bos, kok yg dikritik "planners" terus, pdhal kan ini kata yg memiliki pengertian majemuk (selain pakai huruf akhir s), ada planners yg senior dan junior, ada yg lulusan itb, unisba, itenas, itn, undip, dst., ada yg kerja di bappenas, pu, depdagri, konsultan, dosen, wb, undp, dst..dst... kok dipukul rata semua planners, apa salah kami?
--- On Wed, 3/4/09, hengky abiyoso <[email protected]> wrote: Suatu uraian yang lumayan berbelit2….. padahal bukankah planners seharusnya bahkan dapat menjelaskan kepada lintas disipliner lainnya dengan cara paling sederhana tentang perlunya membangun “hirarkhi ruang” atau “hirarkhi kota”…. dalam mana “hirarkhi” itu nanti dapat membawa kesejahteraan yg lebih baik bagi hidup manusia (sebab kalo nggak lalu manfaat dari planning itu bagi kesejahteraan manusia lalu apa?) …….. Tapi sayang diantara para planners sendiri masalah “hirarkhi ruang” atau “hirarkhi kota” masih dianggap sekedar barang mainan saja (atau sebenarnya lbh krn tak pernah mampu dipahaminya hingga maka frustrasi?) …..mereka bisa dengan enteng (tapi itu bisa berarti tdk bertanggungjawab) katakan tentang perlu tak perlunya hirarkhi itu…….. lalu bgmn dgn awam akan memahami cara menata ruang yg benar?..... apakah perlu mengerti hirarkhi ataukah tak perlu hirarkhi?... ... selain itu apakah perlu sistem jarak atau tak perlu?...... ... Atau mau ingin lebih pusing lagi?...... silahkan baca paragraf berikutnya lagi dibawah ini : Salam dari aby

