Pak Hengky dan Pak Risfan,
Saya juga ingin ikut mengomentari tentang Jababeka. Saya yakin bahwa jababeka 
dibangun dengan maksud seratus persen untuk kepentingan bisnis lahan, karena 
memang tujuan pengembang adalah memperoleh untung sebesar-besarnya dari lahan 
yang dikuasai. Itulah gunanya pemerintah menetapkan perlunya penyediaan fasum 
dan fasos sebagai kewajiban dari Pengembang. Sebuah perusahaan pengembang tentu 
saja penyediaan fasum dan fasos harus  komersial juga atau sebagai daya tarik 
untuk menaikkan harga lahan. Saya rasa pak Aby sudah tahu bahwa Jababeka adalah 
produk dari industri (keruangan), karena itu saya heran kalau pak Aby masih 
menyangsikannya. Nah yang penting bagi seorang planner adalah mengatur 
bagaimana supaya kepentingan bisnis perusahaan pengembang sekaligus dapat 
meningkatkan kesejahteraan masyarakat disekitarnya. 
Saya yakin teman-teman planner yang ada di pemerintah, pengembang dan konsultan 
mempunyai idealisme dan patriotisme. Betul nggak pak risfan?
 Salam
Aunur Rofiq 



----- Original Message ----
From: hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Monday, October 13, 2008 2:35:30 PM
Subject: [referensi] Re : Jababeka : Produk PR or Produk Industri?


 
Pak Risfan dan milisters ysh,
 
Untuk menyambutdan meramaikan50 tahun pelanologi di Indonesiaizinkan saya juga 
membuat  corat-coret asal ala kadarnya dimilis yang sedang sunyi ini………
Membaca tulisan tentang Jababeka…. Tiba2 muncul pertanyaan usil dibenak saya… 
ialah tentang apakah Jababeka itu sebenarnya merupakan “produk planologik” 
ataukah  ”produk industri (keruangan)”?…… 
Memang dapat dikatakan bahwa ia adalah keduanya… baik merupakan produk 
planologik maupun  produk industri….. tetapi dalam rangka memancing perdebatan 
hangat… saya berani mengatakan bahwa Jababeka itu sebenarnya tak lebih dari 
sekedar sebuah produk industri saja.. dimana didalamnya terkandung  diantaranya 
pekerjaan planologik….. 
Kalau ia mau disebut sebagai produk planologik… benarkah ide mula paling 
awalnya dari proyek ini ia dahulu dicetuskan oleh planner… dan kalau benar 
siapakah namanya sang planner itu…... 
Sebagai sebuah “produk industri (keruangan)”…. Saya berani mengatakan bahwa 
Jababeka (berani dikembangkan).. oleh karena ia dipastikan (kala itu)  akan 
dilalui rencana jalan tol Jkt-Cikampek…….. 
Industrialis properti dapat melihat kala itu bahwa ketika Jakarta menggeliat 
karena perkembangan industri dan perekonomiannya…. Maka diperlukan perluasan 
kawasan industri maupun akan diikuti meningkatnya kebutuhan perumahan karyawan 
akibat daripadanya…. 
Bahwa masyarakat telah mengenali bahwa dengan jalan tol maka suatu jarak tak 
lagi dilihat sebagai ”berapa jauh” (how far does it is) tetapi lebih dirasakan 
sebagai “berapa lama’ berkendaraan (how long time does it takes)…. Maka para 
industrialis properti itu berani memastikan bahwa ‘produk-produk keruangan 
mereka nanti (produk kawasan industri dan perumahan)  disepanjang kiri-kanan 
jalan tol Jkt- Cikampek atau jalan tol lainnya (Jkt-Anyer dsb) tentu akan laris 
manis cepat terjual…….. 
Membandingkan 50 tahun pelanologi di Indonesia dan 232  tahun usia kemerdekaan 
Amerika Serikat misalnya……..  masyarakat awam barangkali boleh mengeluarkan 
berbagai celoteh komentarnya …. Seperti tentu pertama selamat ulang tahun 
pelanologi-nya ya pak Wawo yang baik hati dan rendah hati…. 
Atau juga….. akh.. kalau 200 tahun adalah “baru” merupakan “usia dewasa”  
(maklum pada 1963 saja atau pada usia kemerdekaan yang ke 187 saja AS juga 
masih tidak dewasa  dengan warganya masih menyenangi rasialisme, Ku Klux Klan 
serta  menembak mati presidennya karena paham liberalism)……  maka masyarakat 
barangkali boleh juga menyambut ulang tahun 50 tahun pelanologi RI dengan 
ucapan……. “selamat  ulang tahun ya buyung… cepat besar dan cepat dewasa ya 
nak?.. supaya nanti bisa mulai menangani urusan-urusan planologik yang 
besar-besar dan strategik bagi bangsa…  dan bukan yang ecek-ecek terus ya?”….. 
Salam, 
 
 


      

Kirim email ke