Yth pak aby dan milisters, 
 
pertama, mohon maaf, salam ke pak bos benny gak bisa disampaikan pak. saya 
sudah 'cerai' (he.. he..) dengan pak benny karena terpisah jarak aja. ngacir 
sedikit keluar surabaya, cari angin dan pencerahan pak ... katannya (termasuk 
pak benny juga) mumpung masih bisa ngacir..., ngacir aja.  
 
trus, sependek pengetahuan saya, pembagian jawa dan non jawa dalam konteks 
community development rasanya kurang sip pak. apa bener jawa akan maju jika 
berhasil CD nya. saya yakin ada atau tiadanya CD, jawa tetap aja jadi magnet 
penduduk daerah dan kota lainnya. kenapa? karena konsentrasi pembangunan kita 
yang hanya disana. berbagai ukuran bisa dipakai dari mulai investasi yang 
berputar, suntikan dana pemerintah, orang2 pinter yang ke'bajak' ditanah jawa 
dsb. dan itu juga diamini sama keterbukaan (atau lebih tepatnya) kebebasan yang 
"lebih bebas" dari iklim planning (terutama pas permit) kita di pulau Jawa. 
memang ada sistem planning permit kita. tapi (maaf) kadang2 "menyerah sebelum 
bertempur", kadang2 itu ada dalam ranah abu2, dan yang paling relevant dengan 
CD adalah kadang2 itu milik berdua saja (pemberi ijin dan yang meminta ijin). 
 
disisi lain, saya sangat2 setuju dengan ada zoning regulations (udah sampe mana 
yah sekarang?) untuk menggapai sustainable dev't. tapi, zoning regulations yang 
disupport oleh CD nya atau pun community involvement (CI) dalam setiap 
pengambilan keputusan planning permit. saya membayangkan, options pembangunan 
akan memberikan range kebijakan yang paling dibutuhkan oleh komunitas. syarat 
dan pilihan2 akan memperkaya juga khazanah perdebatan yang tadinya milik berdua 
menjadi milik bersama (semua stakeholders). perdebatan yang matang tentunya 
akan menghantarkan pada kebijakan land use yang paling optimal untuk semua. 
options land use juga bukan hanya memberikan pilihan tapi memberikan kepastian 
variansi dari penggunaan lahan yang saat ini menjadi barang mahal bagi sistem 
perencanaan kita. kepastian options itu (maaf) jika boleh dibilang, tidak ada 
sebelum adanya zoning regulations diterapkan secara benar di INDO. 
 
walaupun demikian, CD itu sendiri tidak bisa berdiri sendiri. CD akan sangat 
tepat jika memang ada unsur2 yang menjadi kesepakatan bersama, ada 
guidelinesnya atau pun patokan dasarnya. zoning regulations tersebut menurut 
saya bisa dipakai guidelines nya. tidak mungkin kita berdiskusi saja untuk 
mendapatkan hasil berkualitas kalo kita tidak memiliki input sebelum berdiskusi 
(membaca, literature dsb). begitu juga, untuk CD, hasil tidak akan maksimal, 
kalo kita tidak memiliki input pengaturan sebelumnya. kemana kah proses 
pembangunan ini akan dibawa, kalo kita tidak mengetahui sebelumnya unsur2 
pengarah pembangunan tersebut yang salah satunya zoning. 

saya tidak takut pak, kalo CD itu berhasil (yang di guide sama zoning 
regulation (ZR) yang betul tentunya) akan mengakibatkan proses urbanizasi yang 
tidak terkontrol. tapi urbanizasi.. saja saya setuju dan tidak takut, apalagi 
jika urbanizasi yang ditambahin kata terkontrol.  CD dan ZR akan mencari output 
optimum bagi penikmatnya (stakeholders). contoh kecil aja, jika memang lahan 
sudah 50% terokupasi oleh seluruh penduduknya dan 30% musti RTH, 10-20% untuk 
prasarana, maka solusi nya yah terpaksa naik keatas.. (buat rusun). yang kurang 
tepat adalah CD yang menghasilkan penambahan lahan secara horizontal 
(nambah 60% dst..) sehingga nanti makan RTH atau pun prasarana (yang pasti 
biasanya RTH). tapi kalo ZR nya sudah tegas 30% dan 20% nya, saya pikir, ini 
bisa dihindari.. tokh, kalo pun terjadi, mungkin ada kelompok masyarakat yang 
mengadu atau bahkan mempidanakan mereka berdua tadi (pemberi ijin dan peminta 
ijin). serem... juga..kan.    
 
bayangan saya aja, kalo CD dan ZR itu benar terwujud di INDO bagian mana pun.. 
saya yakin dikotomi jawa dan non jawa akan mulai pudar... kota2 akan membentuk 
rank size rules nya sesuai dengan nilai ekonomis masing2 kota pak, orang pinter 
yang terbajak ditanah jawa akan mulai menyadari bahwa mereka punya peluang di 
kampung halamannya sendiri dan investasi pun akan mencari daerah yang lebih 
kompetitif untuk berusaha yang notabene bukan hanya di jawa saja... ada bonus 
juga buat qta nantinya, qta tidak akan terlalu repot juga untuk ngurusin kota 
yang terlalu besar (megapolitan) atau pun kota yang malu2 berkembang (kota 
kecil kecillll banget he..he..) dan semua sayangnya masih jadi alam mimpi saya. 
 
salam, 
adjie 
 

--- On Sun, 12/7/08, hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [plbpm] Re: Mas Adjie Re: Dari “Kota Berkelanjutan” (3)
To: [email protected]
Cc: [EMAIL PROTECTED]
Date: Sunday, December 7, 2008, 9:04 AM












Halo mas Adjie yang baik  (jg salam hangat utk pak Benny bos kita di Sby)...... 
Betul kata anda bumbu “community development” serta “bottom-up planning” perlu 
ditambahkan agar wacana ““Pembangunan Kota Berkelanjutan” tambah sedap saja ……. 
Hanya kalau mengingat Jawa hanya 6.7% wilayah nasional saja…. Sementara itu 
lebih dari 50%  penduduk (dari 235 juta) berada di Jawa …… sayang kalau kita 
terhanyut terlalu jauh dan terlampau asyik pada romantisme community 
development yg tanpa sadar itu sering dilakukan (hanya dan hanya) lebih banyak 
di Jaw ……. Dimana kalau itu bisa berhasil baik… saya khawatir bukannya 
‘keberhasilan’ itu akan “menular” keluar Jawa … tapi jangan2 malah gak lama 
“keberhasilan” di Jawa itu akan “buyar” atau “pudar” karena serbuan arus 
migrasi dari luar Jawa yg bisa jadi semakin ngiler melihat “keberhasilan” di 
Jawa dan semakin frustrasi merasakan “ketertinggalan”  diluar Jawa…... 
Kedua…. …. Setting community development di jawa saya khawatir akan semakin  
sempit saja ruang geraknya …. Karena ruang2 di Jawa…. Terus saja semakin 
diintai untuk dibebaskan oleh industri land development ……. 
Karena itu kalau benar ingin kembangkan community development dan bottom-up 
planning beneran….. settingnya justru harus lebih banyak dikembangkan diluar 
Jawa…… yg tentu saja itu harus dikaitkan pula dengan dimensi migrasi 
(transmigrasi) maupun urbanisasi (transurbanisasi) …. Maupun juga dimensi 
filialisasi industri manufaktur memimpin dari Jawa…. 
Dan itu akan semakin memperoleh ruang geraknya yg luas ….. bila kita 
mengaitkannya pula dengan dimensi pengembangan greater metropolis diluar jawa 
….. yg mana pada bagian ini  biasanya sahabat saya arsitek mas Djarot  yg ngaku 
paling seneng mengadvokasi sektor iniformal mulai sebel…..   menunjukkan 
inkonsistensi tanpa sadarnya bahwa sektor informal  justru sebenarnya terbesar 
dapat ditampung dikota2 greater metropolis… more than kota2 menengah seperti 
Ngayogjokarto kotanya mas2 Djarot, pak BSP dan mas cak brur Bawole…. Atau 
Surokartonya pak Joko Wi…. atau apalagi kota2 lebih kecil.. Samarinda, Tarakan 
atau Sragen……….. 
   
