni para tokoh wayang kemarin itu sekedar
intermeso saja, sambil mencoba menggali ingatan lama,
sebab.... konon wayang adalah "kitab sucinya orang
Kejawen", dan ayah saya selalu menasehati kami dengan
wayang.... sekarang ditambah tokoh lain dari khasanah
agama.... jadi rasanya lengkap deh !
Soal diskusi Gadjah Mada, wah bagus Pak, saya setuju,
cuma memang saya tidak memiliki banyak informasi...
beberapa tahun yang lalu pernah membaca buku "Dunia
Orang Sawu" diterbitkan atas dasar disertasi Niko Kana
(orang Sawu ?) dosen UKSW (mantan ?) dan menyinggung
juga soal Gadjah Mada ini !
Selain itu, ketika S2 tahun 1996 kami serombongan
mahasiswa pernah diajak oleh Prof Parmono (Alm) ke
Trowulan, itu lho situs kraton Majapahit... dan
berjumpa dengan patung Gadjah Mada... saya tidak tahu
apakah profilnya mirip orang Sawu atau orang Jawa
sebab saya nggak kompeten dalam hal antropologi
fisik.... kami waktu itu berlatih metode menelusuri
jejak fisik dan latihannya melakukan kajian tentang
pola permukiman Majapahit di Trowulan..... yah sekedar
latihan awal....
Kesan saya, profil fisik patung Gadjah Mada itu memang
nggak seperti orang Jawa.... tapi bisa salah kok
Pak,..... kapan-kapan saya kirimkan foto patung sedada
orang hebat itu jika diperlukan....
Salam,
Djarot
--- ekadj08 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Pak Djarot dan Referensiers ysh,
>
> Sebagaimana saya pernah sebutkan sebelumnya
>
<http://groups.yahoo.com/group/kebudayaan/message/541>
> , beberapa bulan
> lalu saya menemukan sebuah buku `baru' di Kupang
> berjudul
> "Orang Sabu dan Budayanya" karya Robert Riwu Kaho,
> penerbit
> Jogja Global Media 2005. Sedikit saya ulas beberapa
> hal sehubungan
> dengan lontaran Pak Djarot.
>
> Kepulauan Sabu (Sawu) terletak di antara Pulau Sumba
> dan Rote, terdiri
> dari 3 buah pulau: Pulau Sabu, Raijua, dan Dana.
> Pulau Sabu-Dana dapat
> dikatakan pulau paling selatan Indonesia, berhadapan
> dengan Samudera
> Indonesia. Jumlah penduduknya saat ini sekitar
> 65.000 jiwa yang tersebar
> dalam 3 kecamatan. Pada waktu kepulauan Sabu berada
> di bawah pengaruh
> Majapahit, Pulau Dana masih berpenduduk. Konon
> katanya seorang pangeran
> dari Majapahit yang beristrikan seorang wanita dari
> Pulau Raijua pernah
> bermukim di pulau itu, dan bekas rumahnya masih ada
> sampai sekarang ini.
> 3 tahun yang lalu saya bersama Pak Ary Djatmiko
> sempat sampai ke
> Nembrala, dan dari situ dapat memandang ke Pulau
> Dana yang tidak begitu
> jauh letaknya. Terlihat pulau itu kosong tidak
> berpenghuni; dan kalau
> tidak salah Pak Ary merekomendasikan untuk membangun
> pos TNI-AL untuk
> menandai titik pangkal kepulauan teritorial
> Indonesia.
>
> Dalam buku tersebut disebutkan bila orang Sabu pada
> umumnya menamakan
> dirinya `Do Hawu'. Pulau Sabu mereka sebut `Rai
> Hawu'.
> Do/dou artinya orang atau manusia, dan rai artinya
> tanah atau negeri.
> Segala apa yang dipandang sebagai `yang asli' atau
> berasal dari
> Sabu selalu dikenakan kata sandang `Hawu'. Sedang
> yang berasal
> dari luar atau bukan asli Sabu dikenakan kata
> sandang ` `jawa
> `, misalnya terae `jawa (jagung), ki'i `jawa
> (domba),
> hi'ji/hi'gi `jawa (kain batik), dan emmu `jawa
> (rumah
> berbentuk bukan asli Sabu). Kata sandang hawu sudah
> dipergunakan sejak
> generasi ke-8 orang Sabu yang bernama Hawu Miha
> (Hawu bin Miha).
>
> Ketika bangsa Portugis dan Belanda tiba di Sabu,
> kata Hawu mengalami
> perubahan dalam pelafalannya menjadi `Savu';
> penduduknya disebut
> Sabos atau Savoenese. Padahal dalam Li Hawu (bahasa
> Sabu) tidak dikenal
> kata berhuruf s, f, dan v.
>
> Dari informasi turun-temurun disebutkan pada zaman
> generasi ke-7 ada
> seorang leluhur orang Sabu bernama Miha Ngara.
> Beliau mempunyai 5 orang
> anak yaitu Hawu Miha (cikal-bakal orang Sabu), Huba
> Miha (orang Sumba),
> Tie Miha (orang Tie Rote), Ede Miha (orang Ende),
> dan Jawa Miha (orang
> Jawa).
>
> Orang Sabu mengetahui kira-kira pada abad pertama
> Masehi, `Jawa Miha
> meninggalkan Sabu untuk menetap di Jawa. Di kemudian
> hari kontak antar
> keturunan dan keluarga tidak lagi terpelihara.
