Pak Djarot dan rekans,
   
  Menarik. Apakah pola grid itu karena itu memang desain yang paling sederhana 
dan logis. Apa itu ada kemiripan dengan kota Ankor Wat, yang juga berpola 
serupa, dan merupakan kota air. 
   
  Tentang asal muasal Gajah Mada, berita resmi kan dari pedalaman selatan 
Singosari. Juga alasan outward and marine orientation kan tidak harus idenya 
orang-orang pulau-pulau kecil. Belanda (dan kerajaan kecil sekitarnya) 
misalnya, orientasi ke laut, ke seberang, karena 'terdesak' kerajaan-kerajaan 
besar di daratan. Sehingga orientasinya membendung, mereklamasi pantai, dan 
berlayar mencari kemungkinan daratan lain. Apakah alasan yang sama yang 
mendasari Majapahit, yang punya 'hutang' ke eks Singosari dan Kediri?
  Juga soal persinggungannya sejak awal dengan ekspedisi atau utusan kerajaan 
dari China.
   
  Tapi semua tentu perlu dibuktikan, atau mengundang opini sejarawan. Yang 
jelas, Majapahit juga tidak 'nglurug' (menyerang) kerajaan-kerajaan yang 
statis, tapi melalui interaksi dan rivalitas dengan sesama pelaut dari kerajaan 
pesisir dari seluruh nusantara. Sehingga interaksi antar kerajaan antar pulau 
itu tidak dibentuk sepihak oleh Majapahit, tapi oleh semuanya. Begitukah?!
   
  Salam,
  Risfan Munir
  blog ecoplano
   
   
   
   
   
  
Djarot Purbadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Pak Risfan dan sahabats,

Tanggapan Bapak menimbulkan inspirasi topik bercabang:
Gadjah Mada atau Kota Majapahit ! Bagaimana Pak Ekadj
? Dua-duanya saya kira menarik dan mungkin bisa saling
menjelaskan.

Soal kota Majapahit, para arkeolog UI pernah melakukan
ekskavasi disana sekitar tahun 1996 (?) dengan dana
riset dari negara. Mereka menemukan sepetak reruntuhan
rumah dan halamannya. Kami pernah melihat dan
memotretnya. 

Ada yang aneh dengan temuan UI dan foto udara kota
Majapahit yang konon berpola grid dan merupakan "kota
air". Anehnya adalah: ketika dilakukan superposisi
(overlay) garis-garis yang membentuk elemen-elemen
rumah dengan pola grid kota Majapahit.... ternyata
sebagian besar garis di kedua data itu sejajar atau
paralel ! Artinya, pola letak hunian sejajar dengan
garis-garis transportasi kota, mirip perumahan yang
dibangun selama beberapa dekade ini yang menggunakan
pola papan catur.

Keanehan kedua, grid Majapahit itu tidak persis
utara-selatan kutub bumi melainkan agak bergeser
sekitar 10 derajat ke arah kanan. Ini saya katakan
aneh sebab sumbu imajiner kota Yogyakarta (Panggung
Krapyak - Kraton dan Puncak Merapi) juga "miring"
sekitar 10 derajat itu !

Ada misteri apa dengan kemiringan kedua layout tata
ruang kota Majapahit dan Yogyakarta... mungkinkah
berkaitan dengan garis edar matahari ? atau ada
jawaban yang lain ?

Tahun 1996 itu kami latihan lapangan, didampingi oleh
mantak kepala PSPS Jawa Tengah (Pak Romli). Beliau
sangat mumpuni di lapangan, bahkan pernah memprakarsai
terbitan buku 700 tahun Kota Majapahit di Trowulan,
yang terkenal itu. Beliau sangat familier dengan
lapangan karena ketika menjabat di sana memang orang
lapangan betul. Bahkan, untuk menulis makalahnya
(salah satu makalah di 700 tahun Majapahit) Prof
Parmono berkali-kali ke lapangan dan didampingi
muridnya, Pak Romli itu ! Ketika di lapangan, Pak
Romli selalu didampingi istrinya, DR. Inayati;
keduannya arkeolog alumni UGM, bahkan teman sekelas !

Barangkali memang aneh, Gadjah Mada mengarahkan
pengembangan Majapahit ke tema penaklukan - luar Jawa
- dengan kekuatan angkatan laut. Apakah ini sebuah
petunjuk, bahwa Gadjah Mada adalah bagian dari "nenek
moyang kita orang pelaut" ? Tegasnya, akan sangat
mustahil seorang "Jawa pedalaman" masa itu (meski
dengan kewenangan negara) mengerahkan kekuatan dan
berorientasi menyeberang lautan ! Artinya, yang paling
memungkinkan punya ide kelautan dan seberang lautan
penuh kehidupan adalah orang-orang pelaut (punya
tradisi hidup melaut).

