Uda Hekadj dan rekans ysh, Dalam rangka menyemai industri manufaktur di Kawasan Timur Indonesia (KTI), industri perahu/kapal tradisional dapat jadi alternatif.
Untuk itu beberapa langkah bisa dilakukan. Misalkan yang jadi kasus industri perahu di wilayah "Bulukumba-Makassar-Pinrang". Populasi mereka cukup banyak dan punya nama secara internasional. Yang diperlukan adalah langkah-langkah revitalisasi sebagai berikut: Identifikasi populasinya, lalu buat kontak antar mereka. Tentu sebagian sudah saling kenal, kerjasama, berorganisasi Ajak mereka buat pertemuan, bisa per kabupaten dulu. Fasilitasi mereka agar hubungan 'cair'. Intinya membentuk kemitraan stakeholder Mulai bahas potensi masing-masing dan ajak memikirkan tujuan bersama untuk "revitalisasi" diri. Potensi bisa kapasitas produksi, teknologi dan kualitas, pasar, dst. Fasilitasi untuk bicara visi, harapan-harapan ke depan, langkah-langkah utama, Bahas kendala yang perlu diatasi atau diterobos. Biasanya soal klasik akses ke faktor-faktor produksi 6M (man, money, machine, methode, material, management) + marketing. Disamping kendala iklim berusaha (prasarana, birokrasi, pungli) Fasilitasi untuk merumuskan langkah-langkah awal yang bisa dilakukan sendiri, tanpa tergantung pihak lain. Secara umum itu beberapa langkah dasar untuk membentuk kemitraan stakeholder. Selanjutnya dalam pertemuan yang kian melembaga akan dibahas agenda, mulai dari langkah awal yang dilakukan. Memang pendekatan ini berbasis UMKM, tapi setelah kelompok terbentuk secara bertahap usaha besar dilibatkan karena antar lapisan tersebut saling terkait. Akan menarik kalau dimulai dari potensi dan harapan (appreciative inquiry) dari pada analisis persoalan yang bisa mengarah kepada apatisme masa lalu, cari kambing hitam dst. Pemasaran biasanya jadi tantangan yang menarik. Harapannya untuk memasarkan dalam skala yang luas, nasional, internasional. Tapi sebetulnya bisa dimulai secara internal daerah dulu, yang kecil melayani yang besar, melayani permintaan nelayan atau tansportasi lokal. Secara bertahap kemitraan stakeholder dalam klaster industri perahu daerah ini dapat diperluas. Tidak hanya melibatkan kelompok pembuat perahu, tapi juga lembaga pendukungnya, termasuk perbankan, pendidikan & penelitian, bimbingan manajemen, dst. Salam, Risfan Munir --- In [email protected], "risfano" <risf...@...> wrote: > > Saya tertarik dengan ide Uda Hekadj tentang industri perahu ini. > Mengingat salah satu kendala besar pengembangan KTI dan wilayah > kepulauan lainnya adalah transportasi, yang jumlahnya terbatas, > masih mahal. Maka dari segi pasar nampaknya cukup terbuka, potensi > kemampuan skill dan tradisi membuat kapal ini cukup menonjol. Dan > belum mendapat perhatian memadai. > > Kalau ada pilihan misal perahu bekas dari Probolinggo ya tak > soal,bukan berarti tidak ada peluang bagi industri tersebut di KTI. > Banyak yang khas, jadi unggulan daerah (pinishi). Kalau kita baca > artikel Kompas tentang diaspora Bugis-Makassar, jelas kejayaan > maritim itu didukung oleh industri perahu/kapal mereka. Saya > beberapa kali jalan sepanjang pantai selatan dari Makassar ke arah > Bulukumba, atau ke arah Parepare beberapa pembuat perahu itu masih > produktif, masih canggih tinggal mendorong permintaan, > supaya "economic of scale" nya tercapai. > > Dalam sejarah sperti diceritakan Kompas tsb, Bugis-Makassar dan > Madura sudah biasa kerja sama dalam wilayah laut antar pulau > Nusantara. Saya dengar di Pinrang juga dibuka markas Marinir