See you again kapan2 nanti  diseputar Manokwari ya mas Adjie?.....   
  
Salam, 
aby

From: adjie pamungkas <a_pamungkas2000@ yahoo.com>
Subject: [referensi] Re: [plbpm] Re: Dari “Pembangunan Kota Berkelanjutan* )” 
(3)
To: [EMAIL PROTECTED] ps.com, [EMAIL PROTECTED] com
Cc: [EMAIL PROTECTED] sia.com, [EMAIL PROTECTED] a.com, [EMAIL PROTECTED] com
Date: Thursday, December 4, 2008, 3:03 PM









ysh pak aby dan milisters, 
 
mungkin moderator talkshow nya perlu sedikit pencerahan tentang konsep 
berkelanjutan itu sendiri he.. he.. 
 
ikutan aja..... , mungkin penjelasan pak aby bisa ditambahkan dengan sistem 
pembangunan yang berasal dari masyarakat atau Community development atau bottom 
up planning dan istilah lainnya (layaknya judul milis ini). mudah dikatakan, 
susah dilakukan. tapi sudah banyak kasus yang berhasil walaupun tidak sedikit 
juga yang kurang berhasil.
 
dengan sistem ini, masyarakat yang sulit makan minimal akan saling bercerita, 
berkomunikasi dan boleh jadi bahu membahu menggerakkan social capitalnya untuk 
lingkungan mereka. kadang perlu juga fasilitator (red- bisa orang luar atau pun 
orang dalam yang sudah terentaskan) mengkoneksikan social capital masyarakat 
tersebut dengan masyarakat lainnya. karena batas komunitas dan masyarakat itu 
blur adanya, interaksi antar komunitas atau masyarakat akan memberikan peluang 
yang lebih besar untuk peningkatan social capital. yang jelas, pendekatan 
seperti ini akan memberikan relevansi yang lebih tinggi bagi masyarakat lokal 
dalam proses membangun kehidupan nya SENDIRI maupun lingkungannya. relevansi 
berarti, kebutuhan pembangunannya akan berasal dari aspirasi masyarakat 
tersebut. kita sudah punya sistem itu melalui gotong royong (GR). dan GR itu 
sendiri juga ada pada masyarakat indonesia termasuk masyarakat (maaf) miskin. 
tinggal bagaimana orang pintar (atau
 mungkin yang merasa pintar) yang ada disekeliling masyarakat tersebut mampu 
menstimulasi, membahasakan, mengkoneksikan dengan masyarakat yang lain 
untuk meningkatkan social capital mereka kearah yang positif. 
 
demikian dulu pak dan mohon maaf jika ada yang kurang berkenan. 
 
salam, 
adjie 

--- On Mon, 12/1/08, hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:

From: hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED] com>
Subject: [plbpm] Re: Dari “Pembangunan Kota Berkelanjutan* )” (3)
To: [EMAIL PROTECTED] ps.com, [EMAIL PROTECTED] com
Cc: [EMAIL PROTECTED] sia.com, [EMAIL PROTECTED] a.com, [EMAIL PROTECTED] com
Date: Monday, December 1, 2008, 8:25 PM












Re: Dari “Pembangunan Kota Berkelanjutan* )” (3) 
  
*) Topik diskusi diselenggarakan oleh  Executive Forum Media Indonesia (EFMI),  
pada Kamis 27 Nopember 2008 
  
Acara talkshow dimedia sering dpt digiring menuju corak simplifikasi  debat 
pendapat pro-kontra antara  ‘2 kutub’…. … seperti bahwa yang benar “A” ataukah 
“B”… ataukah  yang benar adalah “belok kiri” ataukah “belok kanan”….. tapi 
sayang……. Fifi Aleyda tak sadari bahwa  masalah debat pembangunan sistem kota 
secara nasional tidaklah dapat diperlakukan sesederhana seperti itu….  Ia tak 
mampu bayangkan bahwa identifikasi daftar panjang masalahnya sajapun bukanlah 
pekerjaan sederhana…… 
  
