Sorry, Sipil  ikut nimbrung,
Sepertinya perlu hirarki ruang/kota, kalau tidak,  pada saatnya suatu wilayah 
tersebut akan terjadi seperti yang ada di dalam  teori 'zero sume game'. Namun 
memang harus direncanakan dan ditetapkan (toch dapat direview dengan ketentuan 
hukum yang ada : syarat kriteria dan waktu). Jika dibiarkan sesuai 'pasar', 
dikuatirkan akan terjadi saling 'libas'. Untuk skala mikro/sektor sudak banyak 
contoh di Jakarta.
Salam..................



________________________________
From: hengky abiyoso <[email protected]>
To: [email protected]
Cc: [email protected]; [email protected]
Sent: Thursday, March 5, 2009 2:00:55 AM
Subject: [referensi] Re: Ber-Pusing2 Dgn Hirarkhi Ruang/ Hirarkhi Kota


  
Lhah bos…. baru 2 (dua) orang planner  saja  bukankah sama juga namanya sudah 
'planners'?. .... lain kata kalau saya bilang "all the indonesian planners" nha 
itu baru saya maksudkan  sebagai “semua” dan anda juga termasuk didalamnya.. ..
Tapi ngomong2 kenapa tidak dibuat polling saja bos.... biar jelas.... yg tak 
setuju/ setuju "hirarkhi" itu yg mana-mana  saja..... dan dari yg setuju 
"hirarkhi" itu pandangannya macem mana-mana saja ….. karena khan juga bisa 
saling beda2 bos….. seperti ada yg hanya mau “Hirarkhi desa dan kota kecil 
saja” dan nggak mau pusing dengan selanjutnya…… sementara setidaknya kalau saya 
misalnya berpendapat… yg namanya “hirarkhi pemukiman” itu ya harus detil dong 
(dan seharusnya ya ilmiah juga dong)…. Seperti kalau ditentara ya mulai dari 
“prajurit dua” lalu”pratu”, “kopral” dst. Sampai tertinggi adalah “jendral” 
entah bintang 4 atau 5…. Atau kalau di Lybia jelas… Muammer Qadafy maunya 
pangkat tentara tertinggi adalah kolonel…. Atau kalau dipemerintahan ada  
golongan A1 sampai entah brp dst. Anda lbh tahu………
Kalau diteknik keruangan saya kira juga tidak (setidaknya saya gak terima)  
bisa dingawur dengan amat terlalu bersahaja dikatakan bahwa hirarkhi pemukiman 
terendah adalah ”desa”….. Kalau diteknik keruangan saya kira bisa dimulai dari 
terendah  “bbrp rumah diladang”(hamlet?)….lalu “desa”… lalu “subkota pusat 
layan desa”….lalu “kota kecil” dst. Sampai puncaknya adalah “kota 
megapolitan”…..yg bila dilihat dari satu sisi pandang yg lain  semua itu 
menggambarkan pola pemanfaatan ruang sebagai hirarkhi “rural”…. lalu “semi 
rural/ semi urban”…. Lalu “exurban”… lalu “suburban”… lalu ”urban”… lalu siapa 
tahu nanti ada juga istilah “extra-urban”……
Saya kira sebagai masyarakat ilmiah… masalah “Hirakhi” ini harus dpt dirumuskan 
dgn jelas oleh planners….  dan bukannya dibiarkan amburadul atau apalagi kalau 
sampai ‘pro-kontra’ begitu pengertiannya…..  malu dong sama masyarakat ilmiah 
lainnya….
Sudah gitu kalau dikalangan akademik saja sudah gak jelas…. Pasti dong 
dampaknya dibirokrasi juga sami mawon… 
Akhirnya masyarakat, bangsa dan negara bisa terlantar…. Dan malu dong kalau 
anda masih akan juga bilang “apa salah kami”?....
 
Salam dari aby 
 

--- On Wed, 3/4/09, Eko B K <ekobu...@yahoo. com> wrote:

From: Eko B K <ekobu...@yahoo. com>
Subject: Re: [referensi] Re: Ber-Pusing2 Dgn Hirarkhi Ruang/ Hirarkhi Kota
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Wednesday, March 4, 2009, 3:40 AM


bos, kok yg dikritik "planners" terus, pdhal kan ini kata yg memiliki 
pengertian majemuk (selain pakai huruf akhir s), ada planners yg senior dan 
junior, ada yg lulusan itb, unisba, itenas, itn, undip, dst., ada yg kerja di 
bappenas, pu, depdagri, konsultan, dosen, wb, undp, dst..dst... kok dipukul 
rata semua planners, apa salah kami? 



--- On Wed, 3/4/09, hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com> wrote:

Suatu uraian yang lumayan berbelit2….. padahal bukankah planners seharusnya 
bahkan dapat menjelaskan kepada lintas disipliner lainnya dengan cara paling 
sederhana tentang perlunya membangun “hirarkhi ruang” atau “hirarkhi kota”…. 
dalam mana “hirarkhi” itu nanti dapat membawa kesejahteraan yg lebih baik bagi 
hidup manusia (sebab kalo nggak lalu manfaat dari planning itu bagi 
kesejahteraan manusia lalu apa?) …….. 
Tapi sayang diantara para planners sendiri masalah “hirarkhi ruang” atau 
“hirarkhi kota” masih dianggap sekedar barang mainan saja (atau sebenarnya lbh 
krn tak pernah mampu dipahaminya hingga maka frustrasi?) …..mereka bisa dengan 
enteng (tapi itu bisa berarti tdk bertanggungjawab) katakan tentang perlu tak 
perlunya hirarkhi itu…….. lalu bgmn dgn awam akan memahami cara menata ruang yg 
benar?..... apakah perlu mengerti hirarkhi ataukah  tak perlu hirarkhi?... ... 
selain itu apakah perlu sistem jarak atau tak perlu?...... ... Atau mau ingin 
lebih pusing lagi?...... silahkan baca paragraf berikutnya lagi dibawah ini : 
  

  



  
Salam dari aby 
 
 
 




      

Kirim email ke