Bung Eko dan temans ysh, Mungkin, kalau ada yang memperjuangkan. Dan mungkin inilah planning, penataan ruang yang memang bukan semata masalah keinsinyuran (enjinering), tapi mau tak mau bicara kebijakan publik. Ruang untuk the poor, memang aneh kalau dilihat dari kacamata liberal, yang menggunakan logika land-rent semata.
Pemerintah kota ada kalau dia hadir melindungi, memfasilitasi warganya. Tapi kalau ikut-ikut jadi developer ya susah. Di negara maju pun, subsidi itu ada. Aatau mekanismenya pemerintah kota yang membayar harga (lend rent) itu, sehingga logika pasar jalan, tapi untuk kepentingan umum juga bisa disediakan. Masalahnya dalam planning (beda dengan lingkungan hidup) ada advokasi, ada LSM yang meneriakkan isyu lingkungan. Bahkan Kementerian Lingkungan Hidup bekerja sama dengan LGM dan kelompok masyarakat yang dirugikan. Tetapi hal seperti itu dalam penataan ruang masih belum tradisi, atau tabu. Masalahnya selain belum terakomodasi dalam rencana, kepedulian, atau asumsi yang digunakan 'belum kesana'. Asumsi perencanaan masih berbasis kegiatan formal. Mengasumsikan semua warga akan mampu untuk membeli rumah, membeli kios, membeli/menyewa kantor. Sehingga land-use dan zonasi diberlakukan secara 'naif'. Kalau gak mampu menyubsidi kelas bawah memperoleh ruang untuk tempat kerjanya, ya mbok jangan galak-galak mengrebek orang buka warung/kantor di rumahnya, dst. Mengenai superblock, gedung megah yang tidak menyediakan tempat makan karyawannya. Membuktikan arsitek juga ikut salah kaprah yang sama. Desain banunan tidak didasarkan kebutuhan ruang penghuni (karyawan) untuk makan dan keperluan lain. Tapi berdasar komersialnya semata. Parkir dulu selalu luber ke jalan, sekarang karena benyak tekanan membaik, dalam gedung. Tapi tempat makan karyawan, masih belum dipikirkan betul, Kalau saya amati, di satu kantor yang penyewanya WB, Earnst n Young, berbagai investment coys, oil coys. Asumsinya karyawannya makannya di restoran atau foodcourt semua; nyatanya kemampuan mereka (staf hingga manajer, kecuali mungkin direkturnya) makan sehariharinya di warung-warung di parkiran yang pengab, bau knalpot tanpa ventilasi, dengan bangku panjang yang harus didapat dengan berebut. Atau di pinggiran kantor, di Amigos (agak minggir got sedikit), selagi belum digusur. Kesimpulannya tidak ada kepedulian kepada aspek 'manusia'nya. Salam, Risfan Munir

