Apakah anda planner atau awam… kalau anda ingin berpusing2 dgn pengertian ttg 
hirarkhi ruang atau hirarkhi kota…. Silahkan baca posting berikut dibawah 
ini…..:
 
“……Kalo secara singkat, saya mencoba untuk tidak memusingkan tentang adanya 
hirarki kota, .... Karena hirarki kota tersebut adalah 'hanya' merupakan salah 
satu implikasi saja. Banyak hal yang mempengaruhi hirarki kota tsb. Sedangkan 
yang ingin saya fokuskan adalah 'organisasi wilayah' atau tepatnya adalah 
organisasi ruang di dalam suatu wilayah (maaf, mungkin juga istilahnya adalah 
organisasi spasial...). 
Menurut saya, hirarki kota itu merupakan bagian dari organisasi wilayah. 
Jadi, bukan kota-kotanya yang harus kita susun hirarkinya, tetapi ruang 
wilayahnya lah yang harus kita organisasi. 
Sementara di dalam itu nantinya terdapat suatu hirarki perkotaan,
 ya karena kota-kota merupakan elemen penting di dalam pembangunan wilayah 
karena kota merupakan tempat teragglomerasikanny a penduduk beserta kegiatan, 
kapasitas dan termasuk sumber-sumberdayanya,  dalam suatu tingkatan yang cukup 
besar  sehingga mampu menawarkan suatu 'lingkungan kondusif' bagi 
berlangsungnya kegiatan-kegiatan pelayanan baik pelayanan aktivitas ekonomi 
maupun no-ekonomi.
Oleh karena itu, untuk melakukan suatu pengembangan aktivitas yang sustainable 
di suatu wilayah, seperti contohnya diwilayah tertinggal yang banyak memiliki 
tingkat kemiskinan yg tinggi, saya pikir, pengorganisasian kembali wilayah 
tersebut agar mampu tercipta 'lingkungan' yang mampu menyokong berlangsungnya 
aktivitas ekonomi dan kegiatan pelayanan lain secara efisien, juga merupakan 
salah satu hal yang perlu dilakukan. 
Untuk itu, perlu dikembangkan pusat-pusat perkotaan (urban centers) sebagai 
salah satu elemen utamanya, bersamaan dengan elemen penting lain seperti elemen 
infrastruktur perhubungan dan komunikasi wilayah, elemen pemeliharaan kualitas 
dan kapasitas sumber daya manusia setempat, dll. 
Pada giliranya, pusat-pusat pusat perkotaan tersebut tidak saja akan menjadi 
elemen pemenuhan prasyarat bagi kegiatan pelayanan sosial dan ekonomi untuk 
berkembang. Namun pusat-pusat perkotaan tsb juga akan menjadi elemen penahan 
'larinya' human capacity serta aset-aset pembangunan yg dimiliki oleh wilayah 
setempat. Bahkan, bisa jadi malah 'mengundang' human capacity serta aset dari 
wilayah lainnya.........”. 
 
Suatu uraian yang lumayan berbelit2….. padahal bukankah planners seharusnya 
bahkan dapat menjelaskan kepada lintas disipliner lainnya dengan cara paling 
sederhana tentang perlunya membangun “hirarkhi ruang” atau “hirarkhi kota”…. 
dalam mana “hirarkhi” itu nanti dapat membawa kesejahteraan yg lebih baik bagi 
hidup manusia (sebab kalo nggak lalu manfaat dari planning itu bagi 
kesejahteraan manusia lalu apa?) ……..
Tapi sayang diantara para planners sendiri masalah “hirarkhi ruang” atau 
“hirarkhi kota” masih dianggap sekedar barang mainan saja (atau sebenarnya lbh 
krn tak pernah mampu dipahaminya hingga maka frustrasi?) …..mereka bisa dengan 
enteng (tapi itu bisa berarti tdk bertanggungjawab) katakan tentang perlu tak 
perlunya hirarkhi itu…….. lalu bgmn dgn awam akan memahami cara menata ruang yg 
benar?..... apakah perlu mengerti hirarkhi ataukah  tak perlu hirarkhi?...... 
selain itu apakah perlu sistem jarak atau tak perlu?......... Atau mau ingin 
lebih pusing lagi?...... silahkan baca paragraf berikutnya lagi dibawah ini :
 
“……..Nah, untuk kasus Indonesia, saya berpendapat bahwa ukuran antara 30-80 
ribu penduduk adalah ukuran ideal untuk dikembangkan bagi kota-kota kecil yang 
akan berfungsi untuk mampu menyokong kegiatan perdesaan di sekitarnya (tapi 
mohon maaf kalau saya menjudge berdasarkan kasus di Pulau Jawa yg relatif 
memiliki kedekatan jarak antara satu pusat aglomerasi ke pusat aglomerasi 
lainnya. Suatu hal yang sangat berbeda kondisinya dengan apa yang kita miliki 
di luar Jawa). Ukuran kota dengan jumlah spt itu, relatif possible untuk 
dicapai di banyak wilayah kita, namun cukup untuk menjadi 'sarang' bagi 
berkembangnya berbagai aktivitas sosial dan ekonomi…….”
 
Paragraf  paling diatas tadi pada dasarnya hanya memberikan  pengertian yg  
berputar2 saja..… seolah penulisnya seperti habis minum anggur cap orang tua 
tapi dosisnya kebanyakan…… 
Sedangkan pada paragraf berikutnya dibawahnya….. selain bahwa penulis posting 
hanya kemukakan  tentang “hirarkhi antara desa dan kota kecil saja”…… siempunya 
posting (sebagai teknolog) juga tidak realistis….. 
Sbgmn “desa” memerlukan “pusat layannya utk berbagai keperluan jasa2” bernama 
kota-kota kecil” (yg kalau pinjam ukuran siempunya posting berukuran 30-80 ribu 
jiwa)……. Penulis samasekali tidak menyinggung (krn tidak mau pusing, atau krn 
sudah terlalu pusing dgn anggur cap orangtua?)…… apakah (banyak) kota2 dengan 
ukuran 30-80 ribu jiwa itu juga  memerlukan “kota pusat layan utk jasa2” yg 
“lebih tinggi lagi” atau tidak…… sebab kalau tidak itu khan berarti  kota2 
30-80 ribu jiwa itu adalah “kota2 yang mandiri”…… atau ”kota2 yg serba 
ada”…….Benarkah begitu?......
 
Salam dari aby
 


      

Kirim email ke