Rekan Hotasi, Pak Aby dan teman2 ysh,

Terima kasih dengan pendekatan role play Bang Hotasi ini.  

Memang kita perlu ingat bahwa Planolog hidup dan bekerja dan bekerja dalam 
situasi existing, atau kontemporer. Perencanaan kota lahir setelah kondisi 
kota-kota industri di UK lingkungannya buruk.

Waktu rencana di buat landscape Indonesia bukanlah tanah kosong, sehingga 
planolog merencana, lalu tahap demi tahap dibangun kota-kota dan prasarananya. 
Nyatanya, kalau ditarik dari awal abad ke-20, distribusi kota-kota, sebaran 
(konsentrasi) kegiatan dan prasarana transportasi, yah sudah seperti itu. 
Pernah ada upaya pemindahan penduduk ke luar pulau Jawa dengan transmigrasi dan 
pembangunan jalan trans Sumatra, Sulawesi, sebagian Papua/Irian, dan 
pembangunan prasarana kota-kotanya. Hasilnya banyak, tetapi mungkin belum cukup 
kuat untuk memutar arah konsentrasi spontan ke pulau Jawa yang sudah begitu.

Dalam situasi kontemporer seperti itu, otomatis pemerintahpun menghadapi dilema 
antara membangun kawasan baru di frontier regions, atau menyelamatkan 
permukiman dan kota yang sudah terlanjur padat. Tentu ada tekanan politis kalau 
kota-kota yang padat ini ditinggal begitu saja. Akhirnya ya harus menangani 
semuanya. Kenyataannya begitu.
Upaya penyebaran pembangunan dalam skala massive oleh pemerintah (pusat) saat 
ini tidak bisa sekuat dulu. Maka harapan  penyebaran keseluruh wilayah tanah 
air ya melalui otonomi daerah. Pemerintah nasional hanya berwenang pada aspek 
pembangunan antar-daerah.

Kalau saya ikuti proyek-proyek, sejak awal 90an, berbagai instansi pusat sudah 
menyatakan bahwa peran masyarakat dan swasta harus dilibatkan. Prasarana kota/ 
permukiman adalah kewajiban masyarakat juga, katanya, karena itu bagi yang 
mampu harus cost-recovery (bayar sendiri). Libatkan swasta dalam pembangunan 
kota dan prasarananya.

Kalau bicara sektor swasta, menurut saya sebaiknya ya proporsional. Swasta, 
wajarnya, melihat kebutuhan di masyarakat, lalu menawarkan sesuatu. Untuk dapat 
untung dengan kalkulasi biaya dan risiko (BCR). Dan swasta memang wajarnya 
untuk yang cost-recovery, untuk kelompok masyarakat yang mampu. Karena swasta 
tidak menerima pajak dari rakyat. 
Jadi kalau pemerintah tidak mampu membangun rumah sosial (social housing) ya 
jangan harap terus swasta harus membangun.

Dalam dunia nyata ada mozaik landscape seperti itu. Lalu dari segi para pihak, 
ada pemerintah, pemerintah daerah, swasta (besar, kecil), ada juga swadaya 
masyarakat. Masing-masing dengan motifnya sendiri, dengan potensi dan perannya, 
juga dengan keterbatasan dan kelemahan, bahkan eksesnya.
Karena itu, barangkali salah satu tugas planolog adalah juga mem-fasilitasi 
berbagai peran dari para pihak tersebut dalam mozaik rencana yang disusun dan 
dikawalnya. Kuncinya adalah mengidentifikasi potensi, trend dan peran 
masing-masing, termasuk kelemahannya. Dan ini mungkin memerlukan pendekatan 
yang berbeda, lebih realistis, terbuka dan partisipatif. 
Karena pembangunan butuh dana, maka perlulah perencana mengantisipasi sumber 
dana dari mana, mana yang bisa didelegasikan ke swasta, mana yang diserahkan 
kepada swadaya masyarakat, dan mana pusat, mana pemda. Lalu perlu dipikirkan 
pula apa insentif bagi para pihak itu, karena pemerintah pusat, pemda, swasta, 
kelompok masyarakat punya kepentingan masing-masing. Jadi merencanakan 
pembangunan kota dan daerah memang tidak sesederhana menggambar dua dimensi, 
cateris paribus (aspek lain dianggap tak berpengaruh).

