Mas EkoBK ysh,
 
+++: “….bukankah kemiskinan terbesar ada di PULAU JAWA?....”
>>>: Emang betul sih… dari pernyataan anda yang amat terlampau singkat itu 
>>>seharusnya saya nanya dulu …. so what?.... karena arahnya mau kemana khan 
>>>belum jelas……
Dan  maaf,  saya sedikit lupa kalau sedang diskusi sama fresh grad PhD…. Jadi 
ya tentu yang namanya teori masih bener2  hangat fresh from the oven juga….. 
dan seperti lebih perlu untuk ‘jangan sampai salah’… sementara itu kalau 
implementasinya ‘nggak sengaja salah’ ya barangkali berharap bisa dimaapkan….
 
+++: Jadi ini bukan soal mendengarkan kuliah di kelas atau tidak...bagaimana 
kita bisa mendiskusikan implementasi teori dgn baik kalau teorinya sendiri 
tidak/belum dikuasai dengan baik? 
>>>: Lhah mas Eko….. yang namanya siswa perguruan pencak silat Merpati Putih 
>>>atau Cimande atau Cibaduyut itu tentu saja waktu bicara dikelas atau nggak 
>>>dikelas tentang implementasi dari teori menyerang, diserang atau menangkis 
>>>atau menghindar itu ya tentu saja mereka amat sangat siap, fasih dan amat 
>>>menguasai teorinya dengan baik…. Seperti bahwa ketika lawan dari Cimande 
>>>menyerang dengan gaya “tiga naga menyapu awan” misalnya… Cibaduyut  tahu 
>>>teorinya bahwa ia  tentu harus cepat menghindar dengan gaya “belut  masuk 
>>>kelubang batu” misalnya…..  tapi masalahnya khan gerakan masuknya kelubang 
>>>batu itu yang seharusnya sepersekian detik sebelum serangan “tiga naga” itu 
>>>nyampe kejidatnya Cibaduyut… bisa berhasil dengan mulus nggak…. Masalahnya 
>>>khan kalo sampai terlambat sepersekian detik… tentu  khan ya bisa … bletak… 
>>>dan benjol…..  padahal teorinya dikuasai amat sepenuhnya…....
Teori mungkin bisa dikuasai dengan baik (waktu ujian terbukti lulus) … tapi 
pada implementasinya khan nggak janji…. Lha buktinya itu  … lulusan PhD dari 
MIT (Massachusetts Institute of Technology maupun Mbandung Institute of 
Technology) saja ada berapa banyak coba…. Lha kok regional inequalities kita 
masih parah sekali gitu?.... ... 
 
+++:“…Aby benar sekali dengan menggunakan definisi no 2...namun  Aby tidak bisa 
membatasi "regional "inequality" hanya dalam konteks definisi no 2...”.
>>>: Ya… Anda betul sih bahwa saya nggak boleh ‘membatasi’ regional inequality 
>>>hanya dalam konteks no.2 nya Mario Polèse dan Shearmur itu…. 
 
Dan dari kata anda :
+++: “…kalau  Aby banyak membaca papers ttg regional inequality, justru yg 
sering digunakan adalah definisi no 1 (terutama kalau penulisnya ekonom)...”.
>>>: Untuk kesekian kalinya anda betul juga…. Tapi pertanyaannya khan adalah 
>>>….seberapa banyak sih  those international papers about regional 
>>>inequalities itu bicara tentang pulau sekecil 6.7% luas wilayah nasional  
>>>dengan over populasi ekstrim lebih 50% penduduk nasional dari negeri dengan 
>>>populasi terbesar ke-4 dunia…. Lalu periferinya 93.3% diseberang lautan 
>>>mulai sejak jarak 40km ujung pantainya, 750km, 1250km… sampai yang 
>>>2500km?......... dimana pulau kecil itu sekaligus menjadi penghasil terbesar 
>>>tanaman padi, pusat industri manufaktur, pusat migrasi dan tentu sekaligus 
>>>tempat kota primat dan ibukota?..... Di Eropa Barat, didaratan Amerika, atau 
>>>di Asia maupun Afrika… ada apa nggak sih fenomena seperti 
>>>itu?.......sehingga demikian banyak pakar dunia menulis tentang fenomena 
>>>demikian?....
Rasanya kita lebih perlu referensi yang lebih banyak mengulas tentang fenomena 
seperti model Jawa dan luar Jawa itu... kecuali adanya ya cuma itu yang tidak 
mirip dengan fenomena Jawa-luarJawa... ya apa boleh buat.... tapi khan kita 
lalu perlu sadar bahwa tidak perlu terlalu fanatik dengan papers yang ada?.....
Lalu anda lihat sendiri khan…. Teori planning itu sarat  dengan multi tapsirnya 
yang demikian berwarna-warni hingga keujung utara dan ujung  selatan?…..
Satu contoh pendapat ‘pelangi’ tentang keprihatinan regional inequality 
(mungkin ini dari aliran ‘pokoke waton different to main stream wae” :
“….Mengapa inequality diributkan? Yang penting itu kesejahteraan. Terlalu
banyak enerji terbuang untuk mengurangi inequality. Toh arah tak pernah
 berbelok. Mending dana untuk meningkatkan kesejahteraan…..”
Hingga bukan tidak mungkin pula tafsiran kita berdua juga bisa saling amat beda 
menyangkut solution to regional inequalities itu…… dan masak iya sih yang 
keutara dan yang keselatan bisa sama-sama benernya?........ 
 
