Pak Abimanyu dan pak Onnos ysh,
Trims atas tanggapannya .....
Untuk pak Abimanyu.... saya pengin tahu ... anda geleng kepalanya itu untuk
siapa pak?.... apakah untuk bu Marie Pangestu atau untuk pak Ketua IAI?........
Kalau saya sih geleng kepala untuk pak Ketua IAI... hehe..
Saya khawatir ada suatu salah paham disini.......
Saya kira bu Marie (wah saya spt bawahan jubirnya MenDag aja hehe..) bukan
bermaksud mengatakan (sdm dan sains serta karya) arsitektur dimasukkan ke
industri kreatip.... tetapi maksudnya (repotnya wartawan nulisnya gitu sih
ya..).... saya kira mereka mau mengatakan.... ke-ekonomian dari industri
(berkait dengan) arsitektur dimasukkan kedalam industri kreatip...........
Ya maklumlah ..... tak sebagaimana masyarakat arsitektur atau pak Ketua IAI
itu seperti tidak secara langsung atau malah mungkin tidak seberapa peduli
dengan masalah angka pengangguran dan masalah perluasan kesempatan kerja serta
pengembangan industri ........
Bu Marie dan beberapa menteri lain dalam koordinasi perekonomian dan
industri saya kira sedang dan selalu berupaya keras untuk tak hanya
meningkatkan pertumbuhan ekonomi.. tetapi juga perluasan kesempatan kerja
secara nasional..... dalam rangka penanggulangan kemiskinan dsb......
Maklum... dari parameter angka pengangguran yang normal 4% .... tetapi
angka pengangguran kita sangat diatas normal.... yaitu sebanyak sekitar 10%
(nominalnya sekitar 10 juta tenaga kerja yang menganggur, suatu angka yang luar
biasa)........
Jadi tolong sampaikan ke pak Ketua IAI itu.. sebaiknya beliau tidak usah
sewot gitu ......., juga pak Onnos tak usah khawatir.. hehe.....
* * *
Sebagaimana status dari karya cipta lagu, cetak biru atau clay model dari
produk automotif ..... atau suatu rancangan arsitektur ........... semua itu
tidaklah bisa berdiri sendiri kecuali ia dikonkritkan dan diberi 'sentuhan
ekonomi' menjadi sebuah produk jadi atau produk massal yang bisa dimanfaatkan
atau dinikmati oleh banyak orang..... maupun juga menghidupi banyak orang
pula .........
Sebuah karya cipta lagu... tak akan berarti kalau ia tidak dibuat notasinya
lalu dimainkan dengan alat musik atau orchestra serta penyanyinya..... dimana
itupun belum cukup..... ia perlu ruang akustik, alat recording dan replay......
lalu pertunjukan panggung.... produk massal berupa vcd atau kaset.... promosi
dsb..... lalu penonton. Pendengar dsb.... yang itu kemudian bolehlah disebut
sebagai l.k. keekonomian dan atau industri dari seputar dunia musik dan
penyanyi.......
Demikian juga untuk rancang bangun industri otomotif atau rancangan
arsitektur sebuah gedung misalnya .....
Disitu diperlukan sejumlah material khas ... diperlukan sejumlah tipe khusus
dari material... lalu setelah dikonstruksikan.... maka hadirlah sebuah karya
arsitektur itu......
Kemudian dari arsitektur itu lalu muncul ....kekaguman... yang tak jarang
berkembang menjadi (industri) pariwisata.... mengembangkan industri kreatip
lainnya (menjadi lokasi shooting film, menjadi produk ruang-ruang untuk
berbagai macam kegiatan ekonomi sosial budaya ...dsb.).... muncul media wacana
arsitektur seperti acara teve....majalah.. buku ....acara diskusi... acara
pameran.... biro arsitek.... industri bahan bangunan... sebagai follow-up
dari kebutuhan arsitektur untuk artikulasi range warna .... tekstur...
mode...eksklusivitas.... dsb..atau malah juga tidak bisa dipungkiri muncul
pula.... industri sekolah arsitektur....... dimana semuanya itu akhirnya
menciptakan kesempatan kerja ...... dan menciptakan keekonomian serta
industri yang luas didalamnya........ yang setidaknya merupakan perpaduan
antara arsitektur dan ekonomi serta industri... serta mungkin juga kaitan
dengan sektor lainnya seperti pariwisata... dsb ........
Jadi saya kira tidak pernah ada pihak luar yang sampai berani-berani sok mau
mengacak-acak.. atau mengkerdilkan... dan merasa lebih tahu tentang arsitektur
lebih daripada arsitek.......
Yang ada barangkali pihak-pihak yang menginginkan arsitektur tak sekedar
menjadi produk budaya.. tetapi juga agar menjadi multiply kesempatan kerja yang
luas serta menjadi salah satu pilar utama pembangunan ekonomi nasional
kita.......betul gitu nggak hai para arsitek : mas Djarot, mas Muli, pak
Suhadi dan Gus Sholah?...........
Salam,
aby
Sugiono Ronodihardjo <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Salam sejahtera,
Wah sepertinya diskusi milisters berbelok dari angin darat kearah angin laut,
terus ke dunia seni 'industri kreatif'.
Sepertinya ada misinterpretasi tentang 'arsitektur' yang di 'kerdil' kan jadi
industri kreatif. Ini gejala kemunduran atau terlalu majunya peradaban kita
ya... he he... Setahu saya ada yang pernah menyatakan bahwa: 'architecture is
the grandmother of art', dan sebelum ada 'planner' yang sekolah khusus di
bidang 'planologi', bidang ini dirangkap oleh 'architect' seperti FLW dan Le
Corbu..
Mungkin kurikulum sekolah arsitektur di Indonesia perlu penyesuaian atau dibawa
saja ke sekolah ketrampilan menggambar dan industri kerajinan, biar lebih cepat
selesainya (setingkat D-1 saja) dan terpakai di lapangan industri kerajinan.
Sepertinya di negeri tercinta 'zamrut katulistiwa' yang luas & kaya raya SDA
dengan berbagai suku yang punya beragam kekhasan budaya, hanya cukup dibutuhkan
'pengrajin dan tukang insinyur' saja, tidak perlu 'arsitek' yang berwawasan
luas...
Kita memang butuh pemimpin yang 'visionaris', semoga muncul dipemilu 2009 nanti.
Wassalam,
Onnos
---------------------------------
To: [email protected]
CC: [EMAIL PROTECTED]
From: [EMAIL PROTECTED]
Date: Fri, 13 Jun 2008 05:14:40 +0700
Subject: Re: [referensi] Re: Industri Kreatif Sbg Ekonomi Perkotaan Bernilai
Tambah Tinggi
mailister ysh,
....sayangnya, baru saja bubar pertemuan rencana "launching cetak biru"
industri kreatif tsb beberapa waktu lalu sambil memperlihatkan buku tersebut
ketua IAI sudah nyap-nyap "...coba baca, buku apaan ini...pengelompokan
industri kreatif dan menempatkan bidang arsitektur kok sembarangan begini...
ketahuan penyusunnya tidak tahu apa substansi yang dia susun, apa yang dia
jual...dsb, dst".
Mendengar protesnya saya cuma bisa geleng-geleng kepala, ....apakah penyusunan
cetak biru tsb tidak konsultasi dulu kepada lembaga atau tokoh yang
membidanginya...???? ( ...mungkin momentum promosi ekonomi lebih penting
daripada menelusuri realitanya lebih dulu mas...? atau ....banyak pihak yang
lebih tahu apa itu arsitektur daripada arsiteknya ...?)
salam,
abi
On Thu, Jun 12, 2008 at 9:02 PM, hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Milister semuanya ysh,
Arsitektur, produk mode, barang kerajinan, musik, lukisan, atau pertunjukan
seni bukanlah barang baru. Meski demikian, pemerintah memasukkannya ke dalam
kelompok industri kreatif.
Industri kreatif atau sering disebut juga ekonomi kreatif semakin mendapat
perhatian utama banyak negara karena industri ini memberi kontribusi nyata
terhadap perekonomian negara.
Selain menyumbang pada ekspor, penyerapan tenaga kerja, dan produk domestik
bruto (PDB), ekonomi berbasis ide kreatif ini juga dianggap tidak terlalu
bergantung pada sumber daya alam tak terbarukan.
Dengan kata lain, dapat menjadi ramah lingkungan, sejalan dengan kebutuhan
mengurangi kerusakan lingkungan.
"Yang termasuk di dalam industri kreatif bukan industri baru. Masalahnya,
bagaimana membangkitkan industri ini agar memberi nilai tambah ekonomi lebih
tinggi. Nilai ekonomi industri ini diangkat karena keragaman budaya kita tinggi
dan manusianya secara alamiah kreatif. Ini potensi dan daya saing kita," kata
Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu.
Cetak Biru Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia diserahkan Menteri
Perdagangan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada pembukaan Pekan
Produk Budaya Indonesia (PPBI) di Balai Sidang, Rabu (4/6).
Dalam Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2025 yang disusun Departemen
Perdagangan, ada 14 industri yang diidentifikasi sebagai industri kreatif: (1)
arsitektur, (2) desain, (3) kerajinan, (4) layanan komputer dan peranti lunak,
(5) mode, (6) musik, (7) pasar seni dan barang antik, (8) penerbitan dan
percetakan, (9) periklanan, (10) permainan interaktif, (11) riset dan
pengembangan, (12) seni pertunjukan, (13) televisi dan radio, serta (14) video,
film, dan fotografi.
Negara yang dianggap pertama kali menaruh perhatian serius pada industri atau
ekonomi kreatif adalah Inggris pada tahun 1997.
Hasil pemetaan mereka memperlihatkan, industri menyumbang 7,9 persen pada PDB
negara itu, tumbuh 9 persen pada tahun 1999-2000 dibandingkan total ekonomi
sebesar 2,8 persen.