Jababeka hanyalah satu kasus peran swasta dengan potensi, inisiatif, dan 
keterbatsannya, menghadapi tantangan perkembangan ekonomi dan lingkungan. 
Cakupan nya dalam ilmu perencanaan tentu perencanaan kota dan site plan, bukan 
regional plan. Dia developer swasta biasa, bukan pemerintah pusat. Jadi jangan 
Tupoksi instansi pemerintah pusat dipakai menilai kinerjanya.

Salam,
Risfan Munir





-- In [email protected], hotasi simamora <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Pak Aby dan Pak Hengky Yth, 
> Saya berandai-andai saja bahwa saya adalah CEO di perusahaan pengembang. 
> Tentunya saya ditargetkan untuk mendapatkan keuntungan yang besar setiap 
> tahunnya. Lalu saya mulai mencari lahan dengan harga yang sangat murah, dalam 
> jumlah yang cukup besar. Langkah seterusnya adalah tentunya saya akan 
> melakukan lobby ke berbagai pihak agar lahan yang sudah terbeli dapat 
> dipasarkan dan cukup laku keras. Berbekal pergaulan dengan para planner, ahli 
> pemasaran, analis property, akhirnya saya lebih efektif melakukan lobby. 
> Selanjutnya, terjadilah seperti jababeka.
> Namun (dalam andai2 juga) sebelum saya memutuskan membeli lahan, karena 
> daerah tersebut juga adalah merupakan sentra pertanian yang oleh pemerintah 
> belum lunas cicilan utangnya ketika membangun prasarana irigasi, saya pernah 
> diskusi dengan rekan dari planner, kira2 dimana yang tepat membeli lahan 
> untuk pengembangan industri? Ternyata lokasi Jababeka sekarang tidak termasuk 
> yang diusulkan.
> Begitulah kira-kira Asal Muasal (Khayalan) Jababeka, yang saya tidak begitu 
> peduli apakah itu produk PR atau Industri.
> 
> Horas
> 
> Hot Asi Simamora
> 
> --- On Tue, 14/10/08, hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> From: hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: [referensi] Re : Jababeka : Produk PR or Produk Industri?
> To: [email protected]
> Date: Tuesday, 14 October, 2008, 10:58 PM
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
>     
>              
>  
> +++: “…..Saya rasa pak Aby sudah tahu bahwa Jababeka adalah produk dari 
> industri (keruangan), karena itu saya heran kalau pak Aby masih 
> menyangsikannya….”. 
> >>>: Ya pak Rofiq... maksud saya agar kalau memang diakui bahwa Jababeka itu 
> >>>lebih merupakan “produk industri keruangan” (yang mengandung unsur 
> >>>planologik) dibanding dengan “produk planologik (yang mengandung unsur 
> >>>industri dan ekonomi)….…. Maka agar masyarakat planner terpacu untuk 
> >>>membuat karya planologik beneran yang agung yang didalamnya dapat 
> >>>terkandung unsur pengembangan industri,  ekonomi serta kehidupan 
> >>>sosial……..   
> Dalam konteks Jababeka dan jalan tol Jktâ€"Ckp 100/ 70 km.. harus diakui 
> bahwa jalan tolnya lebih merupakan produk atau karya planologik…. Dan 
> Jababeka sekedar “produk industri” akibat daripadanya…. Tetapi kalau 
> selanjutnya lalu membuat 1450km jalan tol di Jawa (dan hanya 50km diluar 
> Jawa)……saya sulit mengatakan itu adalah “karya planologik yang 
> agung”… dan rasanya lebih mudah mengatakannya sebagai  “karya 
> jawasentrisme” yang “mau mudahnya saja”……. Dan tak berani membuka 
> pusat aglomerasi baru diluar Jawa… yang benar2 merupakan pekerjaan 
> planologik yang agung dan menantang….. 
>   
> +++: “……Nah yang penting bagi seorang planner adalah mengatur 
