Pak Risfan dan para mailister ysh,

Menjual hasil industri kreatif merupakan pemikiran ideal dengan harapan
hasil yang menggiurkan bila kita mengaitkan dengan "kekayaan seni dan budaya
tradisional" dari berbagai daerah di INdonesia.  Mendorong berkembangnya
kreatifitas tidak mudah, tidak semudah memberikan  dorongan top down tanpa
menghayati waktu-ruang-kultural yang memungkinkan kelahiran industri kreatif
tersebut.

Kreatif lebih tinggi dari sekadar kreasi, seni ataupun produk, apalagi
mencapai tingkat industri.
Lebih unik daripada sekadar mengembangkan ilmu dan teknologi, untuk
berkreasi kita perlu waktu-ruang yang memadai untuk memotivasi diri,
merenung, mengembangkan gagasan, melahirkannya dalam bentuk nyata, hingga
meningkatkan kualitasnya sampai ke tingkat diterima  lingkungan dan klayak
produksi.  Kreatifitas lahir kemudian, melalui proses coba-gagal
berulangkali hingga diperoleh suatu karya yang tahan uji. NIlai tradisional
hanya bisa lahir apabila karya tersebut bertahan dan berkembang
berkelanjutan hingga antar generasi. Jelas ini bukan kerja sambilan yang
bisa ditargetkan dalam waktu-ruang terbatas. Sedangkan tingkat industri
hanya dapat berkembang paling kurang dari dua sisi, sisi kreator dan sisi
lingkungan pendukungnya. Untk itu pengenalan kreator secara mendalam dan
dukungan secara strategis perlu dilaklukan secara seksama, dan melalui
proses saling isi yang meng-internalized, tidak instan, tidak sektoral,
apalagi top down, apalagi di"mutilasi".

Jepang terkenal dengan industri kreatifnya  karena memiliki  sejarah
panjang, bahkan sejak sebelum  restorasi Meiji. Restorasi Meiji  justru
mengembalikan pengaruh  modernisasi  Barat ke potensi budaya lokal sehingga
nilai lokal semakin dihargai. Walaupun prosesnya cukup panjang, dari berubah
ke modernisasi Barat dan penyesuaiannya kembali ke pola dasar nilai-nilai
lokal, namun pelajaran utama yang kita peroleh terutama adalah pemerintah
mereka saat itu sadar bahwa basis kreasi bangsa harus didukung untuk
merevisi kesalahan pengambilan nilai-nilai modernisasi dari luar yang tidak
sesuai dengan kondisi setempat. Artinya terjadi sinergi antara penghargaan
dan dorongan peningkatan potensi lokal dengan dukungan pengayomnya dan dalam
waktu yang berkelanjutan. Bagaimana besar dampaknya kepada perluasan
lapangan kerja, peningkatan kreatifitas masyarakat menengah bawah,
peningkatan kesejahteraan rakyat....dan berapa dalam dan luas dampak
peningkatan  kualitas manusia  yang  terlibat didalamnya berkembang secara
bertahap dan atas kepedulian  untuk  mendukungnya secara strategis di
banyak  sektor....

Mungkin ilustrasi kecil ini dapat menjadi sumbang saran untuk menggelitik
pemikiran dan "action" yang lebih  berhasil guna.

Salam,

Abimanyu


On Mon, Jun 16, 2008 at 8:30 AM, Risfan M <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