wilayah > timur, ini menunjukkan perhatian kepada aspek kemaritiman terutama > di KTI kian ditingkatkan. > > Jalesveva Jayamahe!!! > > Salam, > Risfan Munir > > > --- In [email protected], "ffekadj" <4ekadj@> wrote: > > > > > > Pak Aby ysh, > > > > Selain saran relokasi, sebenarnya ada industri manufaktur yang > potensial > > dikembangkan di KTI, yaitu industri katinting (mesin tempel kapal) > dan > > kapalnya sendiri. Katinting digunakan meluas di KTI, cenderung > > memperbesar kapasitas dan volume. Kemarin di Ternate kita pernah > coba > > 4x20 PK, malah teman di Sorong pakai 4x50 PK, hanya untuk perahu > kecil. > > Saya kira katinting yang ada masih built-up dari Jepang atau > assembling > > Surabaya. Anehnya juga sedikit sekali bengkel reparasi mesin di > KTI. > > Dinas DKP Malut juga punya program rutin motorisasi nelayan, > sekitar 500 > > unit/tahun. > > > > Kalau untuk kapal, dulu > > <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/304> saya pernah > > tinjau-tinjau di Bitung dan ketemu orang bikin kapal 10 ton, dan > > teman-teman UNCRD itu cukup antusias. Saya kira pusatnya di > > Buton-Selayar Sulsel. Kalau disemai di beberapa tempat, kita bisa > jadi > > negara maritim. Di Ambon di samping penyeberangan itu juga ada satu > > galangan kapal, tapi lebih sering sepi. Memang ketika saya > tanyakan si > > Ahmad <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/304> dari > Asmat > > mengenai perlunya membeli kapal-kapal perikanan yang baru ukuran > besar, > > dia menyarankan, "Ngapain beli yang baru pak, beli saja yang bekas > di > > Probolinggo, murah-murah kok." Saya baru tahu rupanya Probolinggo > > menjadi sentra perdagangan kapal (bekas), mungkin sejak era > Majapahit. > > > > Untuk sepeda, saya belum melihat pasar. Sementara demikian dulu > pak. > > Salam. > > > > -ekadj > > > > > > --- In [email protected], hengky abiyoso <watashiaby@> > wrote: > > > > > > > > > > > > +++: Ketika saya bilang manufaktur sepeda,.. yah jangan lantas > hanya > > sepeda onthel dong, pak Aby, .. > > > >>>: Wah ini pekerjaan cukup sulit juga ya .. harus > > menafsirkan makna ganda dari kalimat yg nampaknya sudah cukup > jelas dan > > cukup sederhana pengertiannya .. > > > > > > +++: Saya kok percaya Industri sepeda kalau dikerjakan serius > juga > > bisa leading, daripada selama ini negara kita ini cuman jadi > target > > pasar Singapore, Malaysia,dan Australia dan negara2 luar lainnya > > > >>>: Ini konteksnya adalah "bgmn menyemai industri manufaktur di > > KTI" .. agar segera muncul multiplier effect yg signifikan . yg > > dikaitkan dgn konteks "bgmn mengembangkan/ mendinamisasikan kota > > metropolitan yg sdh ada di KTI (dlm hal ini Mks) . > > > Jadi sesuai teori pembangunan regional dimana katanya diperlukan > peran > > "industri memimpin" . maka disini saya kira sudah bukan/ sedang > > bukan waktunya untuk mendiskusikan "industri apa yang disenangi/ > > atau yang kurang disukai" utk dikembangkan di KTI . atau bukan > > pula waktunya utk mendiskusikan "industri sepeda kalau dikerjakan > > serius bisa leading atau tidak" tetapi diskusi yg lebih > > mendesak adalah saya kira . "industri nasional yg jelas2 hari > > ini telah terbukti/ terlihat tepat/ dan bisa dinyatakan kontan > hari ini > > juga sbg "memimpin" .. ingin dilihat bgmn sumbangan perannya yg > > besar dalam "mengembangkan KTI serta dgn berbagai multiplier > > effectnya yg luas dengan segera" . Dimana itu tanpa industri > > demikian terganggu sedikitpun kinerjanya