Mas Djarot, menurutdosen saya (bukan bapakku...) yang temen beliau, waktu ditanya...apakah romo memang punya konsep awal mengenai pengembngan masyarakat code ? beliau menjawab bahwa sebetulnya beliau suka saja bereksperimen dengan mengolah lereng sungai yang berterpa-terap dengan design alami.... Catatan saya tersebut cuma untuk menggambarkan bahwa romo juga manusia...tidak perlu terlalu di "mistifying"...dan tugas sebagai romo memang jalan hidup yang dipilih sehari-hari... Jadi...ya jalan sajalah....mengalir dengan ikhlas....nanti juga sampai kemana yang kita diberikanNya... Kalau suka hidup bersama masyarakat silahkan...tetapi kalau juga sekaligus tetap sebagai dosen , peneliti dan konsultan, baik di satu disiplin maupun multi, inter, hingga menjadi trans disiplin juga ok saja...nanti juga menemukan kebernaran yang paling cocok dihati... mengenai arsitek perusak lingkungan...pernyataan tsb bukan pernyataan asli saya tetapi pendapat yang berkembang diluar dunia arsitek, walaupun yang menyampaikannya pertama kali ke saya adalah seorang arsitek dari Brasil. Dan saya sepakat pendapat beliau...dengan catatan bahwa masih banyak arsitek yang percaya, belajar dan mengutamakan karyanya sebagai "brand" pribadi...tanpa mengutamakan aspek lingkungan, manusia yang terkena dampak...bahkan sang client sendiri...dan ekonomipun kadang harus mengalah kepada kemauan si master arsitek sehingga sang client terpaksa atau harus merogoh koceknya agar monumen pribadi sang arsitek dapat terwujud....yang tidak setuju dianggap....belum ngarsitek...(bukan durung jowo...lho). Tentu saja tidak semua arsitek semacam itu, dan tidak semua pengajar arsitek mendidik muridnya untuk menjadi semacam itu...dan tidak harus dianggap bukan arsitek lho mereka itu... konsep muddling through dan arsitek kaki kotor atau aliran John Turner, Johan Silas dll pasti tak sepakat kalau mereka bukan arsitek dan bukan tidak memperhatikan masyarakat dan lingkungannya...walau menggunakan paradigma lain...Sama seperti saya tidak sefaham dengan Marco yang menganjurkan komunitas pesisir harus dipindah ke daratan, jauh dari pantai agar bebas Tsunai, atau sebaiknya pemerintah kota mengiklaskan sebagian tanah Situ Depok bagi penduduk miskin yang menduduki dan mereklamasi tepiannya karena mereka hidup dari tempat itu....Saya tidak sepakat karena beliau tidak memahami permasalahan sosial dan lingkungan setempat dan sangat sektoral.....bukan tidak mengakui arsitek atau kearsitekturan belaiau atau sebaliknya.....cuma beda paradigma saja....dan menurut saya paradigma yag dianut tergantung perkembangan masukan yang masing-masing alami, hayati dan praktekkan dalam kehidupan berprofesinya selama ini. Waktu saya meninggalkan dunia swasta, saya disebut bodoh, tetapi saya membuktikan sendiri bahwa kehidupan saya tidak menurun bahkan meningkat dengan kehidupan yang baru. Bahkan pada saat krisi, saya bahkan tidak mengalami krisi tersebut, ...karena kesejahteraan kita bukan diatur perhitungan ekonomi manusia, semua diberikanNya sesuai haraan kita.... Ok dulu deh, cucu saya ngajak jalan-jalan cari oleh-oleh buat anak-anak di Indonesia.... Jangan terlalu fanatik, dogmatis atau sebaliknya kecewa dengan profesi sekarang...tetap berkarya, mengalir dengan iklas dan selalu improve ourself.... Salam,