Kalau semua sadar bhw pembangunan kota menyangkut demikian banyak  aspek  tak 
hanya design fisik, budaya, ekologi… namun juga sosial, ekonomi, 
kewiraswastaan, kesempatan kerja, migrasi, urbanisasi, industri, sistem 
distribusi tak hanya barang… namun juga distribusi konsentrasi kegiatan 
manusia…… distribusi lokasi industri manufaktur…..  bahkan distribusi besaran 
kota secara nasional……. Tentu semuanya paham bahwa masalah ekologi dan estetika 
kota misalnya bisa diletakkan nomor dua sesudah masalah perut lapar dari 35% 
rakyat Indonesia….. 
Tak sebagaimana aktivis Walhi misalnya yg tak punya masalah riil rutin  perut 
lapar sehingga cukup waktu utk belajar ilmu ekologi, sanitasi dsb….  Rakyat 
miskin dengan masalah tak tau apa mau dimakan esok… bgmn mau disuruh turut  
pikirkan masalah lingkungan dan estetiks.... .. sebagaimana rakyat negara maju 
juga dulu sempat begitu…... 
  
Judul sih boleh “Pembangunan Kota Berkelanjutan”….. tapi maknanya tak harus 
hanya ekologik, arsitektural atau kultural semata… dan apalagi lokal.…. Kita 
boleh dan bahkan harus tarik juga keaspek lebih luas dan me-nasional :  
demografi...  migrasi…. industri….  regional development…  job creation….. 
  
Jadi kalau mau tanggapi ‘pemanasan’ dari pak Danis …. Seharusnya kita boleh tak 
hanya terpaku pada Jkt-sentrismenya… tapi juga boleh tanggapinya lewat 
perspektif nasional….. seperti bahwa dari “Correllation between Urban Design 
and Urban Development”….. demi simiskin dan pengangguran…..maupun demi wilayah 
tertinggal……   kita bukan nomor satu ingat trotoar dan RTH…. Tapi boleh juga 
nomor satukan  ingatan kepada  job creation dan national city size  
distribution…..  dalam rangka mengembangkan sistem kota diluar Jawa juga yang 
adalah 93.3% wilayah nasional kita……. 
  
Jadi aspek urban designnya bukan semata ditekankan pada aesthetics of physical 
design within some cities… tetapi ditekankan pada  national integrated (and 
hierarchical) urban design-nya….  berkait dengan  job creation dan management 
of urbanization flow….  berupa distribusi atau sebaran dari besaran-besaran 
kotanya secara nasional…… seperti bahwa setidaknya kita perlu  perimbangan 
“sepasang” megapolitan cities (seperti New York dan LA)…..…  bukan karena 
semata saya  mengagumi megapolitan city size… tetapi semata agar favoritisme 
arus urbanisasi menuju Jabodetabek  dan Jawa dapat diberikan alternatif 
megapolitan lainnya  yang non-Jabodetabek…… dan outside-Jawa….. 
Atau disatu negara lain (60 juta penduduk) urban designnya bisa saja lebih 
cocok berupa “1 megapolitan dikeroyok 8 metropolitan lain”  (Paris, metropole 
d’equilibre)…… Belanda yang hanya 15 juta penduduk memakai Ranstad (konstelasi 
4 kota besar berbentuk “U”)…. atau setidaknya di Jepang (120 juta penduduk) …. 
disamping primacy dari Greater Tokyo dengan 35 juta penduduknya…. Masih 
terdapat koridor kandidat megapolitan lain  Kyoto-Kobe-Osaka (Kinki Region)…… 
yg coba kurangi primacy dari Greater Tokyo……. 
Memandangnya dari perspektif nasional……. “Kota Berkelanjutan” adalah sistem 
kota secara nasional yang mampu memberikan lapangan kerja kepada anak 
bangsanya… baik secara langsung (kpd penduduk kota)… maupun tak langsung (kpd 
penduduk desa dan kawasan tertinggal)….  Melalui interaksi ekonomi sosial 
antara kota dan desa … berupa pertukaran barang dan jasa… antara industri dan 
pertanian………..    
  
Salam, 
aby 
  
 






 














      

Kirim email ke