> Pengetahuan tentang
> adanya relasi ini diperoleh melalui syair-syair dan
> cerita para tetua
> dan pemangku adat di Sabu.
>
> `Migrasi' dari Asia Tenggara diakui telah
> berlangsung sekitar
> 500 tahun SM, dan kira-kira 200 tahun SM terjadi
> lagi migrasi dari India
> Selatan. Migrasi ini juga sampai ke Sabu. Pada
> gelombang ketiga
> disebutkan, ketika kaum pendatang yang jumlahnya
> lebih sedikit (di Pulau
> Jawa) mulai diperangi oleh penduduk asli, sehingga
> posisinya terdesak.
> Untuk itu mereka meminta bantuan kepada kerabatnya
> yang telah menetap di
> `timur' untuk membantu mereka. Kala itu yang
> berkuasa di Sabu
> adalah Miha Ngara, dan mengutus kedua anaknya Hawu
> Miha dan Jawa Miha
> untuk membantu kerabatnya kaum pendatang di Jawa.
> Keduanya mendarat di
> pantai selatan Jawa Barat di suatu tempat berbukit
> karang, lalu diberi
> nama `Karang Hawu', letaknya kira-kira 1 km dari
> sebelah barat
> pantai Pelabuhan Ratu.
>
> Setelah peperangan berhasil dimenangkan, kedua
> kakak-beradik itu
> berpamitan untuk kembali ke Sabu. Kerabat di Jawa
> meminta agar salah
> seorang dari mereka untuk tinggal menetap di Jawa.
> Permintaan itu
> ditampung namun harus dilaporkan dan diputuskan oleh
> ayahnya di Sabu.
> Akhirnya diputuskan bila Jawa Miha yang berangkat ke
> Jawa sedangkan Hawu
> Miha tetap tinggal di Sabu. Ketika keberangkatan,
> didirikan sebuah batu
> peringatan yang diberi nama `Wowadu `Jawa Miha' di
> Namata.
> Pada waktu `Jawa Miha berangkat ke Jawa ia diberi
> bibit beberapa
> jenis tanaman untuk ditanam di sana yaitu cengkeh,
> wilahege, jahe, pala,
> pohon pandan; dengan pesan bahwa sejak saat itu
> jenis tanaman tersebut
> tidak boleh ditanam oleh Hawu Miha dan keturunannya
> di Sabu. Setelah
> menetap di Jawa, Jawa Miha berganti nama menjadi
> `Aji Saka'.
> Dalam perkembangan selanjutnya mereka memperluas
> wilayahnya mulai dari
> Jawa Barat sampai ke Jawa Timur.
>
> Pada zaman kerajaan Majapahit, Kepulauan Sabu berada
> dalam pengaruh
> Majapahit, dan hubungan lama antara orang Jawa dan
> orang Sabu kembali
> mendapat angin segar. Pulau Raijua dan Solor pernah
> menjadi pangkalan
> armada kerajaan Majapahit; perahu dan armada
> Majapahit sering
> menyambangi tempat ini. Terdapat banyak hikayat yang
> menghubungkan
> faktor sejarah ini, seperti di antaranya salah
> seorang permaisuri raja
> Majapahit bernama `Benni Kedo' berasal dari Raijua,
> bahkan
> memiliki rumah di Pulau Dana. Pulau Raijua disebut
> `negeri Maja'
> dan pemimpin masyarakat Raijua disebut `Niki Maja',
> dst.
>
> Penulis buku menyebutkan keyakinan bila Gajah Mada
> berasal dari Raijua
> dengan beberapa alasan. Misalnya nama Gajah Mada
> bukanlah nama yang
> lazim disandang orang Jawa, karena orang Jawa akan
> mengucapkan nama itu
> Gajah Mendo. Hanya di Sabu dan Raijua saja orang
> menyandang nama-nama
> seperti Gaja, Mada, Me'do, Mo'jo, Jaka, Raja, Ratu,
> Laki, dst.
> Juga di Nusa Tenggara tidak mengenal nama-nama
> seperti itu. Warna
> `merah-putih' yang diagungkan Gajah Mada dan
> Majapahit adalah
> warna `gula-kelapa' dan `air ketuban' yang menjadi
> lambang orang Sabu sejak zaman dahulu kala.
>
> Penulis juga mengungkapkan hubungan orang Sabu
> dengan orang Belu, Thie
> Rote, Sumba, dan Ambon. Saya pernah ungkapkan
> asal-usul orang NTT ini
> yang datang dari 3 penjuru pada threat Panen Lontar
>
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/281>
> .
>
> Saya ingin kembangkan diskusi `Gajah Mada' ini
> secara bertahap
> dan pelan-pelan di milis Referensi
> <http://groups.yahoo.com/group/referensi/> dan
> Kebudayaan
> <http://groups.yahoo.com/group/kebudayaan/> bila
> Pak Djarot berkenan.
> Sebelumnya saya pernah mengundang Mas Langit Kresna
> Hariadi
>
<http://groups.yahoo.com/group/kebudayaan/message/45>
> untuk
> mempertimbangkan beberapa masukan. Di milis
> Referensi ini juga ada Pak
> Niki yang orang Thie Rote dan `keturunan' langsung
> Gajah Mada
>
=== message truncated ===
__________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and
know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ
---------------------------------
Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.