Lhah bos…. baru 2 (dua) orang planner saja bukankah sama juga namanya sudah 'planners'?..... lain kata kalau saya bilang "all the indonesian planners" nha itu baru saya maksudkan sebagai “semua” dan anda juga termasuk didalamnya.... Tapi ngomong2 kenapa tidak dibuat polling saja bos.... biar jelas.... yg tak setuju/ setuju "hirarkhi" itu yg mana-mana saja..... dan dari yg setuju "hirarkhi" itu pandangannya macem mana-mana saja ….. karena khan juga bisa saling beda2 bos….. seperti ada yg hanya mau “Hirarkhi desa dan kota kecil saja” dan nggak mau pusing dengan selanjutnya…… sementara setidaknya kalau saya misalnya berpendapat… yg namanya “hirarkhi pemukiman” itu ya harus detil dong (dan seharusnya ya ilmiah juga dong)…. Seperti kalau ditentara ya mulai dari “prajurit dua” lalu”pratu”, “kopral” dst. Sampai tertinggi adalah “jendral” entah bintang 4 atau 5…. Atau kalau di Lybia jelas… Muammer Qadafy maunya pangkat tentara tertinggi adalah kolonel…. Atau kalau dipemerintahan ada golongan A1 sampai entah brp dst. Anda lbh tahu……… Kalau diteknik keruangan saya kira juga tidak (setidaknya saya gak terima) bisa dingawur dengan amat terlalu bersahaja dikatakan bahwa hirarkhi pemukiman terendah adalah ”desa”….. Kalau diteknik keruangan saya kira bisa dimulai dari terendah “bbrp rumah diladang”(hamlet?)….lalu “desa”… lalu “subkota pusat layan desa”….lalu “kota kecil” dst. Sampai puncaknya adalah “kota megapolitan”…..yg bila dilihat dari satu sisi pandang yg lain semua itu menggambarkan pola pemanfaatan ruang sebagai hirarkhi “rural”…. lalu “semi rural/ semi urban”…. Lalu “exurban”… lalu “suburban”… lalu ”urban”… lalu siapa tahu nanti ada juga istilah “extra-urban”…… Saya kira sebagai masyarakat ilmiah… masalah “Hirakhi” ini harus dpt dirumuskan dgn jelas oleh planners…. dan bukannya dibiarkan amburadul atau apalagi kalau sampai ‘pro-kontra’ begitu pengertiannya….. malu dong sama masyarakat ilmiah lainnya…. Sudah gitu kalau dikalangan akademik saja sudah gak jelas…. Pasti dong dampaknya dibirokrasi juga sami mawon… Akhirnya masyarakat, bangsa dan negara bisa terlantar…. Dan malu dong kalau anda masih akan juga bilang “apa salah kami”?.... Salam dari aby
--- On Wed, 3/4/09, Eko B K <[email protected]> wrote: From: Eko B K <[email protected]> Subject: Re: [referensi] Re: Ber-Pusing2 Dgn Hirarkhi Ruang/ Hirarkhi Kota To: [email protected] Date: Wednesday, March 4, 2009, 3:40 AM bos, kok yg dikritik "planners" terus, pdhal kan ini kata yg memiliki pengertian majemuk (selain pakai huruf akhir s), ada planners yg senior dan junior, ada yg lulusan itb, unisba, itenas, itn, undip, dst., ada yg kerja di bappenas, pu, depdagri, konsultan, dosen, wb, undp, dst..dst... kok dipukul rata semua planners, apa salah kami? --- On Wed, 3/4/09, hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com> wrote: Suatu uraian yang lumayan berbelit2….. padahal bukankah planners seharusnya bahkan dapat menjelaskan kepada lintas disipliner lainnya dengan cara paling sederhana tentang perlunya membangun “hirarkhi ruang” atau “hirarkhi kota”…. dalam mana “hirarkhi” itu nanti dapat membawa kesejahteraan yg lebih baik bagi hidup manusia (sebab kalo nggak lalu manfaat dari planning itu bagi kesejahteraan manusia lalu apa?) …….. Tapi sayang diantara para planners sendiri masalah “hirarkhi ruang” atau “hirarkhi kota” masih dianggap sekedar barang mainan saja (atau sebenarnya lbh krn tak pernah mampu dipahaminya hingga maka frustrasi?) …..mereka bisa dengan enteng (tapi itu bisa berarti tdk bertanggungjawab) katakan tentang perlu tak perlunya hirarkhi itu…….. lalu bgmn dgn awam akan memahami cara menata ruang yg benar?..... apakah perlu mengerti hirarkhi ataukah tak perlu hirarkhi?... ... selain itu apakah perlu sistem jarak atau tak perlu?...... ... Atau mau ingin lebih pusing lagi?...... silahkan baca paragraf berikutnya lagi dibawah ini : Salam dari aby