atau aktivitas rutinnya > krn ada > > aspek relokasi (minor) didalamnya .. > > > Kalau gambaran konsep saya jelas sekali dan cukup sederhana serta > > cukup workable sekali .. seperti bahwa (1) dari kapasitas pasar/ > > produksi yg 5,5 juta/6,5 juta unit pertahun .. saya usulkan > > dipindahkan sebanyak 1/8 (seperdelapan)nya saja (kecil dan tak akan > > mengganggu aktivitas utama) atau itu berarti kapasitas pasar/ > produksi > > 750.000 unit spd motor di KTI (kecil utk KBI dan jabodetabek tapi > besar > > dan monumental utk KTI) (2) "kepemilikan industri manufaktur > > dibidang otomotif" ini akan segera menjadikan rasa percaya diri yg > > besar bagi masyarakat KTI utk memulai `dimensi baru pembangunan > > industri/ industri manufakturnya' .. belum lagi bila "sister > > product"nya berupa "industri motor tempel" (outboard motor) > > utk motorboat juga sekaligus dikembangkan di KTI yg dari keadaan > > geografiknya yang berbelas ribu pulau . KTI memang merupakan pasar > > yg cukup besar bagi produk mesin motorboat .. (3) mendorong peran > > industri > > > memimpin ini menurut saya memang tidak usah memakai model > membujuk, > > mengiming2i dsb yg mengesankan posisi kurang terhormat . spt seolah > > didalamnya ada unsur tersembunyi utk menipu/ memerangkap/ menjebak > agar > > industri manufaktur tertentu mau beraktivitas di KTI (dan rasain > > terjebak disana) .. tetapi alasan2 yg kita kemukakan memang adalah > > absolutely reasonable dan tak sedikitpun membuat mereka blangsak > > karena itu model yg cukup elegan utk membicarakan masalah itu dgn > > industri dimaksud adalah saya kira tidak usah pake PP dsb yg > sifatnya > > serba memaksa sambil belum tentu jelas prospek baik apa yg dpt > diperoleh > > oleh industri terkait/ atau krn belum jelas gmbrn bgmn yg dpt > diberikan > > oleh pemerintah ttg prospek pengembangan industri manufaktur di KTI > > tanpa kesulitan yg serius bagi yg melaksanakannya ... (4) kalau > > saya usulkan pake RI-1 selain bahwa gambaran2 prospek pengembangan > > industri manufaktur terkait di KTI yg disampaikan tak akan > > > membuat perusahaan terkait menjadi blangsak . Selain pula > > bahwa RI-1/ Wapres akan lebih mencerminkan lingkup > > "multisektoralitas" yg diembannya (industri, pembangunan > > wilayah, dsb) .. undangan makan oleh RI-1 lbh saya maksudkan sbg > > "sudah pasti lbh berwibawa dan lebih bergengsi" dibanding > > dengan sekedar undangan oleh "menteri " yg seperti anda tahu > > dimasa eforia reformasi ini .. jangankan menteri . bahkan > > seorang presidenpun tak ditakuti sedikitpun oleh rakyatnya . > > > Bahwa pd postingnya yl anda tidak setuju "peran industri spd > motor > > sbg industri memimpin kita saat ini utk inisiasi semaian industri > > manufaktur di KTI"(dgn reasoning yg cukup serius dan cukup > > melelahkan dari saya) .. dan anda lebih memilih "industri > > sepeda onthel" saya kira boleh saja . Tapi tentu perlu > > disertai dgn gambaran rasional yg sejenis spt setidaknya ada > sedikit > > data angka2 misalnya ttg industri sepeda onthel yg lebih anda > sukai itu > > serta dampak gandanya yg signifikan di KTI apa/ bgmn lalu kalau > > dari saya sudah jelas pula manufacturing companies yg dibidik itu > siapa2 > > saja . Apakah dari anda dpt dijelaskan pula nama2 perusahaan > > industri sepeda onthel yg mau disuruh ke KTI itu namanya apa2 > saja.. dan > > kapasitasnya msg2 berapa .. dan bukan sekedar semacam pernyataan > > subyektip sederhana spt "aku mau telor dadar dan tak mau telur > > ceplok" begitu saja . > > > > > > > > > +++: Lain dari itu, saya setuju sama pak Aby, . Industri speda > > Yes,.. industri spedamotor,Monggo . > > > >>>: Yaa . Diskusi dengan adik kecil Dwi tentu akan lbh baik > kalau > > dilakukan dgn cara yg bersahabat dan kompromistis . maka saya lebih > > memilih katakan mine is yes, your is yes juga hehe.. > > > > > > Salam, > > > aby > > > > > > > > > --- On Mon, 1/12/09, Benedictus Dwiagus Stepantoro > bdwia...@gmail. > > com> wrote: > > > From: Benedictus Dwiagus Stepantoro bdwia...@gmail. com> > > > Subject: [referensi] Re: (3) Menyemai Industri Manufaktur di KTI > > > To: refere...@yahoogrou ps.com > > > Date: Monday, January 12, 2009, 8:54 AM > > > > > > > > > Pak Aby yang baik, yang cerdas dan cermat, cepat dan tepat, > > > > > > 1. Yang saya tangkap rupanya langkah praktisnya adalah sbuah > > rencana undangan dari presiden untuk "menganjurkan" . Sebelumnya > > pakABy bilang persuasi, iming-iming, tak ada gunanya, tapi saya > > liat langkah praktisnya undangan makan malam untuk > > "menganjurkan" itu kok seperti ada acara iming-iming, > > persuasi, walaupun ada tambahan gambaran sumbangan mulia,.. > > > 2. Yah kalau bisa meramu "anjuran" itu sehingga match > > dengan interest mereka, bagus lah, .. tapi kalau tidak > > ketemu, .. masa harus dipaksa oleh sebuah PP . mungkin ini bisa > > menjadi tantangan buat planner,.. bagaimana meramu konsep > > "penganjuran" yang tepat, dan cocok di hati para pelaku industry > > manufaktur itu, .. sehingga tidak perlu keluar PP pemaksaan, . > > > 3. memang pendekatan gala dinner itu sepertinya sangat > efektif > > efektif, sepertinya patut dicoba, .. kalau mau disamakan > > mungkin seperti pendekatan jokowi, walikota solo yang berhasil > > memindahkan para pedagang kaki lima setelah makan siang bareng > lebih > > dari 50 kali, . > > > 4. Tapi saya gak setuju manufaktur otomotif, . Kalau > > manifaktur sepeda, saya mendukung sekali,.. huehehehhe > > > > > > Salam hangat dan terimakasih, pak Aby > > > > > > Best Regards, > > > > > > --- On Sun, 1/18/09, Benedictus Dwiagus Stepantoro bdwiagus@ > wrote: > > > > > > From: Benedictus Dwiagus Stepantoro bdwiagus@ > > > Subject: RE: [referensi] Re: (3) Menyemai Industri Manufaktur di > KTI > > > To: [email protected] > > > Date: Sunday, January 18, 2009, 5:47 PM > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > Pak Aby, > > > Ketika saya bilang manufaktur sepeda,.. yah jangan lantas hanya > sepeda > > onthel dong, pak Aby, .. > > > Saya kok percaya Industri sepeda kalau dikerjakan serius juga > bisa > > leading, daripada selama ini negara kita ini cuman jadi target > > pasar Singapore, Malaysia,dan Australia dan negara2 luar lainnya > > > > > > Lain dari itu, saya setuju sama pak Aby, . Industri speda Yes,.. > > industri spedamotor,Monggo . > > > > > > > > > Salam sehat selalu > > > > > > Benedictus Dwiagus S. > > > http://bdwiagus. blogspot. com > > > http://bdwiagus. multiply. com > > > > > > "The most difficult thing in the world is to know how to do a > thing > > and to watch somebody else doing it wrong, without comment." - T. > H. > > White > > > > > > :::... Indo-MONEV ...::: > > > Indo-MONEV is a mailing list to build a network of Indonesian > People > > anywhere in the world who are interested, dedicated, and > profesionalised > > to the work on monitoring and evaluation and other related > development > > issues including development aid works, particularly in Indonesia. > > > Join in by sending an email to: indo-monev-subscrib > e...