Menurut saya, fenomena karakter pikiran Gadjah Mada
yang tidak berambisi menguasai pedalaman ini merupakan
petunjuk menarik.... ada apakah di belakangnya ? Ya,
semacam petunjuk kecil untuk menguak misteri Gadjah
Mada. 

Oh ya, di UGM juga ada disertasi tentang kota
Majapahit di Trowulan, ditulis oleh Bondan
Hermanislamet,... salah satu promotornya ya Pak
Parmono Atmadi.

Salam,
Djarot

--- Risfan M <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Mengapa Majapahit yang kerajaan terbesar itu
> peninggalan (fisik)nya minim di sekitar ibukota nya
> (Trowulan)? Ternyata jawabannya terkait culture
> masyarakatnya. Berbeda dengan kerajaan Jawa sebelum
> dan sesudahnya, Majapahit lebih outward orientation.
> Mengandalkan penaklukan dan perdagangan. Para lelaki
> lebih banyak mengikuti ekspedisi ke pulau-pulau dan
> negeri lain. Sehingga tidak sempat membuat candi2
> atau bangunan dari batu. Candi dan bangunan era
> Majapahit kebanyakan dari batu-bata. Dan, karena
> terjadi banjir besar, yang datang berkali-kali
> sepanjang sejarah lembah Brantas itu, maka
> peningggalan Majapahit segera sirna.
> 
> Berbeda dengan kerajaan lain sebelumnya, seperti
> Singosari dan Kediri, yang kulturnya petani, inward
> oriented, punya waktu panjang saat menunggu panen
> untuk menggarap, mengukir bangunan dan candi dari
> batu.
> 
> Prof. Dr. Sampurno, dosen geologi teknik yang
> selalu ngajar Planologi, juga banyak meneliti
> 'misteri' peninggalan Majapahit tersebut dari segi
> geotek & archeology. Langit KH pengarang novel itu
> juga pernah menjelaskan adanya yayasan pelestari
> (penggali?) peninggalan Majapahit. 
> 
> Sementara itu wajah Gajah Mada sendiri kalau tidak
> salah masih spekulasi kan, apakah yang dikabarkan
> oleh Moh Yamin itu memang yang benar. Ada yang
> guyon, kok lebih mirip alm Pak Yamin sendiri (?).
> 
> Salam,
> Risfan Munir
> blog ecoplano
> 
> Kresno Santosa <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Pak EkaDJ
> 
> Mudah-mudahan masih ingat saya, teman lama waktu
> ke Asmat. Saya mau kasih masukan saja, untuk
> mengupas bagaimana Majapahit dan Gajah Mada,
> kebetulan saya pernah baca buku mengenai Gadjah Mada
> (novel sejarah) karangan Langit Kresna Haryadi,
> penerbit Tiga Serangkai, ada 5 jilid. Di situ kita
> bisa lihat landscape ibu kota Majapahit Trowulan. 
> 
> 
> 
> Salam Kresno
> 
> 
> 
> 
> Djarot Purbadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Pak Ekadj yang selalu bersemangat, dan para
> sahabat
> milis ini, 
> 
> ..... soal reuni para tokoh wayang kemarin itu
> sekedar
> intermeso saja, sambil mencoba menggali ingatan
> lama,
> sebab.... konon wayang adalah "kitab sucinya orang
> Kejawen", dan ayah saya selalu menasehati kami
> dengan
> wayang.... sekarang ditambah tokoh lain dari
> khasanah
> agama.... jadi rasanya lengkap deh !
> 
> Soal diskusi Gadjah Mada, wah bagus Pak, saya
> setuju,
> cuma memang saya tidak memiliki banyak informasi...
> beberapa tahun yang lalu pernah membaca buku "Dunia
> Orang Sawu" diterbitkan atas dasar disertasi Niko
> Kana
> (orang Sawu ?) dosen UKSW (mantan ?) dan menyinggung
> juga soal Gadjah Mada ini !
> 
> Selain itu, ketika S2 tahun 1996 kami serombongan
> mahasiswa pernah diajak oleh Prof Parmono (Alm) ke
> Trowulan, itu lho situs kraton Majapahit... dan
> berjumpa dengan patung Gadjah Mada... saya tidak
> tahu
> apakah profilnya mirip orang Sawu atau orang Jawa
> sebab saya nggak kompeten dalam hal antropologi
> fisik.... kami waktu itu berlatih metode menelusuri
> jejak fisik dan latihannya melakukan kajian tentang
