Milisters ysh,
Senang bhw pak Hermawan menaruh minat pd pembangunan kawasan tertinggal…….. 
Dari paragraf pak Hermawan :
“…….Sy terlintas bgmn kalo memang pendduk di daerah tertinggal yg intervensi 
scr ekonomi wilayah dlm jangka pendek tdk optimal diprogramkan pindah ke daerah 
perkotaan. siapa ahu? ……”
Dari paragraf pak BTS :
“…….Mengenai apakah perlu masyarakat perbatasan atau daerah terisolir/tertingga 
l dipindahkan ke kota? Dulu di milis ini pernah juga didiskusikan. Tapi menurut 
saya, apabila dipindahkan, mereka akan mengalami "gagap kota". Alih-alih ingin 
mensejahterakan, malah me-marginal- kan. Sebaiknya jangan dipindahkan. Lebih 
baik dikembangkan kearifan ekonomi lokal saja ditambah dengan penyediaan 
kebutuhan dasar antara lain : kesehatan, pendidikan, peningkatan jalan lokal, 
listrik, dan air……”
Pertama kita spt sepakat utk “lupakan saja pelajaran dari menteri Malaysia” 
itu…. Krn selain tak ada yg baru… geografik/populasi mrk (utamanya semenanjung 
Malaka) tak seberat dan tak sebesar Indonesia…. Dari kedua paragraf diatas kita 
tangkap bhw terdpt kesadaran…. Infrastruktur spt ‘jalan’ bukanlah segalanya….. 
dlm artian.. kalau budgetnya utk bikin infrastruktur jalan memang nggak ada…. 
lalu mau maksain bikin infrastruktur apa…….Disini kita menangkap ‘alih 
perhatian’……bhw sebaiknya kita lebih intervensi saja secara lbh langsung 
“perekonomian/ demografi lokal wilayah”…… dan ini jelas pemikiran yg sgt baik……
Dari pak Hermawan kita tangkap jln pikiran beliau bhw ‘density’ dan ‘distance’ 
(saling kedekatan pemukiman penduduk pada infrastruktur kota) akan membuat 
lebih banyak penduduk dpt menikmati / memanfaatkan kemudahan‘infrastruktur 
kota’ (trmsk juga infrastruktur perekonomian/kewiraswastaan/intensitas 
transaksi)…….
Sebaliknya dari pak BTS kita tangkap….. bhw ‘janganlah pndahkan penduduk desa 
kekota (terdekat)’….krn a.l. gagap kota dsb… dan lbh baik sediakan kebutuhan 
dasar kehidupan (kesehatan, pendidikan, jalan lokal, listrik, air bersih)…….
Sebenarnya kita bisa lakukan  pendekatan “density” dan “distance” itu tanpa hrs 
lakukan scr eksplisit “pemindahan penduduk desa (lokal) kekota terdekat” (spy 
tidak gagap kota?)….. Caranya  dgn pendekatan  ‘supply side’ approach…… 
setidaknya dlm 2 aspek…..… 
Dikawasan tertinggal/ terpencil…… dimana pada level desa selain jumlah 
penduduknya umumnya sedikit (kurang dari 200KK)…. Luasnyapun  tdk sekecil spt 
desa2 padat di Jawa….. jarak antara desa yg satu dgn desa lainnya  sering cukup 
jauh (melebihi prinsip jarak ideal antara 2 pusat desa yg 7-12km)….. dan jarak 
antara desa sampai kota terdekat (kota kecamatan) jg sering melebih jarak 
idealnya pula… spt di Luwu, Sulawesi atau Kaltim… jarak sebuah desa dari kota 
kabupaten  bahkan mencapai 80km atau lebih……
Apa yg dimaksud dgn “mendekatkan rumah tinggal penduduk desa” kepada ‘kota’  
sebenarnya tidaklah hrs diartikan sbg “mendekatkan” rmh tinggal penduduk  desa 
“kekota kabupaten/ kota kecamatan terdkt”…… ia sebenarnya bisa dimaksudkan juga 
sbg “mendekatkan rumah penduduk” dari “semula diladang” menjadi “kemudian 
berada dipusat desa” dalam tatanan ‘urban’ (dlm bentuk kapling2 rmh saling 
berpunggungan dan msg2  menghadap jalan…….
Caranya adlh dgn “supply side”….. dgn terlebih dahulu disiapkan bbrp kapling  
matang (katakanlah 15-20 unit) @200-300m2 perbuah menghadap sebuah ruas  jalan 
dipusat desa katakanlah sepanjang 50m….. lalu dibangun 2 or 3 rumah toko stok 
percontohan sederhana dgn bhn semipemanen…..
Supaya itu tdk hrs menjadi beban anggaran pemerintah…. Kapling dan ruko itu 
bisa dijual secara murah setidaknya asalkan pulang pokok (ini bisa menjadi 
bagian dari program Menpera dan  program developer nirlaba spt LSM, juga 
lembaga keuangan spt BRI, BPN utk sertifikasinya)….
Sebagai bentuk ruko….. rmh itu bisa serba guna…. Dipakai utk rumah tinggal saja 
juga bisa…. Dipakai utk rumah plus toko secara iseng2 (laku sokur tdk jg gak 
papa) juga bisa…….
Dgn adanya pendekatan passively ‘supply side’ …. Mereka yg tertarik dan merasa 
strategis utk tinggal pd perkaplingan desa itu dan tahu apa yg akan mereka 
lakukan…. Mrk pastilah bukan yg ‘gagap kota’….. mereka bisa saja yg semula 
tinggal didekat ladang lalu ‘memindahkan’ keluarganya  kepusat desa (mungkin 
dgn secara  fisik membedol-pindahkan rumahnya) dgn ‘membeli secara murah’ 
kapling pusat desa itu….lalu mereka bisa memiliki profesi ganda (berladang dan 
beruko)….. sementara itu ‘rumah diladang’ bisa  diperkecil sekedar menjadi 
‘gubug/ dangau’ saja…. sekedar utk tempat ngepos waktu diladang…… Bisa juga 
migran yg semula berkelana melihat kesempatan itu tertarik utk membelinya…. 
Terlebih bila itu dikaitkan dgn program (trans)migrasi (ini dpt menjadi 
paradigma baru transmigrasi)……..
Sebenarnya kalau saja departemen2 tidak sibuk saling bermain intra sektoral 
terus… tapi menatap kedepan dan berpikir multisektoral…… hanya sekedar pada 
tingkat desa terpencil sajapun berbagai departemen dan kantor meneg bisa banyak 
bekerjasama dgn hasil yg prima……. Kasarnya kalo gagal gak papa, murah (dan 
apanya yg akan gagal wong hanya tingkat desa saja)………..
Sekedar pada tingkat desa terpencil ini saja kita bisa lihat bgmn  dpt 
dikerjakan/ diperlukan kerjasama   lintas bidang spt  oleh kantor Menpera…Meneg 
PDT…. MenPU… MenPerin MenDag… Menakertrans……. apalagi diatas level itu….

Salam dari aby
--- On Tue, 2/17/09, Bambang Tata Samiadji <[email protected]> wrote:

From: Bambang Tata Samiadji <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Fw: [plbpm] Menteri Malaysia Ajari Indonesia Bangun 
Desa Tertinggal
To: [email protected]
Date: Tuesday, February 17, 2009, 5:26 PM











Ysh Bung Hermawan dan milister semua.
 
Bung Hermawan, betul kita memang tak punya dana untuk pemeliharaan 
infrastrukutr jalan. Tapi sebetulnya kita bisa ngirit biaya pemeliharaan kalau 
kita disiplin dengan melarang kendaraan-kendaraan yang beratnya melebihi 
kekuatan jalan yang ada. Yang menjadi problem adalah jalan-jalan nasional kita, 
menurut Dirjen Bina Marga, hampir semuanya telah melewati batas umur 
bangunannya, atau sudah uzur. Makanya walaupun di-overlay, ditingkatkan seperti 
apa, nggak lama rusak lagi. Apalagi yang lewat melebihi batas beban gandarnya, 
ditambah lagi  adanya gerakan-gerakan tanah. 
 
Mengenai apakah perlu masyarakat perbatasan atau daerah terisolir/tertingga l 
dipindahkan ke kota? Dulu di milis ini pernah juga didiskusikan. Tapi menurut 
saya, apabila dipindahkan, mereka akan mengalami "gagap kota". Alih-alih ingin 
mensejahterakan, malah me-marginal- kan. Sebaiknya jangan dipindahkan. Lebih 
baik dikembangkan kearifan ekonomi lokal saja ditambah dengan penyediaan 
kebutuhan dasar antara lain : kesehatan, pendidikan, peningkatan jalan lokal, 
listrik, dan air.
 
Thanks. CU. BTS.

--- On Wed, 2/18/09, beherma...@yahoo. com <beherma...@yahoo. com> wrote:

From: beherma...@yahoo. com <beherma...@yahoo. com>
Subject: Re: [referensi] Fw: [plbpm] Menteri Malaysia Ajari Indonesia Bangun 
Desa Tertinggal
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Wednesday, February 18, 2009, 12:54 AM




Pak bambang n milister yth
Sy sependapat bahwa apa yg disampaikan pak tan sdh banyak diterapkan di 
indonesia,termasuk bangun jalan n infrastruktur lainnya.saat ini yg saya 
khawatirkan adalah apkah negara kita punya anggaran yg cukup utk melihara semua 
infrastruktur tsb.jalan nasional saja dgn anggaran yg ada kita baru bicara bgmn 
membuat atu menjaga tetap fungsional. Sy terlintas bgmn kalo memang pendduk di 
daerah tertinggal yg intervensi scr ekonomi wilayah dlm jangka pendek tdk 
optimal diprogramkan pindah ke daerah perkotaan.siapa ahu? 
Powered by Telkomsel BlackBerry®


From: Bambang Tata Samiadji 
Date: Tue, 17 Feb 2009 16:19:46 -0800 (PST)
To: <refere...@yahoogrou ps.com>
Subject: Re: [referensi] Fw: [plbpm] Menteri Malaysia Ajari Indonesia Bangun 
Desa Tertinggal



Ysh Pak Aby dan milister semua.
 
