Wah, diskusi kok mengarah pada tuduhan rusak-rusakan? Apakah ada 
profesi yang born to destroy, kecuali pasukan "pembom".

Saya jadi ingat ajakan Pak Onnos yang  melihat "proses & produk" 
profesi planning dan arsitek perkotaan sebagai bagian dari Kebijakan 
Publik. Namanya public, itu berarti "multi-pihak" dan "multi-
kepentingan". Artinya perencana juga menjadi satu pihak saja, masih 
banyak pihak dan kepentingan lain yang (lebih) menentukan. Di luar 
soal SIAPA, perlu dilihat pula PROSES-nya.

TAHAP PERENCANAAN. Perencana atau arsitek kota, mestinya merencana 
berdasarkan kaidah ilmunya. Asal itu dilakukan dengan lengkap dan 
benar mestinya ya benar secara profesi. Tapi itu baru produk 
teknokrasi. Sekanag itu mesti disusun lewat proses partisipatif, 
melibatkan stakeholder, antar SKPD, ada wakil masyarakat, pengusaha, 
profesi lain, dst. Lalu proses politis, lewat pembahasan di 
legislative, dst. Lalu proses hukum, dikaitkan dengan produk hukum/ 
konsiderans nya. Kalau sudah akan disyahkan oleh Kepada Daerah dan 
DPRD. Sehingga hasilnya belum tentu persis seperti yang dibuat planer, 
bisa +/-.

TAHAP PENGANGGARAN. Kita semua tahu proses ini dilaksanakan tahunan, 
ada "pertarungan" prioritas antar sector, antar program. Semua sector 
punya prioritas, PU punya prioritas, Pendidikan menuntut janji 20% 
nya, Kesehatan minta subsidi lebih banyak untuk janji kesehatan 
gratisnya dst. Sehingga hasilnya juga tidak selalu seperti yang 
disepakati seperti rencana jangka menengah, apalagi panjang.

TAHAP PELAKSANAAN. Bagaimana produk rencana dan anggaran dilaksanakan? 
Apakah rencana sudah difahami oelh semua jajaran, disosialisasikan ke 
masyarakat? Bagaimana kapasitas dan kapabilitas SKPD terkait? Dst. 
Sementara perkembangan permasalahan di masyarakat secara dinamis 
berubah terus.

Kalau budget terbatas, biasanya terus melibatkan investor swasta, 
bagaimana prosesnya? Kalau melibatkan swadaya masyarakat, bagaimana 
prosesnya? Apa konsesi yang diberikan? Apa untung/ruginya (risiko 
nya)?

Jadi sebelum jump-to-conclusion, mencari kambing nya, mungkin ada 
baiknya menganalisis dulu prosesnya. Apakah seluruh proses sudah 
dilaksanakan dengan benar? Kalau tidak, mengapa? Kalau sudah, pada 
tahap dan proses mana terjadi masalah? Bagaimana solusinya? Dst.
Apakah begitu?

Salam,
Risfan Munir

--- In [email protected], "risfano" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> 
> --- In [email protected], "risfano" <risfano@> wrote:
> >
> >
> > --- In [email protected], Djarot Purbadi dpurbadi@ wrote:
> > >
> > > Pak Abimanyu, perlu diklarifikasi ya, kesimpulan arsitek sebagai
> > perusak utama di dunia dan masih berlanjut hingga saat ini 
(mungkin
> juga
> > masa depan!) Jika demikian, apakah institusi pendidikan profesi 
yang
> > merusak dunia ini dibubarkan saja ?
> > >
> > > Memang merupakan sebuah misteri penciptaan, bahwa ciptaan selalu
> > diciptakan menjadi minimal dua golongan, yang baik dan yang buruk;
> > malaikat atau setan, kira-kira begitu. Dalam dunia profesi selalu 
juga
> > ada demikian, praktek profesi yang baik dan yang buruk, semuanya
> > berbasis nilai-nilai yang diyakininya masing-masing.
> > >
> > > Bagaimana argumentasinya kok pernyataannya demikian, seolah-olah
> > penyandang dosa utama adalah profesi arsitek. Heheheee.... nyuwun
> > pencerahan, sebab saya masih mendosen di institusi yang mendidik 
para
> > arsitek....jangan-jangan semua dosa ditumpahkan seluruhnya pada
> > kami...heheheee....terus apa saran dan nasihatnya dari mantan 
arsitek
> > seperti bapak ? Lha mengapa bapak tidak taat di dunia para perusak
> untuk
> > mengubahnya dari dalam, bukan melempari batu dari luar 
heheheee....
> > bagaimana pak....mohon pencerahan ya....sebab saya punya posisi 
yang
> > memungkinkan otokritik dan otokoreksi di dunia para perusak
> > ini....mumpung masih ada di dalamnya.....
> > >
> > > Salam,
> > >
> > >
> > >
> > > Djarot Purbadi
> > >
> > >
> > >
> > > http://arsitekturnusantara.wordpress.com
> > >
> > > http://fenonemologiarsitektur.wordpress.com
> > >
> > > --- On Fri, 10/17/08, abimanyu takdir alamsyah takdir65@ wrote:
> > > From: abimanyu takdir alamsyah takdir65@
> > > Subject: Re: [referensi] Re: Jababeka - PR atau Industri?
> > > To: [email protected]
> > > Date: Friday, October 17, 2008, 6:49 AM
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >             Halo Pak  Ono yang sudah nywasta,
> > >
> > > Saya jadi teringat waktu masih ngarsitektur dulu, ada istilah 
> > "muddling  through" atau "barefood architect"...
> > > itu istilah bagi aristek kaki kotor, yang berbasis implementasi 
bagi
> > rakyat yang kurang beruntung, bukan berpesta design wah wah saja, 
yang
> > sipengguna harus ikut kata arsiteknya (baru tiga puluh tahun lalu 
saya
> > mulai sadar bahwa arsitek ternyata memang perusak utama dunia ini, 
dan
> > masih berlanjut hingga saat ini).
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > > __________________________________________________
> > > Do You Yahoo!?
> > > Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around
> > > http://mail.yahoo.com
> > >
> >
>



Kirim email ke