[email protected]> wrote:
       "......Terima kasih, dan mohon maaf apabila telah berpanjang lebar......"
 
Akh..mana?...malah kurang panjang mas.....aku malah pengin baca lanjutannya.... 
:-)
tak tunggu temenan lho ya?.....
Salam,
aby
 

--- On Thu, 2/19/09, [email protected] <[email protected]> 
wrote:

From: [email protected] <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Fw: [plbpm] Menteri Malaysia Ajari Indonesia Bangun 
Desa Tertinggal
To: [email protected]
Date: Thursday, February 19, 2009, 7:24 AM











Milister semua ysh,
 
Mengamati perbincangan yg berlangsung, tampaknya terjadi distorsi dari apa yg 
dipesan Pak Tan dg apa yg didiskusikan dalam 'ajaran pengembangan daerah 
tertinggal'. 
 
Ijinkan saya kembali mengutip apa yg disampaikan Kompas dlm beritanya, sbb:
> Tan mengatakan, pembangunan daerah tertinggal di Malaysia dimulai
> dengan membangun jalan, terutama akses menuju kota. Selanjutnya,
> pembangunan sarana pendidikan, kesehatan, komunikasi, termasuk adanya
> pasar sebagai salah satu tempat perputaran ekonomi. "Ini juga untuk menjamin 
> hasil 
> daerah dapat disalurkan segera keluar wilayahnya," tambah Tan.
 
Jadi kunci pembangunan daerah tertinggal bukan sekedar pembangunan jaringan 
jalan saja. Melainkan harus komprehensif dengan meningkatkan kualitas 
sumberdaya manusia, menyediakan prasarana penunjang produksi (energi, 
telekomunikasi) , bahkan juga penyediaan somber daya finansial dan pengembangan 
pusat-pusat pemasarannya.
 
Distorsi atau bahkan pereduksian menjadi 'hanya' pengembangan infrastruktur 
saja (bahkan juga infrastruktur dan fasilitas pengembangan sumberdaya manusia 
saja) tidak akan mengembangkan daerah tertinggal secara efektif. Bahkan, 
alih-alih menjadi daerah dg pertumbuhan aktivitas ekonomi yg bagus, malah 
daerah tersebut akan (semakin) mengalami 'brain drain' atau 'human resources 
drain', karena setelah kualitas pendidikan dan/atau ketrampilannya meningkat 
mereka akan pergi meninggalkan daerahnya karena tidak tersedia kegiatan yg 
mampu menyerapnya. Dengan demikian, maka jaringan jalan yang dibangun bukan 
menjadi fasilitas yg meningkatkan daerah, bahkan malah memudahkan terjadinya 
human resources drain. Mungkin hal ini yang terjadi di banyak wilayah 
tertinggal kita, sehingga banyak daerah tertinggal kita 'hanya' ditopang oleh 
aktivitas jasa pemerintahan seperti yg disampaikan oleh Pak Aunur.
 
Jadi, merefer dari ajaran Pak Tan, pembangunan daerah tertinggal tsb juga 
memerlukan pengembangan fasilitas pengembangan sumber daya manusia (yg saya 
yakin bukan hanya fasilitas sekolah, tetapi juga fasilitas lain yg berfungsi 
untuk mengembangkan kapasitas teknologi masyarakat dalam berproduksi) , 
untuk melakukan "penggemblengan sumber daya manusia (SDM)", seperti kata Pak 
Tan, dan fasilitas-fasilitas lain yang mampu meningkatkan berkembangnya 
kegiatan (ekonomi) produktif di kawasan daerah tertinggal tadi.
 
Selain itu, juga perlu dikembangkan pusat-pusat pemasaran di sekitar daerah 
teritnggal (baik yg berfungsi sebagai 'pasar akhir', ataupun menjadi 'pasar 
antara' yang mampu mendistribusikan produk-produk tadi ke pasar akhirnya), agar 
perputaran kegiatan ekonomi perdesaan tersebut bisa berlangsung. 
 
