Halo mas Adjie yang baik (jg salam hangat utk pak Benny bos kita di Sby)...... Betul kata anda bumbu “community development” serta “bottom-up planning” perlu ditambahkan agar wacana ““Pembangunan Kota Berkelanjutan” tambah sedap saja ……. Hanya kalau mengingat Jawa hanya 6.7% wilayah nasional saja…. Sementara itu lebih dari 50% penduduk (dari 235 juta) berada di Jawa …… sayang kalau kita terhanyut terlalu jauh dan terlampau asyik pada romantisme community development yg tanpa sadar itu sering dilakukan (hanya dan hanya) lebih banyak di Jaw ……. Dimana kalau itu bisa berhasil baik… saya khawatir bukannya ‘keberhasilan’ itu akan “menular” keluar Jawa … tapi jangan2 malah gak lama “keberhasilan” di Jawa itu akan “buyar” atau “pudar” karena serbuan arus migrasi dari luar Jawa yg bisa jadi semakin ngiler melihat “keberhasilan” di Jawa dan semakin frustrasi merasakan “ketertinggalan” diluar Jawa…... Kedua…. …. Setting community development di jawa saya khawatir akan semakin sempit saja ruang geraknya …. Karena ruang2 di Jawa…. Terus saja semakin diintai untuk dibebaskan oleh industri land development ……. Karena itu kalau benar ingin kembangkan community development dan bottom-up planning beneran….. settingnya justru harus lebih banyak dikembangkan diluar Jawa…… yg tentu saja itu harus dikaitkan pula dengan dimensi migrasi (transmigrasi) maupun urbanisasi (transurbanisasi) …. Maupun juga dimensi filialisasi industri manufaktur memimpin dari Jawa…. Dan itu akan semakin memperoleh ruang geraknya yg luas ….. bila kita mengaitkannya pula dengan dimensi pengembangan greater metropolis diluar jawa ….. yg mana pada bagian ini biasanya sahabat saya arsitek mas Djarot yg ngaku paling seneng mengadvokasi sektor iniformal mulai sebel….. menunjukkan inkonsistensi tanpa sadarnya bahwa sektor informal justru sebenarnya terbesar dapat ditampung dikota2 greater metropolis… more than kota2 menengah seperti Ngayogjokarto kotanya mas2 Djarot, pak BSP dan mas cak brur Bawole…. Atau Surokartonya pak Joko Wi…. atau apalagi kota2 lebih kecil.. Samarinda, Tarakan atau Sragen……….. See you again kapan2 nanti diseputar Manokwari ya mas Adjie?..... Salam, aby
From: adjie pamungkas <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [referensi] Re: [plbpm] Re: Dari “Pembangunan Kota Berkelanjutan*)” (3) To: [email protected], [EMAIL PROTECTED] Cc: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED] Date: Thursday, December 4, 2008, 3:03 PM ysh pak aby dan milisters, mungkin moderator talkshow nya perlu sedikit pencerahan tentang konsep berkelanjutan itu sendiri he.. he.. ikutan aja..... , mungkin penjelasan pak aby bisa ditambahkan dengan sistem pembangunan yang berasal dari masyarakat atau Community development atau bottom up planning dan istilah lainnya (layaknya judul milis ini). mudah dikatakan, susah dilakukan. tapi sudah banyak kasus yang berhasil walaupun tidak sedikit juga yang kurang berhasil. dengan sistem ini, masyarakat yang sulit makan minimal akan saling bercerita, berkomunikasi dan boleh jadi bahu membahu menggerakkan social capitalnya untuk lingkungan mereka. kadang perlu juga fasilitator (red- bisa orang luar atau pun orang dalam yang sudah terentaskan) mengkoneksikan social capital masyarakat tersebut dengan masyarakat lainnya. karena batas komunitas dan masyarakat itu blur adanya, interaksi antar komunitas atau masyarakat akan memberikan peluang yang lebih besar untuk peningkatan social capital. yang jelas, pendekatan seperti ini akan memberikan relevansi yang lebih tinggi bagi masyarakat lokal dalam proses membangun kehidupan nya SENDIRI maupun lingkungannya. relevansi berarti, kebutuhan pembangunannya akan berasal dari aspirasi masyarakat tersebut. kita sudah punya sistem itu melalui gotong royong (GR). dan GR itu sendiri juga ada pada masyarakat indonesia termasuk masyarakat (maaf) miskin. tinggal bagaimana orang pintar (atau mungkin yang merasa pintar) yang ada disekeliling masyarakat tersebut mampu menstimulasi, membahasakan, mengkoneksikan dengan masyarakat yang lain untuk meningkatkan social capital mereka kearah yang positif. demikian dulu pak dan mohon maaf jika ada yang kurang berkenan. salam, adjie --- On Mon, 12/1/08, hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED] com> wrote: From: hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED] com> Subject: [plbpm] Re: Dari “Pembangunan Kota Berkelanjutan* )” (3) To: [EMAIL PROTECTED] ps.com, [EMAIL PROTECTED] com Cc: [EMAIL PROTECTED] sia.com, [EMAIL PROTECTED] a.com, [EMAIL PROTECTED] com Date: Monday, December 1, 2008, 8:25 PM Re: Dari “Pembangunan Kota Berkelanjutan* )” (3) *) Topik diskusi diselenggarakan oleh Executive Forum Media Indonesia (EFMI), pada Kamis 27 Nopember 2008 Acara talkshow dimedia sering dpt digiring menuju corak simplifikasi debat pendapat pro-kontra antara ‘2 kutub’…. … seperti bahwa yang benar “A” ataukah “B”… ataukah yang benar adalah “belok kiri” ataukah “belok kanan”….. tapi sayang……. Fifi Aleyda tak sadari bahwa masalah debat pembangunan sistem kota secara nasional tidaklah dapat diperlakukan sesederhana seperti itu…. Ia tak mampu bayangkan bahwa identifikasi daftar panjang masalahnya sajapun bukanlah pekerjaan sederhana…… Kalau semua sadar bhw pembangunan kota menyangkut demikian banyak aspek tak hanya design fisik, budaya, ekologi… namun juga sosial, ekonomi, kewiraswastaan, kesempatan kerja, migrasi, urbanisasi, industri, sistem distribusi tak hanya barang… namun juga distribusi konsentrasi kegiatan manusia…… distribusi lokasi industri manufaktur….. bahkan distribusi besaran kota secara nasional……. Tentu semuanya paham bahwa masalah ekologi dan estetika kota misalnya bisa diletakkan nomor dua sesudah masalah perut lapar dari 35% rakyat Indonesia….. Tak sebagaimana aktivis Walhi misalnya yg tak punya masalah riil rutin perut lapar sehingga cukup waktu utk belajar ilmu ekologi, sanitasi dsb…. Rakyat miskin dengan masalah tak tau apa mau dimakan esok… bgmn mau disuruh turut pikirkan masalah lingkungan dan estetiks.... .. sebagaimana rakyat negara maju juga dulu sempat begitu…... Judul sih boleh “Pembangunan Kota Berkelanjutan”….. tapi maknanya tak harus hanya ekologik, arsitektural atau kultural semata… dan apalagi lokal.…. Kita boleh dan bahkan harus tarik juga keaspek lebih luas dan me-nasional : demografi... migrasi…. industri…. regional development… job creation….. Jadi kalau mau tanggapi ‘pemanasan’ dari pak Danis …. Seharusnya kita boleh tak hanya terpaku pada Jkt-sentrismenya… tapi juga boleh tanggapinya lewat perspektif nasional….. seperti bahwa dari “Correllation between Urban Design and Urban Development”….. demi simiskin dan pengangguran…..maupun demi wilayah tertinggal…… kita bukan nomor satu ingat trotoar dan RTH…. Tapi boleh juga nomor satukan ingatan kepada job creation dan national city size distribution….. dalam rangka mengembangkan sistem kota diluar Jawa juga yang adalah 93.3% wilayah nasional kita……. Jadi aspek urban designnya bukan semata ditekankan pada aesthetics of physical design within some cities… tetapi ditekankan pada national integrated (and hierarchical) urban design-nya…. berkait dengan job creation dan management of urbanization flow…. berupa distribusi atau sebaran dari besaran-besaran kotanya secara nasional…… seperti bahwa setidaknya kita perlu perimbangan “sepasang” megapolitan cities (seperti New York dan LA)…..… bukan karena semata saya mengagumi megapolitan city size… tetapi semata agar favoritisme arus urbanisasi menuju Jabodetabek dan Jawa dapat diberikan alternatif megapolitan lainnya yang non-Jabodetabek…… dan outside-Jawa….. Atau disatu negara lain (60 juta penduduk) urban designnya bisa saja lebih cocok berupa “1 megapolitan dikeroyok 8 metropolitan lain” (Paris, metropole d’equilibre)…… Belanda yang hanya 15 juta penduduk memakai Ranstad (konstelasi 4 kota besar berbentuk “U”)…. atau setidaknya di Jepang (120 juta penduduk) …. disamping primacy dari Greater Tokyo dengan 35 juta penduduknya…. Masih terdapat koridor kandidat megapolitan lain Kyoto-Kobe-Osaka (Kinki Region)…… yg coba kurangi primacy dari Greater Tokyo……. Memandangnya dari perspektif nasional……. “Kota Berkelanjutan” adalah sistem kota secara nasional yang mampu memberikan lapangan kerja kepada anak bangsanya… baik secara langsung (kpd penduduk kota)… maupun tak langsung (kpd penduduk desa dan kawasan tertinggal)…. Melalui interaksi ekonomi sosial antara kota dan desa … berupa pertukaran barang dan jasa… antara industri dan pertanian……….. Salam, aby