> bagaimana supaya kepentingan bisnis perusahaan pengembang sekaligus dapat 
> meningkatkan kesejahteraan masyarakat disekitarnya.  
> >>>: Kalau  benar mau “meningkatkan kesejahteraan masyarakat 
> >>>sekitarnya”…. Saya kira sejak awalnya planner/pemerintah perlu 
> >>>menuntut persentase ruang tertentu dari developer yang perlu diserahkan 
> >>>(atau  jual harga pokok) pada pemerintah…agar selanjutnya dapat 
> >>>“terserah” pada pemerintah untuk menggunakannya bagi kepentingan ideal 
> >>>masyarakat sekitar ataupun bagi  “the low income”…… 
> Sebab kalau sejak awal desain ruangnya sudah tak menyisakan “space for the 
> low income” yang pengelolaannya bisa dilakukan oleh pemerintah (karena 
> umumnya developer swasta sangat tamak dalam menata dan mengkomersialkan ruang 
> …. Tak mudah juga rasanya “meningkatkan kesejahteraan masyarakat 
> sekitar” itu banyak dapat dilakukan… karena bagaimanapun juga…. Yang 
> namanya “kesejahteraan”  juga ada bersangkut paut dengan “strategic 
> location” alias “space” juga……   
>   
> +++: “…Saya yakin teman-teman planner yang ada di pemerintah, pengembang 
> dan konsultan mempunyai idealisme dan patriotisme. Betul nggak pak 
> risfan?......”. 
> >>>: Saya sih setuju saja pada mereka yang memiliki idealisme dan 
> >>>patriotisme…. . tapi masalahnya .. kalo yang memiliki lahannya 
> >>>(Jababeka) itu swasta… dan planner hanya menjadi orang suruhan saja 
> >>>didalamnya….. dan konsultan hanya didengar sepotong saja advisnya… dan 
> >>> kalau yang dipemerintah bisa “diartalitain”…… dan developer mau 
> >>>tetap tamak dan kikir saja lalu pak Rofiq mau bilang apa?........ 
> Maaf… kritik membangun untuk 50 tahun pendidikan planologi….. 
>   
> Salam, 
> aby 
>   
> 
> --- On Mon, 10/13/08, Aunur rofiq <aunurrofiqhadi@ yahoo.com> wrote:
> 
> From: Aunur rofiq <aunurrofiqhadi@ yahoo.com>
> Subject: Re: [referensi] Re : Jababeka : Produk PR or Produk Industri?
> To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
> Date: Monday, October 13, 2008, 6:48 AM
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Pak Hengky dan Pak Risfan,
> Saya juga ingin ikut mengomentari tentang Jababeka. Saya yakin bahwa jababeka 
> dibangun dengan maksud seratus persen untuk kepentingan bisnis lahan, karena 
> memang tujuan pengembang adalah memperoleh untung sebesar-besarnya dari 
> lahan yang dikuasai. Itulah gunanya pemerintah menetapkan perlunya penyediaan 
> fasum dan fasos sebagai kewajiban dari Pengembang. Sebuah 
> perusahaan pengembang tentu saja penyediaan fasum dan fasos harus  
> komersial juga atau sebagai daya tarik untuk menaikkan harga lahan. Saya rasa 
> pak Aby sudah tahu bahwa Jababeka adalah produk dari industri (keruangan), 
> karena itu saya heran kalau pak Aby masih menyangsikannya. Nah yang penting 
> bagi seorang planner adalah mengatur bagaimana supaya kepentingan bisnis 
> perusahaan pengembang sekaligus dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat 
> disekitarnya. 
> 
> Saya yakin teman-teman planner yang ada di pemerintah, pengembang dan 
> konsultan mempunyai idealisme dan patriotisme. Betul nggak pak risfan?
>  Salam
> Aunur Rofiq 
> 
> 
> 
> 
> ----- Original Message ----
> From: hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED] com>
> To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
> Sent: Monday, October 13, 2008 2:35:30 PM