Abimanyu 2008/10/23 Djarot Purbadi <[EMAIL PROTECTED]> > Pak Abimanyu, saya tidak kebakaran jenggot meski punya sedikit > jenggot....saya salut dengan pandangan panjenengan....nuwun sewu: sama > dengan saya....hanya kayaknya panjenengan lebih lantang dan duluan > mengatakan di forum ini....lebih berani...saya setuju...dan ingin belajar > tentang pengalaman panjenengan....bagaimana kok sampai pada kesimpulan > itu....suwer ini serius ! Sudah lama saya merasakan hal itu dan mungkin > belum cukup isi benak saya sampai nggak mudeng-mudeng juga....bahkan, > langkah saya yang "di luar pakem" (???) juga akibat dari kritik Romo Mangun > ke Bapak saya bahwa wuuuu... kleru kuwi sekolah eh kuliah neng arsitektur > !....batinnya barangkali bilang guoblok kowe...aku saja keluar dari > arsitektur ugm jee ! Romo sampai pada pandangan seperti itu tentunya punya > latarbelakang yang kuat...sampai-sampai beliau turun sendiri di tepi kali > untuk hidup bersama dengan masyarakat tersisih....ada apa di balik fenomena > Romo ? Tentu ada sesuatu yang sangat mendasar..... > > Salam, > > Djarot Purbadi > > > > --- On *Thu, 10/23/08, abimanyu takdir alamsyah <[EMAIL PROTECTED]>*wrote: > > From: abimanyu takdir alamsyah <[EMAIL PROTECTED]> > Subject: Re: [referensi] Re: Profesi yang merusak? > To: [email protected] > Date: Thursday, October 23, 2008, 8:42 AM > > Rekan-rekan milister ysh, > > Suatu tulisan yang bermanfaat adalah yang dapat berkembang menjadi pemicu > pembacanya untuk mengulas dan menggalinya. (Untuk menyampaikan posisi kita, > kadang perlu kata-kata yang tajam...he he he.). Tulisan dan waktu-ruang yang > diluangkan ternyata dapat lebih membuka perdebatan aspek konseptual > tersebut. Dan saya gembira bahwa pernyataan yang saya kutip dari salah satu > diskusi dalam program DPU (Develoment Planning Unit) di U.C.London 1978-1979 > yll tersebut telah lebih membuka diskusi dan pemikiran rekan-rekan sekalian > bahwa di setiap aliran atau sekolah ilmu (school of thought) dapat lahir > dari malaikat hingga setan yang memicu kesejahteraan atau kesengsaraan. > Begitu juga di bidang ekonomi (ilmu menghitung eko, atau mengelola rumah > tangga kehidupan alam termasuk manusia di dalamnya), kalau secara holistik > sangat perlu sehingga secara sederhana (ceteris paribus) kita dapat mengerti > perilaku transaksi yang terjadi dari aspek-aspek nyata yang disederhanakan > tersebut agar lebih arif memahami (eko-logi) dan mengelola (eko-nomi) > lingkungan (rumah tangga) tersebut bagi kesejahteraan unsur-unsur rumah > tangga yang berbeda-beda didalamnya. Namun secara "picik" dapat juga cuma > memainkan "game" angka-angka non-riel, yang berpotensi memenangan game walau > dengan korban non-pemain yang lebih banyak.... Karena mereka lupa bahwa > suatu negara bukan a "private corporate", walau international interprise > sekalipun... karena the real client is the people, who are the real owner of > this country, not the local government, not the investors, not the experts, > not even the "united nations" or the world class organizer... . > > Jadi mas Djarot, silahkan kebakaran jenggot kalau merasa sekolah arsitektur > terusik, asal yang lahir adalah peningkatan kearifan atas mengapa pernyataan > tersebut lahir dan bagaimana meningkatkan agar eksistensinya menjadi lebih > unggul... > > Saya sendiri masih mengajar di sekolah arsitektur, pengembangan perkotaan > dan lingkungan. Saya juga mengelola m.k.arsitektur di kawasan pesisir, > memasukkan aspek lingkungan tropis kepulauan sebagai bagian dari m.k. teknik > bangunan di s1 dan s2 arsitektur, juga di s2 aspek Indonesia sebagai negara > kepulauan dan perjuangan mempertahankan wawasan negara pulau-laut menjadi > bagian awal dari perencanaan kota dan wilayah sebelum menganalisis > teori-teori dari sono, kepada calon doktor ilmu lingkungan aspek kepulauan > juga menjadi dasar pemahaman kewilayahan dan lingkungan hidupnya. Saya juga > tidak alergi dengan ilmu ekonomi (engineering, mikro dan makro) dalam bagian > dari analisis kuantiatif, yang tidak terlepas dari aspek kualitatif, spasial > (bukan dua dimensional) dan keberlanjutan lingkungan hidup. > Jadi kalau saya dianggap anti sekolah arsitektur mungkin itu penilaian > pribadi pembaca, monggo wae. Yang terang saya bergandengan tangan dengan > sesama rekan-rekan mahasiswa, pengajar, peneliti, pejabat dan konsultan dari > berbagai disiplin ilmu yang tidak mau tunduk kepada pakem lama, apalagi > kalau cuma sekadar import, atau tradisional mati. Kami percaya bahwa tradisi > Indonesia baru dapat lahir sebagai negara pulau-laut terbesar yang lebih > unggul daripada Indonesia lama yang sekadar warisan atau foto-copy bangsa > lain. We should create our own prosperity through improving our unique > capacities.. . > > "We learn from the past, not for copying them, but to develop better > changes, together with the changing environment we live in". Dan rekan-rekan > di Coastal Zone Asia Pacific 2008 cukup setuju dengan pernyataan tersebut... > > ....khayal.. .ngaco... ngawur... (eyang aby?). ga po-po yang, pancen akeh > panah kang njuju dewekku...sing penting ngger parikesit sak anak putune iso > nglangni urip gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerto raharjo, wedus > pitik bali neng kandange dewe-dewe... > > Nuwun sewu, > > Abimanyu > > 2008/10/23 Harya Setyaka <harya.setyaka@ gmail.com<[EMAIL PROTECTED]> > > > >> iya betull... >> >> profesi yg merusak ya namanya 'perusak'... >> >> gini aja deh... lulusan arsitek-planner Indonesia kalao kerja di LN ikut >> rusak ga?? >> kalo ga... artinya bukan profesi-nya atau sekolahannya yg nge-rusak.. >> tapi mungkin karena mereka hanyalah ikan-2 yg berenang di kolam yg cemar. >> >> salam, >> -K- >> >> >> On Mon, Oct 20, 2008 at 11:23 AM, risfano <[EMAIL PROTECTED] com<[EMAIL >> PROTECTED]> >> > wrote: >> >>> Wah, diskusi kok mengarah pada tuduhan rusak-rusakan? Apakah ada >>> profesi yang born to destroy, kecuali pasukan "pembom". >>> >>> Saya jadi ingat ajakan Pak Onnos yang melihat "proses & produk" >>> profesi planning dan arsitek perkotaan sebagai bagian dari Kebijakan >>> Publik. Namanya public, itu berarti "multi-pihak" dan "multi- >>> kepentingan". Artinya perencana juga menjadi satu pihak saja, masih >>> banyak pihak dan kepentingan lain yang (lebih) menentukan. Di luar >>> soal SIAPA, perlu dilihat pula PROSES-nya. >>> >>> TAHAP PERENCANAAN. Perencana atau arsitek kota, mestinya merencana >>> berdasarkan kaidah ilmunya. Asal itu dilakukan dengan lengkap dan >>> benar mestinya ya benar secara profesi. Tapi itu baru produk >>> teknokrasi. Sekanag itu mesti disusun lewat proses partisipatif, >>> melibatkan stakeholder, antar SKPD, ada wakil masyarakat, pengusaha, >>> profesi lain, dst. Lalu proses politis, lewat pembahasan di >>> legislative, dst. Lalu proses hukum, dikaitkan dengan produk hukum/ >>> konsiderans nya. Kalau sudah akan disyahkan oleh Kepada Daerah dan >>> DPRD. Sehingga hasilnya belum tentu persis seperti yang dibuat planer, >>> bisa +/-. >>> >>> TAHAP PENGANGGARAN. Kita semua tahu proses ini dilaksanakan tahunan, >>> ada "pertarungan" prioritas antar sector, antar program. Semua sector >>> punya prioritas, PU punya prioritas, Pendidikan menuntut janji 20% >>> nya, Kesehatan minta subsidi lebih banyak untuk