Pak Aby ysh, Kenapa geleng-geleng? Saya geleng-geleng kepada tersusunnya suatu tatanan buku tentang hal yang pihak yang bersangkutan malah tidak tahu mengapa tatanannya adalah demikian, dalam hal ini kearstitekturan tanpa konfirmasi lembaga kearsitekturan tersebut. Tidak ada urusan dengan kesalahan wartawan karena tidak ada wartawan saat itu. Yang ada kebetulan cuma pak ketua, saya dan buku yang diperlihatkannya, tersebut (saat itu adalah sebelum pembukaan salah satu acara dalam ulang tahun alumni arsitektur UI, dan buku tersebut baru disosialisasikan secara terbatas dan belum di"launch" seperti dikoran-koran pada akhir-akhir ini).
Kesan saya buku tersebut bukan disusun oleh pihak yang bergelut di bidang kearsitekan. Dan argumen sang ketua juga beralasan karena arsitektur bangunan tidak dimasukkan ke industri konstruksi, dan bahkan industri konstruksi tidak teridentifikasi dengan jelas didalam buku tersebut. Padahal baik secara industri, ekonomi maupun budaya, peran arsitektur dalam industri konstruksi , ekonomi dan produk budaya tersebut sangat "significant". Ketidak tepatan penempatan peranannya dalam pembnagunan dapat "mengkerdilkan" atau "mensalah-kaprahkan" realita peran yang sebenarnya terjadi didunia nyata. Apalagi kalau peluang tersebut termasuk kewilayah kelautan seperti yang diperkenalkan si arsitek jerman tersebut.Hal lain tentu lebih afdol kalau berkaitan langsung dengan pihak IAI, karena saya beberapa dekade ini sudah bergeser perhatiannya dari profesi kearsitekturan, paling-paling sekali-sekali sebagai hobi saja. Jadi, sebaiknya kita tidak terjebak dan cepat-cepat membela sesuatu yang kelihatannya berbau ekonomi yang seolah-olah merupakan "peluang" kerja baru bagi rakyat kebanyakan, padahal tidak berkaitan sama sekali dengan substansinya. Lebih baik hati-hati tetapi lebih kontekstual. Begitu kan pak Ono?. salam jail sang cucu, Ongkowijoyo 2008/6/13 hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]>: > Pak Abimanyu dan pak Onnos ysh, > Trims atas tanggapannya ..... > > Untuk pak Abimanyu.... saya pengin tahu ... anda geleng kepalanya itu untuk > siapa pak?.... apakah untuk bu Marie Pangestu atau untuk pak Ketua > IAI?........ > Kalau saya sih geleng kepala untuk pak Ketua IAI... hehe.. > > Saya khawatir ada suatu 'salah paham ' disini....... > Saya kira bu Marie (wah saya spt bawahan jubirnya MenDag aja hehe..) bukan > bermaksud mengatakan (sdm dan sains serta karya) "arsitektur" dimasukkan ke > "industri kreatip".... tetapi maksudnya (repotnya wartawan nulisnya gitu sih > ya..).... saya kira mereka mau mengatakan.... "ke-ekonomian" dari > "industri (berkait dengan) arsitektur" dimasukkan kedalam "industri > kreatip"........... > Ya maklumlah ..... tak sebagaimana masyarakat arsitektur atau pak Ketua IAI > itu seperti tidak secara langsung atau malah mungkin tidak seberapa peduli > dengan masalah angka pengangguran dan masalah perluasan kesempatan kerja > serta pengembangan industri ........ > Bu Marie dan beberapa menteri lain dalam koordinasi 'perekonomian' dan > 'industri' saya kira sedang dan selalu berupaya keras untuk tak hanya > meningkatkan pertumbuhan ekonomi.. tetapi juga "perluasan kesempatan kerja" > secara nasional..... dalam rangka 'penanggulangan kemiskinan' dsb...... > Maklum... dari parameter angka pengangguran yang 'normal' 4% .... tetapi > angka pengangguran kita sangat diatas 'normal'.... yaitu sebanyak sekitar > 10% (nominalnya sekitar 10 juta tenaga kerja yang menganggur, suatu angka > yang luar biasa)........ > Jadi tolong sampaikan ke pak Ketua IAI itu.. sebaiknya beliau tidak usah > sewot gitu ......., juga pak Onnos tak usah khawatir.. hehe..... > > * * * > Sebagaimana status dari karya cipta lagu, cetak biru atau clay model > dari produk automotif ..... atau suatu rancangan arsitektur ........... > semua itu tidaklah bisa berdiri sendiri kecuali ia dikonkritkan dan diberi > 'sentuhan ekonomi' menjadi sebuah produk jadi atau produk massal yang bisa > dimanfaatkan atau dinikmati oleh banyak orang..... maupun juga 'menghidupi' > banyak orang pula ......... > > Sebuah karya cipta lagu... tak akan berarti kalau ia tidak dibuat > notasinya lalu dimainkan dengan alat musik atau orchestra serta > penyanyinya..... dimana itupun belum cukup..... ia perlu ruang akustik, alat > recording dan replay...... lalu pertunjukan panggung.... produk massal > berupa vcd atau kaset.... promosi dsb..... lalu penonton. Pendengar dsb.... > yang itu kemudian bolehlah disebut sebagai l.k. "keekonomian" dan atau > "industri" dari seputar dunia musik dan penyanyi....... > > Demikian juga untuk rancang bangun industri otomotif atau rancangan > arsitektur sebuah gedung misalnya ..... > Disitu diperlukan sejumlah material khas ... diperlukan sejumlah tipe > khusus dari material... lalu setelah dikonstruksikan.... maka 'hadirlah' > sebuah karya arsitektur itu...... > Kemudian dari arsitektur itu lalu muncul ....kekaguman... yang tak jarang > berkembang menjadi (industri) pariwisata.... mengembangkan industri > kreatip lainnya (menjadi lokasi shooting film, menjadi produk ruang-ruang > untuk berbagai macam kegiatan ekonomi sosial budaya ...dsb.).... muncul > media wacana arsitektur seperti acara teve....majalah.. buku ....acara > diskusi... acara pameran.... biro arsitek.... industri bahan bangunan... > sebagai follow-up dari kebutuhan arsitektur untuk artikulasi range warna > .... tekstur... mode...eksklusivitas.... dsb..atau malah juga tidak bisa > dipungkiri muncul pula.... "industri sekolah arsitektur"....... dimana > semuanya itu akhirnya menciptakan kesempatan kerja ...... dan menciptakan > 'keekonomian' serta 'industri' yang luas didalamnya........ yang > setidaknya merupakan perpaduan antara arsitektur dan ekonomi serta > industri... serta mungkin juga kaitan dengan sektor lainnya seperti > pariwisata... dsb ........ > > Jadi saya kira tidak pernah ada pihak luar yang sampai berani-berani sok > mau mengacak-acak.. atau mengkerdilkan... dan merasa lebih tahu tentang > arsitektur lebih daripada arsitek....... > Yang ada barangkali pihak-pihak yang menginginkan arsitektur tak sekedar > menjadi produk budaya.. tetapi juga agar menjadi multiply kesempatan kerja > yang luas serta menjadi salah satu pilar utama pembangunan ekonomi nasional > kita.......betul gitu nggak hai para arsitek : mas Djarot, mas Muli, pak > Suhadi dan Gus Sholah?........... > > Salam, > aby > > > *Sugiono Ronodihardjo <[EMAIL PROTECTED]>* wrote: > > Salam sejahtera, > Wah sepertinya diskusi milisters berbelok dari angin darat kearah angin > laut, terus ke dunia seni 'industri kreatif'. > Sepertinya ada misinterpretasi tentang 'arsitektur' yang di 'kerdil' kan > jadi industri kreatif. Ini gejala kemunduran atau terlalu majunya peradaban > kita ya... he he... Setahu saya ada yang pernah menyatakan bahwa: > 'architecture is the grandmother of art', dan sebelum ada 'planner' yang > sekolah khusus di bidang 'planologi', bidang ini dirangkap oleh > 'architect' seperti FLW dan Le Corbu.. > Mungkin kurikulum sekolah arsitektur di Indonesia perlu penyesuaian atau > dibawa saja ke sekolah ketrampilan menggambar dan industri kerajinan, biar > lebih cepat selesainya (setingkat D-1 saja) dan terpakai di lapangan > industri kerajinan. Sepertinya di negeri tercinta 'zamrut katulistiwa' yang > luas & kaya raya SDA dengan berbagai suku yang punya beragam kekhasan > budaya, hanya cukup dibutuhkan 'pengrajin dan tukang insinyur' saja, tidak > perlu 'arsitek' yang berwawasan luas... > Kita memang butuh pemimpin yang 'visionaris', semoga muncul dipemilu 2009 > nanti. > Wassalam, > Onnos > > > ------------------------------ > To: [email protected] > CC: [EMAIL PROTECTED] > From: [EMAIL PROTECTED] > Date: Fri, 13 Jun 2008 05:14:40 +0700 > Subject: Re: [referensi] Re: Industri Kreatif Sbg Ekonomi Perkotaan > Bernilai Tambah Tinggi > > mailister ysh, > > ....sayangnya, baru saja bubar pertemuan rencana "launching cetak biru" > industri kreatif tsb beberapa waktu lalu sambil memperlihatkan buku tersebut > ketua IAI sudah nyap-nyap "...coba baca, buku apaan ini...pengelompokan > industri kreatif dan menempatkan bidang arsitektur kok sembarangan begini... > ketahuan penyusunnya tidak tahu apa substansi yang dia susun, apa yang dia > jual...dsb, dst". > Mendengar protesnya saya cuma bisa geleng-geleng kepala, ....apakah > penyusunan cetak biru tsb tidak konsultasi dulu kepada lembaga atau tokoh > yang membidanginya...???? ( ...mungkin momentum promosi ekonomi lebih > penting daripada menelusuri realitanya lebih dulu mas...? atau ....banyak > pihak yang lebih tahu apa itu arsitektur daripada arsiteknya ...?) > > salam, > > abi > > On Thu, Jun 12, 2008 at 9:02 PM, hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]> > wrote: > > Milister semuanya ysh, > > Arsitektur, produk mode, barang kerajinan, musik, lukisan, atau pertunjukan > seni bukanlah barang baru. Meski demikian, pemerintah memasukkannya ke dalam > kelompok industri kreatif. > Industri kreatif atau sering disebut juga ekonomi kreatif semakin mendapat > perhatian utama banyak negara karena industri ini memberi kontribusi nyata > terhadap perekonomian negara. > Selain menyumbang pada ekspor, penyerapan tenaga kerja, dan produk domestik > bruto (PDB), ekonomi berbasis ide kreatif ini juga dianggap tidak terlalu > bergantung pada sumber daya alam tak terbarukan. > Dengan kata lain, dapat menjadi ramah lingkungan, sejalan dengan kebutuhan > mengurangi kerusakan lingkungan. > "Yang termasuk di dalam industri kreatif bukan industri baru. Masalahnya, > bagaimana membangkitkan industri ini agar memberi nilai tambah ekonomi lebih > tinggi. Nilai ekonomi industri ini diangkat karena keragaman budaya kita > tinggi dan manusianya secara alamiah kreatif. Ini potensi dan daya saing > kita," kata Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu. > Cetak Biru Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia diserahkan Menteri > Perdagangan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada pembukaan Pekan > Produk Budaya Indonesia (PPBI) di Balai Sidang, Rabu (4/6). > Dalam Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2025 yang disusun Departemen > Perdagangan, ada 14 industri yang diidentifikasi sebagai industri kreatif: > (1) arsitektur, (2) desain, (3) kerajinan, (4) layanan komputer dan peranti > lunak, (5) mode, (6) musik, (7) pasar seni dan barang antik, (8) penerbitan > dan percetakan, (9) periklanan, (10) permainan interaktif, (11) riset dan > pengembangan, (12) seni pertunjukan, (13) televisi dan radio, serta (14) > video, film, dan fotografi. > Negara yang dianggap pertama kali menaruh perhatian serius pada industri > atau ekonomi kreatif adalah Inggris pada tahun 1997. > Hasil pemetaan mereka memperlihatkan, industri menyumbang 7,9 persen pada > PDB negara itu, tumbuh 9 persen pada tahun 1999-2000 dibandingkan total > ekonomi sebesar 2,8 persen. > Nilai ekspornya 8,7 miliar pound atau 3,3 persen dari total ekspor tahun > 2000, tumbuh 13 persen dalam periode 1997-2000, sementara ekspor barang dan > jasa tumbuh hanya 5 persen. Sedangkan penyerapan tenaga kerja pada tahun > 2001 sebesar 1,95 juta tenaga kerja, tumbuh 5 persen per tahun, sementara > penyerapan tenaga kerja oleh total industri di Inggris hanya tumbuh 1,5 > persen. > Studi Industri Kreatif Indonesia 2007 oleh Departemen Perdagangan > menyebutkan, ke-14 industri kreatif