+++: pernah tidak terpikirkan, yg menghabiskan uang negara adalah pihak 
sponsor, dlm hal ini adalah Dept. PU. 
>>>: O.. jelas pernah terpikir sedikit…. Tetapi maaf saya tidak segera dapat  
>>>sepenuhnya sepakat atau ikut dengan penilaian ttg “menghabiskan uang negara” 
>>>pada konteks ini…. Karena pengertiannya bisa “luas” dan bisa “keluar dari  
>>>masalah yg ingin saya soroti” semula…… ialah kapabilitas media utk pahami 
>>>masalah pokok diskusi.........
Saya pikir … dimana2 terlepas dari “efektif atau tidaknya”… namanya alokasi 
mata anggaran memang untuk “dihabiskan” dengan cara “dibelanjakan”….. karena 
untuk persetujuan besarannya saja bukankah dahulunya juga sudah diperdebatkan 
cukup seru……. kalau yang namanya “anggaran utk hal tak terduga” boleh jadi 
tidak harus dihabiskan….. 
Yang kita inginkan adalah saya kira  “membelanjakan anggaran sampai habis” tapi 
dengan “hasil signifikan”.......
Dalam konteks ‘kerjasama Media Indonesia-Dep.PU’  ini utk urusan sosialisasi 
UUPR (saya tahunya belakangan) …. Saya kira negara (Dep. PU) tak salah kalau 
berasumsi bahwa media pers .. utamanya model seperti Media Indonesia.... adalah 
one of centers of excellence….. utamanya   utk  fungsi “sosialisasi”nya…. Dan 
media utama hebat seperti Kompas, Media Groups dsb. tentu bukan kumpulan anak 
kecil…. SDMnya adalah orang2 bijak dan hebat…. tentu tak salah alamat bila Dep. 
PU mempercayakan  urusan ‘belanja biaya sosialisasi UUPR’ itu a.l. ke MI…..  
hanya barangkali saja mutu hasil akhirnya belakangan ‘tak terduga’.... 

+++: peserta yg hadir, jika menilai diskusi tidak lagi berjalan dlm koridornya, 
asumsi menilai moderator tidak bisa mengarahkan, tidak dilarang kok meminta 
klarifikasi atau mengingatkan kembali arah diskusi.
>>>: Ini adalah nasehat/ masukan yg baik dan berharga..... 
Pada kasus diskusi yg dipimpin oleh Fifi Aleyda ini… utk diketahui saja.... pak 
Danis (nara sumber) baru tahu format diskusi setelah hadir..... Fifipun ngaku 
baru kenal pak Danis bbrp jam saja sebelumnya .... ia 2 kali sebut nama 
Danisworo dengan ‘Daniswara’ hingga 2 kali pula pak Danis protes.... sekedar 
mengindikasikan sepertinya Fifi  awam tak hanya dengan planologi.. namun juga 
dgn arsitektur (awam pada nama arsitek beken?)....... sesuatu yg bila benar.... 
amat disayangkan bahwa Fifi (ditunjuk, dan kok mau) memoderasi suatu acara 
perdebatan yg ia pada dasarnya tak pahami betul masalahnya..... atau mungkin yg 
‘salah’ yg menunjuk?..........
Kita tahu dari penampilan sehari2….  Fifi dkk didunia industri siaran  tv tentu 
terbiasa dgn rutinitas moderasi talkshow di televisi….nyaris utk “topik apa 
saja”....  Terbiasa dgn waktu terlampau amat pendek/ terbatas…. Ingin tampilkan 
warna diskusi ‘sepelangi’ mungkin…. Sehingga bicaranya sering serba kelewat 
‘kilat’…. Sampai akhirnya yg lebih berharga adalah justru “ketepatan dan 
kecepatan dlm waktu” lebih daripada ”nilai materi diskusi” itu sendiri….. atau 
bahkan terkadang  ‘sopan-santun’ juga terlalu mudah boleh dikurangkan seperti 
bahwa orang sekelas dan setua seperti Kwik  Kian Gie misalnya…..  bicaranya 
sering terlalu cepat dan terlalu pendek untuk dipotong…. hanya karena 
pertimbangan waktu a.l. krn “ada yg mau lewat”…. Atau bahkan pernah 
orang’sekelas’ Amien Rais juga pernah diwawancara oleh Rosiana Silalahi dgn 
cara yg sedikit melecehkan sampai muncul protes  telpon dari penonton
 dirumah........
Barangkali tak harus terlampau dibedakan.... apakah ini diskusi sepenuhnya 
biaya media... atau biaya sponsor..... tapi saya kira bobot ilmiah serta arah 
hasil yg diharapkan dari diskusi yg diselenggarakan oleh media perlu amat 
dipersiapkan dengan lebih matang (setidaknya terbukti dgn topik “pembangunan 
perkotaan”)...... karena memang media adalah identik dengan ‘komunikasi masa’ 
serta akrab dengan misi2 “mencerdaskan bangsa’...........
Semula saya kira acara  itu sepenuhnya dibiayai oleh media (jadi modelnya 
sepenuhnya  hak media).... saya kira semua dapat giliran bicara..... tapi 
rupanya boleh ‘berebut’.... boleh ‘lebih dari 2 kali’ dst....boleh ada yg tak 
kebagian.... semua terserah Fifi...... lalu akhirnya tak terpikir oleh saya utk 
‘merusak  acara’ dgn minta klarifikasi..... selain memang saya benar2 tak 
kebagian waktu bicara.... kecuali brkali saya mau ngotot ikut berebutan.....

