Mas Dwiagus dan Rekan-rekan ysh.,

Melihat diskusi yang muncul dua pekan terakhir ini, saya hanya ingin
mengajukan pertanyaan sederhana saja, terutama bagi Rekan-rekan yang
kebetulan berdomisili di Jakarta: bersediakah Anda menyekolahkan
anak-anak Anda di luar Jawa, di Makassar atau Jayapura misalnya?

Salam,
Andri


2008/11/6 Benedictus Dwiagus S. <[EMAIL PROTECTED]>:
> Pak Rifan,
>
> Mungkin mereka mencoba menarik nasabah dengan menggunakan sentimen
> kedaerahan mereka pak.
>
> Bisa saja BPD-BPD itu rajin promosi : BPD mereka adalah suatu kebanggaan
> sendiri buat penduduk mereka dan pembangunan daerah mereka,……
> sehinggadiharapkan menggelitik ego-kedaerahan penduduknya,…
>
> Tapi intinya adalah, adanya capital di Jakarta yang kesannya menumpuk di
> Jakarta saja,… tapi bisa jadi itu kesan aja,… bukan berarti capital itu
> tidak aksesible oleh mereka yang ada di daerah,….
>
>
>
> Jadi mungkin jangan fokus pada  '70% duit yang berputar di jakarta' …. Atau
> "kota-kota di timur ketinggalan dibandingkan jakarta"…….
>
> Tapi gemana mengurangi kesenjangan Indeks Pembangunan Manusia di tiap
> daerah: life expectancy, health, education, dll.
>
>
>
> Best Regards,
>
>
>
> Benedictus Dwiagus S.
>
> bdwiagus.blogspot.com
>
>
>
> "The most difficult thing in the world is to know how to do a thing and to
> watch somebody else doing it wrong, without comment."  - T. H. White
>
>
>
> :::... Indo-MONEV ...:::
>
> Indo-MONEV is a mailing list to build a network of Indonesian People
> anywhere in the world who are interested, dedicated, and profesionalised to
> the work on monitoring and evaluation and other related development issues
> including development aid works, particularly in Indonesia.
>
> Join in by sending an email to:  [EMAIL PROTECTED]
>
>
>
> From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf
> Of risfano
> Sent: 05 November 2008 15:07
> To: [email protected]
> Subject: [referensi] Re: Ibukota di Luar P. Jawa, Mungkinkah?
>
>
>
> Mas Dwiagus,
>
> Agak menyimpang dari topik "ibukota". Mengenai Bank (BPD) Jateng untuk
> menarik dana dari perantau Jateng di Jakarta. Ini rasanya kok ide yang
> "naif" ya.
>
> Karena perbankan sekarang ini kan terbuka. Asal ada cabang di banyak
> daerah, mudah dijangkau - bank apa saja kan sama. Sehingga prinsip
> 'teori lokasi', aksesibilitas, kemudahan parkir dst, menjadi faktor
> orang datang ke bank. Artinya kalau saya orang Jateng, datang ke bank
> apa saja yang dekat rumah/kantor, kan bisa diakses oleh yang butuh dana
> di Jateng.
> Bank yang bukan BPD di Jateng juga menyalurkan dana untuk UKM di Jateng
> toh.
>
> Kalau bakul soto, pecel, dst mungkin lebih punya akses ke BPR (dulu bank
> pasar), BRI Unit (desa), BMT yang telaten mendatangi bakul-bakul. Kalau
> BPD Jateng mendatangi bakul-bakul di Jakarta ya nggak efisien mestinya.
>
> Salam,
> Risfan Munir
>
> --- In [email protected], "Benedictus Dwiagus S." <[EMAIL PROTECTED]>
> wrote:
>>
>> Selamat Siang Pak BSP, ysh
>>
>> Dan rekan milister lainnya…
>>
>>
>>
>> Senang mendapat email yang segar dari Pak BSP.
>>
>> Paragraph terakhir tulisan bapak, sepenuhnya saya dukung. Dengan
> tambahan sedikit: kuncinya bukan ibukota pindah atau tidak, tetapi
> kemampuan kita memanage Jakarta, juga bagaimana kemampuan daerah lain di
> luar Jakarta memanfaatkan ke(tidak)mampuan Jakarta memanage kota
> Jakarta.
>>
>>
>>
>> Saya jadi ingat cerita,…. beberapa bulan lalu, ketika pergi ke
> Semarang, hendak membayar uang muka kontrakan rumah untuk istri saya
> yang sedang meneruskan sekolah di tempatnya Bang Fadjar
> mengajar,….. saya bertemu si pemilik rumah kontrakan, yang adalah
> pensiunan petinggi BI, yang sudah bekerja di berbagai kantor perwakilan
> BI di daerah, dan sekarang sedang diminta bantuan untuk membantu BPD
> jateng.
>>
>> Beliau cerita-cerita soal bagaimana BPD jateng mestinya mengambil
> segala kesempatan, termasuk memanfaatkan apa yang ada di Jakarta.
>>
>> Jadi ketika BPD membuka cabang Jakarta, mestinya dimaksudkan untuk
> ‘mengeruk potensi kapital’ yang ada di Jakarta yang
> dipegang oleh para ‘pengusaha-pengusaha jateng’, para
> bakul bakso, bakul soto, yang potensi kapitalnya besar sekali,…
> Beliau memberitahu strategi penempatan BPD jateng mestinya bisa
> accessible oleh para pemegang capital yang bisa direangkul untuk
> menaruhdananya di BPD ,… mestinya taruh kantor cabang di tengah
> pasar-pasar tradisional,…. Di tengah perkampungan para imigran
> urban dari Jateng,….
>>
>> Beliau jg menertawakan sebuah BPD yang buka kantor di Hotel Kartika
> Tjandra Gatot Subroto,… lah, pedagang2 kulakan bakso itu mana mau
> datang ke situ,…..
>>
>>
>>
>> Jadi sebenarnya adanya capital yang ada di Jakarta bukan berarti
> capital non-acessible oleh mereka yang mau menjangkaunya,….
> sayang, kadang mereka yang sebenarnya bisa mengakses capital di Jakarta
> itu tapi belum tahu bagaimana menyentuhnya apalagi menariknya kembali ke
> daerah,… (malah BPD mengendapkan balik dananya ke SBI di Jakarta)
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>> Saya sih juga belum yakin, apakah kota-kota lain di luar jawa mau
> dilimpahi beban dan tugas menjadi Ibukota. Mendingan menjaga
> ‘keperawanan’ kota-kota di luar jawa, sebelum terkena
> jamahan ‘kutukan menjadi ibukota’.
>>
>>
>>
>>
>>
>> Thanks
>>
>>
>>
>> Best Regards,
>>
>>
>>
>> Benedictus Dwiagus S.
>>
>> bdwiagus.blogspot.com
>>
>>
>>
>> "The most difficult thing in the world is to know how to do a thing
> and to watch somebody else doing it wrong, without comment." - T. H.
> White
>>
>>
>>
>> :::... Indo-MONEV ...:::
>>
>> Indo-MONEV is a mailing list to build a network of Indonesian People
> anywhere in the world who are interested, dedicated, and profesionalised
> to the work on monitoring and evaluation and other related development
> issues including development aid works, particularly in Indonesia.
>>
>> Join in by sending an email to: [EMAIL PROTECTED]
>>
>>
>>
>> From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On
> Behalf Of [EMAIL PROTECTED]
>> Sent: 03 November 2008 09:14
>> To: [email protected]
>> Subject: RE: [referensi] Re: Ibukota di Luar P. Jawa, Mungkinkah?
>>
>>
>>
>> Selamat pagi mas Dwiagus, selamat pagi Milister yth.
>>
>> Sudah lama sekali saya tidak menulis dalam milist ini, meskipun saya
> selalu mengikuti terus perkembangan milist. Namun kali ini saya mencoba
> untuk sedikit nimbrung dalam diskusi ibukota ngacir ke luar Jawa ini.
>>
>> Dari beberapa bulan ini issue tentang Jakarta semakin padet bahkan ada
> yang mengatakan Jakarta lumpuh sudah muncul dalam diskusi. Meskipun
> kalau kita runut ini juga antara lain andil dari para planner juga... he
> he he termasuk jaman saya tahun 1981 dengan JMDP (jabotabek metropolitan
> development project) dan 1991 dengan JIAP (jabotabek implementation
> advisory project) sebagai implementasi Inpres 13/1976 tentang
> Pelaksanaan Pembangunan Jabotabek.
>>
>> Pemikiran ibukota negara pindah itu sah-sah saja.. wong jaman bung
> Karno saja sudah dipikirkan tentang pindah ke Palangka Raya. Yang jadi
> pertanyaan adalah apakah tujuan kita memindah ibukota. Apakah itu
> tujuannya untuk menyelamatkan Jakarta, atau berfungsinya Kantor
> Pemerintahan Nasional.
>>
>> Kalau boleh saya katakan bahwa Jakarta itu menjadi seperti sekarang
> itu bukan secara langsung karena adanya pusat pemerintahan. Jakarta
> seperti ini karena kegiatan ekonomi yang terakumulasi di Jakarta. Karena
> semua fungsi ekonomi terpusat di Jakarta. Cilakanya, ini sangat
> disenangi oleh pejabat pemerintahan. Meskipun selalu ada kebijakan
> redistribusi fungsi ke daerah, tapi kenyataannya kebijakan yg terjadi
> tidak seperti itu. Sampai dengan sekarang kebijakan redistribusi ke
> daerah lebih bersifat lip-service. Termasuk didalamnya adalah hegemoni
> tentang penataan ruang. Jakarta sentris demikian kental dalam setiap
> policy.
>>
>> Saat inipun saya kebetulan menjadi anggota tim Revisi Undang-Undang 32
> ttg Pemerintahan di Daerah, semangat Jakarta sentris sangat kental.
> Tidak terlalu lama akan ada Peraturan Pemerintah tentang Peran Gubernur
> sebagai wakil Pemerintah Pusat.... dan kalau tdk hati2 akan terjadi
> re-sentralisasi.
>>
>> Jadi sebelum kita bermimpi tentang memindahkan ibukota. Tolong kita
> lebih mendalami policy framework dari sistem kenegaraan ini dan sistem
> ekonomi nasionalnya. Coba dicek bagaimana kebijakan Menteri Perdagangan
> dan industri di daerah. Bagaimana Menteri Perhubungan mengatur tata
> transportasi nasional. Bagaimana sistem perbankan nasional dikembangkan.
>>
>> Saat ini dalam mendorong keistimewaan Yogyakarta, saya mencoba
> memberikan sudut yg lain dari hanya sekedar issue penetapan dan
> pemilihan. Saya bersama tim sedang mengusahakan agar dalam draft RUUK
> DIY dimasukkan klausul bahwa :
>>
>> Kerahasiaan nasabah bank di Yogyakarta dijamin sempurna. Hanya raja
> atau presiden yang berhak memberi ijin pemeriksaan.
>>
>> Saya sangat yakin dengan klausul itu, Yogyakarta akan booming
> ekonominya. Sehingga tidak perlu repot2 pemerintah investasi mbangun
> kota baru atau ibukota baru. Saya banyak melihat contoh ibukota-ibukota
> propinsi baru yang nasibnya menjadi kota-kota mati.
>>
>> Karena pemindahan ibukota bukan sekedar memindahkan fisik, tetapi
> memindahkan rohnya, dan itu hanya terjadi bila kita menyelami secara
> benar rohnya ekonomi di Indonesia. Sekali lagi, saya pernah mengingatkan
> dulu pernah saya ungkapkan tentang kasus Chandigar. Akankah itu kita
> ulang.
>>
>> Tokyo bisa tetap menggabung fungsi ekonomi dengan fungsi
> pemerintahannya sehingga menghasilkan sebuah megalopolitan dan masih
> bisa kondisinya lebih baik dibanding biukot-ibukota lain di Asia secara
> relatif.
>>
>> Menurut saya kuncinya bukan ibukota pindah atau tidak, tetapi
> kemampuan kita memanage Jakarta.
>>
>> Salam
>>
>> bambang sp/jogja
>>
>
> 

------------------------------------

Komunitas Referensi
http://groups.yahoo.com/group/referensi/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/referensi/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/referensi/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke