Mas BTS dan Mas Fajar,
Saya rasa tidak ada yang menyangkal bahwa mempunyai SDA adalah salah satu 
berkah, daerah bisa mempunyai anggaran yang cukup besar hingga menjadi Silpa. 
Tapi disinilah duduk permasalahan pak BTS, apakah mereka bisa memanfaatkan 
kelebihan dana tersebut menjadi kejayaan di waktu mendatang. Peran dari planner 
sangat penting, karena planner menggunakan dimensi waktu cukup baik. Kalau dana 
yang disebut Mas BTS menjadi APBD masa kini, apakah mereka akan gunakan 
membangun infrastruktur dan SDM untuk keperluan mengembangkan ekonominya di 
masa depan. Ambil contoh kota Timika, ibukota kabupaten Mimika....bagaimana 
dana besar tersebut mereka gunakan? Atau Kutai Kertanegara?
Kalau teman-teman ada yang tahu tentang bagaimana dana tersebut digunakan, kita 
bisa diskusikan disini, apakah menjadi berkah para Bupai dan PNS yang ada 
sekarang atau akan menjadi berkah yang lebih besar buat anak cucu..

 Salam
Aunur Rofiq 




________________________________
From: Bambang Tata Samiadji <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Sunday, January 4, 2009 6:22:14 PM
Subject: [referensi] SDA, anugerah atau bencana?


Bung Aunur, halo...

Menarik sitiran "SDA, anugerah atau bencana?". Untuk anugerah maksudnya 
Blessing ya..bukan "anu"-nya gerah.

Pertama saya koreksi dulu bahwa Kabupaten Lingga adalah kabupaten baru hasil 
pemekaran dari Kabupaten Riau Kepulauan. Kabupaten Riau Kepulauan ini memang 
ada satu pulau yaitu Pulau Singkep (sekarang bagian dari Kabupaten Lingga hasil 
pemekaran)yang menghasilkan timah. Tapi sekarang sudah habis. Pertumbuhan kota 
Dabo Singkep stagnant dan cenderung menurun. Pulau ini sekarang kering 
kerontang, lingkungannya rusak, apalagi ditambah galian-galian pasir terbuka, 
kondisinya semakin parah. Jumlah penduduknya juga  terus berkurang. Apakah ini 
yang dimaksud punya SDA tapi malah jadi bencana? 

Ini sebetulnya bisa menjadi studi yang menarik untuk S-1, S-2, atau S-3 apakah 
SDA itu anugerah atau musibah? Ini juga bisa dikaitkan dengan era otonomi 
daerah. Kasus Singkep adalah contoh musibah manakala SDA itu habis. . , maka 
terjadi degragasi perkembangan daerah. Pada kasus yang sama juga terjadi pada 
kota Pangkalpinang, Kabupaten Belitung (ingat Lasykar Pelangi), dan juga kota 
Sawahlunto. Mengapa yang saya sebut 3 daerah terakhir ini nasibnya tidak 
seperti Pulau Singkep (dengan kotanya Dabo Singkep)?

Menurut saya ini ada hubungannya dengan otonomi daerah dan fungsi kota.. Jadi 
ketika SDA itu habis, ada masa transisi bagi transformasi pekerjaan dari 
pertambangan ke jasa perkotaan. Itu karena ada kota yang punya fungsi 
pemerintahan dan perdagangan. Ini berbeda dengan kota Dabo Singkep yang hanya 
sebuah kota kecamatan administratif dan hanya melayani jasa sampingan kegiatan 
pertambangan.

Pada awalnya, ketika deposit tambang itu habis, ketika kota juga sekarat, 
transisi berlangsung dengan cukup lambat. Tapi kemudian ada desentralisasi 
(khususnya desentralisasi fiskal) yang memberi darah segar (berupa transfer 
dana dari Pusat yang besar) sehingga kota-kota tersebut kemudian tumbuh manjadi 
kota-kota sedang yang berkembang normal. Ini berkat dana-dana APBD yang dipakai 
untuk membangun berbagai prasarana dan sarana. Mengapa ini tak terjadi di Pulau 
Singkep? Soalnya justru karena otonomi daerah dengan pemekaran baik pemekaran 
provinsi (menjadi Provinsi Riau dan Provinsi Kepulauan Riau) dan pemekaran 
kabupaten (menjadi 3-4 kabupaten salah satunya Kabupaten Linggga dimana 
terdapat Pulau Singkep). Kabupaten Lingga kalau nggak salah terdiri atas 2 
pulau besar yaitu Pulau Lingga dengan kotanya Daik (bukan kota, penduduknya 
hanya 2000 jiwa) menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Lingga dan Pulau Singkep 
dengan kotanya Dabo Singkep. Dengan pemekaran,
 maka dana APBD akan banyak terserap untuk membangun kota Daik daripada 
membangun Dabo Singkep. Jadi Dabo Singkep akan merana sekitar 5-10 tahun 
mendatang.

Pak Aunur, saya berpendapat bahwa SDA itu lebih banyak memberi berkah atau 
anugerah. Soalnya benar-benar dengan SDA ini daerah bersangkuatan mendapat Dana 
Bagi Hasil Bukan Pajak (DBHBP) yang luar biasa besar yang membuat iri 
daerah-daerah lain, khususnya kota, yang tak punya SDA. Jadi ini benar-benar 
anugerah. Tapi bagaimana kalau nanti SDA itu habis? Tak perlu kuatir Pak 
soalnya dana hasil DBHBP itu "reserved" dalam jumlah yang sangat besar yang 
disebut dengan Silpa (Sisa Lebih Pembiayaan/Perhitungan Anggaran). Berikut 
beberapa contoh SILPA daerah yang punya SDA (data tahun 2006) :

-Kota Pekanbaru Rp 266 milyar
-Kab. kampar Rp 1 triliun
-Kab. Kutai Kartanegara Rp 1,1 triliun
-Prov. Riau Rp 1,1 trilun
-Prov. Kaltim Rp 3 triliun
-Prov.Papua Rp 1 triliun.
dst.

Dana-dana Silpa ini bisa dipakai untuk membangun sesuai dengan rencana tata 
ruang dan investasi jangka panjang sebagai reserved bila mana SDA habis. Tapi 
bagaimana caranya, ya..perlu pemberdayaan aparat...berarti perlu konsultan khan?

Thanks. CU. BTS.











--- On Sun, 1/4/09, Aunur rofiq <[email protected]> wrote:

From: Aunur rofiq <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Re: Batubara Re: Kontemplasi Tahun Baru
To: [email protected]
Date: Sunday, January 4, 2009, 9:44 AM


Milisters,
Mempunyai kekayaan alam seperti batubara bukan membuat suatu daerah otomatis 
bisa makmur (take for granted)...banyak sekali ulasan tentang ini, mulai 
puluhan tahun yang lalu, saya lupa siapa awal penulisnya tapi judulnya selalu 
menjadi kutipan "SDA anugerah atau musibah?". Ini sering ditulis oleh 
orang-orang pertambangan, ekonom, maupun politik. banyak sekali contoh daerah 
yang menjadi korban maupun yang beruntung... salah satu contoh yang korban 
kabupaten lingga yang pernah jaya dimasa lalu dengan timahnya, sawahlunto, 
Aceh, Papua...dan sekarang Kaltim...yang beruntung seperti Detroit, 
Philadelphia dan California. inilah pekerjaan planner yang sesungguhnya agar 
SDa menjadi modal bagi kejayaan masa depan.. Batubara yang diketemukan di 
Kaltim dan Sumatera belum menjadi daya tarik industri kesana, tapi ketertarikan 
orang tambang adalah membawanya keluar..padahal listrik yang dibuat dimulut 
tambang batubara pasti termurah...dan kita bisa mempunyai
komparative advantage di lokasi tersebut.

Salam
Aunur Rofiq

----- Original Message ----
From: "efha_mardiansjah@ yahoo.com" <efha_mardiansjah@ yahoo.com>
To: refere...@yahoogrou ps.com
Sent: Sunday, January 4, 2009 3:56:39 PM
Subject: Re: [referensi] Re: Batubara Re: Kontemplasi Tahun Baru

Pak Aby ysh,

Saya rasa trend kita di Indonesia untuk kembali 'melirik' potensi batubara 
sebagai sumber pemenuhan energi bukan dilandasi oleh 'romantisme sejarah', 
seperti yang pak Aby sampaikan kepada Bung Eka. Bisa jadi hal itu karna kita 
sekarang ini sudah menjadi "korban kontrak" dari pemerintah kita di tahun-tahun 
lalu. Maksudnya, kita jadi korban karena pemerintah kita sudah melakukan 
kontrak-kontrak jangka penjang untuk penyediaan minyak bumi dan gas ke 
negara-negara sahabat untuk jangka panjang, di satu sisi. Padahal, produksi 
minyak kita semakin menurun, di sisi yang lain. Akibatnya, semakin sedikit 
'jatah' minyak produksi domestik yang bisa digunakan sebagai pemenuhan 
kebutuhan kita sendiri. Maka, untuk mencukupi kebutuhan energi domestik yang 
juga tumbuh semakin besar, (mungkin) kita harus kembali 'melirik' sumber-sumber 
energi 'tradisional' seperti batubara (yang kalo berdasarkan cerita Pak Aby 
merupakan energi-nya jaman mesin uap James Watt maka berarti
itu adalah energi abad 19) dan minyak jarak (konon minyak ini adalah minyak 
yang kita pakai di jaman kolonialisasi jepang di Indonesia: energi jaman 
revolusi).

Sekali lagi ini adalah dugaan saya. Bila ada rekan milist yang memiliki 
informasi yang lebih akurat, mohon pencerahannya ya....

Salam,

Fadjar Undip

--- On Sun, 1/4/09, hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com> wrote:

> From: hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com>
> Subject: [referensi] Re: Batubara Re: Kontemplasi Tahun Baru
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Cc: pl...@yahoogroups. com
> Date: Sunday, January 4, 2009, 11:26 AM
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Pak haji Eka boleh jadi
> terkesan pidatonya bung Karno bangsa thn 1963-64-an….
> “Jangan Sekali-Sekali Melupakan Sejarah”
> (Jasmerah)….atau boleh jadi beliau memang hobi berat dgn
> mata pelajaran sejarah…. Maka nampaknya
> beliau seneng “ingin
> mengulang sejarah” dengan “kedekatan pada batubara
> sebagai sumber energi” di Kalimantan……..
> 
> 
> Dulu tatkala sistem mesin uap oleh James Watt
> baru saja belum lama diketemukan… dan sistem kereta api
> dengan rel belum lahir……. Banyak industri tekstil di
> Inggris didirikan didekat tambang2 batubara…… utamanya
> diselatan barat daya….…dengan itu lalu penduduk dari
> daerah pertanian diutara berbondong2
> bermigrasi menuju
> pabrik2 tekstil yg ada didekat tambang batubara
> itu……. 
> Tatkala sistem keretaapi kemudian lahir … dan
> ternyata batubara dapat diangkut dari mulut pertambangannya
> dengan kereta diatas rel menuju
> London…… dimana kantor2 pusat perusahaan lebih memilih
> lokasinya yg dekat dengan fasilitas/ infrastruktur ekspor
> dan impor seperti pelabuhan, keperluan show room utk
> pajangan produknya dsb. Dan pabrik2 dpt
> didirikan didekat sana…. selain juga dikota besar
> perusahaan2 maupun karyawan dari berbagai keahlian lebih
> mudah utk saling berinteraksi dlm employment dibanding
> dikota2 kecil……
> maka sekali lagi pabrik2 berbondong2 dipindahkan dari
> dekat lokasi tambang batubara dipedalaman menuju ke seputar
> London….. dan sekali lagi gelombang migrasi penduduk
> bergerak dari dekat lokasi tambang batubara menuju keseputar
> kota London……. 
> “Manisnya” peristiwa sejarah industri
> berbasis energi batubara inilah yg barangkali ingin dikenang
> dan diulang oleh haji Ekadj di
> Kalimantan……..wallahualam… 
> 
> 
> Salam, 
> aby
> 
> --- On Fri, 1/2/09, ffekadj <4ek...@gmail.
> com> wrote:
> 
> From: ffekadj <4ek...@gmail. com>
> Subject: [referensi] Re: Kontemplasi Tahun Baru (was:
> Beranikah Pemerintah?)
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Date: Friday, January 2, 2009, 11:35 PM
> 
> 
> 
> 
> 
> Pak BTS ysh, selamat kembali ke tengah-tengah
> keluarga.
> Lokasi 
> di Kalimantan masih tentatif 
> pak, namun yang pasti harus dekat dengan sumber energi.
> Pilihannya adalah batubara dan
> gas, bukan bbm seperti di Tarakan dan Balikpapan. Saat ini
> telah banyak dikembangkan model pembangkit mikro, konon pula
> kalau dibangun pembangkit besar. Salam.
> -ekadj
> 
> --- In refere...@yahoogrou ps.com, Bambang Tata Samiadji
> <btsamiadji@ . ..> wrote:
> >
> > Bung Eka gimana sih,... mau pindah ke Kalimantan
> supaya nggak byar pet? Kalimantan yang mana? Kalau di
> Tarakan (seperti ceritanya Pak Risfan) mungkin oke, tapi
> kalau di Banjarmasin? Atau di Palangkaraya?
> > 
> > Saya khan baru saja 5 bulan indekos di Palangkaraya
> (Kalteng). Dua hari byar, terus pet. Kalau lagi pet, kasihan
> anak ibu kos, kalau belajar melototi buku di bawah sinar
> lilin; saya sebagai anak kos juga bingung mau ngapain. Kalau
> lagi gitu akhirnya cari-cari hiburan malam (kafe/dugem) .
> Yang jauh dari keluarga gini repot kalau sering cari
> dugem... bisa-bisa temptation and persuaded... Alhamdulilah
> sekarang ada di Tangerang lagi.
> > 
> > Thanks. CU.. BTS. 
> > 
> > --- On Sat, 1/3/09, - ekadj 4ek...@... wrote:
> > 
> > From: - ekadj 4ek...@...
> > Subject: [referensi] Re: Kontemplasi Tahun
> Baru (was: Beranikah Pemerintah?)
> > To: refere...@yahoogrou ps.com
> > Cc: futurol...@yahoogro ups.com
> > Date: Saturday, January 3, 2009, 5:14 AM
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > Cak H. Andri ysh,
> > Kalau di Medan listriknya masih byar pet, memang tidak
> cocok untuk jadi ibukota negara. Jakarta dan Jawa memang
> telah mencapai 'stalled development' karena masalah
> energi ini, atau dengan kata lain: telah ter-'growth
> management' sendiri oleh kita sendiri (... naif).
> Alternatif yang layak memang Kalimantan ... mudah-mudahan
> kalau Cak Andri nanti pindah kesana bisa menggunakan
> setrikaan 1200 Watt dan home theater 10.000 Watt semurahnya
> dan sepuasnya. Atau ada peningkatan kecerdasan anak-menantu
> 3-4 kali lipat. Salam.
> > 
> > -ekadj
> > 
> > 
> > 2009/1/3 Mohammad Andri Budiman mand...@gmail. com
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > Pak
> Risfan dan Rekan-rekan ysh.,
> > Pak Rodi, eh, Parodi menurut saya justru tidak tepat
> dikatakan menghina. Satire-satire Mark Twain bahkan lebih
> layak bila ingin disebut menghina, seperti, "Let us be
> thankful for the fools. But for them the rest of us could
> not succeed." dan "Suppose you were an
> idiot. Suppose you were a member of Congress. But I repeat
> myself." Tapi ya saya maklumlah, ini negara
> Pancasila, bukan Amerika Serikat.
> > Jadi, kalau Pak Risfan dan rekan-rekan merasa terhina,
> saya yang paling dulu harus meminta maaf kepada Anda
> sekalian. Mungkin ini kebodohan dan ketidaksopanan saya,
> sebagai anak daerah, yang tentunya pendidikannya tidak
> tinggi sehingga tidak seberadab anak-menantu Bapak-Ibu yang
> berdomisili di Jakarta dan sekitarnya. 
> > 
> > Nah, sekarang permasalahannya adalah bagaimana
> mengentaskan kebodohan di daerah, misalnya di Medan,
> sedangkan listrik saja byar pet waktu kami mau belajar?
> >
> Salam,
> > Andri
> > 
> > 
> > 
> > 
> > On Sat, Jan 3, 2009 at 10:38 AM, risfano
> risf...@yahoo. com> wrote:
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > Pak Aby dan rekan2 ysh,
> > 
> > Sebaiknya kalau diskusi jangan gampang dibelokkan ke
> debat pribadi 
> > begini. Semua tujuannya sama, yang soal membahas
> caranya. Syukur-
> > syukur kalau bisa terakumulasi menjadi segepok usulan
> bagi yang 
> > fihak yang berkepentingan. 
> > 
> > Kalau saya perhatikan ada simpang siur soal persepsi.
> Kalau Pak Aby 
> > dan Andri, selalu menyampaikan harapan. Kalau beberapa
> teman 
> > planologi, yang dipikir adalah caranya, dalam konteks
> Indonesia yang 
> > begini ini. Jadi tidak ada beda tujuan.
> > 
> > Ungkapan beberapa teman planologi selalu
> "mempertanyakan" . Karena 
> > ilmu, pengetahuan dan pengalamannya yang membuat
> mereka selalu 
> > berfikir menguji "kemungkinan
> diterapkannya" suatu ide.
> > 
> > Soal primacy (satu kota tumbuh jauh dari lainnya) dan
> regional 
> > inequality adalah misi regional planning yang basic,
> sehingga para 
> > planolog selalu mengarah ke sana. Tapi kita tahu,
> "kekuatan" yang 
> > mendorong aglomerasi dan migrasi itu adalah kekuatan
> ekonomi, yang 
> > pengendaliannya sangat tergantung pada kecenderungan
> ekonomi (pasar) 
> > dan "kebijakan makro ekonomi" (nasional).
> Dan, celakanya 
> > keterlibatan para regional planner adalah terbatas
> sekali disitu. 
> > 
> > Rezim pemerintah manapun, apalagi dengan masa
> pemerintahan lima 
> > tahun, akan berfokus pada "pertumbuhan"
> ekonomi, kalau tidak maka 
> > habislah dia. Maka tak terhindarkan, soal pemerataan
> antar daerah, 
> > pemerataan antar lapisan, sering terabaikan, alias
> tidak 
> > diprioritaskan, basa-basi saja. Jadi kalau mau
> berjuang, ya rame-
> > rame ke pengambil kebijakan
> ekonomi (makro) itu, bukan berdebat 
> > dengan planolog yang juga bukan pengambil kebijakan
> ekonomi.
> > 
> > Namun, dengan desentralisasi/ otonomi, buah reformasi
> itu, harapan 
> > akan pemerataan ke daerah itu ada. Karena ada
> kewenangan dan alokasi 
> > dana bagi pemerintah daerah untuk meningkatkan daya
> saing daerahnya 
> > masing-masing. Sebagaimana yang dikatakan Prof
> Mardiasmo, mulai 
> > tahun 2009 ini alokasi dana ke daerah sudah melampaui
> alokasi untuk 
> > departemen/lembaga di tingkat pusat.
> > 
> > Yang masih menjadi masalah adalah dari segi ekonomi,
> peran sektor 
> > sektor manufaktur dan jasa itu masih kurang. Jasa
> masih lebih banyak 
> > perdagangan eceran yang pasarnya lokal, atau sektor
> informal. Dan 
> > sebarannya belum merata. Ini kurang mampu menyerap
> kelebihan pencari 
> > kerja dari wilayah perdesaan, ataupun yang terpelajar
> dari daerah, 
> > sehingga mereka bermigrasi
> ke kota besar. Ini yang membebani kota 
> > besar.
> > 
> > Akhirnya, dari apa yang menjadi ilmunya regional
> planner, ya 
> > sebaiknya menguatkan daerah, mempromosikan
> inovasi-inovasi daerah, 
> > supaya capacity building daerah makin gencar, sehingga
> meningkat 
> > kepercayaan ke daerah. Ilmu planologi itu intinya site
> plan, urban 
> > plan, regional plan. Ada sekitar 472 kabupaten/kota di
> Indonesia 
> > yang perlu ditingkatkan kapasitasnya.
> > 
> > Terakhir, sorry kalau ini pribadi, walau di depan
> pesannya jangan 
> > pribadi. Kalau mau perubahan mindset sebetulnya
> mindset Pak Aby yang 
> > selalu mendambakan "national development
> planning" yang mengatur 
> > daerah, dan mindset Cak Andri yang sangat menghina
> inovasi-inovasi 
> > daerah (Parodi 10 Tokoh Tempo) itulah yang perlu
> dirubah. Jelas-
> > jelas itu mengunggulkan pusat (Jakarta), dan
> meremehkan kemampuan 
> > daerah. Pola pikir
> macam itulah yang membuat orientasi terus ke 
> > Jakarta.
> > 
> > Kata psikolog, kalau kita bilang "anti
> Jakarta" itu membuat pikiran 
> > bawah sadar kita ingat Jakarta terus, karena bawah
> sadar tidak 
> > mengenal negasi (tidak, bukan, anti). Tapi kalau kita
> 
> > bilang "tumbuhkan daerah", maka pikiran
> bawah sadar akan mengarahkan 
> > kita untuk berfikir "pembangunan daerah." 
> > 
> > Salam,
> > Risfan Munir 
> > 
> > 
> > ..
> >
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 

------------ --------- --------- ------

Komunitas Referensi
http://groups. yahoo.com/ group/referensi/ Yahoo! Groups Links

 
 


      

Kirim email ke