@yahoogroups. > > com > > > Find also Indo-MONEV in facebook: http://www.facebook .com/group. > > php?gid=34091848 127&ref=ts > > > > > > > > > > > > From: refere...@yahoogrou ps.com [mailto:referensi@ yahoogroups. > com] > > On Behalf Of hengky abiyoso > > > Sent: 17 January 2009 22:15 > > > To: refere...@yahoogrou ps.com > > > Subject: [referensi] Re: (3) Menyemai Industri Manufaktur di KTI > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > Maaf terlambat menjawab . > > > Terimakasih atas tanggapan2 yg telah disampaikan saya pikir > > samasekali tidak ada masalah bagi diri saya menyangkut humor dan > > `ketidakseriusan' dari siapapun kepada diri saya . Malah > > saya senang kalau ada siapa saja yang berkenan `sok akrab' juga > > dengan saya . > > > Tapi terus terang saya memang agak prihatin juga ya setiap kali > ada > > kesan `ketidakseriusan' serta "kekurang cepat > > tanggapan" yang muncul kepada keadaan negara dan bangsa yg sdg amat > > memprihatinkan saat ini .. krn negara dan bangsa ini tentu sangat > > mengharapkan sumbangan pemikiran2 serius, "langkah maju" serta > > "langkah konkrit" yang dapat dibuat oleh para anak > > bangsanya . Khususnya daripada masyarakat intelektual yang pada > > esduaan serta keatasnya .. bukan sekedar guyon2an saja terus > > apalagi ini khan gak gratis dan gak sia-sia . Maksud saya pasti > > Tuhan tak akan pernah ingkar janji dengan cara tak akan membalas > > kebaikan umatNya berlipatganda .. . > > > > > > Tapi dari pernyataan (atau guyonan?) kalimat substitutip > sedangkal ini > > : " saya gak setuju manufaktur otomotif, . Kalau manifaktur > > sepeda, saya mendukung sekali,.." .. ini memang agak > > mencengangkan saya juga .. soalnya lha wong negara kita namanya > khan > > masih "sedang berkembang" dan tentunya pengin naik tingkat > > menjadi "negara maju" atau setidaknya menjadi "negara rada > > dikit maju" . > > > Ini penduduknya seabreg (no.4 dunia), angka kelahirannya masih > tinggi > > (3-4 juta per thn), angka kemiskinan dan penganggurannya gitu > juga, > > sementara itu punya industri (spd motor) no3 terbesar dunia yg > cukup > > sehat dan maju . Ee..lha kok bukannya dibanggain dan disyukurin > > lalu berpikir bgmn memanfaatkannya bagi sumbangan "peran"nya > > yg lebih besar lagi didlm negeri bagi pembangunan wilayah (krn > kontksnya > > khan pembangunan wilayah/ gbmn menyemai industri manufaktur > dikawasan > > tertinggal) Lha ini kok malah nggak disuka dan (mirip logikanya > > awam yg kira2 gak pernah ketemu teori planning) lebih prefer > industri > > sepeda onthel . Hanya gara-gara a.l. anggota bike to work, gak > > polusi > > > Padahal bukankah bikin kringetan dan orang harus mandi dulu > sesampai > > dikantor, padahal juga pemakaiannya terbatas, tidak bisa utk > segala rupa > > keperluan transport dan medan, dan industri ginian tak pernah jadi > > "industri memimpin" dikawasan tertinggal apa ini tidak > > bikin rakyat geleng kepala dan puyeng bagi pak/bu dosen yg ngajar > teori > > regional planning juga?.... . > > > Setidaknya sih saya pikir seharusnya paling abis pola pikir > sederhana > > yg lebih rasional dan progresip adalah "industri spd motor yes, > > industri sepeda onthel yes juga" . Dan "industri lebih canggih > > lagi ya iyes juga" .. dan bgmn Indonesia sbg "negara sedang > > berkembang" agar dapat naik peringkat menjadi "negara lumayan > > maju" lalu berikutnya lagi jadi "negara maju > > beneran" .. > > > > > > Salam, > > > aby > > >