Indonesia menyumbang rata-rata Rp > 104,638 triliun pada 2002-2006 untuk PDB, lebih besar daripada kontribusi > sektor pengangkutan dan komunikasi, bangunan, serta listrik, gas, dan air > bersih. > Pada periode sama, menyerap 5,4 juta tenaga kerja dengan produktivitas Rp > 19,5 juta per pekerja per tahun dibandingkan dengan produktivitas nasional > yang rata-rata Rp 18 juta. > > *Fase-fase dalam ekonomi kreatif* > Definisi industri kreatif yang digunakan pemerintah mengadopsi definisi > Pemerintah Inggris, yaitu proses peningkatan nilai tambah hasil eksploitasi > kekayaan intelektual berupa kreativitas, keahlian, dan bakat individu > menjadi produk yang dapat dijual sehingga meningkatkan kesejahteraan bagi > pelaksana dan orang yang terlibat. > Definisi ini memperlihatkan pentingnya ide kreatif. Tetapi, ide kreatif > tersebut membutuhkan transformasi agar dapat menjadi produk bernilai > ekonomi. > Di dalam peta industri kreatif, pemerintah membuat model berdasarkan pada > individu kreatif dengan lima pilar utama: (1) industri yang terlibat dalam > produksi industri kreatif; (2) teknologi sebagai pendukung mewujudkan > kreativitas individu; (3) sumber daya seperti sumber daya alam dan lahan; > (4) kelembagaan mulai dari norma dan nilai di masyarakat, asosiasi industri, > dan komunitas pendukung hingga perlindungan atas kekayaan intelektual; dan > (5) lembaga intermediasi keuangan. > > Aktor utama yang terlibat adalah intelektual, termasuk budayawan, seniman, > pendidik, peneliti, penulis, pelopor di sanggar budaya, serta tokoh di > bidang seni, budaya, dan ilmu pengetahuan; bisnis, yaitu pelaku usaha yang > mentransformasi kreativitas menjadi produk bernilai ekonomi; dan pemerintah > sebagai katalisator dan advokasi, regulator, konsumen, investor dan > wiraswasta, serta perencana kota. > "Kunci semua itu implementasi hasil pemetaan. Kami di pemerintahan mulai > berkoordinasi. Dari cetak biru ini harus ada rencana aksi dari tiap lembaga > terkait. Dari situ harus ada mekanisme koordinasi, bisa di lembaga menko > yang ada atau lembaga pemerintah yang dijalankan seperti swasta," kata Mari. > > Di dalam implementasi itu termasuk memastikan ekonomi kreatif tidak berada > hanya pada 14 sektor tersebut. Berdasarkan pengalaman negara-negara lain, > tahap itu baru fase pertama dari ekonomi kreatif. Fase berikut, proses > kreatif harus ada di semua kegiatan ekonomi. > Indonesia, menurut Mari, sebetulnya mulai memasuki tahap tersebut. > Industri keramik kelas dunia Royal Doulton dari Inggris yang motifnya > dibuat dengan lukisan tangan, misalnya, membuka pabrik di Jakarta sebagai > satu-satunya pabrik di luar Inggris karena percaya kepada kreativitas dan > keterampilan orang Indonesia. > Seniman batik Iwan Tirta, misalnya, diminta mendesain motif untuk peralatan > makan. Begitu juga sepatu Nike dan Adidas mulai membuat desain sepatunya di > sini. > Fase terakhir adalah pada akhirnya konsumen menentukan arah, dinamika, dan > evolusi ekonomi kreatif. > "Ini menyangkut isu demografi. Hampir semua pasar baru, termasuk Indonesia, > memiliki lebih banyak penduduk usia muda daripada orang dewasa. Mereka > sumber ekonomi kreatif sekaligus pasar. Dinamika ini harus kita pahami," > tambah Mari. > > * * * > Melihat karakteristik industri kreatif ini... jelas bahwa ia tak semudah > itu dapat dikembangkan didaerah dengan pembangunan berbasis utama > agrarian.... dan utamanya didaerah yang tak jelas strategi pengembangan > urbannya.....seperti pada umumnya strategi 'Kapet' yang sudah lalu....... > > Salam, > aby > > *(bahan dari Ninuk M. Pambudy/ Kompas)* > > > > > > ------------------------------ > Always-on security tools provide safer ways to connect and share anywhere. > Find out more. Windows Live <http://get.live.com/familysafety/overview> > > > >