Nilai ekspornya 8,7 miliar pound atau 3,3 persen dari total ekspor tahun
2000, tumbuh 13 persen dalam periode 1997-2000, sementara ekspor barang dan
jasa tumbuh hanya 5 persen. Sedangkan penyerapan tenaga kerja pada tahun 2001
sebesar 1,95 juta tenaga kerja, tumbuh 5 persen per tahun, sementara penyerapan
tenaga kerja oleh total industri di Inggris hanya tumbuh 1,5 persen.
Studi Industri Kreatif Indonesia 2007 oleh Departemen Perdagangan
menyebutkan, ke-14 industri kreatif Indonesia menyumbang rata-rata Rp 104,638
triliun pada 2002-2006 untuk PDB, lebih besar daripada kontribusi sektor
pengangkutan dan komunikasi, bangunan, serta listrik, gas, dan air bersih.
Pada periode sama, menyerap 5,4 juta tenaga kerja dengan produktivitas Rp
19,5 juta per pekerja per tahun dibandingkan dengan produktivitas nasional yang
rata-rata Rp 18 juta.
Fase-fase dalam ekonomi kreatif
Definisi industri kreatif yang digunakan pemerintah mengadopsi definisi
Pemerintah Inggris, yaitu proses peningkatan nilai tambah hasil eksploitasi
kekayaan intelektual berupa kreativitas, keahlian, dan bakat individu menjadi
produk yang dapat dijual sehingga meningkatkan kesejahteraan bagi pelaksana dan
orang yang terlibat.
Definisi ini memperlihatkan pentingnya ide kreatif. Tetapi, ide kreatif
tersebut membutuhkan transformasi agar dapat menjadi produk bernilai ekonomi.
Di dalam peta industri kreatif, pemerintah membuat model berdasarkan pada
individu kreatif dengan lima pilar utama: (1) industri yang terlibat dalam
produksi industri kreatif; (2) teknologi sebagai pendukung mewujudkan
kreativitas individu; (3) sumber daya seperti sumber daya alam dan lahan; (4)
kelembagaan mulai dari norma dan nilai di masyarakat, asosiasi industri, dan
komunitas pendukung hingga perlindungan atas kekayaan intelektual; dan (5)
lembaga intermediasi keuangan.
Aktor utama yang terlibat adalah intelektual, termasuk budayawan, seniman,
pendidik, peneliti, penulis, pelopor di sanggar budaya, serta tokoh di bidang
seni, budaya, dan ilmu pengetahuan; bisnis, yaitu pelaku usaha yang
mentransformasi kreativitas menjadi produk bernilai ekonomi; dan pemerintah
sebagai katalisator dan advokasi, regulator, konsumen, investor dan wiraswasta,
serta perencana kota.
"Kunci semua itu implementasi hasil pemetaan. Kami di pemerintahan mulai
berkoordinasi. Dari cetak biru ini harus ada rencana aksi dari tiap lembaga
terkait. Dari situ harus ada mekanisme koordinasi, bisa di lembaga menko yang
ada atau lembaga pemerintah yang dijalankan seperti swasta," kata Mari.
Di dalam implementasi itu termasuk memastikan ekonomi kreatif tidak berada
hanya pada 14 sektor tersebut. Berdasarkan pengalaman negara-negara lain, tahap
itu baru fase pertama dari ekonomi kreatif. Fase berikut, proses kreatif harus
ada di semua kegiatan ekonomi.
Indonesia, menurut Mari, sebetulnya mulai memasuki tahap tersebut.
Industri keramik kelas dunia Royal Doulton dari Inggris yang motifnya dibuat
dengan lukisan tangan, misalnya, membuka pabrik di Jakarta sebagai satu-satunya
pabrik di luar Inggris karena percaya kepada kreativitas dan keterampilan orang
Indonesia.
Seniman batik Iwan Tirta, misalnya, diminta mendesain motif untuk peralatan
makan. Begitu juga sepatu Nike dan Adidas mulai membuat desain sepatunya di
sini.
Fase terakhir adalah pada akhirnya konsumen menentukan arah, dinamika, dan
evolusi ekonomi kreatif.
"Ini menyangkut isu demografi. Hampir semua pasar baru, termasuk Indonesia,
memiliki lebih banyak penduduk usia muda daripada orang dewasa. Mereka sumber
ekonomi kreatif sekaligus pasar. Dinamika ini harus kita pahami," tambah Mari.
* * *
Melihat karakteristik industri kreatif ini... jelas bahwa ia tak semudah itu
dapat dikembangkan didaerah dengan pembangunan berbasis utama agrarian.... dan
utamanya didaerah yang tak jelas strategi pengembangan urbannya.....seperti
pada umumnya strategi 'Kapet' yang sudah lalu.......
Salam,
aby
(bahan dari Ninuk M. Pambudy/ Kompas)
---------------------------------
Always-on security tools provide safer ways to connect and share anywhere.
Find out more. Windows Live