Milister semuanya ysh,
   
  Arsitektur, produk mode, barang kerajinan, musik, lukisan, atau pertunjukan 
seni bukanlah barang baru. Meski demikian, pemerintah memasukkannya ke dalam 
kelompok industri kreatif.
  Industri kreatif atau sering disebut juga ekonomi kreatif semakin mendapat 
perhatian utama banyak negara karena industri ini memberi kontribusi nyata 
terhadap perekonomian negara.
  Selain menyumbang pada ekspor, penyerapan tenaga kerja, dan produk domestik 
bruto (PDB), ekonomi berbasis ide kreatif ini juga dianggap tidak terlalu 
bergantung pada sumber daya alam tak terbarukan. 
  Dengan kata lain, dapat menjadi ramah lingkungan, sejalan dengan kebutuhan 
mengurangi kerusakan lingkungan.
  ”Yang termasuk di dalam industri kreatif bukan industri baru. Masalahnya, 
bagaimana membangkitkan industri ini agar memberi nilai tambah ekonomi lebih 
tinggi. Nilai ekonomi industri ini diangkat karena keragaman budaya kita tinggi 
dan manusianya secara alamiah kreatif. Ini potensi dan daya saing kita,” kata 
Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu.
  Cetak Biru Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia diserahkan Menteri 
Perdagangan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada pembukaan Pekan 
Produk Budaya Indonesia (PPBI) di Balai Sidang, Rabu (4/6).
  Dalam Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2025 yang disusun Departemen 
Perdagangan, ada 14 industri yang diidentifikasi sebagai industri kreatif: (1) 
arsitektur, (2) desain, (3) kerajinan, (4) layanan komputer dan peranti lunak, 
(5) mode, (6) musik, (7) pasar seni dan barang antik, (8) penerbitan dan 
percetakan, (9) periklanan, (10) permainan interaktif, (11) riset dan 
pengembangan, (12) seni pertunjukan, (13) televisi dan radio, serta (14) video, 
film, dan fotografi.
  Negara yang dianggap pertama kali menaruh perhatian serius pada industri atau 
ekonomi kreatif adalah Inggris pada tahun 1997. 
  Hasil pemetaan mereka memperlihatkan, industri menyumbang 7,9 persen pada PDB 
negara itu, tumbuh 9 persen pada tahun 1999-2000 dibandingkan total ekonomi 
sebesar 2,8 persen. 
  Nilai ekspornya 8,7 miliar pound atau 3,3 persen dari total ekspor tahun 
2000, tumbuh 13 persen dalam periode 1997-2000, sementara ekspor barang dan 
jasa tumbuh hanya 5 persen. Sedangkan penyerapan tenaga kerja pada tahun 2001 
sebesar 1,95 juta tenaga kerja, tumbuh 5 persen per tahun, sementara penyerapan 
tenaga kerja oleh total industri di Inggris hanya tumbuh 1,5 persen.
  Studi Industri Kreatif Indonesia 2007 oleh Departemen Perdagangan 
menyebutkan, ke-14 industri kreatif Indonesia menyumbang rata-rata Rp 104,638 
triliun pada 2002-2006 untuk PDB, lebih besar daripada kontribusi sektor 
pengangkutan dan komunikasi, bangunan, serta listrik, gas, dan air bersih. 
  Pada periode sama, menyerap 5,4 juta tenaga kerja dengan produktivitas Rp 
19,5 juta per pekerja per tahun dibandingkan dengan produktivitas nasional yang 
rata-rata Rp 18 juta.
   
  Fase-fase dalam ekonomi kreatif
  Definisi industri kreatif yang digunakan pemerintah mengadopsi definisi 
Pemerintah Inggris, yaitu proses peningkatan nilai tambah hasil eksploitasi 
kekayaan intelektual berupa kreativitas, keahlian, dan bakat individu menjadi 
produk yang dapat dijual sehingga meningkatkan kesejahteraan bagi pelaksana dan 
orang yang terlibat.
  Definisi ini memperlihatkan pentingnya ide kreatif. Tetapi, ide kreatif 
tersebut membutuhkan transformasi agar dapat menjadi produk bernilai ekonomi.
  Di dalam peta industri kreatif, pemerintah membuat model berdasarkan pada 
individu kreatif dengan lima pilar utama: (1) industri yang terlibat dalam 
produksi industri kreatif; (2) teknologi sebagai pendukung mewujudkan 
kreativitas individu; (3) sumber daya seperti sumber daya alam dan lahan; (4) 
kelembagaan mulai dari norma dan nilai di masyarakat, asosiasi industri, dan 
komunitas pendukung hingga perlindungan atas kekayaan intelektual; dan (5) 
lembaga intermediasi keuangan.
   
  Aktor utama yang terlibat adalah intelektual, termasuk budayawan, seniman, 
pendidik, peneliti, penulis, pelopor di sanggar budaya, serta tokoh di bidang 
seni, budaya, dan ilmu pengetahuan; bisnis, yaitu pelaku usaha yang 
mentransformasi kreativitas menjadi produk bernilai ekonomi; dan pemerintah 
sebagai katalisator dan advokasi, regulator, konsumen, investor dan wiraswasta, 
serta perencana kota.
  ”Kunci semua itu implementasi hasil pemetaan. Kami di pemerintahan mulai 
berkoordinasi. Dari cetak biru ini harus ada rencana aksi dari tiap lembaga 
terkait. Dari situ harus ada mekanisme koordinasi, bisa di lembaga menko yang 
ada atau lembaga pemerintah yang dijalankan seperti swasta,” kata Mari.
   
  Di dalam implementasi itu termasuk memastikan ekonomi kreatif tidak berada 
hanya pada 14 sektor tersebut. Berdasarkan pengalaman negara-negara lain, tahap 
itu baru fase pertama dari ekonomi kreatif. Fase berikut, proses kreatif harus 
ada di semua kegiatan ekonomi.
  Indonesia, menurut Mari, sebetulnya mulai memasuki tahap tersebut. 
  Industri keramik kelas dunia Royal Doulton dari Inggris yang motifnya dibuat 
dengan lukisan tangan, misalnya, membuka pabrik di Jakarta sebagai satu-satunya 
pabrik di luar Inggris karena percaya kepada kreativitas dan keterampilan orang 
Indonesia. 
  Seniman batik Iwan Tirta, misalnya, diminta mendesain motif untuk peralatan 
makan. Begitu juga sepatu Nike dan Adidas mulai membuat desain sepatunya di 
sini.
  Fase terakhir adalah pada akhirnya konsumen menentukan arah, dinamika, dan 
evolusi ekonomi kreatif.
  ”Ini menyangkut isu demografi. Hampir semua pasar baru, termasuk Indonesia, 
memiliki lebih banyak penduduk usia muda daripada orang dewasa. Mereka sumber 
ekonomi kreatif sekaligus pasar. Dinamika ini harus kita pahami,” tambah Mari.
   
  *           *           *
  Melihat karakteristik industri kreatif ini... jelas bahwa ia tak semudah itu 
dapat dikembangkan didaerah dengan pembangunan berbasis utama agrarian.... dan 
utamanya didaerah  yang tak jelas strategi pengembangan urbannya.....seperti 
pada umumnya  strategi ‘Kapet’ yang sudah lalu.......
   
  Salam,
  aby
   
  (bahan dari Ninuk M. Pambudy/ Kompas)
   

       

Kirim email ke