+++: “…..Saya rasa pak Aby sudah tahu bahwa Jababeka adalah produk dari industri (keruangan), karena itu saya heran kalau pak Aby masih menyangsikannya….”. >>>: Ya pak Rofiq... maksud saya agar kalau memang diakui bahwa Jababeka itu >>>lebih merupakan “produk industri keruangan” (yang mengandung unsur >>>planologik) dibanding dengan “produk planologik (yang mengandung unsur >>>industri dan ekonomi)….…. Maka agar masyarakat planner terpacu untuk membuat >>>karya planologik beneran yang agung yang didalamnya dapat terkandung unsur >>>pengembangan industri, ekonomi serta kehidupan sosial…….. Dalam konteks Jababeka dan jalan tol Jkt—Ckp 100/ 70 km.. harus diakui bahwa jalan tolnya lebih merupakan produk atau karya planologik…. Dan Jababeka sekedar “produk industri” akibat daripadanya…. Tetapi kalau selanjutnya lalu membuat 1450km jalan tol di Jawa (dan hanya 50km diluar Jawa)……saya sulit mengatakan itu adalah “karya planologik yang agung”… dan rasanya lebih mudah mengatakannya sebagai “karya jawasentrisme” yang “mau mudahnya saja”……. Dan tak berani membuka pusat aglomerasi baru diluar Jawa… yang benar2 merupakan pekerjaan planologik yang agung dan menantang….. +++: “……Nah yang penting bagi seorang planner adalah mengatur bagaimana supaya kepentingan bisnis perusahaan pengembang sekaligus dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat disekitarnya. >>>: Kalau benar mau “meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitarnya”…. Saya >>>kira sejak awalnya planner/pemerintah perlu menuntut persentase ruang >>>tertentu dari developer yang perlu diserahkan (atau jual harga pokok) pada >>>pemerintah…agar selanjutnya dapat “terserah” pada pemerintah untuk >>>menggunakannya bagi kepentingan ideal masyarakat sekitar ataupun bagi “the >>>low income”…… Sebab kalau sejak awal desain ruangnya sudah tak menyisakan “space for the low income” yang pengelolaannya bisa dilakukan oleh pemerintah (karena umumnya developer swasta sangat tamak dalam menata dan mengkomersialkan ruang …. Tak mudah juga rasanya “meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar” itu banyak dapat dilakukan… karena bagaimanapun juga…. Yang namanya “kesejahteraan” juga ada bersangkut paut dengan “strategic location” alias “space” juga…… +++: “…Saya yakin teman-teman planner yang ada di pemerintah, pengembang dan konsultan mempunyai idealisme dan patriotisme. Betul nggak pak risfan?......”. >>>: Saya sih setuju saja pada mereka yang memiliki idealisme dan >>>patriotisme….. tapi masalahnya .. kalo yang memiliki lahannya (Jababeka) itu >>>swasta… dan planner hanya menjadi orang suruhan saja didalamnya….. dan >>>konsultan hanya didengar sepotong saja advisnya… dan kalau yang >>>dipemerintah bisa “diartalitain”…… dan developer mau tetap tamak dan kikir >>>saja lalu pak Rofiq mau bilang apa?........ Maaf… kritik membangun untuk 50 tahun pendidikan planologi….. Salam, aby
--- On Mon, 10/13/08, Aunur rofiq <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: Aunur rofiq <[EMAIL PROTECTED]> Subject: Re: [referensi] Re : Jababeka : Produk PR or Produk Industri? To: [email protected] Date: Monday, October 13, 2008, 6:48 AM Pak Hengky dan Pak Risfan, Saya juga ingin ikut mengomentari tentang Jababeka. Saya yakin bahwa jababeka dibangun dengan maksud seratus persen untuk kepentingan bisnis lahan, karena memang tujuan pengembang adalah memperoleh untung sebesar-besarnya dari lahan yang dikuasai. Itulah gunanya pemerintah menetapkan perlunya penyediaan fasum dan fasos sebagai kewajiban dari Pengembang. Sebuah perusahaan pengembang