Saya tertarik membaca subjek di atas. Betul sekali bahwa Menteri Malaysia Tan 
Sri Muhammad ajari Indonesia Bangun Desa Tertinggal. Tentu kalau yang hadir, 
atau jadi muridnya, adalah pejabat Depkeu, Depdagri, KPDT seperti Pak Aunur, 
akan senyam senyum, soalnya apa yang diajarkan itu sudah dilakukan di 
Indonesia  terlepas dari upaya Indonesia membangun desa tertinggal itu berhasil 
atau belum berhasil.
 
Sedikit komentar soal pinjaman luar negeri (LN). Kalau daerah meminjam 
bersumber dari  LN melalui Pemerintah untuk membangun daerah (sebagaimana 
diusulkan TanSri Muhammad itu tidak boleh. Pinjaman LN hanya diperbolehkan 
untuk kegiatan yang "Revenue Generating". Selain itu juga ada syarat-syarat 
lain seperti Debt Service Coverage Ratio, dsb.

Kalau soal "uang saku" bagi daerah yang masih tertinggal juga sudah dilakukan 
oleh RI, tapi bentuknya DAU.

Thanks. CU. BTS.
 

--- On Tue, 2/17/09, hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com> wrote:

From: hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com>
Subject: [referensi] Fw: [plbpm] Menteri Malaysia Ajari Indonesia Bangun Desa 
Tertinggal
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Tuesday, February 17, 2009, 11:31 PM

--- On Tue, 2/17/09, Abdul Rohim <peduli_klaten@ yahoo.com> wrote:

From: Abdul Rohim <peduli_klaten@ yahoo.com>
Subject: [plbpm] Menteri Malaysia Ajari Indonesia Bangun Desa Tertinggal
To: 
Date: Tuesday, February 17, 2009, 11:00 AM

Menteri Malaysia Ajari Indonesia Bangun Desa Tertinggal 
 

JAKARTA, SENIN â€" Menteri Kemajuan Luar Bandar dan Pembangunan Wilayah
Malaysia Tan Sri Muhammad mengatakan, pembangunan kawasan tertinggal
termasuk di perbatasan harus diawali infrastruktur. Sebab, jika hanya
disediakan lahan saja justru mengakibatkan daerahnya akan semakin
tertinggal dari sebelumnya.

"Pembangunan harus ekosentris, menyediakan infrastruktur baru
penggemblengan sumber daya manusia (SDM)," kata Tan ketika menjadi
pembicara kunci dalam seminar "Masalah Pembangunan di Perbatasan:
Upaya Pengentasan Kemiskinan dan Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat"
di LIPI Jakarta, Senin (16/2).

Tan mengatakan, pembangunan daerah tertinggal di Malaysia dimulai
dengan membangun jalan, terutama akses menuju kota. Selanjutnya,
pembangunan sarana pendidikan, kesehatan, komunikasi, termasuk adanya
pasar sebagai salah satu tempat perputaran ekonomi.

"Ini juga untuk menjamin hasil daerah dapat disalurkan segera keluar
wilayahnya," tambah Tan.

Di samping itu, warga yang akan menjadi tulang punggung daerah
tersebut diberikan modal sesuai potensi alam dan manusianya. Mengenai
anggaran dalam pembangunan infrastruktur, pinjaman melalui pihak asing
melalui pemerintah sangat penting dengan didahului perencanaan yang
matang.

Sebelum daerah tertinggal mampu mandiri, pemerintah juga harus memberi
uang saku belanja dalam jangka waktu yang ditetapkan. Hal ini untuk
menjaga dan masyarakat semakin terpacu membangun daerahnya tanpa terus
disumbang. 

"Program ini amat berjaya dan negara dengan sendirinya tercabut dari
putaran ganas kemiskinan," tambah Tan.

Fokus pembangunan di kawasan Malaysia timur (Sarawak), lanjut Tan,
saat ini dinilai cukup dan akan dikhususkan kembali ke wilayah barat.
Sejak merdeka tahun 1957, kini Malaysia tinggal menyisakan 6.000 desa
yang tertinggal dari 14.693 desa yang ada.

C12-08 

http://nasional. kompas.com/ read/xml/ 2009/02/16/ 14112069/ menteri.malaysia 
.ajari.indonesia .bangun.desa. tertinggal
 
http://media- klaten.blogspot. com/
 
 
 
salam
Abdul Rohim


















      

Kirim email ke