Pak Aby ysh, Tanggapan awal saya: wis pokoke aku nyerah lah kalau debat sama Pak Aby hehe tanggapan lengkapnya aku utang dulu ya Pak...(cara lunak utk ngeles terus pura2 lupa/sibuk )... enak ketemu langsung Pak, debatnya pasti lebih seru... salam Eko. ps. saya belum lulus Pak, sik pusing... cuma kalo soal PhD lulusan MIT, Stanford, Harvard, dll di US lebih banyak lagi pak, tapi regional inequality nya masih tetep ada, gak ilang2 walaupun gak sebesar di negara2 besar yg masih berkembang... sama juga di Inggris yg ngetop lagi kan masalah kesenjangan Inggris Selatan yg makmur lawan Inggris Utara yg kurang makmur, pdhal di sana gudangnya professor2 Cambridge dan Oxford... jadi apa yg bisa diharapkan dari Indonesia?
--- On Thu, 10/30/08, hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [referensi] Re: Mas Eko Re: Tgpn Ringan Sana Sini To: [email protected] Date: Thursday, October 30, 2008, 3:45 PM Mas EkoBK ysh, +++: “….bukankah kemiskinan terbesar ada di PULAU JAWA?....” >>>: Emang betul sih… dari pernyataan anda yang amat terlampau singkat itu >>>seharusnya saya nanya dulu …. so what?.... karena arahnya mau kemana khan >>>belum jelas…… Dan maaf, saya sedikit lupa kalau sedang diskusi sama fresh grad PhD…. Jadi ya tentu yang namanya teori masih bener2 hangat fresh from the oven juga….. dan seperti lebih perlu untuk ‘jangan sampai salah’… sementara itu kalau implementasinya ‘nggak sengaja salah’ ya barangkali berharap bisa dimaapkan…. +++: Jadi ini bukan soal mendengarkan kuliah di kelas atau tidak...bagaimana kita bisa mendiskusikan implementasi teori dgn baik kalau teorinya sendiri tidak/belum dikuasai dengan baik? >>>: Lhah mas Eko….. yang namanya siswa perguruan pencak silat Merpati Putih >>>atau Cimande atau Cibaduyut itu tentu saja waktu bicara dikelas atau nggak >>>dikelas tentang implementasi dari teori menyerang, diserang atau menangkis >>>atau menghindar itu ya tentu saja mereka amat sangat siap, fasih dan amat >>>menguasai teorinya dengan baik…. Seperti bahwa ketika lawan dari Cimande >>>menyerang dengan gaya “tiga naga menyapu awan” misalnya… Cibaduyut tahu >>>teorinya bahwa ia tentu harus cepat menghindar dengan gaya “belut masuk >>>kelubang batu” misalnya….. tapi masalahnya khan gerakan masuknya kelubang >>>batu itu yang seharusnya sepersekian detik sebelum serangan “tiga naga” itu >>>nyampe kejidatnya Cibaduyut… bisa berhasil dengan mulus nggak…. Masalahnya >>>khan kalo sampai terlambat sepersekian detik… tentu khan ya bisa … bletak… >>>dan benjol….. padahal teorinya dikuasai amat sepenuhnya…. ... Teori mungkin bisa dikuasai dengan baik (waktu ujian terbukti lulus) … tapi pada implementasinya khan nggak janji…. Lha buktinya itu … lulusan PhD dari MIT (Massachusetts Institute of Technology maupun Mbandung Institute of Technology) saja ada berapa banyak coba…. Lha kok regional inequalities kita masih parah sekali gitu?.... ... +++:“…Aby benar sekali dengan menggunakan definisi no 2...namun Aby tidak bisa membatasi "regional "inequality" hanya dalam konteks definisi no 2...”. >>>: Ya… Anda betul sih bahwa saya nggak boleh ‘membatasi’ regional inequality >>>hanya dalam konteks no.2 nya Mario Polèse dan Shearmur itu…. Dan dari kata anda : +++: “…kalau Aby banyak membaca papers ttg regional inequality, justru yg sering digunakan adalah definisi no 1 (terutama kalau penulisnya ekonom)...”