Pak Risfan, juga bapak2 Wawo, Didit Suhadi, Nuzul, Rofiq, Abimanyu,  Onnos, 
Eka, Djarot dan milister semuanya ysh,
   
  Obrolan industri kreatif pada putaran kali ini ya baru  dimulai dengan 
posting 13 Juni itu pak... kalo tak salah hanya baru oleh bertiga dengan pak 
Onnos dan pak Abimanyu...... jadi anda tidak ketinggalan........  
  Paragraf terakhir itu dari saya pak ..... bukan dari mbak Ninuk.......
  Anda benar bahwa ‘industri kreatif’  yang anda sebutkan itu sudah berkembang 
pada level sentra atau klaster  diberbagai wilayah di Indonesia... bahkan 
sebagiannya  sudah sejak zaman Belanda....... tetapi konteksnya bukan dalam 
kerangka  ‘industri keatif’ yang ‘14 macam’ itu...... but  they still merely  
only in the context of   “industri kecil tradisional” saja......... 
  Yang dimaksud dengan “industri kreatif” pada masa kini  saya kira setidaknya 
adalah dari kumpulan yang “14 macam” itu pak... yang  saya kira diharapkan satu 
sama lain ‘bukan terpisah’ tetapi  dapat saling mengumpul dan ‘bersinergi’.... 
pada kota atau sentra atau klaster yang sama ...sehingga terbentuk aglomerasi 
urban... dan perluasan kesempatan kerja...... 
  Karenanya saya kira kaitannya seperti  harus ‘lengket’ pula  dengan proyeksi  
modern big city development........ 
   
  Ke-14 industri yang diidentifikasi sebagai industri kreatif itu adalah: (1) 
(produk industri pendukung) arsitektur (mudah2an pak Abimanyu dan Ketua IAI 
tidak geleng kepala lagi.. hehe..) , (2) desain, (3) kerajinan (klasik  n 
kontemporer), (4) layanan komputer dan peranti lunak, (5) mode, (6) musik, (7) 
pasar seni dan barang antik, (8) penerbitan dan percetakan, (9) periklanan, 
(10) permainan interaktif, (11) riset dan pengembangan, (12) seni pertunjukan, 
(13) televisi dan radio, serta (14) video, film, dan fotografi.
   
  Tentang kaitannya dengan “kapet” yang menurut bapak itu ”terlalu luas”....... 
saya tidak  melihatnya dari sisi pandang :  “dengan menyertakan kapet.... maka 
itulah salah satu cara memperluas kapasitas industri kreatif” ......... nggak 
gitu pak........ tetapi saya melihatnya dari sisi pandang lain .......ialah  : 
  “kalau Kapet mau berkembang ........ maka ia janganlah berbasis  pada 
industri agro melulu...... tetapi berbasislah pada multisektoralitas yang luas 
(termasuk amenity resources based development; re:  pak Nuzul) “..... 
   
  Atau dengan kata lain.....”
  “.....berbasislah pada proyeksi  big city development (dengan konsekwensi 
perlu rancangan desain kota big city..., termasuk didalamnya  konsep space also 
always for the poor’ seperti yang baru saja kita diskusikan) .... dimana 
didalamnya pada ’center’nya (urban) dapat dimasukkan pula skenario pengembangan 
 berbagai macam sektoralitas seperti industri manufaktur, industri kreatif, 
pariwisata, konstruksi ...... dan  pada periferinya (rural)   dapat dimasukkan 
segala strategi agroindustri  itu... baik pertanian, peternakan,  perikanan, 
pertambangan ..dsb”.........
   