>   *Klaster Industri Kreatif*
>
>
>
> Akhirnya industri kreatif diangkat jadi satu andalan. Waktu ngobrol
> ('darat') dengan bang Nuzul beberapa waktu lalu, saya mencoba mengambil
> contoh klaster industri kreatif per"film"an di kawasan Kemang. Disitu obrolan,
> ide-ide, pertemuan di antara insan film terjadi kafe-kafe yang ada di
> lingkungan tersebut melahrkan banyak produksi film (movie) nasional, iklan,
> dst.
>
>
>
> Mungkin industri kreatif lebih mudah difahami dari kata kunci, yaitu 
> *kreativitas,
> cipta*, dan *knowledge based* nya. Ini upaya membedakan dari manufaktur, tani,
> konstruksi, ataupun prasarana, yang mengandalkan material dan tenaga kerja.
> Juga yang mengandalkan *capital* semata.
>
>
>
> Konon pada masa mendatang karya "otak kanan" (kreativitas) akan lebih
> tinggi nilainya daripada karya "otak kiri". Tak perlu dijelaskan bahwa
> pada masa kini desain yang baik, *trade mark, brand* bisa memberikan nilai
> bahkan ratusan kali dibanding barang atau bangunan dengan material yang
> sama, tapi desainnya tidak bagus.
>
>
>
> Masalahnya saat ini desain lokal, yang menarik secara internasional adalah
> justru yang tradisional. Dari segi ini Indonesia dikenal karena desain ala
> Bali, wayang, ukir, batik, sasirangan, songket, dst. Itu semua dengan
> berbagai kondisinya yang membuat orang dari negara lain datang, karena
> keunikannya. Walaupun bangsa sendiri kurang menghargainya, menganggapnya
> sebagai karya lokal, tradisional.
>
>
>
> Di selatan Yogyakarta, ada *Out of Asia* dan beberapa perusahaan sejenis, 
> sebagian
> milik orang asing yang mengambil manfaat dari kekayaan karya kreativitas
> lokal, aneka kerajinan tradisional. Dengan sentuhan yang lebih halus,
> produksinya teratur, standar terjaga, aneka produk dari banyak desa di
> wilayah selatan Jogja dan Jateng itu menjadi produk yang mendunia, mengisi
> hotel-hotel, kafe, restoran dan rumah di seluruh benua. Nilai tambah
> diberikan kepada desain produk yang sebetulnya kreativitas anak bangsa, tapi
> orang lain yang dapat nilai tambah, desainer aslinya mungkin tidak dikenal.
> Ini akibat bangsa kita masih lebih menghargai 'barang'nya, (manufaktur)nya,
> daripada kreativitasnya.
>
>
>
> Karena itu dalam beberapa kali kesempatan diundang oleh Pemprov Jateng,
> saya selalu menyarankan pentingnya mengangkat 'nilai kretivitas'
> asli/tradisional/*indigenous* ini. Saya mengusulkan agar konsep
> pengembangan wilayah wisata SSB (Solo-Selo-Borobudur) misalnya,
> dititik-beratkan pada industri kreatif. Memadukan potensi obyek dan atraksi
> wisata dengan klaster atau sentra-sentra kerajinan yang bernilai budaya
> tinggi, termasuk juga sejarahnya. Sehingga wisatawan tidak hanya melihat
> kerajinan sebagai 'benda' tapi juga 'nilai budaya' dibaliknya. Tentu
> prasarana dan sarana akomodasinya penting. Dan, desainnya mesti diselaraskan
> dengan nilai budaya yang mau ditampilkan. Horticultura (aglonema, gelombang
> cinta, adenium, etc) pun bisa menjadi produk kreativitas, karena nilai
> kreasi dalam hibrida, saling-silang dan budi-dayanya jauh melampaui sekedar
> jual tanaman.
>
>
>
> Tantangannya, umumnya pengambil keputusan masih berorientasi pada besaran
> proyek fisiknya semata. Bukan nilai kreativitas, yang justru membuat
> wisatawan, konsumen datang jauh kesini.
>
>
>
> Mengenai ukuran nilai kreativitas industri ini mungkin juga bukan skala
> fisiknya, *glamorous*-nya, seperti digambarkan pak Aby yang selalu urban,
> kosmopolit. Karena kalau diamati dalam *modern* *superblock*, di kawasan
> segitiga emas misalnya. Disitu baik desain bangunan dan isinya, seperti
> hotel, restoran, butik-butik, serta produk-produk yang dijual mayoritas
> bermerk asing. Artinya hasil 'industri kreativitas' bangsa lain. Mungkin
> dengan kemegahan superblok ini kita akan bangga. Punya kota modern, tak
> kalah dengan metropolitan dunia. Tapi karena kreativitasnya milik asing,
> maka bisa diperkirakan bahwa uang yang tersedot superblok modern ini 60%
> lebih mengalir ke negara pemilik kreativitas (*trademark*, *brand*).
> Bangsa kita sekedar dapat upah membangun, upah jadi pelayan. Itupun juga
> kian tergerus nilai rupiah.
>
>
>
> Pagi kemarin  saya baca di Kompas (15/6/2008), seorang anak muda penulis
> lagu yang produktif. Untuk satu potongan lagunya yang jadi *ring tone
> handpone *dia bisa beli satu rumah. Belum lagu utuhnya, yang dia bilang
> sudah lebih dari seratus. Seperti diakah pekerja kreativitas itu?
>
>
>
> Mungkin itukah yang dimaksud Mary Pangestu dengan industri kreativitas,
> bukan sekedar jual material dan upah buruh yang rendah.
>
>
>
> Masalahnya bagaimana menumbuhkan kreativitas tersebut? Bagaimana
> menghargainya?[]
>
>
> Salam,
>
> *Risfan Munir*
>
>
>
>
> --- On *Sat, 6/14/08, hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]>* wrote:
>
> From: hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: [perkotaan] Re: Sentra Tradisional Re: Industri Kreatif Sbg
> Ekonomi Perkotaan Bernilai Tambah Tinggi
> To: [email protected], [EMAIL PROTECTED],
> [EMAIL PROTECTED]
> Date: Saturday, June 14, 2008, 1:41 PM
>
>     Pak Risfan, juga bapak2 Wawo, Didit Suhadi, Nuzul, Rofiq, Abimanyu,  
> Onnos,
> Eka, Djarot dan milister semuanya ysh,
>
> Obrolan industri kreatif pada putaran kali ini ya baru  dimulai dengan
> posting 13 Juni itu pak... kalo tak salah hanya baru oleh bertiga dengan pak
> Onnos dan pak Abimanyu.... .. jadi anda tidak ketinggalan. .......
> Paragraf terakhir itu dari saya pak ..... bukan dari mbak Ninuk.......
> Anda benar bahwa 'industri kreatif'  yang anda sebutkan itu sudah
> berkembang pada level sentra atau klaster  diberbagai wilayah di
> Indonesia... bahkan sebagiannya  sudah sejak zaman Belanda..... .. tetapi
> konteksnya bukan dalam kerangka  'industri keatif' yang '14 macam'
> itu...... but  they still merely  only in the context of   "industri kecil
> tradisional" saja........ .
> Yang dimaksud dengan "industri kreatif" pada masa kini  saya kira
> setidaknya adalah dari kumpulan yang "14 macam" itu pak... yang  saya kira
> diharapkan satu sama lain 'bukan terpisah' tetapi  dapat saling mengumpul
> dan 'bersinergi'.. .. pada kota atau sentra atau klaster yang sama
> ...sehingga terbentuk aglomerasi urban... dan perluasan kesempatan
> kerja......
> Karenanya saya kira kaitannya seperti  harus 'lengket' pula  dengan
> proyeksi  modern big city development. .......
>
> Ke-14 industri yang diidentifikasi sebagai industri kreatif itu adalah: (1)
> (produk industri pendukung) arsitektur (mudah2an pak Abimanyu dan Ketua IAI
> tidak geleng kepala lagi.. hehe..) , (2) desain, (3) kerajinan (klasik  n
> kontemporer) , (4) layanan komputer dan peranti lunak, (5) mode, (6) musik,
> (7) pasar seni dan barang antik, (8) penerbitan dan percetakan, (9)
> periklanan, (10) permainan interaktif, (11) riset dan pengembangan, (12)
> seni pertunjukan, (13) televisi dan radio, serta (14) video, film, dan
> fotografi.
>
> Tentang kaitannya dengan "kapet" yang menurut bapak itu "terlalu
> luas"....... saya tidak  melihatnya dari sisi pandang :  "*dengan
> menyertakan kapet.... maka itulah salah satu cara memperluas kapasitas
> industri kreatif*" ......... nggak gitu pak........ tetapi saya melihatnya
> dari sisi pandang lain .......ialah  :
> *"kalau Kapet mau berkembang ........ maka ia janganlah berbasis  pada
> industri agro melulu...... tetapi berbasislah pada multisektoralitas yang
> luas (termasuk amenity resources based development; re:  pak Nuzul) *".....
>
>
> Atau dengan kata lain....."
> ".....*berbasislah pada proyeksi  big city development (dengan konsekwensi
> perlu rancangan desain kota big city..., termasuk didalamnya  konsep space
> also always for the poor' seperti yang baru saja kita diskusikan) ....
> dimana didalamnya pada 'center'nya (urban) dapat dimasukkan pula skenario