janji kesehatan >>> gratisnya dst. Sehingga hasilnya juga tidak selalu seperti yang >>> disepakati seperti rencana jangka menengah, apalagi panjang. >>> >>> TAHAP PELAKSANAAN. Bagaimana produk rencana dan anggaran dilaksanakan? >>> Apakah rencana sudah difahami oelh semua jajaran, disosialisasikan ke >>> masyarakat? Bagaimana kapasitas dan kapabilitas SKPD terkait? Dst. >>> Sementara perkembangan permasalahan di masyarakat secara dinamis >>> berubah terus. >>> >>> Kalau budget terbatas, biasanya terus melibatkan investor swasta, >>> bagaimana prosesnya? Kalau melibatkan swadaya masyarakat, bagaimana >>> prosesnya? Apa konsesi yang diberikan? Apa untung/ruginya (risiko >>> nya)? >>> >>> Jadi sebelum jump-to-conclusion, mencari kambing nya, mungkin ada >>> baiknya menganalisis dulu prosesnya. Apakah seluruh proses sudah >>> dilaksanakan dengan benar? Kalau tidak, mengapa? Kalau sudah, pada >>> tahap dan proses mana terjadi masalah? Bagaimana solusinya? Dst. >>> Apakah begitu? >>> >>> Salam, >>> Risfan Munir >>> >>> > > --- In [EMAIL PROTECTED] ps.com <referensi%40yahoogroups.com>, >>> Djarot Purbadi dpurbadi@ wrote: >>> > > > >>> > > > Pak Abimanyu, perlu diklarifikasi ya, kesimpulan arsitek sebagai >>> > > perusak utama di dunia dan masih berlanjut hingga saat ini >>> (mungkin >>> > juga >>> > > masa depan!) Jika demikian, apakah institusi pendidikan profesi >>> yang >>> > > merusak dunia ini dibubarkan saja ? >>> > > > >>> > > > Memang merupakan sebuah misteri penciptaan, bahwa ciptaan selalu >>> > > diciptakan menjadi minimal dua golongan, yang baik dan yang buruk; >>> > > malaikat atau setan, kira-kira begitu. Dalam dunia profesi selalu >>> juga >>> > > ada demikian, praktek profesi yang baik dan yang buruk, semuanya >>> > > berbasis nilai-nilai yang diyakininya masing-masing. >>> > > > >>> > > > Bagaimana argumentasinya kok pernyataannya demikian, seolah-olah >>> > > penyandang dosa utama adalah profesi arsitek. Heheheee.... nyuwun >>> > > pencerahan, sebab saya masih mendosen di institusi yang mendidik >>> para >>> > > arsitek....jangan- jangan semua dosa ditumpahkan seluruhnya pada >>> > > kami...heheheee. ...terus apa saran dan nasihatnya dari mantan >>> arsitek >>> > > seperti bapak ? Lha mengapa bapak tidak taat di dunia para perusak >>> > untuk >>> > > mengubahnya dari dalam, bukan melempari batu dari luar >>> heheheee.... >>> > > bagaimana pak....mohon pencerahan ya....sebab saya punya posisi >>> yang >>> > > memungkinkan otokritik dan otokoreksi di dunia para perusak >>> > > ini....mumpung masih ada di dalamnya.... . >>> > > > >>> > > > Salam, >>> > > > >>> > > > >>> > > > >>> > > > Djarot Purbadi >>> > > > >>> > > >>> > > > >>> > > > >>> > > > >>> > > > >>> > > > >>> > > > >>> > > > >>> > > > >>> > > > >>> > > > >>> > > > >>> > > > Halo Pak Ono yang sudah nywasta, >>> > > > >>> > > > Saya jadi teringat waktu masih ngarsitektur dulu, ada istilah >>> > > "muddling through" atau "barefood architect"... >>> > > > itu istilah bagi aristek kaki kotor, yang berbasis implementasi >>> bagi >>> > > rakyat yang kurang beruntung, bukan berpesta design wah wah saja, >>> yang >>> > > sipengguna harus ikut kata arsiteknya (baru tiga puluh tahun lalu >>> saya >>> > > mulai sadar bahwa arsitek ternyata memang perusak utama dunia ini, >>> dan >>> > > masih berlanjut hingga saat ini). >>> > > > >>> > > > >>> > > > >>> > > > >>> > > > >>> > > > >>> > > > >>> > > > >>> > > > >>> > > > >>> > > > >>> > > > >>> > > > >>> > > > >>> > > > >>> > > > >>> >> >> > > >