. >>>: Untuk kesekian kalinya anda betul juga…. Tapi pertanyaannya khan adalah >>>….seberapa banyak sih those international papers about regional >>>inequalities itu bicara tentang pulau sekecil 6.7% luas wilayah nasional >>>dengan over populasi ekstrim lebih 50% penduduk nasional dari negeri dengan >>>populasi terbesar ke-4 dunia…. Lalu periferinya 93.3% diseberang lautan >>>mulai sejak jarak 40km ujung pantainya, 750km, 1250km… sampai yang >>>2500km?..... .... dimana pulau kecil itu sekaligus menjadi penghasil >>>terbesar tanaman padi, pusat industri manufaktur, pusat migrasi dan tentu >>>sekaligus tempat kota primat dan ibukota?.... . Di Eropa Barat, didaratan >>>Amerika, atau di Asia maupun Afrika… ada apa nggak sih fenomena seperti >>>itu?.......sehingga demikian banyak pakar dunia menulis tentang fenomena >>>demikian?.... Rasanya kita lebih perlu referensi yang lebih banyak mengulas tentang fenomena seperti model Jawa dan luar Jawa itu... kecuali adanya ya cuma itu yang tidak mirip dengan fenomena Jawa-luarJawa. .. ya apa boleh buat.... tapi khan kita lalu perlu sadar bahwa tidak perlu terlalu fanatik dengan papers yang ada?..... Lalu anda lihat sendiri khan…. Teori planning itu sarat dengan multi tapsirnya yang demikian berwarna-warni hingga keujung utara dan ujung selatan?….. Satu contoh pendapat ‘pelangi’ tentang keprihatinan regional inequality (mungkin ini dari aliran ‘pokoke waton different to main stream wae” : “….Mengapa inequality diributkan? Yang penting itu kesejahteraan. Terlalu banyak enerji terbuang untuk mengurangi inequality. Toh arah tak pernah berbelok. Mending dana untuk meningkatkan kesejahteraan…..” Hingga bukan tidak mungkin pula tafsiran kita berdua juga bisa saling amat beda menyangkut solution to regional inequalities itu…… dan masak iya sih yang keutara dan yang keselatan bisa sama-sama benernya?... ..... Kembali ke asal kata “….bukankah kemiskinan terbesar ada di PULAU JAWA?....” Sebenarnya saya pengin tahu juga sih … pandangan anda tentang ‘menanggulangi regional ineqality’ itu seperti apa?..... apa jangan2 anda juga mau bilang ’gitu aja kok repot’?.... Tapi seingat saya… sepertinya memang baru anda saja sih yang bicara tentang perlunya migrasi....makanya demi Allah saya sering berharap suatu saat kelak anda harus jadi Dirjen PR.. dan saya khan nanti jadi gaya / kalo masih hidup… jadi bisa sok akrab dengan Dirjen EkoBK… hehe..…… Cuma giliran bicara tentang countermagnet di KTI…… anda katakan setuju.. tapi anda pernah bilang juga masih nggak jelas skenarionya mau bgmn….. Saya sepakat dengan anda tentang kebebasan migration/ urbanization to Jkt…. Yang menurut saya itu sebagai bagian dari ‘sistem pasar bebas’….. hanya tak jelas bagi saya tentang skenario anda tentang out of Java development itu bgmn…… Dan ketika pernah saya kemukakan tentang ‘filialisasi industri manufaktur memimpin’ sebagai leading activities utk region less equal ( ref no2)… dan untuk itu tentu perlu (dan bisa muncul) migrasi kerah putih dan biru dari region over populated (ref no.1)…. Saya belum pernah dengar komentar anda…… Maka ketika dari anda hanya muncul 1 kalimat diatas “….bukankah kemiskinan terbesar ada di PULAU JAWA?....” saya akui saya khawatir anda mau mengarah ke ‘jawa sentrisme’…. Alias bicara tentang “solusinya juga ada di Jawa”…… maka saya lalu banyak bicara tentang no.2 itu….. dan menyinggung tentang lebih pentingnya implementasi…… Kelihatannya saya “amat lebih bicara ttg no.2 “ dan menurut anda saya “sangat kurang atau tidak bicara no.1”…..tapi nyatanya saya bicara tentang no.1 dan 2 sekaligus…. Sebaliknya dari kalimat anda super singkat itu….jelas bahwa anda “amat bicara tentang no.1 saja”….. Pada dasarnya saya sendiri secara pribadi selalu memakai dasar berpikir no. 1. dan 2 itu….. seperti bahwa inter-regional physical inequalities maupun inter-regional economic inequalities perlu dihadapkan pada inter-regional population density inequalities… seperti bahwa kawasan padat penduduk (Jawa) perlu mengalirkan migrasi kekawasan less population (luar Jawa)… dimana sekaligus SDM hasil migrasi ini mengisi pembangunan dikawasan tertinggal….. sekaligus mengembangkan sistem perkotaan di kawasan tertinggal pula……. Saya kira sepertinya yang tepat kita berdua harus bicara tentang no.1 dan 2 dari Polèse dan Shearmur itu secara utuh dan jangan pernah terpisah …. … “…lebih salah lagi kalau Pak Aby main keroyokan... …” >>>: Lhah mas Eko.. saya khan ya sebenarnya merasa serem juga kalau harus >>>ngehadapin anda sendirian?.. ... lha ini khan mumpung ada temennya…. Jadi >>>ngeroyok anda dengan berdua khan bisa lebih entengan degup jantungnya >>>gitu…... … Salam, aby --- On Wed, 10/29/08, Eko B K <[EMAIL PROTECTED] com> wrote: From: Eko B K <[EMAIL PROTECTED] com> Subject: Re: [referensi] Re: Tanggapan Ringan Sana Sini To: [EMAIL PROTECTED] ps.com Date: Wednesday, October 29, 2008, 10:47 PM Pak Aby ysh. Pak Aby kan kemarin dengan bersemangat mengkritik definisi yg saya pakai dengan cara keroyokan... ......karenanya saya berikan ke Pak Aby definisi dari regional inequality.. . menurut saya pemahaman definisi ini penting, bagaimana kita bisa diskusi dgn enak kalau benda yg didiskusikan tidak terdefinisi dgn baik?... Kalau bicara regional inequality, umumnya ekonom langsung melihat pada perbedaan tingkat kesejahteraan masyarakat di regions (definisi no 1).... tapi planner dan geographer selain melihat tingkat kesejahteraan masyarakat, juga melihat tingkat urbanisasi, penyediaan infrastruktur, jumlah dan kepadatan populasi, dll dari regions (definisi no 2)... Jadi ini bukan soal mendengarkan kuliah di kelas atau tidak...bagaimana kita bisa mendiskusikan implementasi teori dgn baik kalau teorinya sendiri tidak/belum dikuasai dengan baik? Pak Aby benar sekali dengan menggunakan definisi no 2...namun Pak Aby tidak bisa membatasi "regional "inequality" hanya dalam konteks definisi no 2...kalau Pak Aby banyak membaca papers ttg regional inequality, justru yg sering digunakan adalah definisi no 1 (terutama kalau penulisnya ekonom)... lebih salah lagi kalau Pak Aby main keroyokan... salam, Eko. +++: Pak Aby menggunakan definisi no 2, dan saya pakai yg no 1.... Jadi kayaknya saya enggak salah ya Pak Aby? Hehe >>>: Ya kayaknya anda sih nggak salah mas…. Tapi kita dimilis ini khan sedang >>>debat tentang soal signifikansi konkretisasi strategi implementasi teori >>>tata ruang atas regional inequalties…. Dan bukannya sedang duduk manis >>>dikelas dan mendengarkan bu guru menerangkan teori planning completely dari >>>Polese & Sheamur (atau Shearmur?) lalu minggu depannya mau ujian………