+++: salah fungsi media adalah mengritisi yang tidak sesuai apalagi tidak 
benar. 
>>>: brkali boleh ditambahkan juga  a.l..... salah media adalah memoderasi 
>>>sendiri masalah yang mereka tak amat pahami....... dan mungkin juga 
>>>memformat sendiri pola diskusi atas masalah yg mereka tak terlampau 
>>>pahami...... atau juga salahnya kurang pahami bahwa pembangunan  sistem kota 
>>>secara nasional adalah sama strategisnya dengan masalah2 politik, hukum, 
>>>sosial dan ekonomi yang biasanya media amat pahami.......
 
trims utk perkenan diskusinya dan salam, 
aby

--- On Mon, 12/1/08, arinynta <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: arinynta <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: Bls:[referensi] Re: Dari “Pembangunan Kota Berkelanjutan*)” (3)
To: [email protected]
Date: Monday, December 1, 2008, 11:39 PM








pernah tidak terpikirkan, yg menghabiskan uang negara adalah pihak sponsor, dlm 
hal ini adalah Dept. PU. 

peserta yg hadir, jika menilai diskusi tidak lagi berjalan dlm koridornya, 
asumsi menilai moderator tidak bisa mengarahkan, tidak dilarang kok meminta 
klarifikasi atau mengingatkan kembali arah diskusi.

salah fungsi media adalah mengritisi yang tidak sesuai apalagi tidak benar. 

salam,
nita



From: hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED] com>
To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
Sent: Tuesday, December 2, 2008 14:29:42
Subject: Bls:[referensi] Re: Dari “Pembangunan Kota Berkelanjutan* )” (3)








Memang betul  bos….. 
jangan disalahkan… kalau media mau angkat sebuah topik, dgn bingkai yg tidak 
lebar serta dengan keterbatasan waktu…. Dan dgn uang dari koceknya sendiri…….. 
Tapi kalau penyelenggaraannya pakai uang negara …... lalu bentuk keluarannya 
menjadi ‘advertorial’ dihalaman media (yg itupun efektivitasnya  tak jelas)…..  
Waktunya terbatas …. Yang diundang datang dari segala penjuru stakeholders….. 
tidak ngomong dulu formatnya diskusi bgmn…… rasanya media tidak boleh 
sembarangan dan asal….. karena itu nyaris hampir sama artinya dengan hambur2kan 
uang negara  tanpa guna…….. 
Kritik dilontarkan karena  karena dalam banyak hal media juga sok berperan 
sebagai salah satu ‘national centers of excellence’…. dan menjadi kritikus 
utama pembangunan. ......

--- On Mon, 12/1/08, arinynta <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:

From: arinynta <[EMAIL PROTECTED] com>
Subject: Re: [referensi] Re: Dari “Pembangunan Kota Berkelanjutan* )” (3)
To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
Date: Monday, December 1, 2008, 10:08 PM






masalah kota itu memang complicated. tidak bisa dipilah-pilah pemecahannya, 
karena saling bertaut. jadi kalau mau membicarakan dalam waktu 2 jam, jelas 
tidak mungkin semua dibahas. ya memang harus dipilah2, dicari yg paling mungkin 
dibicarakan dlm waktu yg minim. jadi kalau media, mau angkat sebuah topik, dgn 
bingkai yang tidak lebar, ya jangan disalahkan. ingat, keterbatasan waktu. 

para pakar, pemerintah dan dprd lah yg mestinya bicara dalam waktu yg lebih 
lama, mengupas tuntas semua problem. 
dan terbukti, selama ini no result......

nita







From: hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED] com>
To: [EMAIL PROTECTED] ps.com; [EMAIL PROTECTED] com
Cc: [EMAIL PROTECTED] sia.com; [EMAIL PROTECTED] a.com; [EMAIL PROTECTED] com
Sent: Tuesday, December 2, 2008 8:25:49
Subject: [referensi] Re: Dari “Pembangunan Kota Berkelanjutan* )” (3)









Re: Dari “Pembangunan Kota Berkelanjutan* )” (3) 
  
*) Topik diskusi diselenggarakan oleh  Executive Forum Media Indonesia (EFMI),  
pada Kamis 27 Nopember 2008 
  