  Tentang pendapat anda “seni  mau sok tidak dikaitkan dengan aspek 
ekonomi”..... kalau kata anda “itu sombong” .... kalau kata saya “lha anak 
istri mau dikasih makan dari mana”.....
  “seni tidak dikaitkan dengan aspek  ekonomi”..... mungkin contohnya yang 
tidak tepat-tepat amat adalah seperti masa zaman Srimulat atau wayang orang 
Sriwanito, Ngesti Budoyo dsb. dulu  itu.....dimana kala itu belum berkembang 
luas  industri televisi dan periklanan............
  Di Srimulat yang kaya hanya Jujuk dan Teguhnya..... pemainnya miskin 
semua........
  Kalau malam mereka bermain dipanggung dengan honor minim..... siangnya jadi 
pegawai kantor, bakul dipasar.. tukang jahit, tukang parkir....jualan warungan 
dsb..... seperti masa-masa generasi ibunya alm. pelawak Basuki itu..... hehe...
   
  Salam,
  aby
   


risfano <[EMAIL PROTECTED]> wrote:          
Rekans,

Maaf saya tidak mengikuti diskusi ini sejak awal. Tapi saya tertarik
dengan potongan alinea dibawah ini (ini tulisan Ninuk atau pak Aby
Pak?). Komentar saya, kalau sekala Kapet ya terlalu luas lah.

Saya pikir industri kreatif ini bisa dikembangkan, dan sudah berkembang
di level sentra, atau klaster. Ada di Jepara (ukir, troso), Plered
(tembikar), di Pandai Sikek Sumbar (songket, sulaman), di Wajo Sulsel
(sutera), dst, dst. Yang mana daerah tersebut masih bisa dikatakan
rural. Memang umumnya masih bersifat 'perajin' saja, sementara desainnya
masih itu-itu saja.

Dalam memfasilitasi klaster ekonomi lokal di beberapa daerah saya
upayakan untuk mengaitkannya dengan sekolah desain terdekat, ada ada
kontak, syukur-syukur kalau komunikasinya berlanjut. Jika ada mahasiswa
desain tiap tahun magang sebentar untuk memberikan contoh desain, atau
melatih mereka. Sehingga tiap tahun ada beberapa desain baru, modifikasi
desain yang ada. Sehingga corak desainnya akan lebih kaya.

Kesimpulannya, klaster industri kreatif itu bisa didorong, difasilitasi
pertumbuhannnya. Tidak harus skala nasional dulu, mulai saja dari
klaster tingkat lokal.

Komersialisasi seni? Sejauh saya tahu, dalam seni termasuk desain,
umumnya ada tiga ketegori: (1) yang klasik, (2) yang eksperimental, dan
(3) yang populer, mungkin bisa dibilang komersial. Ini menurut saya
pengertian yang netral, ketiganya syah dan selalu hadir. Tapi seperti
kita amati selalu ada beda pendapat dalam hal ini. Ada yang menganggap
wajar, ada yang mengharamkan komersialisasi.

Tapi menurut saya kecuali yang dibiayai/disponsori oleh "keluarga
kerajaan, keluarga borjuis" (jaman dulu), atau yang dibiayai oleh
"konglomerat, MNC, TV/media komersial, atau merek rokok atau
real-estate" (jaman sekarang), rasa-rasanya seni tanpa memperhatikan
aspek ekonominya kok sombong amat.

Salam,

Risfan Munir

> >
> > * * *
> > Melihat karakteristik industri kreatif ini... jelas bahwa ia tak
semudah
> > itu dapat dikembangkan didaerah dengan pembangunan berbasis utama
> > agrarian.... dan utamanya didaerah yang tak jelas strategi
pengembangan
> > urbannya.....seperti pada umumnya strategi 'Kapet' yang sudah
lalu.......
> >
> > Salam,
> > aby
> >
> > *(bahan dari Ninuk M. Pambudy/ Kompas)*
> >
> >
> >
> >
> >
> > ------------------------------
> > Always-on security tools provide safer ways to connect and share
anywhere.
> > Find out more. Windows Live
<http://get.live.com/familysafety/overview>
> >
> >
> >
> >
>



                           

       

Kirim email ke