> pengembangan  berbagai macam sektoralitas seperti industri manufaktur,
> industri kreatif, pariwisata, konstruksi ...... dan  pada periferinya
> (rural)   dapat dimasukkan segala strategi agroindustri  itu... baik
> pertanian, peternakan,  perikanan, pertambangan ..dsb"..*.......
>
> Tentang pendapat anda "seni  mau sok tidak dikaitkan dengan aspek
> ekonomi"..... kalau kata anda "itu sombong" .... kalau kata saya "lha anak
> istri mau dikasih makan dari mana".....
> "seni tidak dikaitkan dengan aspek  ekonomi"..... mungkin contohnya yang
> tidak tepat-tepat amat adalah seperti masa zaman Srimulat atau wayang orang
> Sriwanito, Ngesti Budoyo dsb. dulu  itu.....dimana kala itu belum
> berkembang luas  industri televisi dan periklanan.. ......... .
> Di Srimulat yang kaya hanya Jujuk dan Teguhnya.... . pemainnya miskin
> semua....... .
> Kalau malam mereka bermain dipanggung dengan honor minim..... siangnya jadi
> pegawai kantor, bakul dipasar.. tukang jahit, tukang parkir....jualan
> warungan dsb..... seperti masa-masa generasi ibunya alm. pelawak Basuki
> itu..... hehe...
>
> Salam,
> aby
>
>
>
> *risfano <[EMAIL PROTECTED] com>* wrote:
>
>
> Rekans,
>
> Maaf saya tidak mengikuti diskusi ini sejak awal. Tapi saya tertarik
> dengan potongan alinea dibawah ini (ini tulisan Ninuk atau pak Aby
> Pak?). Komentar saya, kalau sekala Kapet ya terlalu luas lah.
>
> Saya pikir industri kreatif ini bisa dikembangkan, dan sudah berkembang
> di level sentra, atau klaster. Ada di Jepara (ukir, troso), Plered
> (tembikar), di Pandai Sikek Sumbar (songket, sulaman), di Wajo Sulsel
> (sutera), dst, dst. Yang mana daerah tersebut masih bisa dikatakan
> rural. Memang umumnya masih bersifat 'perajin' saja, sementara desainnya
> masih itu-itu saja.
>
> Dalam memfasilitasi klaster ekonomi lokal di beberapa daerah saya
> upayakan untuk mengaitkannya dengan sekolah desain terdekat, ada ada
> kontak, syukur-syukur kalau komunikasinya berlanjut. Jika ada mahasiswa
> desain tiap tahun magang sebentar untuk memberikan contoh desain, atau
> melatih mereka. Sehingga tiap tahun ada beberapa desain baru, modifikasi
> desain yang ada. Sehingga corak desainnya akan lebih kaya.
>
> Kesimpulannya, klaster industri kreatif itu bisa didorong, difasilitasi
> pertumbuhannnya. Tidak harus skala nasional dulu, mulai saja dari
> klaster tingkat lokal.
>
> Komersialisasi seni? Sejauh saya tahu, dalam seni termasuk desain,
> umumnya ada tiga ketegori: (1) yang klasik, (2) yang eksperimental, dan
> (3) yang populer, mungkin bisa dibilang komersial. Ini menurut saya
> pengertian yang netral, ketiganya syah dan selalu hadir. Tapi seperti
> kita amati selalu ada beda pendapat dalam hal ini. Ada yang menganggap
> wajar, ada yang mengharamkan komersialisasi.
>
> Tapi menurut saya kecuali yang dibiayai/disponsori oleh "keluarga
> kerajaan, keluarga borjuis" (jaman dulu), atau yang dibiayai oleh
> "konglomerat, MNC, TV/media komersial, atau merek rokok atau
> real-estate" (jaman sekarang), rasa-rasanya seni tanpa memperhatikan
> aspek ekonominya kok sombong amat.
>
> Salam,
>
> Risfan Munir
>
> > >
> > > * * *
> > > Melihat karakteristik industri kreatif ini... jelas bahwa ia tak
> semudah
> > > itu dapat dikembangkan didaerah dengan pembangunan berbasis utama
> > > agrarian.... dan utamanya didaerah yang tak jelas strategi
> pengembangan
> > > urbannya.... .seperti pada umumnya strategi 'Kapet' yang sudah
> lalu.......
> > >
> > > Salam,
> > > aby
> > >
> > > *(bahan dari Ninuk M. Pambudy/ Kompas)*
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > > ------------ --------- ---------
> > > Always-on security tools provide safer ways to connect and share
> anywhere.
> > > Find out more. Windows Live
> <http://get.live. com/familysafety 
> /overview<http://get.live.com/familysafety/overview>
> >
> > >
> > >
> > >
> > >
> >
>
>
>
>  
>

Kirim email ke