Acara talkshow dimedia sering dpt digiring menuju corak simplifikasi  debat 
pendapat pro-kontra antara  ‘2 kutub’…. … seperti bahwa yang benar “A” ataukah 
“B”… ataukah  yang benar adalah “belok kiri” ataukah “belok kanan”….. tapi 
sayang……. Fifi Aleyda tak sadari bahwa  masalah debat pembangunan sistem kota 
secara nasional tidaklah dapat diperlakukan sesederhana seperti itu….  Ia tak 
mampu bayangkan bahwa identifikasi daftar panjang masalahnya sajapun bukanlah 
pekerjaan sederhana…… 
  
Kalau semua sadar bhw pembangunan kota menyangkut demikian banyak  aspek  tak 
hanya design fisik, budaya, ekologi… namun juga sosial, ekonomi, 
kewiraswastaan, kesempatan kerja, migrasi, urbanisasi, industri, sistem 
distribusi tak hanya barang… namun juga distribusi konsentrasi kegiatan 
manusia…… distribusi lokasi industri manufaktur…..  bahkan distribusi besaran 
kota secara nasional……. Tentu semuanya paham bahwa masalah ekologi dan estetika 
kota misalnya bisa diletakkan nomor dua sesudah masalah perut lapar dari 35% 
rakyat Indonesia….. 
Tak sebagaimana aktivis Walhi misalnya yg tak punya masalah riil rutin  perut 
lapar sehingga cukup waktu utk belajar ilmu ekologi, sanitasi dsb….  Rakyat 
miskin dengan masalah tak tau apa mau dimakan esok… bgmn mau disuruh turut  
pikirkan masalah lingkungan dan estetiks.... .. sebagaimana rakyat negara maju 
juga dulu sempat begitu…... 
  
Judul sih boleh “Pembangunan Kota Berkelanjutan”….. tapi maknanya tak harus 
hanya ekologik, arsitektural atau kultural semata… dan apalagi lokal.…. Kita 
boleh dan bahkan harus tarik juga keaspek lebih luas dan me-nasional :  
demografi...  migrasi…. industri….  regional development…  job creation….. 
  
Jadi kalau mau tanggapi ‘pemanasan’ dari pak Danis …. Seharusnya kita boleh tak 
hanya terpaku pada Jkt-sentrismenya… tapi juga boleh tanggapinya lewat 
perspektif nasional….. seperti bahwa dari “Correllation between Urban Design 
and Urban Development”….. demi simiskin dan pengangguran…..maupun demi wilayah 
tertinggal……   kita bukan nomor satu ingat trotoar dan RTH…. Tapi boleh juga 
nomor satukan  ingatan kepada  job creation dan national city size  
distribution…..  dalam rangka mengembangkan sistem kota diluar Jawa juga yang 
adalah 93.3% wilayah nasional kita……. 
  
Jadi aspek urban designnya bukan semata ditekankan pada aesthetics of physical 
design within some cities… tetapi ditekankan pada  national integrated (and 
hierarchical) urban design-nya….  berkait dengan  job creation dan management 
of urbanization flow….  berupa distribusi atau sebaran dari besaran-besaran 
kotanya secara nasional…… seperti bahwa setidaknya kita perlu  perimbangan 
“sepasang” megapolitan cities (seperti New York dan LA)…..…  bukan karena 
semata saya  mengagumi megapolitan city size… tetapi semata agar favoritisme 
arus urbanisasi menuju Jabodetabek  dan Jawa dapat diberikan alternatif 
megapolitan lainnya  yang non-Jabodetabek…… dan outside-Jawa….. 
Atau disatu negara lain (60 juta penduduk) urban designnya bisa saja lebih 
cocok berupa “1 megapolitan dikeroyok 8 metropolitan lain”  (Paris, metropole 
d’equilibre)…… Belanda yang hanya 15 juta penduduk memakai Ranstad (konstelasi 
4 kota besar berbentuk “U”)…. atau setidaknya di Jepang (120 juta penduduk) …. 
disamping primacy dari Greater Tokyo dengan 35 juta penduduknya…. Masih 
terdapat koridor kandidat megapolitan lain  Kyoto-Kobe-Osaka (Kinki Region)…… 
yg coba kurangi primacy dari Greater Tokyo……. 
Memandangnya dari perspektif nasional……. “Kota Berkelanjutan” adalah sistem 
kota secara nasional yang mampu memberikan lapangan kerja kepada anak 
bangsanya… baik secara langsung (kpd penduduk kota)… maupun tak langsung (kpd 
penduduk desa dan kawasan tertinggal)….  Melalui interaksi ekonomi sosial 
antara kota dan desa … berupa pertukaran barang dan jasa… antara industri dan 
pertanian………..    
  
Salam, 
aby 
  
 



New Email addresses available on Yahoo! 
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does! 



Get your new Email address! 
Grab the Email name you've always wanted before someone else does!  














      

Kirim email ke