tentu saja penyediaan fasum dan fasos harus komersial juga atau sebagai daya tarik untuk menaikkan harga lahan. Saya rasa pak Aby sudah tahu bahwa Jababeka adalah produk dari industri (keruangan), karena itu saya heran kalau pak Aby masih menyangsikannya. Nah yang penting bagi seorang planner adalah mengatur bagaimana supaya kepentingan bisnis perusahaan pengembang sekaligus dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat disekitarnya. Saya yakin teman-teman planner yang ada di pemerintah, pengembang dan konsultan mempunyai idealisme dan patriotisme. Betul nggak pak risfan? Salam Aunur Rofiq ----- Original Message ---- From: hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED] com> To: [EMAIL PROTECTED] ps.com Sent: Monday, October 13, 2008 2:35:30 PM Subject: [referensi] Re : Jababeka : Produk PR or Produk Industri? Pak Risfan dan milisters ysh, Untuk menyambut dan meramaikan 50 tahun pelanologi di Indonesia izinkan saya juga membuat corat-coret asal ala kadarnya dimilis yang sedang sunyi ini……… Membaca tulisan tentang Jababeka…. Tiba2 muncul pertanyaan usil dibenak saya… ialah tentang apakah Jababeka itu sebenarnya merupakan “produk planologik” ataukah ”produk industri (keruangan)”?…… Memang dapat dikatakan bahwa ia adalah keduanya… baik merupakan produk planologik maupun produk industri….. tetapi dalam rangka memancing perdebatan hangat… saya berani mengatakan bahwa Jababeka itu sebenarnya tak lebih dari sekedar sebuah produk industri saja.. dimana didalamnya terkandung diantaranya pekerjaan planologik….. Kalau ia mau disebut sebagai produk planologik… benarkah ide mula paling awalnya dari proyek ini ia dahulu dicetuskan oleh planner… dan kalau benar siapakah namanya sang planner itu…... Sebagai sebuah “produk industri (keruangan)”…. Saya berani mengatakan bahwa Jababeka (berani dikembangkan) .. oleh karena ia dipastikan (kala itu) akan dilalui rencana jalan tol Jkt-Cikampek…….. Industrialis properti dapat melihat kala itu bahwa ketika Jakarta menggeliat karena perkembangan industri dan perekonomiannya… . Maka diperlukan perluasan kawasan industri maupun akan diikuti meningkatnya kebutuhan perumahan karyawan akibat daripadanya…. Bahwa masyarakat telah mengenali bahwa dengan jalan tol maka suatu jarak tak lagi dilihat sebagai ”berapa jauh” (how far does it is) tetapi lebih dirasakan sebagai “berapa lama’ berkendaraan (how long time does it takes)…. Maka para industrialis properti itu berani memastikan bahwa ‘produk-produk keruangan mereka nanti (produk kawasan industri dan perumahan) disepanjang kiri-kanan jalan tol Jkt- Cikampek atau jalan tol lainnya (Jkt-Anyer dsb) tentu akan laris manis cepat terjual…….. Membandingkan 50 tahun pelanologi di Indonesia dan 232 tahun usia kemerdekaan Amerika Serikat misalnya…….. masyarakat awam barangkali boleh mengeluarkan berbagai celoteh komentarnya …. Seperti tentu pertama selamat ulang tahun pelanologi-nya ya pak Wawo yang baik hati dan rendah hati…. Atau juga….. akh.. kalau 200 tahun adalah “baru” merupakan “usia dewasa” (maklum pada 1963 saja atau pada usia kemerdekaan yang ke 187 saja AS juga masih tidak dewasa dengan warganya masih menyenangi rasialisme, Ku Klux Klan serta menembak mati presidennya karena paham liberalism)…… maka masyarakat barangkali boleh juga menyambut ulang tahun 50 tahun pelanologi RI dengan ucapan……. “selamat ulang tahun ya buyung… cepat besar dan cepat dewasa ya nak?.. supaya nanti bisa mulai menangani urusan-urusan planologik yang besar-besar dan strategik bagi bangsa… dan bukan yang ecek-ecek terus ya?”….. Salam,

