Re: Dari “Pembangunan Kota Berkelanjutan*)” (3)
 
*) Topik diskusi diselenggarakan oleh  Executive Forum Media Indonesia (EFMI),  
pada Kamis 27 Nopember 2008
 
Acara talkshow dimedia sering dpt digiring menuju corak simplifikasi  debat 
pendapat pro-kontra antara  ‘2 kutub’…. … seperti bahwa yang benar “A” ataukah 
“B”… ataukah  yang benar adalah “belok kiri” ataukah “belok kanan”….. tapi 
sayang……. Fifi Aleyda tak sadari bahwa  masalah debat pembangunan sistem kota 
secara nasional tidaklah dapat diperlakukan sesederhana seperti itu….  Ia tak 
mampu bayangkan bahwa identifikasi daftar panjang masalahnya sajapun bukanlah 
pekerjaan sederhana…… 
 
Kalau semua sadar bhw pembangunan kota menyangkut demikian banyak  aspek  tak 
hanya design fisik, budaya, ekologi… namun juga sosial, ekonomi, 
kewiraswastaan, kesempatan kerja, migrasi, urbanisasi, industri, sistem 
distribusi tak hanya barang… namun juga distribusi konsentrasi kegiatan 
manusia…… distribusi lokasi industri manufaktur…..  bahkan distribusi besaran 
kota secara nasional……. Tentu semuanya paham bahwa masalah ekologi dan estetika 
kota misalnya bisa diletakkan nomor dua sesudah masalah perut lapar dari 35% 
rakyat Indonesia…..
Tak sebagaimana aktivis Walhi misalnya yg tak punya masalah riil rutin  perut 
lapar sehingga cukup waktu utk belajar ilmu ekologi, sanitasi dsb….  Rakyat 
miskin dengan masalah tak tau apa mau dimakan esok… bgmn mau disuruh turut  
pikirkan masalah lingkungan dan estetiks...... sebagaimana rakyat negara maju 
juga dulu sempat begitu…...
 
Judul sih boleh “Pembangunan Kota Berkelanjutan”….. tapi maknanya tak harus 
hanya ekologik, arsitektural atau kultural semata… dan apalagi lokal.…. Kita 
boleh dan bahkan harus tarik juga keaspek lebih luas dan me-nasional :  
demografi...  migrasi…. industri….  regional development…  job creation…..
 
Jadi kalau mau tanggapi ‘pemanasan’ dari pak Danis …. Seharusnya kita boleh tak 
hanya terpaku pada Jkt-sentrismenya… tapi juga boleh tanggapinya lewat 
perspektif nasional….. seperti bahwa dari “Correllation between Urban Design 
and Urban Development”….. demi simiskin dan pengangguran…..maupun demi wilayah 
tertinggal……   kita bukan nomor satu ingat trotoar dan RTH…. Tapi boleh juga 
nomor satukan  ingatan kepada  job creation dan national city size  
distribution…..  dalam rangka mengembangkan sistem kota diluar Jawa juga yang 
adalah 93.3% wilayah nasional kita…….
 
Jadi aspek urban designnya bukan semata ditekankan pada aesthetics of physical 
design within some cities… tetapi ditekankan pada  national integrated (and 
hierarchical) urban design-nya….  berkait dengan  job creation dan management 
of urbanization flow….  berupa distribusi atau sebaran dari besaran-besaran 
kotanya secara nasional…… seperti bahwa setidaknya kita perlu  perimbangan 
“sepasang” megapolitan cities (seperti New York dan LA)…..…  bukan karena 
semata saya  mengagumi megapolitan city size… tetapi semata agar favoritisme 
arus urbanisasi menuju Jabodetabek  dan Jawa dapat diberikan alternatif 
megapolitan lainnya  yang non-Jabodetabek…… dan outside-Jawa…..
Atau disatu negara lain (60 juta penduduk) urban designnya bisa saja lebih 
cocok berupa “1 megapolitan dikeroyok 8 metropolitan lain”  (Paris, metropole 
d’equilibre)…… Belanda yang hanya 15 juta penduduk memakai Ranstad (konstelasi 
4 kota besar berbentuk “U”)…. atau setidaknya di Jepang (120 juta penduduk) …. 
disamping primacy dari Greater Tokyo dengan 35 juta penduduknya…. Masih 
terdapat koridor kandidat megapolitan lain  Kyoto-Kobe-Osaka (Kinki Region)…… 
yg coba kurangi primacy dari Greater Tokyo…….
Memandangnya dari perspektif nasional……. “Kota Berkelanjutan” adalah sistem 
kota secara nasional yang mampu memberikan lapangan kerja kepada anak 
bangsanya… baik secara langsung (kpd penduduk kota)… maupun tak langsung (kpd 
penduduk desa dan kawasan tertinggal)….  Melalui interaksi ekonomi sosial 
antara kota dan desa … berupa pertukaran barang dan jasa… antara industri dan 
pertanian………..   
 
Salam,
aby
 
 


      

Kirim email ke