Maaf terlambat menjawab…. Terimakasih atas tanggapan2 yg telah disampaikan…… saya pikir samasekali tidak ada masalah bagi diri saya menyangkut humor dan ‘ketidakseriusan’ dari siapapun kepada diri saya…. Malah saya senang kalau ada siapa saja yang berkenan ‘sok akrab’ juga dengan saya…. Tapi terus terang saya memang agak prihatin juga ya setiap kali ada kesan ‘ketidakseriusan’ serta “kekurang cepat tanggapan” yang muncul kepada keadaan negara dan bangsa yg sdg amat memprihatinkan saat ini…….. krn negara dan bangsa ini tentu sangat mengharapkan sumbangan pemikiran2 serius, “langkah maju” serta “langkah konkrit” yang dapat dibuat oleh para anak bangsanya…. Khususnya daripada masyarakat intelektual yang pada esduaan serta keatasnya….. bukan sekedar guyon2an saja terus…… apalagi ini khan gak gratis dan gak sia-sia…. Maksud saya… pasti Tuhan tak akan pernah ingkar janji dengan cara tak akan membalas kebaikan umatNya berlipatganda …..…. Tapi dari pernyataan (atau guyonan?) kalimat substitutip sedangkal ini : “…saya gak setuju manufaktur otomotif,…. Kalau manifaktur sepeda, saya mendukung sekali,..”…….. ini memang agak mencengangkan saya juga….. soalnya lha wong negara kita namanya khan masih “sedang berkembang” dan tentunya pengin naik tingkat menjadi “negara maju” atau setidaknya menjadi “negara rada dikit maju”……. Ini penduduknya seabreg (no.4 dunia), angka kelahirannya masih tinggi (3-4 juta per thn), angka kemiskinan dan penganggurannya gitu juga, sementara itu punya industri (spd motor) no3 terbesar dunia yg cukup sehat dan maju…. Ee..lha kok bukannya dibanggain dan disyukurin lalu berpikir bgmn memanfaatkannya bagi sumbangan “peran”nya yg lebih besar lagi didlm negeri bagi pembangunan wilayah (krn kontksnya khan pembangunan wilayah/ gbmn menyemai industri manufaktur dikawasan tertinggal)…… Lha ini kok malah nggak disuka dan (mirip logikanya awam yg kira2 gak pernah ketemu teori planning) lebih prefer industri sepeda onthel…. Hanya gara-gara a.l. anggota bike to work, gak polusi… Padahal bukankah bikin kringetan dan orang harus mandi dulu sesampai dikantor, padahal juga pemakaiannya terbatas, tidak bisa utk segala rupa keperluan transport dan medan, dan industri ginian tak pernah jadi “industri memimpin” dikawasan tertinggal ……apa ini tidak bikin rakyat geleng kepala dan puyeng bagi pak/bu dosen yg ngajar teori regional planning juga?....…. Setidaknya sih saya pikir seharusnya paling abis pola pikir sederhana yg lebih rasional dan progresip adalah “industri spd motor yes, industri sepeda onthel yes juga”…. Dan “industri lebih canggih lagi ya iyes juga”….. dan bgmn Indonesia sbg “negara sedang berkembang” agar dapat naik peringkat menjadi “negara lumayan maju”…… lalu berikutnya lagi jadi “negara maju beneran”….. Salam, aby Re: (3) Menyemai Industri Manufaktur di KTI Monday, January 12, 2009 6:17 PM From: "Benedictus Dwiagus Stepantoro" <[email protected]> To: [email protected] Cc: [email protected] Re: [referensi] Re: (3) Menyemai Industri Manufaktur di KTI Monday, January 12, 2009 4:55 PM From: "Farid Irsyad" <[email protected]> To: [email protected] Cc: [email protected]