Kembali ke asal kata “….bukankah kemiskinan terbesar ada di PULAU JAWA?....”
Sebenarnya saya pengin tahu juga sih … pandangan anda tentang ‘menanggulangi 
regional ineqality’  itu seperti apa?..... apa jangan2 anda juga mau bilang 
’gitu aja kok  repot’?....
Tapi seingat saya… sepertinya memang baru anda saja sih yang bicara tentang  
perlunya migrasi....makanya demi Allah saya sering berharap suatu saat kelak 
anda harus jadi Dirjen PR.. dan saya khan nanti  jadi gaya / kalo masih hidup… 
jadi bisa sok akrab dengan Dirjen EkoBK… hehe..…… 
Cuma giliran bicara tentang countermagnet di KTI…… anda katakan setuju.. tapi  
anda pernah bilang juga  masih nggak jelas skenarionya mau bgmn….. 
Saya sepakat dengan anda tentang kebebasan migration/ urbanization to Jkt…. 
Yang menurut saya itu  sebagai bagian dari ‘sistem pasar bebas’….. hanya tak 
jelas bagi saya tentang skenario anda tentang out of Java development itu bgmn……
Dan ketika pernah saya kemukakan tentang ‘filialisasi industri manufaktur 
memimpin’ sebagai leading activities utk region less equal ( ref no2)… dan 
untuk itu tentu perlu (dan bisa muncul) migrasi kerah putih dan biru dari 
region over populated (ref no.1)…. Saya belum pernah dengar komentar anda…… 
Maka ketika dari anda hanya muncul 1 kalimat diatas “….bukankah kemiskinan 
terbesar ada di PULAU JAWA?....”  saya akui saya khawatir anda mau mengarah ke 
‘jawa sentrisme’…. Alias bicara tentang “solusinya juga ada di Jawa”…… maka 
saya lalu banyak bicara tentang no.2 itu….. dan menyinggung tentang lebih 
pentingnya implementasi…… 
 
Kelihatannya saya “amat lebih bicara ttg no.2 “ dan menurut anda saya “sangat 
kurang atau tidak bicara no.1”…..tapi nyatanya saya bicara tentang no.1 dan 2 
sekaligus…. Sebaliknya  dari kalimat anda super singkat itu….jelas bahwa  anda 
“amat bicara tentang no.1 saja”….. 
 
Pada dasarnya saya sendiri secara pribadi selalu memakai dasar berpikir  no. 1. 
dan 2 itu….. seperti bahwa inter-regional physical inequalities  maupun 
inter-regional economic inequalities perlu dihadapkan pada inter-regional 
population density inequalities… seperti bahwa kawasan padat penduduk (Jawa) 
perlu mengalirkan migrasi kekawasan  less population (luar Jawa)… dimana 
sekaligus SDM hasil migrasi ini mengisi pembangunan dikawasan tertinggal….. 
sekaligus mengembangkan sistem perkotaan di kawasan tertinggal pula…….
Saya kira sepertinya yang tepat kita berdua harus bicara tentang no.1 dan 2  
dari  Polèse dan Shearmur itu secara utuh dan jangan pernah terpisah …. … 
   
“…lebih salah lagi kalau Pak Aby main keroyokan...…”
>>>: Lhah mas Eko.. saya khan  ya sebenarnya merasa serem juga kalau harus 
>>>ngehadapin anda sendirian?..... lha ini khan mumpung ada temennya…. Jadi 
>>>ngeroyok anda dengan berdua khan bisa lebih entengan degup jantungnya 
>>>gitu…...…
 
Salam,
aby

--- On Wed, 10/29/08, Eko B K <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Eko B K <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [referensi] Re: Tanggapan Ringan Sana Sini
To: [email protected]
Date: Wednesday, October 29, 2008, 10:47 PM











Pak Aby ysh.
 
Pak Aby kan kemarin dengan bersemangat mengkritik definisi yg saya pakai dengan 
cara keroyokan... ......karenanya saya berikan ke Pak Aby definisi dari 
regional inequality.. . menurut saya pemahaman definisi ini penting, bagaimana 
kita bisa diskusi dgn enak kalau benda yg didiskusikan tidak terdefinisi dgn 
baik?...
 
Kalau bicara regional inequality, umumnya ekonom langsung melihat pada 
perbedaan tingkat kesejahteraan masyarakat di regions (definisi no 1).... tapi 
planner dan geographer selain melihat tingkat kesejahteraan masyarakat, juga 
melihat tingkat urbanisasi, penyediaan infrastruktur, jumlah dan kepadatan 
populasi, dll dari regions (definisi no 2)...
 
Jadi ini bukan soal mendengarkan kuliah di kelas atau tidak...bagaimana kita 
bisa mendiskusikan implementasi teori dgn baik kalau teorinya sendiri 
tidak/belum dikuasai dengan baik? 
 
Pak Aby benar sekali dengan menggunakan definisi no 2...namun Pak Aby tidak 
bisa membatasi "regional "inequality" hanya dalam konteks definisi no 2...kalau 
Pak Aby banyak membaca papers ttg regional inequality, justru yg sering 
digunakan adalah definisi no 1 (terutama kalau penulisnya ekonom)... lebih 
salah lagi kalau Pak Aby main keroyokan...
 
 
salam,
 
Eko.

 
+++: Pak Aby menggunakan definisi no 2, dan saya pakai yg no 1.... 
Jadi kayaknya saya enggak salah ya Pak Aby? Hehe 
>>>: Ya kayaknya anda sih nggak salah mas…. Tapi kita dimilis ini khan sedang 
>>>debat tentang soal signifikansi konkretisasi strategi implementasi teori 
>>>tata ruang atas regional inequalties…. Dan bukannya  sedang  duduk manis 
>>>dikelas dan mendengarkan bu guru menerangkan teori planning completely dari 
>>>Polese & Sheamur (atau Shearmur?) lalu minggu depannya mau ujian……… 
 














      

Kirim email ke