Pak Abimanyu, Pak Risfano, dan semua sahabat,

Sejauh saya tahu, fenomena profesi arsitek di Indonesia memang terbelah menjadi 
dua, yaitu yang berorientasi menjadi buruh orang kaya dan yang berorientasi 
mengabdi kepada golongan yang tersisih. Mangunwijaya dan Hasan Purbo menempati 
posisi kelompok kedua, yang hanya sedikit arsitek mau masuk ke dalamnya. 

Barangkali memang sudah salah kaprah, khususnya image profesi arsitek. Coba 
kita tanya setiap mahasiswa baru arsitektur, apa motivasinya memilih jurusan 
arsitektur ? Umumnya akan menjawab ingin menjadi arsitek dan merancang bangunan 
mewah. Sangat jarang yang memiliki kesadaran bahwa profesi arsitek juga 
diperlukan oleh kalangan masyarakat yang tersisihkan. Orientasi mereka jelas ke 
Jakarta !

Saya juga kuatir, anak-anak bangsa dari berbagai etnis yang datang ke Yogya, 
Bandung, Jakarta dan lainnya yang ingin belajar menjadi arsitek justru 
mengalami formasi baru (otaknya diformat) menjadi lupa pada akar budaya mereka. 
Fenomena yang saya amati, mereka umumnya setelah lulus pergi ke Jakarta dan 
nggak mau pulang kampung. Padahal, dalam industri kreatif, konon arsitektur 
termasuk salah satu yang diunggulkan.

Pak jelaslah bahwa wacana pendidikan arsitektur memang didominasi oleh 
arsitektur luar Nusantara, sebab orang kita memang seringkali bangga dengan 
produk yang dihasilkan oleh orang lain (khususnya barat). Sama seperti kita 
ketika membanggakan teori-teori varat dibandingkan dengan teori-teori warisan 
nenek-moyang. Benar juga, sekarang ini di era digital para mahasiswa selalu 
bangga dengan desain yang membebek Peter Eisenman dll. Ya, karena para dosennya 
silau terhadap desain dan konsep arsitek luar, sama seperti ketika kita kagum 
terhadap orang barat. Konon katanya, sikap semacam itu berakar pada mentalitas 
minderwardigkeit.

Dari uraian saya ini jelas terlihat bahwa ada tanda-tanda pendidikan arsitektur 
membahayakan keunikan budaya nusantara dalam bidang rekayasa bangunan dan 
lingkungan. Tetapi memang sulit, karena kalah wacana dan minat mahasiswa kita 
memang umumnya tidak ingin menggunakan hasil pendidikan arsitektur untuk 
melestarikan arsitektur nusantara. Mungkinkah hal semacam itu yang dilihat Pak 
Abimanyu ? 

Salam,



Djarot Purbadi



--- On Mon, 10/20/08, risfano <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: risfano <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [referensi] Re: Profesi yang merusak?
To: [email protected]
Date: Monday, October 20, 2008, 11:23 AM










    
            Wah, diskusi kok mengarah pada tuduhan rusak-rusakan? Apakah ada 

profesi yang born to destroy, kecuali pasukan "pembom".



Saya jadi ingat ajakan Pak Onnos yang  melihat "proses & produk" 

profesi planning dan arsitek perkotaan sebagai bagian dari Kebijakan 

Publik. Namanya public, itu berarti "multi-pihak" dan "multi-

kepentingan" . Artinya perencana juga menjadi satu pihak saja, masih 

banyak pihak dan kepentingan lain yang (lebih) menentukan. Di luar 

soal SIAPA, perlu dilihat pula PROSES-nya.



TAHAP PERENCANAAN. Perencana atau arsitek kota, mestinya merencana 

berdasarkan kaidah ilmunya. Asal itu dilakukan dengan lengkap dan 

benar mestinya ya benar secara profesi. Tapi itu baru produk 

teknokrasi. Sekanag itu mesti disusun lewat proses partisipatif, 

melibatkan stakeholder, antar SKPD, ada wakil masyarakat, pengusaha, 

profesi lain, dst. Lalu proses politis, lewat pembahasan di 

legislative, dst. Lalu proses hukum, dikaitkan dengan produk hukum/ 

konsiderans nya. Kalau sudah akan disyahkan oleh Kepada Daerah dan 

DPRD. Sehingga hasilnya belum tentu persis seperti yang dibuat planer, 

bisa +/-.



TAHAP PENGANGGARAN. Kita semua tahu proses ini dilaksanakan tahunan, 

ada "pertarungan" prioritas antar sector, antar program. Semua sector 

punya prioritas, PU punya prioritas, Pendidikan menuntut janji 20% 

nya, Kesehatan minta subsidi lebih banyak untuk janji kesehatan 

gratisnya dst. Sehingga hasilnya juga tidak selalu seperti yang 

disepakati seperti rencana jangka menengah, apalagi panjang.



TAHAP PELAKSANAAN. Bagaimana produk rencana dan anggaran dilaksanakan? 

Apakah rencana sudah difahami oelh semua jajaran, disosialisasikan ke 

masyarakat? Bagaimana kapasitas dan kapabilitas SKPD terkait? Dst. 

Sementara perkembangan permasalahan di masyarakat secara dinamis 

berubah terus.



Kalau budget terbatas, biasanya terus melibatkan investor swasta, 

bagaimana prosesnya? Kalau melibatkan swadaya masyarakat, bagaimana 

prosesnya? Apa konsesi yang diberikan? Apa untung/ruginya (risiko 

nya)?



Jadi sebelum jump-to-conclusion, mencari kambing nya, mungkin ada 

baiknya menganalisis dulu prosesnya. Apakah seluruh proses sudah 

dilaksanakan dengan benar? Kalau tidak, mengapa? Kalau sudah, pada 

tahap dan proses mana terjadi masalah? Bagaimana solusinya? Dst.

Apakah begitu?



Salam,

Risfan Munir



--- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, "risfano" <[EMAIL PROTECTED] > wrote:

>

> 

> --- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, "risfano" <risfano@> wrote:

> >

> >

> > --- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, Djarot Purbadi dpurbadi@ wrote:

> > >

> > > Pak Abimanyu, perlu diklarifikasi ya, kesimpulan arsitek sebagai

> > perusak utama di dunia dan masih berlanjut hingga saat ini 

(mungkin

> juga

> > masa depan!) Jika demikian, apakah institusi pendidikan profesi 

yang

> > merusak dunia ini dibubarkan saja ?

> > >

> > > Memang merupakan sebuah misteri penciptaan, bahwa ciptaan selalu

> > diciptakan menjadi minimal dua golongan, yang baik dan yang buruk;

> > malaikat atau setan, kira-kira begitu. Dalam dunia profesi selalu 

juga

> > ada demikian, praktek profesi yang baik dan yang buruk, semuanya

> > berbasis nilai-nilai yang diyakininya masing-masing.

> > >

> > > Bagaimana argumentasinya kok pernyataannya demikian, seolah-olah

> > penyandang dosa utama adalah profesi arsitek. Heheheee.... nyuwun

> > pencerahan, sebab saya masih mendosen di institusi yang mendidik 

para

> > arsitek....jangan- jangan semua dosa ditumpahkan seluruhnya pada

> > kami...heheheee. ...terus apa saran dan nasihatnya dari mantan 

arsitek

> > seperti bapak ? Lha mengapa bapak tidak taat di dunia para perusak

> untuk

> > mengubahnya dari dalam, bukan melempari batu dari luar 

heheheee....

> > bagaimana pak....mohon pencerahan ya....sebab saya punya posisi 

yang

> > memungkinkan otokritik dan otokoreksi di dunia para perusak

> > ini....mumpung masih ada di dalamnya.... .

> > >

> > > Salam,

> > >

> > >

> > >

> > > Djarot Purbadi

> > >

> > >

> > >

> > > http://arsitekturnu santara.wordpres s.com

> > >

> > > http://fenonemologi arsitektur. wordpress. com

> > >

> > > --- On Fri, 10/17/08, abimanyu takdir alamsyah takdir65@ wrote:

> > > From: abimanyu takdir alamsyah takdir65@

> > > Subject: Re: [referensi] Re: Jababeka - PR atau Industri?

> > > To: [EMAIL PROTECTED] ps.com

> > > Date: Friday, October 17, 2008, 6:49 AM

> > >

> > >

> > >

> > >

> > >

> > >

> > >

> > >

> > >

> > >

> > >

> > >             Halo Pak  Ono yang sudah nywasta,

> > >

> > > Saya jadi teringat waktu masih ngarsitektur dulu, ada istilah 

> > "muddling  through" atau "barefood architect".. .

> > > itu istilah bagi aristek kaki kotor, yang berbasis implementasi 

bagi

> > rakyat yang kurang beruntung, bukan berpesta design wah wah saja, 

yang

> > sipengguna harus ikut kata arsiteknya (baru tiga puluh tahun lalu 

saya

> > mulai sadar bahwa arsitek ternyata memang perusak utama dunia ini, 

dan

> > masih berlanjut hingga saat ini).

> > >

> > >

> > >

> > >

> > >

> > >

> > >

> > >

> > >

> > >

> > >

> > >

> > >

> > >

> > >

> > >

> > >

> > >

> > >

> > >

> > >

> > > ____________ _________ _________ _________ _________ __

> > > Do You Yahoo!?

> > > Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around

> > > http://mail. yahoo.com

> > >

> >

>




      

    
    
        
         
        
        








        


        
        

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke