Maaf Mas Dwiagus,
 
Saya mau sedikit ralat. Seingat saya, panggilan untuk Hesthi adalah Mas atau 
Bapak, bukan Ibu. Kalo nggak salah Beliau adalah anggota PL ITB-85.
 
Mohon konfirmsi dari Mas Hesthi. Betul atau salah saya ini.
 
Tks,
 
Fadjar Undip


--- On Thu, 11/6/08, Benedictus Dwiagus S. <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Benedictus Dwiagus S. <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: RE: [referensi] Re: Ibukota di Luar P. Jawa, Mungkinkah?
To: [email protected]
Date: Thursday, November 6, 2008, 4:51 PM








Iyah,… 
 
Minggu lalu baru saja dari Papua,… sepuluh hari di sana.
Saya gak kebayang Papua kehilangan ’keperawanannya’ kalau misalnya Jayapura 
jadi Ibukota,… 
 
Tapi jawaban pertanyaannya, saya sih bersedia saja, nyekolahkan anak saya ke 
papua. 
Kalau ke Makassar, saya belum kenalbanyak kota kupang,…. Mungkin kupang, atau 
Mataram bisa jadi pilihan berikutnya….. 
 
Makanya saya sih lebih tertarik dengan program-program peningkatan Indeks 
Pembangunan Manusia,.. Daripada program pemindahan ibukota.
Seperti revitalisasi posyandu, insentive buat guru atau bidan di desa, …. 
Revitalisasi sekolah dan universitas, insentive buat dosen UnCend,… 
 
Semua itu bisa dilakukan tanpa harus memindahkan ibukota,… 
Dana otsusnya gede lho yang lari ke papua,… Woiya: Di papua sana ada program 
RESPEK, yang mirip dengan program yang diusulkan Ibu Hesthi, calon legislative 
kita,…. Kampung punya rekening desa, dan mendapat dana besar untuk pengembangan 
kampung2nya,……. Pak Ibnu Taufan, mungkin bisa menambahkan lagi….. 
 
 
 
 

Best Regards,
 
Benedictus Dwiagus S.
bdwiagus.blogspot. com 
 
"The most difficult thing in the world is to know how to do a thing and to 
watch somebody else doing it wrong, without comment."  - T. H. White
 
:::... Indo-MONEV ...:::
Indo-MONEV is a mailing list to build a network of Indonesian People anywhere 
in the world who are interested, dedicated, and profesionalised to the work on 
monitoring and evaluation and other related development issues including 
development aid works, particularly in Indonesia.
Join in by sending an email to:  indo-monev-subscrib [EMAIL PROTECTED] com 
 


From: [EMAIL PROTECTED] ps.com [mailto:referensi@ yahoogroups. com] On Behalf 
Of Eko B K
Sent: 06 November 2008 16:09
To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
Subject: Re: [referensi] Re: Ibukota di Luar P. Jawa, Mungkinkah?
 








Mas Andri ysh,

 

lho kok jadinya survey? hehehe

 

kalo saya sih bersedia menyekolahkan anak ke sana, kenapa tidak? Pak Kalla aja 
bisa jadi wapres kok...saya malah lebih suka Bandung dr pd Jakarta...Bandung 
bukan bagian dari Jabodetabek lho...;)

 

lagi pula yg menempatkan UI, IPB, ITB dan Unair itu planners nya Dutch Indie, 
bukan plannersnya Republik..dan yg di Batavia cuma UI, eh sekolah dokter 
Jawa....;)

 

salam...

 

 



--- On Thu, 11/6/08, Mohammad Andri Budiman <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:

From: Mohammad Andri Budiman <[EMAIL PROTECTED] com>
Subject: Re: [referensi] Re: Ibukota di Luar P. Jawa, Mungkinkah?
To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
Date: Thursday, November 6, 2008, 9:39 AMMas Dwiagus dan Rekan-rekan ysh.,  
Melihat diskusi yang muncul dua pekan terakhir ini, saya hanya inginmengajukan 
pertanyaan sederhana saja, terutama bagi Rekan-rekan yangkebetulan berdomisili 
di Jakarta: bersediakah Anda menyekolahkananak-anak Anda di luar Jawa, di 
Makassar atau Jayapura misalnya?  Salam,Andri    2008/11/6 Benedictus Dwiagus 
S. <[EMAIL PROTECTED] com>:> Pak Rifan,>  > Mungkin mereka mencoba menarik 
nasabah dengan menggunakan sentimen> kedaerahan mereka pak.>  > Bisa saja 
BPD-BPD itu rajin promosi : BPD mereka adalah suatu kebanggaan> sendiri buat 
penduduk mereka dan pembangunan daerah mereka,……> sehinggadiharapkan 
menggelitik ego-kedaerahan penduduknya,…>  > Tapi intinya adalah, adanya 
capital di Jakarta yang kesannya menumpuk di> Jakarta saja,… tapi bisa jadi itu 
kesan aja,… bukan berarti capitalitu> tidak aksesible oleh mereka yang ada di 
daerah,….>  >  >  > Jadi mungkin
 jangan fokus pada  '70% duit yang berputar dijakarta' …. Atau> "kota-kota di 
timur ketinggalan dibandingkan jakarta"…….>  > Tapi gemana mengurangi 
kesenjangan Indeks Pembangunan Manusia di tiap> daerah: life expectancy, 
health, education, dll.>  >  >  > Best Regards,>  >  >  > Benedictus Dwiagus 
S.>  > bdwiagus.blogspot. com>  >  >  > "The most difficult thing in the world 
is to know how to do a thingand to> watch somebody else doing it wrong, without 
comment."  - T. H. White>  >  >  > :::... Indo-MONEV ...:::>  > Indo-MONEV is a 
mailing list to build a network of Indonesian People> anywhere in the world who 
are interested, dedicated, and profesionalisedto> the work on monitoring and 
evaluation and other related development issues> including development aid 
works, particularly in Indonesia.>  > Join in by sending an email to:  
indo-monev-subscrib [EMAIL PROTECTED] com>  >  >  > From: [EMAIL PROTECTED] 
ps.com [mailto:referensi@
 yahoogroups. com] OnBehalf> Of risfano> Sent: 05 November 2008 15:07> To: 
[EMAIL PROTECTED] ps.com> Subject: [referensi] Re: Ibukota di Luar P. Jawa, 
Mungkinkah?>  >  >  > Mas Dwiagus,>  > Agak menyimpang dari topik "ibukota". 
Mengenai Bank (BPD) Jatenguntuk> menarik dana dari perantau Jateng di Jakarta. 
Ini rasanya kok ide yang> "naif" ya.>  > Karena perbankan sekarang ini kan 
terbuka. Asal ada cabang di banyak> daerah, mudah dijangkau - bank apa saja kan 
sama. Sehingga prinsip> 'teori lokasi', aksesibilitas, kemudahan parkir dst, 
menjadifaktor> orang datang ke bank. Artinya kalau saya orang Jateng, datang ke 
bank> apa saja yang dekat rumah/kantor, kan bisa diakses oleh yang butuh dana> 
di Jateng.> Bank yang bukan BPD di Jateng juga menyalurkan dana untuk UKM di 
Jateng> toh.>  > Kalau bakul soto, pecel, dst mungkin lebih punya akses ke BPR 
(dulu bank> pasar), BRI Unit (desa), BMT yang telaten mendatangi bakul-bakul. 
Kalau> BPD Jateng mendatangi
 bakul-bakul di Jakarta ya nggak efisien mestinya.>  > Salam,> Risfan Munir>  > 
--- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, "Benedictus Dwiagus S."<[EMAIL PROTECTED]>> 
wrote:>>  >> Selamat Siang Pak BSP, ysh>>  >> Dan rekan milister lainnya…>>  
>>  >>  >> Senang mendapat email yang segar dari Pak BSP.>>  >> Paragraph 
terakhir tulisan bapak, sepenuhnya saya dukung. Dengan> tambahan sedikit: 
kuncinya bukan ibukota pindah atau tidak, tetapi> kemampuan kita memanage 
Jakarta, juga bagaimana kemampuan daerah lain di> luar Jakarta memanfaatkan 
ke(tidak)mampuan Jakarta memanage kota> Jakarta.>>  >>  >>  >> Saya jadi ingat 
cerita,…. beberapa bulan lalu, ketika pergi ke> Semarang, hendak membayar 
uang muka kontrakan rumah untuk istri saya> yang sedang meneruskan sekolah di 
tempatnya Bang Fadjar> mengajar,….. saya bertemu si pemilik rumah kontrakan, 
yang adalah> pensiunan petinggi BI, yang sudah bekerja di berbagai kantor 
perwakilan> BI di daerah,
 dan sekarang sedang diminta bantuan untuk membantu BPD> jateng.>>  >> Beliau 
cerita-cerita soal bagaimana BPD jateng mestinya mengambil> segala kesempatan, 
termasuk memanfaatkan apa yang ada di Jakarta.>>  >> Jadi ketika BPD membuka 
cabang Jakarta, mestinya dimaksudkan untuk> ‘mengeruk potensi kapital’ yang 
ada di Jakarta yang> dipegang oleh para ‘pengusaha-pengusaha jateng’, para> 
bakul bakso, bakul soto, yang potensi kapitalnya besar sekali,…> Beliau 
memberitahu strategi penempatan BPD jateng mestinya bisa> accessible oleh para 
pemegang capital yang bisa direangkul untuk> menaruhdananya di BPD ,… 
mestinya taruh kantor cabang di tengah> pasar-pasar tradisional,…. Di tengah 
perkampungan para imigran> urban dari Jateng,….>>  >> Beliau jg menertawakan 
sebuah BPD yang buka kantor di Hotel Kartika> Tjandra Gatot Subroto,… lah, 
pedagang2 kulakan bakso itu mana mau> datang ke situ,…..>>  >>
  >>  >> Jadi sebenarnya adanya capital yang ada di Jakarta bukan berarti> 
capital non-acessible oleh mereka yang mau menjangkaunya,….> sayang, kadang 
mereka yang sebenarnya bisa mengakses capital di Jakarta> itu tapi belum tahu 
bagaimana menyentuhnya apalagi menariknya kembali ke> daerah,… (malah BPD 
mengendapkan balik dananya ke SBI di Jakarta)>>  >>  >>  >>  >>  >>  >>  >> 
Saya sih juga belum yakin, apakah kota-kota lain di luar jawa mau> dilimpahi 
beban dan tugas menjadi Ibukota. Mendingan menjaga> ‘keperawanan’ kota-kota 
di luar jawa, sebelum terkena> jamahan ‘kutukan menjadi ibukota’.>>  >>  >> 
 >>  >>  >> Thanks>>  >>  >>  >> Best Regards,>>  >>  >>  >> Benedictus Dwiagus 
S.>>  >> bdwiagus.blogspot. com>>  >>  >>  >> "The most difficult thing in the 
world is to know how to do athing> and to watch somebody else doing it wrong, 
without comment." - T. H.> White>>  >>  >>  >> :::...
 Indo-MONEV ...:::>>  >> Indo-MONEV is a mailing list to build a network of 
Indonesian People> anywhere in the world who are interested, dedicated, and 
profesionalised> to the work on monitoring and evaluation and other related 
development> issues including development aid works, particularly in 
Indonesia.>>  >> Join in by sending an email to: indo-monev-subscrib [EMAIL 
PROTECTED] com>>  >>  >>  >> From: [EMAIL PROTECTED] ps.com [mailto:referensi@ 
yahoogroups. com] On> Behalf Of [EMAIL PROTECTED]>> Sent: 03 November 2008 
09:14>> To: [EMAIL PROTECTED] ps.com>> Subject: RE: [referensi] Re: Ibukota di 
Luar P. Jawa, Mungkinkah?>>  >>  >>  >> Selamat pagi mas Dwiagus, selamat pagi 
Milister yth.>>  >> Sudah lama sekali saya tidak menulis dalam milist ini, 
meskipun saya> selalu mengikuti terus perkembangan milist. Namun kali ini saya 
mencoba> untuk sedikit nimbrung dalam diskusi ibukota ngacir ke luar Jawa 
ini.>>  >> Dari beberapa bulan ini issue tentang
 Jakarta semakin padet bahkan ada> yang mengatakan Jakarta lumpuh sudah muncul 
dalam diskusi. Meskipun> kalau kita runut ini juga antara lain andil dari para 
planner juga... he> he he termasuk jaman saya tahun 1981 dengan JMDP (jabotabek 
metropolitan> development project) dan 1991 dengan JIAP (jabotabek 
implementation> advisory project) sebagai implementasi Inpres 13/1976 tentang> 
Pelaksanaan Pembangunan Jabotabek.>>  >> Pemikiran ibukota negara pindah itu 
sah-sah saja.. wong jaman bung> Karno saja sudah dipikirkan tentang pindah ke 
Palangka Raya. Yang jadi> pertanyaan adalah apakah tujuan kita memindah 
ibukota. Apakah itu> tujuannya untuk menyelamatkan Jakarta, atau berfungsinya 
Kantor> Pemerintahan Nasional.>>  >> Kalau boleh saya katakan bahwa Jakarta itu 
menjadi seperti sekarang> itu bukan secara langsung karena adanya pusat 
pemerintahan. Jakarta> seperti ini karena kegiatan ekonomi yang terakumulasi di 
Jakarta. Karena> semua fungsi ekonomi
 terpusat di Jakarta. Cilakanya, ini sangat> disenangi oleh pejabat 
pemerintahan. Meskipun selalu ada kebijakan> redistribusi fungsi ke daerah, 
tapi kenyataannya kebijakan yg terjadi> tidak seperti itu. Sampai dengan 
sekarang kebijakan redistribusi ke> daerah lebih bersifat lip-service. Termasuk 
didalamnya adalah hegemoni> tentang penataan ruang. Jakarta sentris demikian 
kental dalam setiap> policy.>>  >> Saat inipun saya kebetulan menjadi anggota 
tim Revisi Undang-Undang 32> ttg Pemerintahan di Daerah, semangat Jakarta 
sentris sangat kental.> Tidak terlalu lama akan ada Peraturan Pemerintah 
tentang Peran Gubernur> sebagai wakil Pemerintah Pusat.... dan kalau tdk hati2 
akan terjadi> re-sentralisasi.>>  >> Jadi sebelum kita bermimpi tentang 
memindahkan ibukota. Tolong kita> lebih mendalami policy framework dari sistem 
kenegaraan ini dan sistem> ekonomi nasionalnya. Coba dicek bagaimana kebijakan 
Menteri Perdagangan> dan industri di daerah. Bagaimana
 Menteri Perhubungan mengatur tata> transportasi nasional. Bagaimana sistem 
perbankan nasional dikembangkan.>>  >> Saat ini dalam mendorong keistimewaan 
Yogyakarta, saya mencoba> memberikan sudut yg lain dari hanya sekedar issue 
penetapan dan> pemilihan. Saya bersama tim sedang mengusahakan agar dalam draft 
RUUK> DIY dimasukkan klausul bahwa :>>  >> Kerahasiaan nasabah bank di 
Yogyakarta dijamin sempurna. Hanya raja> atau presiden yang berhak memberi ijin 
pemeriksaan.>>  >> Saya sangat yakin dengan klausul itu, Yogyakarta akan 
booming> ekonominya. Sehingga tidak perlu repot2 pemerintah investasi mbangun> 
kota baru atau ibukota baru. Saya banyak melihat contoh ibukota-ibukota> 
propinsi baru yang nasibnya menjadi kota-kota mati.>>  >> Karena pemindahan 
ibukota bukan sekedar memindahkan fisik, tetapi> memindahkan rohnya, dan itu 
hanya terjadi bila kita menyelami secara> benar rohnya ekonomi di Indonesia. 
Sekali lagi, saya pernah mengingatkan> dulu
 














      

Kirim email ke