Kawasan Pengembangan Ekonomi
   
  DPR  Minta Tinjau Ulang13 Daerah Kapet
   
  DPR menganggap Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu  (Kapet) ternyata 
berjalan tak sesuai harapan. DPR menganggap kawasan yang telah mendapat 
prioritas pembangunan belum mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah.
  Karena itu anggota Komisi V DPR Mirwan Amir  mengharapkan pemerintah pusat 
harus lebih selektif dalam mengalokasikan dana  bagi kawasan yang telah 
ditetapkan  sebagai Kapet.
  Bahkan anggota Komisi V DPR Afni Achmad meminta pemerintah mengevaluasi 13 
kawasan ekonomi andalan  tsb. “Jadi harus diputuskan mana kapet yang 
dipertahankan atau dibubarkanÂ’,  katanya.
  Pemerintah pusat sudah menetapkan 13 daerah Kapet dan mengalokasikan  Rp 
171.3 milyar. Kendati 60% dana tersebut sudah habis terpakai, toh manfaat Kapet 
masih belum terasa. Bahkan usut punya usut, banyak penyelewengan dalam 
penggunaan dana tsb.
  Ke 13 Kapet yaitu  Biak (Papua), Seram (Maluku), Mbay (NTB) Pare-Pare 
(SulSel), Buton Kolaka Kendari (Sultra), Batui (SulTeng), Manado Bitung 
(Sulut), Sasamba (KalTim), Batulicin (KalSel),  Das Kakab (Kalteng) 
Khatulistiwa (Kalbar), Banda Aceh Darussalam (Nanggroe Aceh Darussalam).
  Departemen PU menganggap permintaan DPR ini sebagai masukan. Instansi ini 
berjanji akan mengevaluasi 13 daerah kapet agar bisa mendorong pertumbuhan 
ekonomi didaerah sekitarnya.
  Sekretaris Tim Teknis Badan Pengembangan Kapet Imam S. Ernawi menyatakan, 
Departemen PU akan mengambil 3 langkah setelah mengkaji masalah kapet ini. 
Pertama, mempertahankan daerah tsb sebagai Kapet.
  Kedua, mengurangi atau mengoreksi daerah kapet menjadi 5 dengan 
memprioritaskan  pada ketersediaan sumber daya alam dan lokasi strategis dengan 
ditopang infrastruktur yang memadai.  Daerah yang dimaksud yakni  kapet di Das 
Kakab diubah ke Sampit hingga Pangkalan Bun  lalu Kapet Batui menjadi Kapet 
Palu dsk.nya.
  Selain itu Kapet di Buton Kolaka Kendari diganti kekawasan Kendari  dsknya .
  Kapet Bima dialihkan kekawasan Lombok dsk.nya serta Kapet Mbay menjadi 
kawasan Kupang dsk.nya, sedangkan alternatif ke-3 memperkecil luas wilayah 
daerah yang menjadi Kapet.
  Berdasarkan kajian selama ini, dari 13 Kapet  hanya 2 Kapet yang 
menggembirakan, yakni Kapet Bitung, Sulut serta Kapet Sasamba, Kaltim. 
  (Martina Prianti/kontan)
   
  Catatan : 
  Dari upaya koreksi yang dilakukan ......terdapat kesan 'pertanda baik' bahwa  
pertama ... "menetapkan sebanyak-banyak pusat" ternyata  diakui sebagai   tidak 
tepat  (Perroux pun juga tidak mengatakan demikian)........
  Kedua.... 'kotabesar'  diwilayah terpencil kini mulai lebih dipercaya dan 
dianggap lebih logis akan lebih mampu menggerakkan pembangunan daerah lebih 
dari pada "kepercayaan sebelumnya"  bahwa  "kota-kota kecil didaerah" mampu 
melakukannya............
  Ketiga .... sektor industri dan perdagangan diperkotaan seperti mulai 
dipercaya akan lebih memberikan sumbangan perannya yang besar dibanding basis 
sektor pengembangan SDA didaerah.........
  Mudah2an tak lama setelah ini akan muncul "kepercayaan baru" .pula .... bahwa 
mengembangkan "satu kota besar beneran" dikawasan terpencil  (seperti 
mengembangkan "Greater Makassar" misalnya) yang mampu mengembangkan berbagai 
multi sektor modern  ( manufacturing industry, trade, tourism) juga tidak lebih 
buruk hasilnya dibanding mengembangkan "5 Kapet Hasil  Koreksi"...........
   
  Salam,
  aby
   
   
   
   
   

       

Kirim email ke