Bapak/Ibu Milister referensi yth,
menarik diskusi tentang profesi perencana, planner, planolog, penata ruang atau 
apaun istilahnya. Sy usul, diskusi dan diskursus tentang profesi tersebut bisa 
juga dilaksanakan di milist iap (sebagai salah satu wadah asosiasi profesi para 
perencana), agar gagasan2 menarik yg muncul bisa dikonkritkan oleh para 
pemegang mandat, termasuk saya mungkin....Menjadi tantangan asosiasi profesi 
dibantu anggotanya untuk membuat para perecana lebih profesional, seperti 
pengaturan standar penggajian, ijin praktek merencana yg sifatnya lokasional 
dan lain2. saya gak tahu mulai dari mana, tapi mungkin dgn brainstroming di 
milist iap tsb, kita atau ada orang yang bisa sama-sama mencari jalan 
keluar.hopefully tentunya...

--- On Mon, 10/20/08, risfano <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: risfano <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [referensi] Re: Profesi yang merusak?
To: [email protected]
Date: Monday, October 20, 2008, 6:02 PM






Rekan Hotasi referenciers,

Sekedar pelurusan, Appreciative Inquiry adalah metode fasilitasi 
kelompok untuk "mensyukuri" apa yang dicapai, menemukan key success 
factors, bukan identifikasi kesuksesan dalam arti kekayaan. Saya juga 
belajar dari LSM yang bekerja dengan komunitas di pelosok-pelosok, 
sebelum ke sumber utamanya.

Contoh yang saya angkat kan juga "metode"nya. Ada yang baik dari 
pengelolaan lingkungan tepian hutan di Wonosobo, penataan PKL di Solo, 
dan bagaimana menarik investasi di Jababeka. Itu keberhasilan-
keberhasil "besar" dari ide praktis menurut saya. Tapi bagi "planners 
yang berfikir besar" tampaknya tidak masuk scan radarnya. 

Sebagai planner sebaiknya juga bisa melihat bahwa ide yang baik bisa 
datang dari kelompok masyarakat, LSM, swasta, developer, Pemda, bukan 
hanya dari departemen (pemerintah pusat), sehingga ada balance 
perspektifnya. Sehingga rencana dan analisis yang dibuat lebih 
applicable. Bukan muluk-muluk, lalu kecewa (lalu cynical).

Salam,
Risfan Munir

--- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, hotasi simamora <hotasisimamora@ ...> 
wrote:
>
> Pak Djarot, dan semua sahabat,
> Sebenarnya kondisi yang bapak gambarkan tidak saja terjadi pada 
profesi arsitek. Sudah menjadi tren kehidupan sebagian besar orang di 
jaman sekarang. Lihat saja pak di dunia kedokteran, sudah sangat 
langka dokter muda yang mau ditempatkan di daerah terpencil, demikian 
juga di dunia pendidikan, sangat sulit untuk mencari sarjana 
pendidikan untuk mau ditempatkan di pelosok-pelosok desa. Notaris pun 
berlomba-lomba untuk mendapatkan ijin di kota-kota besar, demikian 
pula apoteker.
> Itu masih mending kalau mereka tetap di jalur profesinya. Kadang-
kadang, banyak pula yang banting setir menjadi presenter, artis, vj 
musik dan sebagainya.
> Coba  bapak simak bila ada reuni sma. Rasanya seseorang yang 
memiliki uang banyak akan tampil lebih percaya diri dibandingkan 
dengan seorang yang memiliki gelar segudang.
> Itu pula sebabnya, kenapa ada banyak dokter, pengacara, dosen, 
notaris, guru yang berbondong-bondong melamar menjadi calon anggota 
legislative.
> Seperti dalam kasus arsitek yang lebih memilih merancang rumah 
mewah, tentunya mereka melakukan Appreciative Inquiry (meminjam 
pendekatan Pak Risfano), sehingga tak ada yang mau merancang rumah 
masyarakat tersisihkan atau golongan berpenghasilan rendah.
> Mungkin, sudah sepatutnya kita yang memiliki energi yang lebih 
banyak, berpikir mencarikan solusi atas berbagai permasalahan ini, 
sehingga tidak semakin banyak dokter yang mengatakan semua dokter 
pasti akan masuk neraka, atau para perencana wilayah mengatakan bahwa 
perencana hanya budak para tuan, arsitek perusak lingkungan dan 
sebagainya.
> 
> --- On Tue, 21/10/08, Djarot Purbadi <[EMAIL PROTECTED] .> wrote:
> From: Djarot Purbadi <[EMAIL PROTECTED] .>
> Subject: Re: [referensi] Re: Profesi yang merusak? 
> To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
> Date: Tuesday, 21 October, 2008, 12:19 AM
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 

 











Kirim email ke