> Subject: [referensi] Re : Jababeka : Produk PR or Produk Industri?
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
>  
> Pak Risfan dan milisters ysh,
>  
> Untuk menyambut dan meramaikan 50 tahun pelanologi di Indonesia izinkan saya 
> juga membuat  corat-coret asal ala kadarnya dimilis yang sedang sunyi 
> ini……… 
> Membaca tulisan tentang Jababeka…. Tiba2 muncul pertanyaan usil dibenak 
> saya… ialah tentang apakah Jababeka itu sebenarnya merupakan “produk 
> planologik” ataukah  ”produk industri (keruangan)”?…… 
> Memang dapat dikatakan bahwa ia adalah keduanya… baik merupakan produk 
> planologik maupun  produk industri….. tetapi dalam rangka memancing 
> perdebatan hangat… saya berani mengatakan bahwa Jababeka itu sebenarnya tak 
> lebih dari sekedar sebuah produk industri saja.. dimana didalamnya terkandung 
>  diantaranya pekerjaan planologik….. 
> Kalau ia mau disebut sebagai produk planologik… benarkah ide mula paling 
> awalnya dari proyek ini ia dahulu dicetuskan oleh planner… dan kalau benar 
> siapakah namanya sang planner itu…... 
> Sebagai sebuah “produk industri (keruangan)”…. Saya berani mengatakan 
> bahwa Jababeka (berani dikembangkan) .. oleh karena ia dipastikan (kala itu) 
>  akan dilalui rencana jalan tol Jkt-Cikampek…….. 
> Industrialis properti dapat melihat kala itu bahwa ketika Jakarta menggeliat 
> karena perkembangan industri dan perekonomiannya… . Maka diperlukan 
> perluasan kawasan industri maupun akan diikuti meningkatnya kebutuhan 
> perumahan karyawan akibat daripadanya…. 
> Bahwa masyarakat telah mengenali bahwa dengan jalan tol maka suatu jarak tak 
> lagi dilihat sebagai ”berapa jauh” (how far does it is) tetapi lebih 
> dirasakan sebagai “berapa lama’ berkendaraan (how long time does it 
> takes)…. Maka para industrialis properti itu berani memastikan bahwa 
> ‘produk-produk keruangan mereka nanti (produk kawasan industri dan 
> perumahan)  disepanjang kiri-kanan jalan tol Jkt- Cikampek atau jalan tol 
> lainnya (Jkt-Anyer dsb) tentu akan laris manis cepat terjual…….. 
> Membandingkan 50 tahun pelanologi di Indonesia dan 232  tahun usia 
> kemerdekaan Amerika Serikat misalnya……..  masyarakat awam barangkali 
> boleh mengeluarkan berbagai celoteh komentarnya …. Seperti tentu pertama 
> selamat ulang tahun pelanologi-nya ya pak Wawo yang baik hati dan rendah 
> hati…. 
> Atau juga….. akh.. kalau 200 tahun adalah “baru” merupakan “usia 
> dewasa”  (maklum pada 1963 saja atau pada usia kemerdekaan yang ke 187 
> saja AS juga masih tidak dewasa  dengan warganya masih menyenangi 
> rasialisme, Ku Klux Klan serta  menembak mati presidennya karena paham 
> liberalism)……  maka masyarakat barangkali boleh juga menyambut ulang 
> tahun 50 tahun pelanologi RI dengan ucapan……. “selamat  ulang tahun ya 
> buyung… cepat besar dan cepat dewasa ya nak?.. supaya nanti bisa mulai 
> menangani urusan-urusan planologik yang besar-besar dan strategik bagi 
> bangsa…  dan bukan yang ecek-ecek terus ya?”….. 
> 
> Salam, 
>  
> 
> 
> 
> 
>       
>       
> 
>     
>     
>  
>   
>  
>  
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
>  
> 
> 
>  
>  
> 
> 
>       New Email addresses available on Yahoo!
> Get the Email name you&#39;ve always wanted on the new @ymail and 
> @rocketmail. 
> Hurry before someone else does!
> http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/
>


Kirim email ke