Persoalannya, seperti yg disampaikan oleh Pak Benny adalah banyak daerah 
tertinggal kita yang lokasinya tersebar. Saya mencoba membaca hal ini sebagai 
tidak terdapatnya "wilayah perkotaan" yang cukup di wilayah daerah tertinggal 
kita, atau bahkan juga di sekitarnya. Apabila pendapat saya ini bisa diterima, 
maka bisa jadi bahwa untuk melakukan pembangunan daerah tertinggal dan 
mengentaskan kemiskinan di dalamnya maka hal ini berarti bahwa sistem perkotaan 
setempat pun perlu dibangun agar daerah-daerah tertinggal tersebut memiliki 
pusat-pusat pelayanan perkotaan, termasuk pelayanan pemasaran barang-barang 
sarana & prasarana produksi maupun pelayanan pemasaran barang-barang hasil 
produksi, baik di wilayahnya sendiri ataupun di wilayah lain di sekitarnya. 
Dengan demikian, maka pembangunan wilayah di daerah-daerah tertinggal, bisa 
jadi perlu dipadukan dengan pembangunan kota-kota kecil di dalamnya dan/atau di 
wilayah sekitarnya agar turut berkembang dan
 menjadi wilayah pusat pemasaran yang mampu menjamin berlangsung dan 
berkembangnya perputaran ekonomi di wilayah-wilayah tertinggal tadi.
 
Saya pikir, hal ini lah yang ingin diindikasikan oleh Pak Tan dalam ceramahnya, 
yaitu keterpaduan pemnagunan antar-sektor dan antar-bidang dalam pembangunan 
wilayah di daerah-daerah tertinggal. Adapun penekanan awal pada pengembangan 
aksesibilitas antara desa-desa tersebut kepada kota-kota pusat pemasarannya 
bukan dilakukan untuk mengatakan bahwa hanya infrstruktur jalan yang menjadi 
kunci keberhasilan pembangunan wilayah tertinggal tadi.
 
Terima kasih, dan mohon maaf apabila telah berpanjang lebar.
 
Salam
 
Fadjar Undip
 
"MENUJU INDONESIA MULIA.... MULIA BANGSANYA... MILIA RAKYATNYA... ."
 

 


--- On Wed, 2/18/09, benny hermawan <beherma...@yahoo. com> wrote:


From: benny hermawan <beherma...@yahoo. com>
Subject: Re: [referensi] Fw: [plbpm] Menteri Malaysia Ajari Indonesia Bangun 
Desa Tertinggal
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Wednesday, February 18, 2009, 9:42 AM









Pak Aunur, Pak Bambang dan milister yth,
yang saya maksudkan bukan anggaran untuk jalan nasional, tetapi saya 
mengkhawatirkan kecukupan anggaran untuk pemeliharaan infrastruktur di daerah 
tertinggal, apabila pemerintah secara terus menerus melakukan pembangunan 
infrastruktur. Dalam rapat dengan komisi V kemarin, saya mencatat jumlah 
desa/daerah tertinggal, baik di kabupaten tertinggal maupun kabupaten yang 
tidak tertinggal (memang harus hati2 dalam mengklasifikasikan hal ini)  sangat 
banyak dan tersebar. Posting pak aunur, saya kira salah satu fakta bagaimana 
infrastruktur, dalam hal ini jalan terbengkalai karena kemampuan pendanaan 
(atau bisa juga masalah prioritasi.. .).
Uraian tentang jalan nasional hanya sebagai ilustrasi saja.saya 
hendak menunjukan bahwa untuk infrastruktur jalan strategispun, pemerintah juga 
memiliki kendala untuk bisa memenuhi semua kebutuhan pemeliharaan secara tepat 
waktu dan tepat mutu. Memang faktor umur teknis jalan dan overloading 
sebagaimana dikemukakan p.bambang menjadi faktor yang berpengaruh. Sebagai 
informasi mengatasi overloading, beberapa upaya telah dilakukan antara lain 
kebijakan bersama antara PU dan Dephub untuk menerapkan roadmap to zero 
overload dgn aksi2 antara lain demand control seperti penggunaan kendaraan 
multiaxle, kontrol distribusi barang, pengendalian impor kendaraan angkutan 
barang; peningkatan infrastruktur melalui peningkatan kualitas daya dukung 
jalan dan jembatan, bahkan sampai level operasional dgn perbaikan manajemen 
jembatan timbang.
Kembali ke daerah tertinggal tadi yang lokasinya tersebar dan sangat banyak 
serta seringkali dengan jumlah penduduk yang relatif sedikit, saya kira perlu 
dipertimbangkan bagaimana membuat daerah2 tersebut atau 
penduduknya teraglomerasi sehingga ada skala ekonomis yang baik utk 
pemeliharaan infrastruktur. migrasi secara terpogram ke kawasan perkotaan 
merupakan salah satu alternatif (tentu dengan mempertimbangkan pandangan 
p.bambang tentang kearifan lokal dll), bukan migrasi secara alamiah sebagaimana 
terjadi.program transmigrasi juga merupakan salah contoh, meskipun pada 
akhirnya kembali akan muncul isu apakah pemerintah maupun pemerintah daerah mau 
atau mampu mengalokasikan anggaran yang tepat waktu dan tepat mutu bagi 
pemeliharaan infrastruktur.
Pandangan ini, tentunya akan berbeda jikalau memang pemerintah sudah memiliki 
kapasitas pendanaan yang memadai, dimana pemerintah bisa menjamin kualitas 
kehidupan yg didukung infrastruktur dasar yang baik secara merata.
just sharing saja..sembari nunggu demo korban lumpur lapindo :)
Salam,

--- On Tue, 2/17/09, Aunur rofiq <aunurrofiqhadi@ yahoo.com> wrote:

From: Aunur rofiq <aunurrofiqhadi@ yahoo.com>
Subject: Re: [referensi] Fw: [plbpm] Menteri Malaysia Ajari Indonesia Bangun 
Desa Tertinggal
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Tuesday, February 17, 2009, 5:44 PM




Pak Be hermawan,
Kalau keliling ke daerah tertinggal, memang masalah infrastruktur jalan yang 
paling menonjol terutama akses mereka ke jalan nasional. Yang lebih 
mengkhawatirkan sekarang adalah jalan provinsi...dengan banyaknya pemekaran 
kabupaten..status jalan yang dulu merupakan jalan kabupaten menjadi jalan 
provinsi...sehingga panjang jalan provinsi bertambah, tetapi anggarannya tidak 
bertambah. Contoh jalan lingkar di pulau samosir (semuanya terletak di 
Kabupaten Samosir) tetapi statusnya jalan provinsi...kondisin ya ya luar biasa 
rusaknya. Saya rasa status jalan memang perlu ditinjau kembali disesuaikan 
dengan kemampuan daerah maupun pusat. 
Kalau migrasi yang terjadi dari daerah tertinggal ke kota, saya rasa itu 
wajar,karena daerah tertinggal tidak bisa menyediakan lapangan kerja, antara 
lain karena akses tadi. Pada saat ini di daerah tertinggal, lapangan kerja yang 
ada hanya sebagai pegawai negeri dan anggota DPRD. Karena itu Government 
spending merupakan penggerak utama perekonomian.
Mengenai subyek diatas, jawaban pak BTS sudah sangat tepat

Salam
Aunur Rofiq

--- On Wed, 2/18/09, beherma...@yahoo. com <beherma...@yahoo. com> wrote:

> From: beherma...@yahoo. com <beherma...@yahoo. com>
> Subject: Re: [referensi] Fw: [plbpm] Menteri Malaysia Ajari Indonesia Bangun 
> Desa Tertinggal
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Date: Wednesday, February 18, 2009, 7:54 AM
> Pak bambang n milister yth
> Sy sependapat bahwa apa yg disampaikan pak tan sdh banyak
> diterapkan di indonesia,termasuk bangun jalan n
> infrastruktur lainnya.saat ini yg saya khawatirkan adalah
> apkah negara kita punya anggaran yg cukup utk melihara semua
> infrastruktur tsb.jalan nasional saja dgn anggaran yg ada
> kita baru bicara bgmn membuat atu menjaga tetap fungsional.
> Sy terlintas bgmn kalo memang pendduk di daerah tertinggal
> yg intervensi scr ekonomi wilayah dlm jangka pendek tdk
> optimal diprogramkan pindah ke daerah perkotaan.siapa ahu?
> Powered by Telkomsel BlackBerry®
> 
> -----Original Message-----
> From: Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com>
> 
> Date: Tue, 17 Feb 2009 16:19:46 
> To: <refere...@yahoogrou ps.com>
> Subject: Re: [referensi] Fw: [plbpm] Menteri Malaysia Ajari
> Indonesia Bangun Desa Tertinggal
> 
> 
> Ysh Pak Aby dan milister semua.
>  
> Saya tertarik membaca subjek di atas. Betul sekali bahwa
> Menteri Malaysia Tan Sri Muhammad ajari Indonesia Bangun
> Desa Tertinggal. Tentu kalau yang hadir, atau jadi muridnya,
> adalah pejabat Depkeu, Depdagri, KPDT seperti Pak Aunur,
> akan senyam senyum, soalnya apa yang diajarkan itu sudah
> dilakukan di Indonesia  terlepas dari upaya Indonesia
> membangun desa tertinggal itu berhasil atau belum berhasil.
>  
> Sedikit komentar soal pinjaman luar negeri (LN). Kalau
> daerah meminjam bersumber dari  LN melalui Pemerintah
> untuk membangun daerah (sebagaimana diusulkan TanSri
> Muhammad itu tidak boleh. Pinjaman LN hanya diperbolehkan
> untuk kegiatan yang "Revenue Generating". Selain
> itu juga ada syarat-syarat lain seperti Debt Service
> Coverage Ratio, dsb.
> 
> Kalau soal "uang saku" bagi daerah yang masih
> tertinggal juga sudah dilakukan oleh RI, tapi bentuknya
> DAU.
> 
> Thanks. CU. BTS.
>  
> 
> 
> --- On Tue, 2/17/09, hengky abiyoso
> <watashi...@yahoo. com> wrote:
> 
> From: hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com>
> Subject: [referensi] Fw: [plbpm] Menteri Malaysia Ajari
> Indonesia Bangun Desa Tertinggal
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Date: Tuesday, February 17, 2009, 11:31 PM
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> --- On Tue, 2/17/09, Abdul Rohim <peduli_klaten@
> yahoo.com> wrote:
> 
> From: Abdul Rohim <peduli_klaten@ yahoo.com>
> Subject: [plbpm] Menteri Malaysia Ajari Indonesia Bangun
> Desa Tertinggal
> To: 
> Date: Tuesday, February 17, 2009, 11:00 AM
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Menteri Malaysia Ajari Indonesia Bangun Desa Tertinggal 
>  
> 
> 
> JAKARTA, SENIN â€" Menteri Kemajuan Luar Bandar dan
> Pembangunan Wilayah
> Malaysia Tan Sri Muhammad mengatakan, pembangunan kawasan
> tertinggal
> termasuk di perbatasan harus diawali infrastruktur. Sebab,
> jika hanya
> disediakan lahan saja justru mengakibatkan daerahnya akan
> semakin
> tertinggal dari sebelumnya.
> 
> "Pembangunan harus ekosentris, menyediakan
> infrastruktur baru
> penggemblengan sumber daya manusia (SDM)," kata Tan
> ketika menjadi
> pembicara kunci dalam seminar "Masalah Pembangunan di
> Perbatasan:
> Upaya Pengentasan Kemiskinan dan Peningkatan Kesejahteraan
> Masyarakat"
> di LIPI Jakarta, Senin (16/2).
> 
> Tan mengatakan, pembangunan daerah tertinggal di Malaysia
> dimulai
> dengan membangun jalan, terutama akses menuju kota.
> Selanjutnya,
> pembangunan sarana pendidikan, kesehatan, komunikasi,
> termasuk adanya
> pasar sebagai salah satu tempat perputaran ekonomi.
> 
> "Ini juga untuk menjamin hasil daerah dapat disalurkan
> segera keluar
> wilayahnya," tambah Tan.
> 
> Di samping itu, warga yang akan menjadi tulang punggung
> daerah
> tersebut diberikan modal sesuai potensi alam dan
> manusianya. Mengenai
> anggaran dalam pembangunan infrastruktur, pinjaman melalui
> pihak asing
> melalui pemerintah sangat penting dengan didahului
> perencanaan yang
> matang.
> 
> Sebelum daerah tertinggal mampu mandiri, pemerintah juga
> harus memberi
> uang saku belanja dalam jangka waktu yang ditetapkan. Hal
> ini untuk
> menjaga dan masyarakat semakin terpacu membangun daerahnya
> tanpa terus
> disumbang. 
> 
> "Program ini amat berjaya dan negara dengan sendirinya
> tercabut dari
> putaran ganas kemiskinan," tambah Tan.
> 
> Fokus pembangunan di kawasan Malaysia timur (Sarawak),
> lanjut Tan,
> saat ini dinilai cukup dan akan dikhususkan kembali ke
> wilayah barat.
> Sejak merdeka tahun 1957, kini Malaysia tinggal menyisakan
> 6.000 desa
> yang tertinggal dari 14.693 desa yang ada.
> 
> C12-08 
> 
> http://nasional. kompas.com/ read/xml/ 2009/02/16/
> 14112069/ menteri.malaysia .ajari.indonesia .bangun.desa.
> tertinggal
>  
> http://media- klaten.blogspot. com/
>  
>  
>  
> salam
> Abdul Rohim


















      

Kirim email ke