Pak Aunur Rofiq ysh,
Wah... itu pertanyaan yang menarik pak.... tetapi tentu yang paling pantas
menjelaskannya adalah yang memiliki wewenang..... dan bukan penonton jalanan
macem saya gini ... hehe...
Dan sebaliknya pula ..... sangat menarik juga .... kenapa pak Rofiq lebih
pilih Luwuk
dibanding Palu ...... saya kira bapak perlu menjelaskannya juga lho pak......
dan boleh saya tunggu ya?....hehe..
salam,
aby.
Aunur rofiq <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Saya hanya ingin memberi komentar Kapet Batui yang akan dipindahkan
ke Palu dsk. Apakah karena palu itu ibukota provinsi Sulteng?. Padahal kalau
kita lihat perkembangan kota Luwuk, dinamikanya lebih baik dibanding Palu,
sumberdaya alam yang dipunyai juga lebih baik, sayang karena Luwuk cuma ibukota
dari Kabupaten Banggai dianggap bahwa tidak tepat menjadi Kapet.
Salam
Aunur Rofiq
----- Original Message ----
From: hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Tuesday, May 27, 2008 10:32:01 AM
Subject: [referensi] Re: DPR Minta Tinjau Ulang13 Daerah Kapet
Kawasan Pengembangan Ekonomi
DPR Minta Tinjau Ulang13 Daerah Kapet
DPR menganggap Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (Kapet) ternyata
berjalan tak sesuai harapan. DPR menganggap kawasan yang telah mendapat
prioritas pembangunan belum mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah.
Karena itu anggota Komisi V DPR Mirwan Amir mengharapkan pemerintah pusat
harus lebih selektif dalam mengalokasikan dana bagi kawasan yang telah
ditetapkan sebagai Kapet.
Bahkan anggota Komisi V DPR Afni Achmad meminta pemerintah mengevaluasi 13
kawasan ekonomi andalan tsb. “Jadi harus diputuskan mana kapet yang
dipertahankan atau dibubarkanÂ’, katanya.
Pemerintah pusat sudah menetapkan 13 daerah Kapet dan mengalokasikan Rp
171.3 milyar. Kendati 60% dana tersebut sudah habis terpakai, toh manfaat Kapet
masih belum terasa. Bahkan usut punya usut, banyak penyelewengan dalam
penggunaan dana tsb.
Ke 13 Kapet yaitu Biak (Papua), Seram (Maluku), Mbay (NTB) Pare-Pare
(SulSel), Buton Kolaka Kendari (Sultra), Batui (SulTeng), Manado Bitung
(Sulut), Sasamba (KalTim), Batulicin (KalSel), Das Kakab (Kalteng)
Khatulistiwa (Kalbar), Banda Aceh Darussalam (Nanggroe Aceh Darussalam).
Departemen PU menganggap permintaan DPR ini sebagai masukan. Instansi ini
berjanji akan mengevaluasi 13 daerah kapet agar bisa mendorong pertumbuhan
ekonomi didaerah sekitarnya.
Sekretaris Tim Teknis Badan Pengembangan Kapet Imam S. Ernawi menyatakan,
Departemen PU akan mengambil 3 langkah setelah mengkaji masalah kapet ini.
Pertama, mempertahankan daerah tsb sebagai Kapet.
Kedua, mengurangi atau mengoreksi daerah kapet menjadi 5 dengan
memprioritaskan pada ketersediaan sumber daya alam dan lokasi strategis dengan
ditopang infrastruktur yang memadai. Daerah yang dimaksud yakni kapet di Das
Kakab diubah ke Sampit hingga Pangkalan Bun lalu Kapet Batui menjadi Kapet
Palu dsk.nya.
Selain itu Kapet di Buton Kolaka Kendari diganti kekawasan Kendari dsknya .
Kapet Bima dialihkan kekawasan Lombok dsk.nya serta Kapet Mbay menjadi
kawasan Kupang dsk.nya, sedangkan alternatif ke-3 memperkecil luas wilayah
daerah yang menjadi Kapet.
Berdasarkan kajian selama ini, dari 13 Kapet hanya 2 Kapet yang
menggembirakan, yakni Kapet Bitung, Sulut serta Kapet Sasamba, Kaltim.
(Martina Prianti/kontan)
Catatan :
Dari upaya koreksi yang dilakukan ......terdapat kesan 'pertanda baik' bahwa
pertama ... "menetapkan sebanyak-banyak pusat" ternyata diakui sebagai tidak
tepat (Perroux pun juga tidak mengatakan demikian)........
Kedua.... 'kotabesar' diwilayah terpencil kini mulai lebih dipercaya dan
dianggap lebih logis akan lebih mampu menggerakkan pembangunan daerah lebih
dari pada "kepercayaan sebelumnya" bahwa "kota-kota kecil didaerah" mampu
melakukannya............
Ketiga .... sektor industri dan perdagangan diperkotaan seperti mulai
dipercaya akan lebih memberikan sumbangan perannya yang besar dibanding basis
sektor pengembangan SDA didaerah.........
Mudah2an tak lama setelah ini akan muncul "kepercayaan baru" .pula .... bahwa
mengembangkan "satu kota besar beneran" dikawasan terpencil (seperti
mengembangkan "Greater Makassar" misalnya) yang mampu mengembangkan berbagai
multi sektor modern ( manufacturing industry, trade, tourism) juga tidak lebih
buruk hasilnya dibanding mengembangkan "5 Kapet Hasil Koreksi"...........
Salam,
aby