> pola permukiman Majapahit di Trowulan..... yah
> sekedar
> latihan awal....
> 
> Kesan saya, profil fisik patung Gadjah Mada itu
> memang
> nggak seperti orang Jawa.... tapi bisa salah kok
> Pak,..... kapan-kapan saya kirimkan foto patung
> sedada
> orang hebat itu jika diperlukan....
> 
> Salam,
> Djarot
> 
> --- ekadj08 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> > 
> > Pak Djarot dan Referensiers ysh,
> > 
> > Sebagaimana saya pernah sebutkan sebelumnya
> >
>
<http://groups.yahoo.com/group/kebudayaan/message/541>
> > , beberapa bulan
> > lalu saya menemukan sebuah buku `baru' di Kupang
> > berjudul
> > "Orang Sabu dan Budayanya" karya Robert Riwu Kaho,
> > penerbit
> > Jogja Global Media 2005. Sedikit saya ulas
> beberapa
> > hal sehubungan
> > dengan lontaran Pak Djarot.
> > 
> > Kepulauan Sabu (Sawu) terletak di antara Pulau
> Sumba
> > dan Rote, terdiri
> > dari 3 buah pulau: Pulau Sabu, Raijua, dan Dana.
> > Pulau Sabu-Dana dapat
> > dikatakan pulau paling selatan Indonesia,
> berhadapan
> > dengan Samudera
> > Indonesia. Jumlah penduduknya saat ini sekitar
> > 65.000 jiwa yang tersebar
> > dalam 3 kecamatan. Pada waktu kepulauan Sabu
> berada
> > di bawah pengaruh
> > Majapahit, Pulau Dana masih berpenduduk. Konon
> > katanya seorang pangeran
> > dari Majapahit yang beristrikan seorang wanita
> dari
> > Pulau Raijua pernah
> > bermukim di pulau itu, dan bekas rumahnya masih
> ada
> > sampai sekarang ini.
> > 3 tahun yang lalu saya bersama Pak Ary Djatmiko
> > sempat sampai ke
> > Nembrala, dan dari situ dapat memandang ke Pulau
> > Dana yang tidak begitu
> > jauh letaknya. Terlihat pulau itu kosong tidak
> > berpenghuni; dan kalau
> > tidak salah Pak Ary merekomendasikan untuk
> membangun
> > pos TNI-AL untuk
> > menandai titik pangkal kepulauan teritorial
> > Indonesia.
> > 
> > Dalam buku tersebut disebutkan bila orang Sabu
> pada
> > umumnya menamakan
> > dirinya `Do Hawu'. Pulau Sabu mereka sebut `Rai
> > Hawu'.
> > Do/dou artinya orang atau manusia, dan rai artinya
> > tanah atau negeri.
> > Segala apa yang dipandang sebagai `yang asli' atau
> > berasal dari
> > Sabu selalu dikenakan kata sandang `Hawu'. Sedang
> > yang berasal
> > dari luar atau bukan asli Sabu dikenakan kata
> > sandang ` `jawa
> > `, misalnya terae `jawa (jagung), ki'i `jawa
> > (domba),
> > hi'ji/hi'gi `jawa (kain batik), dan emmu `jawa
> > (rumah
> > berbentuk bukan asli Sabu). Kata sandang hawu
> sudah
> > dipergunakan sejak
> > generasi ke-8 orang Sabu yang bernama Hawu Miha
> > (Hawu bin Miha).
> > 
> > Ketika bangsa Portugis dan Belanda tiba di Sabu,
> > kata Hawu mengalami
> > perubahan dalam pelafalannya menjadi `Savu';
> > penduduknya disebut
> > Sabos atau Savoenese. Padahal dalam Li Hawu
> (bahasa
> > Sabu) tidak dikenal
> > kata berhuruf s, f, dan v.
> > 
> > Dari informasi turun-temurun disebutkan pada zaman
> > generasi ke-7 ada
> > seorang leluhur orang Sabu bernama Miha Ngara.
> > Beliau mempunyai 5 orang
> > anak yaitu Hawu Miha (cikal-bakal orang Sabu),
> Huba
> > Miha (orang Sumba),
> > Tie Miha (orang Tie Rote), Ede Miha (orang Ende),
> > dan Jawa Miha (orang
> > Jawa).
> > 
> > Orang Sabu mengetahui kira-kira pada abad pertama
> > Masehi, `Jawa Miha
> > meninggalkan Sabu untuk menetap di Jawa. Di
> kemudian
> > hari kontak antar
> 
=== message truncated ===

__________________________________________________________
Never miss a thing. Make Yahoo your home page. 
http://www.yahoo.com/r/hs


                         

       
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with Yahoo! Search.

Kirim email ke